Sama Berbahayanya

Wazir Khalid dan Wazir lainnya bangkit, rasa hormat yang mereka tunjukkan kini bercampur dengan kewaspadaan yang tidak bisa mereka sembunyikan. Mereka membungkuk hormat, menundukkan kepala di hadapan anak sepuluh tahun yang baru saja menguji loyalitas mereka dan mengancam keseimbangan politik seluruh Emirat.

“Kami pergi, Sayyidah. Kami akan mulai merumuskan penolakan resmi, menggunakan diplomasi yang sehalus mungkin, namun tetap tegas sesuai perintah Sayyidah,” janji Wazir Khalid, matanya berkedip penuh semangat, seolah baru saja terbangun dari tidur panjang yang kusam.

Setelah mereka pergi, disusul oleh Tariq yang menutup pintu gading dengan bunyi denting pelan, Yasmeen membiarkan dirinya roboh kembali ke bantal-bantal sutra di kursi kebesaran. Ruangan itu kembali hening, diselimuti bayangan yang dilemparkan tirai berat.

Ia menang. Ia telah memenangkan pertarungan administratif. Ia telah mencabut otoritas Zahir di mata pejabat Emirat yang paling loyal.

Tetapi kemenangan ini terasa pahit. Pernikahan. Harith Al-Qaim. Kenangan itu terasa seperti beban fisik yang membebani bahunya yang kecil. Ia harus membatalkan pertunangan itu. Tetapi tidak sekarang. Sekarang, ancaman terbesar masih berkeliaran di istana ini, dengan darah yang sama mengalir di nadinya: Sayyid Zahir.

Yasmeen menutup mata, mencoba mengumpulkan energi, memfokuskan pikirannya. Ia perlu menyusun rencana bagaimana menghancurkan kredibilitas Zahir di mata Sultan tanpa membangkitkan kemarahan politik Kesultanan. Itu adalah teka-teki yang sulit, dan waktunya sempit.

Tiba-tiba, suara langkah kaki di luar ruangan membuatnya menegang. Langkah kaki itu tidak terburu-buru, tetapi penuh percaya diri, dan didampingi suara cekikikan anak-anak yang familier. Yasmeen langsung sadar. Zahir.

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Zahir yang tersenyum lebar, senyum yang begitu ramah dan meyakinkan—terlalu meyakinkan, sebuah topeng yang sempurna. Di belakangnya, berdiri 9, selir dan istri barunya, dengan kedua anak mereka: Zain yang berusia lima tahun dan Ruqayyah, yang baru menginjak usia empat tahun. Mereka adalah keluarga utuh Zahir yang baru, yang selama ini Zahir jauhkan dari Yasmeen dan ibunya.

Zahir maju ke dalam ruangan. “Sayyidah kecilku, mengapa kau menyibukkan diri dengan Wazir yang membosankan ini? Lihat siapa yang datang mengunjungimu. Saudara-saudarimu!”

Di masa lalu, pemandangan ini hanya akan membuat Yasmeen kecil merasa kesepian dan tersisih, menganggap dirinya hanyalah pewaris Emirat yang harus tunduk pada Ayahnya yang dominan. Tetapi kini, pemandangan itu terasa seperti racun dingin. Mehra, ibu tiri yang selalu tersenyum lembut, yang di masa depan mendorongnya ke pernikahan mengerikan dan secara pasif membantu rencana pembunuhannya.

Dan Zain. Sosok kecil yang tampan, dengan mata abu-abu cerah dan rambut gelap yang sama dengan Yasmeen. Anak yang di masa lalu ia cintai sepenuh hati sebagai adik tiri, yang akhirnya ia percayai dengan masa depan Emirat, namun akhirnya memilih racun untuknya.

Kekejaman macam apa yang menanti di mata mungil itu? hati Yasmeen menjerit.

“Abī,” ujar Yasmeen, bangkit berdiri dan memasang topeng manisnya. Itu adalah hal yang mudah baginya kini. Ia telah hidup lebih dari dua dekade. “Sungguh kejutan yang menyenangkan. Aku tidak tahu Abī membawa Roobbatun Mehra dan anak-anak Abī ke Sayap Timur.”

Zahir tertawa. Itu adalah tawa yang dalam dan palsu. “Tentu saja. Setelah Jaddīmu tiada, kita harus menjadi keluarga. Aku sangat merindukan putriku yang satu-satunya ini, Yasmeen. Kami tidak boleh membiarkanmu sendirian. Kami ingin mengucapkan selamat tinggal.”

Selamat tinggal? Ia sedang berusaha mendorongku kembali ke rencana semula. Rencana pendidikan. Rencana pernikahan.

Mehra maju selangkah, postur tubuhnya sangat berhati-hati. Mehra adalah wanita yang cerdik, tidak seganas Zahir, tetapi lebih licik. “Ya, Sayyidah. Kami semua sedih kau akan segera meninggalkan kami. Tetapi perjalanan ke Kota Agung adalah kehormatan besar, bukan?”

“Aku tidak akan pergi, Roobbatun Mehra,” jawab Yasmeen, menjaga nada suaranya tetap ringan, seolah-olah itu hanya detail kecil yang ia lupakan. Ia melihat Mehra tersentak sedikit. Jelas Zahir belum memberitahu seluruh keluarganya bahwa rencananya terhenti total.

Zahir segera turun tangan, ekspresinya menjadi muram dan serius, meninggalkan tawa palsunya. “Yasmeen, kita sudah membicarakan ini. Ini bukan keputusan yang kau buat sendiri. Ini adalah kebaikan Sultan. Jaddīmu pun akan menyetujuinya.”

Yasmeen melangkah ke samping, memberi isyarat kepada Zain dan Ruqayyah yang kini berdiri canggung di ambang pintu.

“Zain, kemarilah. Ruqayyah, apakah kalian merindukan Sayyidah?” Yasmeen berlutut, membawa dirinya sejajar dengan bocah lima tahun itu. Perutnya mual, tetapi ia memaksakan sentuhan.

Ruqayyah, polos dan mungil, segera memeluknya. “Ukhth Yasmeen bau tinta!” katanya dengan logat cadel.

Zain tidak memeluknya. Anak itu menatap Yasmeen dengan tatapan ingin tahu yang sangat dalam, tatapan yang terlalu tajam untuk anak seusianya. Tatapan yang sama, dingin dan menuntut, yang akan ia lihat dari mata Zain, saat bocah itu beranjak dewasa dan merebut segala miliknya.

“Ayah bilang, Ukhth Yasmeen akan pergi jauh untuk menjadi Putri Kota Agung,” ucap Zain, suaranya sedikit gemetar, namun ada nada tuntutan yang jelas. “Apakah Sayyidah akan kembali dan memimpin istana ini?”

Pikiran Yasmeen bergerak cepat. Ia perlu memprovokasi ambisi Zain sekarang. Ambisi yang di masa lalu dibiarkan membara oleh Zahir dan Mehra, sampai membakar seluruh Nayyirah.

“Memimpin istana ini?” Yasmeen membelai rambut Zain dengan lembut, sentuhan palsu yang membuatnya merinding. “Mengapa kamu menanyakan itu, Zain? Apakah kamu ingin menjadi pemimpin di sini?”

Zain menegakkan tubuh. “Aku adalah putra Sayyid Zahir! Tentu saja. Ayah bilang, jika Sayyidah pergi belajar, Ayah yang akan merawat istana ini sampai aku besar. Aku akan membantu Ayah. Aku akan mengendarai kuda dan pergi ke perbatasan seperti Jaddī!”

Wajah Zahir seketika menjadi tegang. Zahir jelas terkejut bahwa anaknya mengungkap rencana tersembunyi itu—bahwa Zahir berniat mengendalikan Emirat melalui nama Zain, sementara Yasmeen tersingkir.

Yasmeen menatap Zain, matanya berkedip dengan kepedihan masa lalu yang tidak tertahankan. Bocah ini tidak tahu apa-apa, ia hanya mengulangi ambisi ayahnya. Namun, Yasmeen tidak bisa memaafkan. Ia tidak bisa mencintai Zain lagi, karena di mata itu, ia hanya melihat pengkhianatan yang fatal.

Zainku. Aku pernah mencintaimu begitu buta hingga aku menyerahkan kendali padamu. Kali ini, kau hanya akan menjadi pengamat, terpisah dariku selamanya.

Yasmeen bangkit berdiri. Keramahan palsunya langsung menghilang, digantikan oleh keseriusan seorang Emir yang baru saja mendengar ancaman suksesi.

“Abī, mengapa Abī berkata pada Zain bahwa ia akan merawat istana ini?” tuntut Yasmeen, nadanya masih dikontrol, tetapi ketegasan yang baru ia gunakan di depan Wazir tadi kembali muncul.

Zahir melambaikan tangan, mencoba mengabaikan momen canggung itu. “Itu hanya obrolan kecil dengan anak-anak, Yasmeen. Aku hanya menenangkannya agar ia tidak bersedih saat kau pergi. Bagaimanapun, kau adalah putriku. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu.”

Ia mendekati Yasmeen, matanya memancarkan rasa bersalah yang diatur, berusaha memeluk Yasmeen. Yasmeen membiarkannya, membiarkan tubuhnya tetap kaku di dalam pelukan dangkal itu. Ia tahu pelukan ini adalah kamera yang harus ditunjukkan kepada Mehra dan anak-anak, untuk menunjukkan betapa Zahir mencintai putrinya.

“Jika Abī benar-benar ingin yang terbaik untukku,” kata Yasmeen, menekan setiap kata saat Zahir melepaskannya, “maka Abī harusnya memberitahu Roobbatun Mehra dan Zain bahwa aku akan tetap tinggal di Nayyirah. Aku akan menjadi Emirah. Dan Zain adalah adikku, tapi ia bukan penerusku. Dia adalah Sayyid.”

Mehra yang mendengar itu, langsung kehilangan ketenangan. Ia melihat masa depan putranya yang dijanjikan Zahir akan terenggut. Rasa putus asa terlihat di matanya yang indah.

Mehra, digerakkan oleh naluri ibu yang takut kehilangan, mencoba mengimbangi situasi. Ia mengabaikan Zahir yang sudah mulai pucat karena kehilangan kendali narasi, dan mencoba meraih pipi Yasmeen, dalam gestur ibu tiri yang penuh kasih.

“Sayyidahku yang cantik. Kau pasti terlalu lelah setelah kematian Jaddīmu,” bisik Mehra, suaranya halus, penuh perhatian palsu yang ia ingat dengan jelas dari kehidupan masa lalunya—perhatian yang ia gunakan untuk memastikan Yasmeen selalu merasa aman sebelum menikamnya dari belakang. “Kami semua di sini untuk merawatmu, untuk memastikan kau tidak merasa terbebani. Istirahatlah, Sayyidah. Kami tidak mau kau jatuh sakit. Mungkin, istirahatlah selama setahun, lalu pergi ke Kota Agung?”

Jemari Mehra hampir menyentuh pipi Yasmeen.

Tiba-tiba, Yasmeen menggeser wajahnya, menghindari sentuhan itu. Ia menoleh ke Mehra, dan memberinya senyum. Itu bukan senyum seorang gadis kecil. Itu adalah senyum predator, lembut namun menakutkan, penuh dengan kesadaran akan masa depan yang mengerikan.

“Roobbatun Mehra tidak perlu khawatir tentang masa depanku.”

Wajah Mehra membeku. Sentuhan yang ditolaknya jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan terbuka.

Yasmeen melanjutkan, matanya mengarah lurus ke mata Zahir yang panik, tetapi ia berbicara kepada Mehra. Suaranya rendah dan tajam, menusuk jauh di balik topeng Mehra sebagai ibu tiri yang penyayang.

“Abī yang akan merawatku. Bukankah begitu, Abī?” Yasmeen berhenti sejenak, sengaja membiarkan pertanyaan retoris itu menggantung di udara. “Atau Roobbatun lebih senang melihat aku pergi?”

Wajah Zahir seketika menjadi abu-abu. Ia mengerti implikasinya: Yasmeen menuduh Mehra mencoba menyingkirkannya demi masa depan Zain. Tuduhan itu dilemparkan di depan anak-anak, yang segera merasa tertekan oleh atmosfer yang dingin.

Zahir, menyadari dia telah kehilangan manuver emosionalnya, langsung menarik lengan Mehra dengan kasar, menyeretnya mundur dari ruangan itu.

“Sudah cukup! Sudah cukup. Yasmeen masih berduka. Kita akan kembali, Mehra. Ayo, Zain, Ruqayyah. Biarkan Sayyidah beristirahat!” Zahir menarik mereka keluar, dengan cepat menutup pintu gading itu.

Suara langkah kaki mereka berangsur-angsur menghilang. Keheningan yang tercipta jauh lebih menakutkan daripada kebisingan mereka. Yasmeen, sendirian, menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena ketakutan, melainkan karena kelegaan bahwa interaksi penuh racun itu sudah berakhir.

Ia berjalan menuju jendela, mengintip melalui celah tirai yang tertutup rapat. Ia melihat Zahir di koridor Sayap Barat, mencengkeram lengan Mehra. Mereka sedang bertengkar. Wajah Mehra marah, ia memukul tangan Zahir. Mehra berbisik, sesuatu yang keras dan penuh tuduhan. Mereka berjalan pergi ke kediaman Zahir.

Yasmeen berdiri tegak, tangannya terkepal di ambang jendela. Di kehidupan lalu, ia selalu menganggap Mehra adalah selir biasa, korban dari janji-janji manis Zahir. Tetapi pertengkaran tadi, dan sorot mata Mehra saat ia berbicara tentang masa depan Zain, memberinya kesadaran dingin.

Mehra bukan sekadar korban yang dimanipulasi.

Mehra tahu rencana Zahir, Mehra terlibat, dan Mehra menuntut balas jasa.

Mehra adalah mitra Zahir dalam ambisi, dan itu berarti Roobbatun Mehra adalah musuh yang sama berbahayanya.

Terpopuler

Comments

Melody Aurelia

Melody Aurelia

aslinya cuma alat anak ini, dipake bapaknya yg maruk

2025-11-14

1

Melody Aurelia

Melody Aurelia

lah itu puterinya satu lagi piye?

2025-11-14

1

SintabelumketemuRama

SintabelumketemuRama

Maju terus Yasmeen

2025-11-08

1

lihat semua
Episodes
1 Kelahiran Kembali
2 Langkah Pertama Sayyidah
3 Mengendalikan Mesin Administrasi
4 Merumuskan Rencana Balasan
5 Sama Berbahayanya
6 Kelemahan Paling Mematikan
7 Senjata Tersembunyi
8 Racun di Balik Kotak Gaharu
9 Tumbuhnya Benih Kebencian
10 Kepanikan yang Tersembunyi
11 Pertempuran Emosional
12 Yang Berpaling dan yang Berkhianat
13 Skandal yang Disiapkan
14 Drama Roobbatun
15 Meludahkan Ancaman
16 Yang Akan Datang
17 Membeli Waktu dengan Harga Diri
18 Darah di Lantai Penjara
19 Umpan untuk Sang Emir
20 Keputusan yang Membakar Nayyirah
21 Benih Kebencian
22 Ketetapan Sayyidah Yasmeen
23 Pengadilan Sayyid Zahir
24 hakim yang tak terkalahkan
25 Sedingin Baja
26 Mencoba Menyerang Nayyirah Secara Politik
27 Bibit Masa Depan yang Kejam
28 Menjadi Janda Sebelum Menjadi Istri
29 Anak Sekecil Ini, Melawan Dunia
30 Ujian Sang Penguasa
31 Simbol Pangeran Malik
32 Politik Cerdas
33 Memicu Kekacauan Administrasi
34 Mawar Hitam di Sarang Hiu
35 Selamatkan Logistik
36 Bergerak Dalam Konvoi Senyap
37 Menghilangkan Jejak Kelembutan
38 Menyia-nyiakan Kartu Terbaik
39 Serigala Muda yang Menyamar
40 Kekacauan di Ruang Kertas Istana
41 Pesta Mawar Hitam dan Topeng Gadis Kecil
42 Kesepakatan dengan Iblis
43 Selamat Datang di Kandang Ular
44 Guru Privat yang Mematikan
45 Membunuh Cinta Demi Nyawa
46 Pilihan Sang Iblis
47 Tumbal Sang Pangeran
48 Harga Sebuah Nyawa
49 Sang Umpan dan Pangeran
50 Iblis Bernama Zayd
51 Diplomasi Ujung Pisau
52 Negosiasi Berdarah
53 Ratu, Pion, dan Utang Darah
54 Bunga Berduri dan Guru Kejam
55 Sang Guru dan Kematian Sultan
56 Deklarasi Perang
57 Pertaruhan Hati dan Takhta
58 Sang Wali dan Boneka Bernyawa
59 Pencurian, Permata, dan Pangeran Sandera
60 Pengorbanan Sang Pangeran Baper
61 Hadiah Perpisahan Sang Wali Tertinggi
62 Rantai yang Putus
63 Warisan dari Liang Kubur
64 Tamu di Sayap Matahari Terbenam
65 Darah di Lantai Marmer
66 Air Lebih Manis daripada Pengantin
67 Ratu Tanpa Mahkota
68 Dansa di Atas Bara Api
69 Poker Maut dengan Sang Sultan
70 Umpan Berdarah di Sarang Serigala
71 Umpan Berdarah dan Kebohongan Besar
72 Runtuhnya Sang Dewa Perang
73 Abi yang Kembali dari Neraka
74 Pangeran yang Mengingat Masa Lalu
75 Hantu Masa Lalu dan Pintu yang Terkunci
76 Rahasia di Balik Darah
77 Pangeran yang Mengingat Segalanya
78 Papan Catur yang Terbakar
79 Sandiwara Berdarah
80 Ratu Drama dan Surat Berdarah
81 Darah yang Terpotong
82 Bayangan yang Terkubur
83 Negosiasi Darah dan Petisi Tua
84 Pedang di Atas Tahta
85 Neraka bagi Sang Permaisuri
86 Sang Martir yang Bangkit
87 Jebakan Emas
88 Harga Sebuah Pengkhianatan
89 Mahkota Terakhir
90 Sang Emirah dan Janji Gurun (TAMAT)
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Kelahiran Kembali
2
Langkah Pertama Sayyidah
3
Mengendalikan Mesin Administrasi
4
Merumuskan Rencana Balasan
5
Sama Berbahayanya
6
Kelemahan Paling Mematikan
7
Senjata Tersembunyi
8
Racun di Balik Kotak Gaharu
9
Tumbuhnya Benih Kebencian
10
Kepanikan yang Tersembunyi
11
Pertempuran Emosional
12
Yang Berpaling dan yang Berkhianat
13
Skandal yang Disiapkan
14
Drama Roobbatun
15
Meludahkan Ancaman
16
Yang Akan Datang
17
Membeli Waktu dengan Harga Diri
18
Darah di Lantai Penjara
19
Umpan untuk Sang Emir
20
Keputusan yang Membakar Nayyirah
21
Benih Kebencian
22
Ketetapan Sayyidah Yasmeen
23
Pengadilan Sayyid Zahir
24
hakim yang tak terkalahkan
25
Sedingin Baja
26
Mencoba Menyerang Nayyirah Secara Politik
27
Bibit Masa Depan yang Kejam
28
Menjadi Janda Sebelum Menjadi Istri
29
Anak Sekecil Ini, Melawan Dunia
30
Ujian Sang Penguasa
31
Simbol Pangeran Malik
32
Politik Cerdas
33
Memicu Kekacauan Administrasi
34
Mawar Hitam di Sarang Hiu
35
Selamatkan Logistik
36
Bergerak Dalam Konvoi Senyap
37
Menghilangkan Jejak Kelembutan
38
Menyia-nyiakan Kartu Terbaik
39
Serigala Muda yang Menyamar
40
Kekacauan di Ruang Kertas Istana
41
Pesta Mawar Hitam dan Topeng Gadis Kecil
42
Kesepakatan dengan Iblis
43
Selamat Datang di Kandang Ular
44
Guru Privat yang Mematikan
45
Membunuh Cinta Demi Nyawa
46
Pilihan Sang Iblis
47
Tumbal Sang Pangeran
48
Harga Sebuah Nyawa
49
Sang Umpan dan Pangeran
50
Iblis Bernama Zayd
51
Diplomasi Ujung Pisau
52
Negosiasi Berdarah
53
Ratu, Pion, dan Utang Darah
54
Bunga Berduri dan Guru Kejam
55
Sang Guru dan Kematian Sultan
56
Deklarasi Perang
57
Pertaruhan Hati dan Takhta
58
Sang Wali dan Boneka Bernyawa
59
Pencurian, Permata, dan Pangeran Sandera
60
Pengorbanan Sang Pangeran Baper
61
Hadiah Perpisahan Sang Wali Tertinggi
62
Rantai yang Putus
63
Warisan dari Liang Kubur
64
Tamu di Sayap Matahari Terbenam
65
Darah di Lantai Marmer
66
Air Lebih Manis daripada Pengantin
67
Ratu Tanpa Mahkota
68
Dansa di Atas Bara Api
69
Poker Maut dengan Sang Sultan
70
Umpan Berdarah di Sarang Serigala
71
Umpan Berdarah dan Kebohongan Besar
72
Runtuhnya Sang Dewa Perang
73
Abi yang Kembali dari Neraka
74
Pangeran yang Mengingat Masa Lalu
75
Hantu Masa Lalu dan Pintu yang Terkunci
76
Rahasia di Balik Darah
77
Pangeran yang Mengingat Segalanya
78
Papan Catur yang Terbakar
79
Sandiwara Berdarah
80
Ratu Drama dan Surat Berdarah
81
Darah yang Terpotong
82
Bayangan yang Terkubur
83
Negosiasi Darah dan Petisi Tua
84
Pedang di Atas Tahta
85
Neraka bagi Sang Permaisuri
86
Sang Martir yang Bangkit
87
Jebakan Emas
88
Harga Sebuah Pengkhianatan
89
Mahkota Terakhir
90
Sang Emirah dan Janji Gurun (TAMAT)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!