Kuntilanak Merah

Kuntilanak Merah

Bab 1. Rel kereta api

Toooootttt.

suara suling lokomotif sudah mulai terdengar dari kejauhan pertanda kereta api akan segera lewat di bagian sini, Umar yang berjaga menutup palang kereta api segera bersiap dan melihat apakah ada yang sedang nekat untuk tetap menerobos walau sudah terdengar peringatan bahwa kereta api akan segera melintas kawasan ini.

Kadang kala masih ada juga yang mau menyerobot dan tetap saja melintas walau sudah mendengar suara suling lokomotif dari kereta api, padahal bila sudah terlindas dengan ban kereta api maka dapat dipastikan mereka semua akan menjadi bubur dan pasti nanti akan Umar juga yang mendapat teguran karena dia di anggap tidak konsisten menjaga palang kereta api.

"Uh malam ini dingin sekali, mana gerimis pula." keluh Umar dan segera masuk di dalam pos lagi.

"Apa, gerimis pula malam ini?" Surya menatap Umar.

"Iya, tidak lebat tapi cukup membuat tubuh terasa dingin dan suasana menjadi kurang nyaman." Umar menghisap rokok yang ada di tangan sejak tadi.

Surya mengintip dari jendela karena dia sudah hafal dengan suasana yang seperti ini, mereka sudah lama kerja di sini dan jadi sudah hafal berbagai macam segala kondisi yang agak membuat tubuh merinding seketika, bila tidak yang bermental kuat maka dapat di pastikan mereka sudah undur diri sejak dahulu.

Kalau suasana sudah seperti ini maka mereka harus menjaga sikap dan juga ekstra hati-hati agar tidak ada yang menjadi tumbal, tapi kadang mereka yang sudah berhati-hati agar jangan sampai ada nyawa melayang namun tetap saja ada orang yang ngeyel sehingga mau tidak mau kecelakaan seringkali terjadi di bagian sini.

"Wes tidak akan ada apa-apa." Umar berusaha untuk tetap tenang.

"Ini malam Jumat Kliwon." Surya berbisik lirih pada temannya ini.

"Ya, aku juga baru sadar kalau ini malam Jumat Kliwon." Umar mengangguk dan kembali menatap sekitar pos.

"Nah kan!" Surya berkata agak keras karena matanya menangkap sesuatu di seberang rel.

Umar segera menoleh dan ikut melihat ke arah pandangan mata Surya saat ini, tapi dia tidak melihat apa yang tengah Surya lihat sehingga merasa agak bingung. tapi dari ekspresi Surya saja Umar sudah bisa menebak bahwa ini ada yang tidak beres, sebab temannya yang satu ini memiliki firasat kuat.

"Dia ada di seberang jalan sana!" Surya cepat memegang buku Yasin yang selalu tersedia di laci meja kerja.

"Ya Allah tolong lindungilah kami yang sedang bekerja untuk mencari sesuap nasi." Umar berdoa dengan suara lirih.

"Jangan ganggu kami di sini, Nduk! kami tidak tahu yang terjadi pada dirimu." Surya mengusap wajah berulang kali.

Namun tak lama suara gemuruh kereta api segera menghalangi pandangan surya yang tetap tidak berkedip ketika melihat seorang gadis atau wanita yang tengah berdiri di seberang rel, pakaian nya berwarna merah darah dan agak compang-camping sehingga membuat siapa saja merasa sedikit kasihan bila melihat wanita itu.

"Ya Allah!" Surya mengusap dada dengan hati yang agak lega.

"Semoga setelah kereta lewat maka dia tidak akan ada lagi di sana." Umar juga takut walau dia belum pernah melihat wujud wanita itu.

"Aku kalau melihat seperti ini secara langsung kok ya lemes." Surya memang gemetar dan wajah terlihat begitu pucat.

"Ya Allah seperti inilah mencari sesuap nasi untuk keluarga, tolong lindungi kami." Umar berdoa tulus.

"Kereta akan selesai melintas, semoga saja dia memang sudah tidak ada lagi di sana." Surya harap harap cemas dan juga tegang karena takut bila wanita itu masih berdiri di sana.

"Apa benar kabar yang beredar bahwa dia di bunuh oleh suami sendiri?" Umar malah bertanya demikian karena dia sangat penasaran.

"Kampret! ya mana aku tahu kok malah kau tanya pula denganku dengan suasana yang seperti ini." Surya jadi ingin marah karena Umar malah bertanya sekarang dan sedang di lokasi yang sama pula.

Umar pun menutup mulut menyadari apa yang telah dia lakukan adalah hal yang salah, suasana lagi mencekam dan juga sudah pasti Surya sedang dilanda rasa ketakutan yang begitu besar sehingga tidak enak sekali untuk membahas arwah wanita itu di sini, takut bila nanti mendadak malah dia ikut masuk di dalam pos dan ngobrol bersama mereka.

...****************...

Digo duduk di pos dan ikut berbincang dengan para temannya yang sedang asyik bermain kartu, dia memang agak telat karena tadi ingin mencari sesuatu yang menarik sehingga bisa membuat hati gadis yang dia taksir sedikit terbuka karena sudah lama sekali perjuangan ini tapi tidak membuahkan hasil.

"Dari mana kamu kok baru datang?" Arka menatap Digo.

"Lah aku ya cari sesuatu menarik seperti katamu itu." jawab Digo sambil membuka ponsel.

"Teman sudah punya anak tapi kok masih sibuk saja mengejar cinta!" Arka mengejek temannya ini.

"Anak Arka sudah tiga tahun dan aku juga sebentar lagi akan punya anak." Udin menatap Digo.

Digo yang di ejek cuek saja karena dia tidak peduli dengan ejekan mereka semua, kalau saja gadis itu mau menerima cinta dia maka sudah pasti Digo akan segera menikah dan tidak akan untuk pacaran lebih lama. ini yang di kejar saja masih terus mengelak, jadi bagaimana pula mau segera menikah seperti yang lain.

"Jangan bilang nanti malah jatuh cinta pada Khodijah!" ejek Rizki kepada Digo.

"Gila, aku tidak mau punya menantu setua ini." Arka langsung menolak karena tidak mau.

"Tenang, masih ada anak Udin kalau Arka tidak merestui hubungan mu." Riski masih terus saja mengejek Digo.

"Masih mending aku berusaha untuk mengejar cinta gadis yang ku sukai, lihat lah diri mu itu yang sampai saat ini belum ada cocok jadi aku curiga bahwa memang kau seorang gay!" Digo ganti mengejek Rizki.

Rizki yang di ajek seperti itu langsung merah padam karena tidak terima di katakan sebagai gay, sudah jelas dia adalah pria yang normal dan naksir pada seorang wanita tapi yang di takdir malah janda kembang sehingga tidak di restui oleh orang tua dan Riski memilih untuk memendam saja perasaan ini.

"Ar, kau pernah dengar tidak soal rel kereta api yang ada di ujung desa?" Udin menatap Arka.

"Pernah, aku juga pernah ke sana untuk mencari tapi ternyata dia tidak ada." jawab Arka yang langsung paham kemana arah pembicaraan Udin.

Sebab sekarang memang menjadi topik hangat soal keberadaan arwah yang kadangkala muncul di rel kereta api untuk memberi tanda bahwa tidak lama lagi akan ada kecelakaan, Arka sudah ke sana untuk mencari tahu tapi sayang nya tidak bertemu dengan kuntilanak merah itu.

Selamat siang, tolong like dan komen nya ya.

Terpopuler

Comments

Echa Mauli

Echa Mauli

ini cerita kehidupan di kota ya Thor?apa didesa mba Pur? nyimak dg karya2 terbaru othor

2025-10-28

1

Shidqia Rahma

Shidqia Rahma

horayyyyy kisah nya Arka cS😍😍
maaf kk² yg pada baik, baru gabung baca judul ini😄

2025-12-05

1

Alik Puspita Wati

Alik Puspita Wati

Wahh karya baru lagi yaa thor/Kiss/
baru bab pertama aja udah merinding thor. gambar visual rel kereta nya betul betul bikin merinding. Semoga sukses untuk karya nya thor/Kiss/

2025-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Rel kereta api
2 Bab 2. Hampir jadi korban
3 Bab 3. Rombongan Arka
4 Bab 4. Arka hilang
5 Bab 5. Di hajar kuntilanak merah
6 Bab 6. genderuwo hitam
7 Bab 7. Bingung nya Seruni
8 Bab 8. Mata merah
9 Bab 9. Kendal tumbang
10 Bab 10. Menemukan Kendal
11 Bab 11. Di marahi
12 Bab 12. Dewa iblis dan Jalak
13 Bab 13. Otong di lempar
14 Bab 14. Janji Arya
15 Bab 15. Gadis berbaju putih
16 Bab 16. Di takuti Yasmin
17 Bab 17. Suketi
18 Bab 18. Purnama mendekat
19 Bab 19. Sama² kembang desa
20 Bab 20. Kunmerah menang lotre
21 Bab 21. Arya datang
22 Bab 22. Rekso vs Yasmin
23 Bab 23. Mengalahkan genderuwo
24 Bab 24. Lebay nya Xavier
25 Bab 25. Arini dan Saiyara
26 Bab 26. Debat bersama Suketi
27 Bab 27. Laporan Khodijah
28 Bab 28. Part mewek
29 Bab 29. Suketi tertampar
30 Bab 30. Ada ketua nya
31 Bab 31. Rudi keras kepala
32 Bab 32. Kedatangan Xiela
33 Bab 33. Nyanyian setan
34 Bab 34. Arya datang
35 Bab 35. Mencari di gerbong
36 Bab 36. Menendang kaleng
37 Bab 37. Dapat kuku kuntilanak
38 Bab 38. Mahluk tanpa kepala
39 Bab 39. Pertempuran duo besti
40 Bab 40. Saling bertempur
41 Bab 41. Arjuna Muak
42 Bab 42. Rapat
43 Bab 43. Ajakan Kiara
44 Bab 44. Amukan Xavier
45 Bab 45. Di jitak Arya
46 Bab 46. Mencari Rudi
47 Bab 47. Ngeyel sekali
48 Bab 48. Pemuda dari desa mati
49 Bab 49. Bertemu ketua
50 Bab 50. Bertempur
51 Bab 51. Fiona
52 Bab 52. Mencari para member
53 Bab 53. Arini vs kuntilanak
54 Bab 54. Purnama terluka
55 Bab 55. Kiara vs Senopati
56 Bab 56. Terkencing di celana
57 Bab 57. Arya vs kuntilanak merah
58 Bab 58. kecurigaan Purnama
59 Bab 59. curiga yang semakin besar
60 Bab 60. Derita kuntilanak merah
61 Bab 61. Katemi keras kepala
62 Bab 62. Memotong gigi
63 Bab 63. Kisah Suamiati
64 Bab 64. Korban lagi
65 Bab 65. Mencari Katemi
66 Bab 66 . Tidak menemukan
67 Bab 67. Kisah Sumiati part 2
68 Bab 68. Kisah Sumiati part3
69 Bab 69. Kisah Sumiati part4
70 Bab 70. Perasaan Sumiati
71 Bab 71. Pembalasan untuk Ayu
72 Bab 72. Siksaan untuk Damar
73 Bab 73. Tamparan kencang
74 Bab 74. Kematian Yanti
75 Bab 75. Malu nya Digo
76 Bab 76. Mengejek Digo
77 Bab 77. Debat dengan Kiara
78 Bab 78. Tubuh bercahaya putih
79 Bab 79. Mencari arwah lagi
80 Bab 80. Mencuci baju
81 Bab 81. Gagal merenung
82 Bab 82. Mas Untung
83 Bab 83. Kesedihan Aji
84 Bab 84. Rasa sedih Aji
85 Bab 85. Di kejar anjing
86 Bab 86. Digo atau Bego
87 Bab 87. Hantu di balik pohon
88 Bab 88. Angsa putih
89 Bab 89. Menghajar iblis kaki enam
90 Bab 90. Suketi sedih
91 Bab 91. Di kira gay
92 Bab 92. Kuntilanak merah iri
93 Bab 93. Arka datang
94 Bab 94. Banyak tuduhan
95 Bab 95. Suketi histeris
96 Bab 96. Tangisan setan pohon
97 Bab 97. Mengancam Digo
98 Bab 98. Latihan dengan Dewa iblis
99 Bab 99. Mas Untung
100 Bab 100. Pertemuan haru
101 Bab 101. Ingatan yang kembali
102 Bab 102. Mendatangi Nolan
103 Bab 103. Mencari penawar Mas Untung
104 Bab 104. Perasaan galau Sumiati
105 Bab 105. Latihan Digo
106 Bab 106. Sibuk mencari
107 Bab 107. Sukma tertuduh
108 Bab 108. Sukma menuduh Sumiati
109 Bab 109. Kecurigaan Anita
110 Bab 110. Anita mengamuk
111 Bab 111. Xavier dan Digo
112 Bab 112. Sedikit bertengkar
113 Bab 113. Kendal sebagai Saksi
114 Bab 114. bertarung
115 Bab 115. Zidan hampir di perkosa
116 Bab 116. Anggrek merah
117 Bab 117. Menemukan goa angrek
118 Bab 118. Menemukan Ratu ular
119 Bab 119. Masih menghajar
120 Bab 120. Menghajar Kemuning
121 Bab 121. Mencari maaf
122 Bab 122. Pertanyaan untuk Digo
123 Bab 123. Siksaan Sumiati
124 Bab 124. galau nya Kana
125 Bab 125. di siram air sungai kematian
126 Bab 126. Mendorong Purnama
127 Bab 127. Kembali membunuh Sumiati
128 Bab 128. Aji meminta lagi
129 Bab 129. Soda api
130 Bab 130. Kumpul bersama
131 Bab 131. Sudah akur
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Bab 1. Rel kereta api
2
Bab 2. Hampir jadi korban
3
Bab 3. Rombongan Arka
4
Bab 4. Arka hilang
5
Bab 5. Di hajar kuntilanak merah
6
Bab 6. genderuwo hitam
7
Bab 7. Bingung nya Seruni
8
Bab 8. Mata merah
9
Bab 9. Kendal tumbang
10
Bab 10. Menemukan Kendal
11
Bab 11. Di marahi
12
Bab 12. Dewa iblis dan Jalak
13
Bab 13. Otong di lempar
14
Bab 14. Janji Arya
15
Bab 15. Gadis berbaju putih
16
Bab 16. Di takuti Yasmin
17
Bab 17. Suketi
18
Bab 18. Purnama mendekat
19
Bab 19. Sama² kembang desa
20
Bab 20. Kunmerah menang lotre
21
Bab 21. Arya datang
22
Bab 22. Rekso vs Yasmin
23
Bab 23. Mengalahkan genderuwo
24
Bab 24. Lebay nya Xavier
25
Bab 25. Arini dan Saiyara
26
Bab 26. Debat bersama Suketi
27
Bab 27. Laporan Khodijah
28
Bab 28. Part mewek
29
Bab 29. Suketi tertampar
30
Bab 30. Ada ketua nya
31
Bab 31. Rudi keras kepala
32
Bab 32. Kedatangan Xiela
33
Bab 33. Nyanyian setan
34
Bab 34. Arya datang
35
Bab 35. Mencari di gerbong
36
Bab 36. Menendang kaleng
37
Bab 37. Dapat kuku kuntilanak
38
Bab 38. Mahluk tanpa kepala
39
Bab 39. Pertempuran duo besti
40
Bab 40. Saling bertempur
41
Bab 41. Arjuna Muak
42
Bab 42. Rapat
43
Bab 43. Ajakan Kiara
44
Bab 44. Amukan Xavier
45
Bab 45. Di jitak Arya
46
Bab 46. Mencari Rudi
47
Bab 47. Ngeyel sekali
48
Bab 48. Pemuda dari desa mati
49
Bab 49. Bertemu ketua
50
Bab 50. Bertempur
51
Bab 51. Fiona
52
Bab 52. Mencari para member
53
Bab 53. Arini vs kuntilanak
54
Bab 54. Purnama terluka
55
Bab 55. Kiara vs Senopati
56
Bab 56. Terkencing di celana
57
Bab 57. Arya vs kuntilanak merah
58
Bab 58. kecurigaan Purnama
59
Bab 59. curiga yang semakin besar
60
Bab 60. Derita kuntilanak merah
61
Bab 61. Katemi keras kepala
62
Bab 62. Memotong gigi
63
Bab 63. Kisah Suamiati
64
Bab 64. Korban lagi
65
Bab 65. Mencari Katemi
66
Bab 66 . Tidak menemukan
67
Bab 67. Kisah Sumiati part 2
68
Bab 68. Kisah Sumiati part3
69
Bab 69. Kisah Sumiati part4
70
Bab 70. Perasaan Sumiati
71
Bab 71. Pembalasan untuk Ayu
72
Bab 72. Siksaan untuk Damar
73
Bab 73. Tamparan kencang
74
Bab 74. Kematian Yanti
75
Bab 75. Malu nya Digo
76
Bab 76. Mengejek Digo
77
Bab 77. Debat dengan Kiara
78
Bab 78. Tubuh bercahaya putih
79
Bab 79. Mencari arwah lagi
80
Bab 80. Mencuci baju
81
Bab 81. Gagal merenung
82
Bab 82. Mas Untung
83
Bab 83. Kesedihan Aji
84
Bab 84. Rasa sedih Aji
85
Bab 85. Di kejar anjing
86
Bab 86. Digo atau Bego
87
Bab 87. Hantu di balik pohon
88
Bab 88. Angsa putih
89
Bab 89. Menghajar iblis kaki enam
90
Bab 90. Suketi sedih
91
Bab 91. Di kira gay
92
Bab 92. Kuntilanak merah iri
93
Bab 93. Arka datang
94
Bab 94. Banyak tuduhan
95
Bab 95. Suketi histeris
96
Bab 96. Tangisan setan pohon
97
Bab 97. Mengancam Digo
98
Bab 98. Latihan dengan Dewa iblis
99
Bab 99. Mas Untung
100
Bab 100. Pertemuan haru
101
Bab 101. Ingatan yang kembali
102
Bab 102. Mendatangi Nolan
103
Bab 103. Mencari penawar Mas Untung
104
Bab 104. Perasaan galau Sumiati
105
Bab 105. Latihan Digo
106
Bab 106. Sibuk mencari
107
Bab 107. Sukma tertuduh
108
Bab 108. Sukma menuduh Sumiati
109
Bab 109. Kecurigaan Anita
110
Bab 110. Anita mengamuk
111
Bab 111. Xavier dan Digo
112
Bab 112. Sedikit bertengkar
113
Bab 113. Kendal sebagai Saksi
114
Bab 114. bertarung
115
Bab 115. Zidan hampir di perkosa
116
Bab 116. Anggrek merah
117
Bab 117. Menemukan goa angrek
118
Bab 118. Menemukan Ratu ular
119
Bab 119. Masih menghajar
120
Bab 120. Menghajar Kemuning
121
Bab 121. Mencari maaf
122
Bab 122. Pertanyaan untuk Digo
123
Bab 123. Siksaan Sumiati
124
Bab 124. galau nya Kana
125
Bab 125. di siram air sungai kematian
126
Bab 126. Mendorong Purnama
127
Bab 127. Kembali membunuh Sumiati
128
Bab 128. Aji meminta lagi
129
Bab 129. Soda api
130
Bab 130. Kumpul bersama
131
Bab 131. Sudah akur

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!