Warisan Mutiara Hitam

Warisan Mutiara Hitam

Sampah dan Mutiara

Matahari di atas Kota Awan Jatuh terasa membakar, seolah ingin memanggang bumi di bawahnya. Namun, di dalam kompleks Klan Chen, di halaman belakang yang paling terpencil, rasa panas itu bercampur dengan debu dan bau keringat yang menyengat.

KRAK!

Serpihan kayu berterbangan. Chen Kai mengayunkan kapaknya dengan kekuatan yang dipaksakan. Urat-urat di lengannya yang kurus menonjol, dan setiap ototnya berteriak protes. Ini adalah tumpukan kayu bakar kesepuluh yang harus ia selesaikan hari ini sebelum ia bisa mengurus cucian para murid.

Keringat mengalir di pelipisnya, membasahi rambutnya yang kusam dan acak-acakan. Pakaian linennya yang kasar sudah lusuh dan berbau asam.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun penuh, inilah kehidupannya.

Dia berhenti sejenak, menyandarkan kapak dan menatap telapak tangannya yang kapalan dan melepuh. Di dunia ini, di mana kekuatan adalah segalanya, di mana para kultivator bisa membelah sungai dan meratakan gunung, dia—Chen Kai—menghabiskan hari-harinya dengan pekerjaan kasar yang bahkan tidak akan dilakukan oleh pelayan terendah.

Padahal, dulu tidak seperti ini.

Sebuah ingatan melintas di benaknya, begitu jelas hingga terasa menyakitkan. Ingatan tentang dirinya yang berusia dua belas tahun, berdiri di panggung uji bakat Klan Chen. Batu Penguji Roh bersinar dengan cahaya keemasan yang menyilaukan, menunjukkan sembilan meridian spiritual yang terbuka—sebuah "Akar Spiritual Kelas Surga" yang langka.

Para tetua klan tertawa gembira. Ayahnya, sang patriark, menepuk kepalanya dengan bangga. Seluruh Kota Awan Jatuh gempar. Dia dipuji sebagai jenius yang hanya muncul seribu tahun sekali, harapan masa depan Klan Chen untuk menjadi klan nomor satu di kekaisaran.

Pada usia tiga belas tahun, dia menerobos ke Tahap Kondensasi Qi tingkat kelima. Pada usia empat belas tahun, dia mencapai puncak Tahap Kondensasi Qi, siap melangkah ke Tahap Pembangunan Fondasi.

Kemudian... semuanya hancur.

Malam itu terasa dingin. Rasa sakit yang tak terbayangkan merobek dantian-nya, seolah-olah puluhan ribu semut api menggerogoti meridiannya dari dalam. Dia menjerit, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ketika dia bangun keesokan harinya, sesuatu telah hilang.

"Akar Spiritual"-nya lumpuh. Sembilan meridiannya yang cemerlang telah menyusut dan tersumbat, menjadi lebih buruk daripada akar spiritual fana terendah sekalipun. Energi langit dan bumi (Qi) tidak lagi mau masuk ke tubuhnya.

Dalam semalam, sang jenius telah menjadi sampah.

Ayahnya, yang merasa malu, mengasingkan diri dalam meditasi tertutup dan tidak pernah terlihat lagi. Para tetua yang dulu memujinya kini memandangnya dengan jijik dan kasihan. Posisi "Patriark Muda" miliknya dicopot dan diberikan kepada sepupunya.

Dan dia... dia diturunkan ke halaman pekerja kasar.

"Yo, lihat siapa ini! Jenius kita sedang bekerja keras, ya?"

Suara sombong yang dibencinya menyentak Chen Kai dari lamunannya.

Tiga pemuda berjalan mendekat. Mereka mengenakan jubah sutra biru muda, seragam murid Klan Chen. Yang memimpin adalah Chen Wei, sepupunya, pemuda yang kini menyandang gelar Patriark Muda.

Wajah Chen Wei tampan, tapi ada lengkungan sinis permanen di bibirnya. Dia berjalan dengan tangan di belakang punggung, dagunya terangkat, memandang Chen Kai seolah-olah dia sedang melihat serangga. Dua pengikut di belakangnya terkekeh, memasang ekspresi mengejek.

Chen Kai tidak berkata apa-apa. Dia berbalik dan mengangkat kapaknya lagi. KRAK!

"Beraninya kau mengabaikanku, sampah?" Chen Wei mendengus. Dia menendang tumpukan kayu yang sudah dibelah Chen Kai, membuatnya berantakan.

"Lihat dirimu," kata Chen Wei, berjalan mengitari Chen Kai. "Menjijikkan. Keringat dan kotoran. Aku tidak percaya kita pernah berbagi garis keturunan yang sama. Kau adalah aib terbesar Klan Chen."

Seorang pengikut menambahkan, "Patriark Muda Wei sudah berada di Tahap Kondensasi Qi tingkat keempat! Dia jenius sejati. Sementara kau, aku dengar kau bahkan kesulitan mempertahankan tingkat pertama, kan?"

Chen Kai mengertakkan giginya. Dia mengepalkan kapak begitu erat hingga jarinya memutih. Dia tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin dia meledak. Mereka ingin dia melawan. Dengan begitu, mereka punya alasan untuk "memberinya pelajaran" karena menyerang Patriark Muda.

Dia tidak akan memberi mereka kepuasan itu.

Dia menundukkan kepalanya, suaranya serak karena dehidrasi. "Patriark Muda Wei. Murid rendahan ini sedang sibuk."

Chen Wei tertawa terbahak-bahak. "Murid rendahan! Hahaha! Kau bahkan bukan murid! Kau adalah budak! Seekor anjing yang dipungut Klan Chen karena kasihan!"

Dia melangkah maju dan menepuk-nepuk pipi Chen Kai dengan telapak tangannya, sebuah gestur penghinaan tertinggi. "Dengar, sampah. Sebentar lagi adalah Kompetisi Klan tahunan. Ayahku, sang Patriark sementara, sedang berpikir untuk mengusir semua anggota klan yang tidak berguna dan hanya menghabiskan sumber daya. Kau tahu siapa yang ada di urutan pertama daftar itu, kan?"

Mata Chen Kai berkilat dingin.

"Nikmati sisa waktumu di sini," bisik Chen Wei. Dia kemudian menoleh ke dua pengikutnya. "Sepertinya tumpukan kayu ini belum cukup rapi. Berantakan sekali."

"Siap, Patriark Muda!"

Kedua pengikut itu tersenyum jahat. Mereka berjalan ke tumpukan kayu yang telah susah payah dikumpulkan Chen Kai dan menendangnya dengan liar, menyebarkan kayu-kayu itu ke seluruh halaman berdebu.

"Kerja bagus, anjing. Selesaikan sebelum matahari terbenam, atau tidak ada jatah makan malam untukmu dan adikmu yang sakit-sakitan itu!"

Mendengar kata "adik", niat membunuh yang dingin melintas di mata Chen Kai, begitu pekat hingga membuat Chen Wei tanpa sadar mundur selangkah. Tapi itu hanya sesaat. Chen Kai segera mengendalikan dirinya, menundukkan kepalanya sekali lagi.

Chen Wei menyipitkan matanya, kesal karena tidak mendapatkan reaksi yang lebih besar. "Huh. Sampah tetaplah sampah."

Mereka bertiga tertawa dan pergi, meninggalkan Chen Kai sendirian di tengah halaman yang berantakan, di bawah terik matahari yang tak kenal ampun.

Selama beberapa menit, Chen Kai hanya berdiri diam. Kemudian, dengan helaan napas yang gemetar karena amarah yang tertahan, dia mulai memunguti kayu-kayu itu, satu per satu.

Dia bisa menahan penghinaan terhadap dirinya. Tapi dia tidak bisa menahan jika itu menyangkut adiknya.

Setelah dua jam tambahan kerja paksa, matahari akhirnya mulai tenggelam. Chen Kai menyeret tubuhnya yang kelelahan, mengabaikan rasa lapar yang melilit perutnya. Dia tidak pergi ke aula makan, melainkan menyelinap ke dapur belakang, mengambil jatah roti kukus dingin yang disisihkan untuknya, dan bergegas ke halaman kecil yang paling terpencil di seluruh kompleks.

Ini adalah halaman tempat dia dan adiknya tinggal, sebuah gubuk bobrok yang nyaris tidak bisa menahan angin.

Dia mendorong pintu kayu yang berderit. "Ling'er, aku pulang."

Ruangan itu kecil dan berbau obat herbal yang pahit. Di atas ranjang kayu sederhana, seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun terbaring, dibungkus selimut tipis. Wajahnya pucat pasi, dan batuk kering mengguncang tubuhnya yang rapuh.

Mata gadis itu, Chen Ling, terbuka. Melihat Chen Kai, ekspresi lesu di wajahnya langsung berubah menjadi senyum cerah. "Kakak! Kau kembali!"

Semua kemarahan, penghinaan, dan kelelahan yang dirasakan Chen Kai seharian ini langsung sirna, digantikan oleh kehangatan di hatinya. Dia berlutut di samping tempat tidur.

"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanyanya lembut, menyisir rambut adiknya yang basah oleh keringat.

"Lebih baik," bisik Chen Ling. Dia mencoba duduk, tetapi batuk hebat kembali menyerangnya.

Chen Kai buru-buru menepuk punggungnya. Dia melihat mangkuk obat di meja samping. "Kau sudah minum obatmu?"

Chen Ling menggelenggelengkan kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Kak, obatnya... obatnya sudah hampir habis. Hanya tersisa untuk sekali minum besok."

Hati Chen Kai mencelos.

Adiknya menderita "Penyakit Vena Beku". Penyakit langka yang membuat meridiannya membeku, membuatnya tidak bisa berkultivasi dan perlahan-lahan menguras energi kehidupannya. Satu-satunya yang bisa memperlambat penyakit itu adalah "Ramuan Embun Giok", sebuah obat spiritual tingkat rendah.

Dulu, ketika dia masih jenius, mendapatkan Ramuan Embun Giok semudah membalikkan telapak tangan. Sekarang... sekarang dia harus menukar jatah makannya selama seminggu penuh hanya untuk satu dosis.

"Jangan khawatir," kata Chen Kai, memaksakan senyum. Dia mengeluarkan roti kukus dingin dari balik jubahnya. "Makan ini dulu. Kakak akan mencari cara. Kakak janji, kau akan sembuh."

Chen Ling menatap wajah kakaknya yang kotor oleh debu dan memar di pipinya (yang pasti didapatnya dari Chen Wei). Air mata menggenang di matanya. "Kak, ini semua salahku. Jika bukan karenaku, kau tidak akan..."

"Ssst," Chen Kai meletakkan jarinya di bibir adiknya. "Jangan pernah berkata begitu. Kau adalah satu-satunya alasan kakak masih bertahan. Kau adalah segalanya bagiku. Sekarang makan. Kakak harus keluar sebentar."

"Keluar? Tapi sudah mau malam. Para binatang buas..."

"Aku hanya perlu mencari sesuatu di gunung belakang. Aku akan segera kembali. Kunci pintunya."

Tanpa menunggu jawaban, Chen Kai berbalik dan keluar dari gubuk. Senyum lembut di wajahnya menghilang, digantikan oleh ekspresi tekad yang keras seperti baja.

Dia tahu Klan Chen tidak akan memberinya Ramuan Embun Giok lagi. Dia harus mencarinya sendiri.

Gunung Awan Jatuh, yang menjulang di belakang kompleks Klan Chen, adalah tempat yang berbahaya di malam hari. Binatang buas spiritual tingkat rendah seperti Serigala Angin dan Ular Taring Besi sering berkeliaran mencari mangsa.

Bagi seorang kultivator Tahap Kondensasi Qi, itu adalah tempat latihan yang bagus. Bagi Chen Kai, yang kultivasinya hampir lumpuh total, itu adalah zona kematian.

Tapi dia tidak punya pilihan.

Dia berlari melintasi batas klan, mengandalkan ingatannya dari masa jayanya untuk menavigasi hutan yang gelap. Matanya waspada, telinganya mendengarkan setiap gemerisik daun. Dia harus menemukan Ramuan Embun Giok sebelum adiknya melewatkan dosis obatnya.

Setelah satu jam pencarian yang menegangkan, dia hampir menyerah. Dia terlalu lemah. Staminanya habis.

Tiba-tiba, matanya menangkap kilatan cahaya redup di dekat sungai kecil.

Itu dia!

Di antara dua akar pohon besar, sebatang rumput dengan tiga daun sehijau giok, memancarkan cahaya samar di bawah sinar bulan. Di ujung setiap daun ada setetes embun berkilauan. Ramuan Embun Giok!

Hatinya melonjak gembira. Dia bergegas maju.

"Heh, lihat apa yang kita punya di sini."

Dua sosok melompat turun dari pohon di atasnya, menghalangi jalannya. Itu adalah dua pengikut Chen Wei dari sore tadi.

"Patriark Muda Wei benar-benar pintar," kata salah satu dari mereka sambil menyeringai. "Dia bilang sampah sepertimu pasti akan nekat pergi ke gunung untuk mencari obat bagi adikmu yang penyakitan itu."

"Dan dia bilang," tambah yang lain, "jika kami melihatmu, kami harus 'memberimu pelajaran' yang pantas. Dan tentu saja, mengambil apa pun yang kau temukan."

Mata Chen Kai menyipit. "Menyingkir."

"Oho, si sampah ini mencoba memerintah kita?"

Keduanya tertawa. Mereka berdua berada di Tahap Kondensasi Qi tingkat kedua. Jauh lebih kuat dari Chen Kai.

"Berikan Ramuan Embun Giok itu, dan berlututlah minta ampun. Mungkin kami hanya akan mematahkan satu lenganmu," kata yang pertama.

Chen Kai mencengkeram erat Ramuan Embun Giok di tangannya. Dia memikirkan Chen Ling yang terbaring lemah di tempat tidur.

Tidak. Dia tidak akan menyerahkannya.

"Kalau begitu," kata Chen Kai dengan suara rendah yang berbahaya, "kalian harus mengambilnya."

"Beraninya kau!"

Kedua pengikut itu marah. Mereka menerjang maju.

Chen Kai, meskipun lemah, masih memiliki insting bertarung seorang jenius. Dia mengelak dari pukulan pertama dan mencoba melarikan diri ke arah sungai. Tapi dia terlalu lambat.

BUGH!

Tendangan keras menghantam punggungnya, membuatnya terbang dan menabrak pohon. Darah menyembur dari mulutnya.

"Masih mau lari, tikus?"

Mereka mencengkeramnya, memukulinya. Chen Kai melawan dengan sekuat tenaga, tetapi itu sia-sia.

Dia ditendang lagi dan lagi, tubuhnya berguling di tanah yang berlumpur. Dia bisa merasakan kesadarannya memudar.

"Cukup," kata salah satu dari mereka, terengah-engah. "Mari kita akhiri ini."

Dia melihat sekeliling dan matanya tertuju pada sesuatu di belakang Chen Kai. Jurang. Jurang yang dalam dan gelap, yang dikenal sebagai "Jurang Pemutus Roh".

"Tempat yang bagus untuk membuang sampah," katanya sambil tersenyum jahat.

Mereka menyeret Chen Kai yang setengah sadar ke tepi jurang.

"Selamat tinggal, jenius," ejek mereka.

Dengan tendangan terakhir, tubuh Chen Kai terlempar dari tepi tebing.

Dia jatuh ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Angin bersiul di telinganya. Satu-satunya pikirannya adalah penyesalan.

Ling'er... maafkan kakak...

Dia masih mencengkeram Ramuan Embun Giok itu dengan putus asa.

Dia mendarat dengan keras. Anehnya, dia tidak mati. Ranting-ranting tebal dan vegetasi purba di dasar jurang memperlambat kejatuhannya.

Tapi dia terluka parah. Tulang rusuknya patah, dan dia bisa merasakan kegelapan merayapi pandangannya.

"Tidak... aku tidak bisa mati... Ling'er..."

Dia mencoba merangkak, tetapi rasa sakit itu terlalu hebat. Tangan kanannya, yang masih memegang ramuan berharga itu, terbenam ke dalam lumpur dingin di dasar jurang.

Jarinya menyentuh sesuatu.

Sesuatu yang kecil, keras, dan bulat sempurna. Rasanya dingin, sedingin es abadi.

Dia tidak punya kekuatan untuk melihatnya. Darah dari luka-lukanya mengalir ke tangannya, membasahi lumpur dan benda misterius itu.

Tiba-tiba, benda itu bergetar.

Sebuah kekuatan isap yang mengerikan meledak darinya, menyedot darah Chen Kai.

"Argh!"

Dalam sekejap, benda itu melesat dari lumpur dan menempel di telapak tangannya. Itu adalah sebuah mutiara. Mutiara hitam pekat yang seolah menelan semua cahaya.

Mutiara itu menyala dengan cahaya gelap yang redup. Rasa dingin yang menusuk tulang menjalari lengannya, langsung menuju dantian-nya yang lumpuh.

Rasa sakit yang hebat, sepuluh kali lebih buruk daripada saat kultivasinya lumpuh, meledak di dalam tubuhnya. Chen Kai menjerit.

Kemudian, sebuah suara kuno, sedingin jurang itu sendiri, bergema bukan di telinganya, tapi langsung di dalam benaknya.

"...Siklus Samsara... akhirnya berputar kembali..."

"...Setelah tiga puluh ribu tahun tertidur... setetes Darah Vena Naga Kuno... akhirnya membangunkanku..."

"...Anak kecil. Kau... beruntung."

Sebelum Chen Kai bisa pingsan, dia merasakan energi agung dan misterius meledak dari mutiara hitam itu, membanjiri meridiannya yang hancur.

Terpopuler

Comments

Abang Yudhi

Abang Yudhi

Awal kisah yang cukup menarik, baca dan resapi apakah akan bagus atau malah hancur jalur kisahnya.

2026-02-17

0

4wied

4wied

gadis kecil kalo umurnya dibawah 10 tahun, tapi kalo udah 13 tahun ya gak pantas aja disebut gadis kecil

2026-01-08

0

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

hanya karena kehilangan Meridian orang tuanya tdk mau merawatnya kasian mereka berdua.

2026-02-15

0

lihat semua
Episodes
1 Sampah dan Mutiara
2 Kaisar Yao
3 Pemurnian Sembilan Esensi
4 Paviliun Harta Karun
5 Aliansi Sang Alkemis
6 Kemajuan Pesat
7 Pedang Awan Mengalir
8 Pegunungan Binatang Buas
9 Perburuan
10 Tiga Pihak
11 Jeritan Raja Serigala
12 Pertaruhan Terakhir
13 Inti Iblis
14 Gua Persembunyian
15 Kelahiran Kembali
16 Badai Yang Mendekat
17 Manajer Yu
18 Persiapan
19 Terobosan ke Tingkat Lima
20 Tamu Terhormat Paviliun
21 Cakar Pemecah Batu
22 Pelelangan Dimulai
23 Perang Penawaran
24 Kedatangan yang Tak Terduga
25 Konfrontasi di Pelelangan
26 Jebakan
27 Pertarungan Melawan Alam Pembangunan Fondasi
28 Panen dan Pelarian
29 Panen Besar
30 Badai yang Mengamuk
31 Hutan
32 Konsolidasi
33 Pertemuan Berdarah
34 Harta Para Serigala
35 Teknik Penahan Nafas
36 Harta Karun di Sarang Ular
37 Kemarahan Ular Api
38 Terobosan ke Tingkat Enam
39 Token dan Kotak Giok
40 Gelombang Pertama
41 Kembali ke Kota Awan Jatuh
42 Lapangan Klan Chen
43 Kau Tidak Cukup Layak
44 Berikutnya!
45 Tantangan Langsung
46 Retakan di Perisai Giok
47 Kedatangan Tak Terduga
48 Keberangkatan
49 Janji yang Ditepati
50 Persiapan dan Perpisahan
51 Bersama
52 Geng Serigala Liar
53 Oasis Batu Karang
54 Konvoi Aliansi Pedagang
55 Pisau Hantu
56 Penegak Disiplin
57 Perkemahan Malam dan Niat Buruk
58 Kemarahan Seorang Kakak
59 Harga Penghasutan
60 Melintasi Dataran
61 Kota Perbatasan Awan
62 Penginapan Anggrek Giok
63 Mengunjungi Cabang Paviliun
64 Manajer Sun
65 Kultivasi Tertutup
66 Terobosan ke Tingkat Tujuh
67 Kekuatan Tingkat Tujuh
68 Menara Alkimia
69 Api Baru
70 Monopoli dan Ancama Bayangan
71 Ngarai Angin Puyuh
72 Kota di Bawah Awan
73 Paviliun Pusat
74 Persiapan
75 Lelang Puncak Awan
76 Api Seribu Tahun
77 Malam Sebelum Badai
78 Seribu Tangga
79 Konfrontasi
80 Puncak Pedang Sunyi
81 Jantung Gunung yang Berdetak
82 Paviliun Kitab Suci
83 Getaran Ombak
84 Getaran Kematian
85 Keheningan yang Menggangu
86 Papan Misi Merah
87 Lembah Tanpa Bayangan
88 Tarian di Tengah Kabut
89 Wajah Hantu yang Menjerit
90 Kembali dari Neraka
91 Menara Kultivasi Pedang
92 Cakar Naga Api
93 Tanah Sengketa
94 Cakar Melawan Gada
95 Putra Api
96 Dominasi Api Naga
97 Kembali ke Puncak Sunyi
98 Sembilan Matahari
99 Teknik Dewi Bulan
100 Satu Orang, Satu Pedang
101 Batas Waktu Satu Bulan
102 Penempaan Tulang Naga
103 Bertukar Pukulan
104 Taruhan Gila di Puncak Awan
105 Domba di Kandang Serigala?
106 Undian Maut dan Pedang Kilat
107 Bumi Melawan Langit
108 Patahnya Awan
109 Era Baru
110 Darah Terlarang
111 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Sampah dan Mutiara
2
Kaisar Yao
3
Pemurnian Sembilan Esensi
4
Paviliun Harta Karun
5
Aliansi Sang Alkemis
6
Kemajuan Pesat
7
Pedang Awan Mengalir
8
Pegunungan Binatang Buas
9
Perburuan
10
Tiga Pihak
11
Jeritan Raja Serigala
12
Pertaruhan Terakhir
13
Inti Iblis
14
Gua Persembunyian
15
Kelahiran Kembali
16
Badai Yang Mendekat
17
Manajer Yu
18
Persiapan
19
Terobosan ke Tingkat Lima
20
Tamu Terhormat Paviliun
21
Cakar Pemecah Batu
22
Pelelangan Dimulai
23
Perang Penawaran
24
Kedatangan yang Tak Terduga
25
Konfrontasi di Pelelangan
26
Jebakan
27
Pertarungan Melawan Alam Pembangunan Fondasi
28
Panen dan Pelarian
29
Panen Besar
30
Badai yang Mengamuk
31
Hutan
32
Konsolidasi
33
Pertemuan Berdarah
34
Harta Para Serigala
35
Teknik Penahan Nafas
36
Harta Karun di Sarang Ular
37
Kemarahan Ular Api
38
Terobosan ke Tingkat Enam
39
Token dan Kotak Giok
40
Gelombang Pertama
41
Kembali ke Kota Awan Jatuh
42
Lapangan Klan Chen
43
Kau Tidak Cukup Layak
44
Berikutnya!
45
Tantangan Langsung
46
Retakan di Perisai Giok
47
Kedatangan Tak Terduga
48
Keberangkatan
49
Janji yang Ditepati
50
Persiapan dan Perpisahan
51
Bersama
52
Geng Serigala Liar
53
Oasis Batu Karang
54
Konvoi Aliansi Pedagang
55
Pisau Hantu
56
Penegak Disiplin
57
Perkemahan Malam dan Niat Buruk
58
Kemarahan Seorang Kakak
59
Harga Penghasutan
60
Melintasi Dataran
61
Kota Perbatasan Awan
62
Penginapan Anggrek Giok
63
Mengunjungi Cabang Paviliun
64
Manajer Sun
65
Kultivasi Tertutup
66
Terobosan ke Tingkat Tujuh
67
Kekuatan Tingkat Tujuh
68
Menara Alkimia
69
Api Baru
70
Monopoli dan Ancama Bayangan
71
Ngarai Angin Puyuh
72
Kota di Bawah Awan
73
Paviliun Pusat
74
Persiapan
75
Lelang Puncak Awan
76
Api Seribu Tahun
77
Malam Sebelum Badai
78
Seribu Tangga
79
Konfrontasi
80
Puncak Pedang Sunyi
81
Jantung Gunung yang Berdetak
82
Paviliun Kitab Suci
83
Getaran Ombak
84
Getaran Kematian
85
Keheningan yang Menggangu
86
Papan Misi Merah
87
Lembah Tanpa Bayangan
88
Tarian di Tengah Kabut
89
Wajah Hantu yang Menjerit
90
Kembali dari Neraka
91
Menara Kultivasi Pedang
92
Cakar Naga Api
93
Tanah Sengketa
94
Cakar Melawan Gada
95
Putra Api
96
Dominasi Api Naga
97
Kembali ke Puncak Sunyi
98
Sembilan Matahari
99
Teknik Dewi Bulan
100
Satu Orang, Satu Pedang
101
Batas Waktu Satu Bulan
102
Penempaan Tulang Naga
103
Bertukar Pukulan
104
Taruhan Gila di Puncak Awan
105
Domba di Kandang Serigala?
106
Undian Maut dan Pedang Kilat
107
Bumi Melawan Langit
108
Patahnya Awan
109
Era Baru
110
Darah Terlarang
111
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!