ATN 2 ~ Pewaris Tahta

Di usia yang semakin menginjak menuju dewasa, beberapa kebiasaan dan sifat mulai berubah, menjadi jati diri masing-masing. Meski beberapa kebiasaan tak bisa hilang begitu saja.

Bola basket benar-benar memantul berat di atas marmer keraton. Bahkan kilauannya itu lebih berkilau dibanding gaji PNS tahun itu.

"Lempar kang!" pinta Wardana pada Amar, lantas pemuda usia SMA itu mendribble bola terlebih dahulu layaknya Michael Jordan lalu *shoot*! Bukan Wardana yang sudah bersiap menerimanya, melainkan Bahureksa, yang baru saja datang dari kampus, melempar buku dan tasnya sembarang dengan gurat lelah, dan urat syaraf yang menonjol seperti menimbun beban yang akhirnya nanti akan meledak pada waktunya.

Wardana mencebik, apalah daya si bocah SMP melawan kakak-kakaknya yang sudah memiliki tinggi di atasnya itu. Somantri tertawa, terlebih saat Amar justru menjadikan itu sebuah pertandingan serius dengan mengejar dan coba merebut itu dari sang kakak.

Bahureksa membawa bola ke arah luar, dan Amar mengejar. Amar sudah meng-cut dribble-annya, memancing emosi Bahureksa yang memiliki sifat egois itu merasa tercolek harga dirinya, ia tak mau dikalahkan.

Terlebih Amar orangnya, Amar yang menurutnya selalu menjadi pesaing terberatnya dalam segala hal, termasuk perhatian ayahanda dan mata dunia. Dirinya lah putra mahkota, bukan si adik tengilnya itu.

"Tangkap Dan!" pinta Amar pada wajah kusut Wardana sang adik, meski beda ibu, tapi Amar tak pernah membeda-bedakan itu. Wajah Wardana sudah cerah kembali, namun....

Bahureksa kembali merebutnya, memotong laju bola basket yang melayang di depannya, lalu menyeringai. Menghentikan permainan basket, dan mengangkat bolanya tinggi-tinggi.

"Ah curang lah! Udahan lah..." Wardana menyerah frustasi.

"Cemen." Cibir Bahureksa mencibir setengah merendahkan adiknya itu, "jadi laki-laki ngga boleh cemen begitu...ayo rebut lagi, sesuatu yang awalnya punyamu harus kamu rebut kembali!" senyumnya itu senyuman menghina, dan menatap tengil. Ia senang atas ketidakmampuan orang lain.

Amar menggeleng, namun tiba-tiba ia tersenyum menyeringai, melompat dan menepuk bola basket dari tangan sang kakak, PAKK!

"Dan, kejar!" teriak Amar berhasil mengelabui sang Kaka, "jadi laki-laki itu pantang lengah." Balasnya tengil, berlari bersama Wardana yang sudah cekikikan, Somantri hanya memperhatikan tingkah adik dan kakaknya itu, ia lebih memilih kembali dengan seragam SMA yang telah keluar sepenuhnya dari pinggang celana dan tas di sebelah pundaknya menuju kaputren.

Yap! Somantri dan Amar berada di SMA yang sama, bersiap lulus padahal keduanya beda satu tahun lebih tua Somantri, namun kemampuan dan potensi Amar itu justru melampauinya, terlebih sifat Amar yang ekstropert membuatnya mudah sekali menyusup di organisasi manapun, termasuk seringnya ia dibawa ayahanda dalam kegiatan kunjungan bisnis.

Somantri berhenti sejenak, melihat sang adik, satu-satunya putri mahkota dari keluarga ini, Andayani....bocah cantik yang siap mekar, dan kini ia tengah meminta makan pada biyung.

Cup!

"Ihhh!" gidik Andayani mengusap pipinya jijik, ia yang selalu jadi sasaran keusilan dan kegenitan kakak-kakaknya itu, "cieee udah ada jerawat!" goda Somantri menunjuk bintik merah di dekat hidung mancung Anda.

Andayani melotot sambil mendelik, "engga yah! Ini cuman bakteri yang hinggap aja..." jawabnya gadis dengan rok merah ini, ia bahkan sudah menyarangkan pukulan-pukulannya ke arah Somantri.

"Eeeh...udah-udah." Seorang wanita cantik yang mirip dengan Somantri, seorang mantan sinden idola yang kini menetap di salah satu ruangan *hareem* keraton menyapa keduanya.

"Ini loh amih Mahis, kakang Somantri godain Anda terus." gerutunya mengadu. Jujur saja, si putri manja ini lebih dekat dengan para selir ayahnya ketimbang ibunya sendiri.

"Emang iya kan, tuh liat mih...udah ada jerawat, udah puber, masih bocah juga..." kembali Somantri menggoda seraya bersembunyi di balik tubuh ibunya sementara Andayani sudah bersiap menyarangkan kepalannya lagi.

Amar mengayunkan langkahnya dengan keringat yang telah bercucuran, "wah ada apa nih rame-rame."

"Liat Mar, bener kan saya...Anda sudah punya jerawat... bocah-bocah sudah puber." Ujar Somantri membuat Anda semakin manyun. Amar tertawa, "ini mah bisulll, gede gini..." justru tambah Amar.

"Enak aja!"

"Den Amar, ya Allah...itu sampai banjir keringat begitu." ujar Mahiswar.

Amar nyengir, "ngga apa-apa amih. Besok di sekolah pelajaran olahraga kok. Jadi ngga pake seragam ini." Jawabnya.

Bahureksa yang menyusul ikut hadir dan langsung merebut makan siang serta es jeruk milik Andayani sang adik yang baru saja dibawa biyung.

"Punyaku ya ini! Wah...."

Andayani langsung melotot tak terima saat kakangnya itu langsung meneguk es jeruk yang ditunggunya sampai tenggorokan kering itu hampir tandas, "kakang Reksa!!! Itu punya Anda...kalo mau, minta lagi!" tak peduli, ia justru sudah melahap menu makan siang itu terus sampai-sampai mata Andayani sudah berkaca-kaca kini, ia sudah lama menunggu tapi justru direbut begitu saja, jengkel!

"Kang," lirih Somantri ingin menegur.

Mahiswar menggeleng, selalu begitu. Merebut milik adik-adiknya, "den Reksa.." gumamnya merasa jengah namun tak bisa apapun menghadapi sifat angkuh, egois dan yapp! Tentu saja ia kadang-kadang berani membangkang pada para selir ayahnya itu.

Somantri sudah tak aneh, ia melengos tak ingin ikut memiliki urusan dengan abang tertuanya itu. Karena paling, ujungnya ia yang selalu kalah apalagi ia hanya anak seorang selir.

"Kang, ngga bisa ya ambil sendiri?" tanya Amar membela sang adik. Bahureksa yang tengah melahap menu makan siangnya sempat terdiam sejenak dengan rahang mengeras.

"Anda bisa minta lagi ke biyung, ngga apa-apa ya..." pinta Amar yang langsung meminta lagi pada biyung tadi, "biyung, minta tolong satu lagi buat Anda?"

"Iya den gusti." Andayani menatap kesal, dan mengikuti sang biyung sambil menghentak-hentak langkahnya, "Anda ikut ke dapur kering saja."

Bahureksa menghadang langkah Amar yang ingin ke kamarnya, "cuma masalah sepele begini, ngga usah bertingkah kamu sama kakang sendiri. Se simple itu tinggal minta biyung lagi." Amar mendengus menyugar rambutnya, "iya memang hanya hal sepele, kang. Tapi akang seperti tidak punya mulut dan attitude. Akang ini yang paling besar, harusnya kasih contoh yang baik, mengayomi, mengalah dan melindungi adik-adiknya."

Bahureksa mencengkram kerah seragam Amar, "kamu ngga usah ngatur dan ngasih tau tentang attitude sama akang, lancang. Disini kamu yang selalu main rebut." Tatapnya bengis dengan urat kemarahan yang sudah keluar, seperti sedang memperingati hal lain.

"Akang sedang ada masalah?" tanya Amar mengernyit, ia seolah sudah paham dengan watak kakaknya itu. Namun, alih-alih menjawab, Reksa justru meninggalkan begitu saja piring yang masih menyisakan banyak nasi dan lauknya itu, jelas tujuan kakangnya itu bukan sebab terlampau lapar, namun memang sedang menumpahkan dan melampiaskan emosinya.

Tidak ada yang berani padanya, selain Amar, dimana kekuatan statusnya dan Reksa sama, meskipun Reksa adalah putra mahkota, namun sepertinya posisi itu sedikit mulai terancam dengan ayahanda yang selalu melibatkannya dalam hal apapun tentang bisnis dan kepemimpinan kasepuhan.

Sebenarnya, Bahureksa seringkali menjadi pribadi yang menyenangkan bagi adik-adiknya itu, menjadi partner kejahilan yang best untuk Amar namun jika sedang dalam kondisi mood yang anjlok, atau memiliki masalah, ia berubah jadi pribadi menyebalkan dan menakutkan.

Bahureksa menggusur langkahnya dengan pikiran yang sudah kacau dan emosi yang belum teredam mengingat obrolan ibunda dan ayahanda semalam yang tak sengaja ia dengar.

"*Harusnya engkang ikut sertakan Bahureksa. Dia putra mahkota, anak pertama kita, kang*..."

"*Hm. Entahlah yayi...akang merasa Amar lebih cocok menggantikan akang nantinya sebagai putra mahkota*..."

*Kilatan mata remaja itu mencuri tatap pada kedua orangtuanya yang sedang bersiap istirahat*.

"*Saya tau, kang. Saya pun merasa begitu, tapi Reksa*..."

"*Biar saya ajak semua, termasuk Wardana dan Somantri." Jawab ayahanda dan ibunda mengangguk*.

.

.

.

Terpopuler

Comments

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

mahiswar ini selir , atau ibunya Soemantri

2025-11-02

3

Rela Mutaqin

Rela Mutaqin

si menak Jinggo yang sengklek ieu mh 🤣 taaaahhh kopi sama kembangnya teh sin dah aku persembahkan buat sajennya biar up nya rajin jadi banyak banyak terus 🤣

2025-11-02

0

Marliyanilintangpratama

Marliyanilintangpratama

mak di tunggu yah up nye, udeh aku ksih kupi biar melek dan up di jam kunti... semangat raden Sinta gandeng yeeeaayyyyy/Applaud//Applaud//Applaud/

2025-11-02

0

lihat semua
Episodes
1 ATN 1 ~ Silsilah
2 ATN 2 ~ Pewaris Tahta
3 ATN 3~ Potret kontras
4 ATN 4~ Tradisi
5 ATN 5~ Pencapaian tertinggi seorang ronggeng
6 ATN 6~ Mojang Priangan
7 ATN 7 ~ Ada harga yang harus dibayar
8 ATN 8~ Dunia memang kejam
9 ATN 9~ Ditandai
10 ATN 10 ~ Ronggeng pilihan
11 ATN 11~ Menak vs rakyat kecil
12 ATN 12~ Senang sastra?
13 ATN 13~ Hobby yang sama
14 ATN 14~ Terngiang-ngiang
15 ATN 15~ Kelingan awakmu (Bahureksa)
16 ATN 16~ Tipu muslihat
17 ATN 17~ Menatap rembulan bersama
18 ATN 18~ Amar suka segalanya
19 ATN 19~ Dunia yang berbeda
20 ATN 20 ~ Takdir yang terus mempertemukan
21 ATN 21~ Bermunajat
22 ATN 22 ~ Harta, tahta, WANITA
23 ATN 23~ Awalnya berteman
24 ATN 24~ Salah posisi
25 ATN 25~ Banyak cara untuk pedekate
26 ATN 26 ~ Cara pendekatan yang berbeda
27 ATN 27 ~ Ia mau Sekar
28 ATN 28~ Dentuman pertama
29 ATN 29~ Memaksakan kehendak
30 ATN 30~ Dunia kita berbeda
31 ATN 31~ Jampe-jampe
32 ATN 32~ Kejar terus sampai dapat
33 ATN 33~ Pengganggu kecil
34 ATN 34~ Jika bertemu di kehidupan selanjutnya
35 ATN 35 ~ Semua tentang bibit bebet bobot
36 ATN 36~Kamu menolak mundur kalau begitu aku
37 ATN 37~ Tak lagi sama
38 ATN 38~ Sekar oh Sekar
39 ATN 39~ Mari kita berjuang sama-sama
40 ATN 40~ semua akan indah pada waktunya
41 ATN 41~ Kekasih, sampai jumpa di lain waktu
42 ATN 42~ Janji kita
43 ATN 43~ Amar vs amih Mahiswar
44 ATN 44~ Penghinaan
45 ATN 45~ Tidak pernah kehilangan akal
46 ATN 46~ Oleh-oleh amih
47 ATN 47~ cinta sampai mati
48 ATN 48~ Siapa yang kuat itu yang bertahan
49 ATN 49~ melihatmu dari jauh
50 ATN 50~ Pemuja rahasia
51 ATN 51~ Beberapa bulan berlalu
52 ATN 52~ Janji ayahanda
53 ATN 53~ Apa kabar?
54 ATN 54~ Hanya butuh kamu
55 ATN 55~ Peniru
56 ATN 56~ Sekar Taji dari Cikahuripan
57 ATN 57~ Melangkah semakin jauh
58 ATN 58~ Kukejar kau sampai ke ujung dunia sekalipun
59 ATN 59~ Warung kopi Purnama
60 ATN 60~ Jaga selalu hatimu
61 ATN 61~ Aku pulang...
62 ATN 62~ Selebriti pulang
63 ATN 63~ Level tertinggi mencintai
64 ATN 64~ Tikus kecil jelmaan bidadari
65 ATN 65~ Kabar mengejutkan
66 ATN 66~ Gadis itu telah kalah
67 ATN 67~ Lelah berlari
68 ATN 68~ Lamaran tak biasa
69 ATN 69~ Sejenak menjadi proletar
70 ATN 70~ Restu
71 ATN 71~ Aku dan da rah biru
72 ATN 72~ Sang banondari
73 ATN 73~ Kakang 'ipar' Reksa
74 ATN 74~ Penari plus+
75 ATN 75~ Mandi malam
76 ATN 76~ berbicara tentang pengabdian
77 ATN 77~ Disetiri
78 ATN 78~ Gerilya
79 ATN 79~ Sedalam itu
80 ATN 80~ Satu hati
81 ATN 81~ Posesif
82 ATN 82~ Rumah Abah
83 ATN 83~ Melayani dan dilayani
84 ATN 84~ Perlakuan khusus
85 ATN 85~ Sekar Harisbaya
86 ATN 86~ Sawang sinawang
87 ATN 87~ Pregnant?
88 ATN 88~ Calon ayah
89 ATN 89~ Memahami dan dipahami
90 ATN 90 ~ Latihan ngibing
91 ATN 91~ Saat harus kembali ikhlas
92 ATN 92~ Semua milik keraton
93 ATN 93~ Bagai bumi dan langit
94 ATN 94~ Menginap
95 ATN 95 ~ Merelakanmu (Asmarandana Raden Anom Bahureksa)
96 ATN 96~ Inhale---exhale
97 ATN 97~ Restui langkahku
98 ATN 98~ Diterima?
99 ATN 99~ Epilog chapter 1
100 ATN 100~ Epilog chapter 2
101 ATN 101~ epilog chapter 3
102 ATN Epilog 4~Bahureksa
Episodes

Updated 102 Episodes

1
ATN 1 ~ Silsilah
2
ATN 2 ~ Pewaris Tahta
3
ATN 3~ Potret kontras
4
ATN 4~ Tradisi
5
ATN 5~ Pencapaian tertinggi seorang ronggeng
6
ATN 6~ Mojang Priangan
7
ATN 7 ~ Ada harga yang harus dibayar
8
ATN 8~ Dunia memang kejam
9
ATN 9~ Ditandai
10
ATN 10 ~ Ronggeng pilihan
11
ATN 11~ Menak vs rakyat kecil
12
ATN 12~ Senang sastra?
13
ATN 13~ Hobby yang sama
14
ATN 14~ Terngiang-ngiang
15
ATN 15~ Kelingan awakmu (Bahureksa)
16
ATN 16~ Tipu muslihat
17
ATN 17~ Menatap rembulan bersama
18
ATN 18~ Amar suka segalanya
19
ATN 19~ Dunia yang berbeda
20
ATN 20 ~ Takdir yang terus mempertemukan
21
ATN 21~ Bermunajat
22
ATN 22 ~ Harta, tahta, WANITA
23
ATN 23~ Awalnya berteman
24
ATN 24~ Salah posisi
25
ATN 25~ Banyak cara untuk pedekate
26
ATN 26 ~ Cara pendekatan yang berbeda
27
ATN 27 ~ Ia mau Sekar
28
ATN 28~ Dentuman pertama
29
ATN 29~ Memaksakan kehendak
30
ATN 30~ Dunia kita berbeda
31
ATN 31~ Jampe-jampe
32
ATN 32~ Kejar terus sampai dapat
33
ATN 33~ Pengganggu kecil
34
ATN 34~ Jika bertemu di kehidupan selanjutnya
35
ATN 35 ~ Semua tentang bibit bebet bobot
36
ATN 36~Kamu menolak mundur kalau begitu aku
37
ATN 37~ Tak lagi sama
38
ATN 38~ Sekar oh Sekar
39
ATN 39~ Mari kita berjuang sama-sama
40
ATN 40~ semua akan indah pada waktunya
41
ATN 41~ Kekasih, sampai jumpa di lain waktu
42
ATN 42~ Janji kita
43
ATN 43~ Amar vs amih Mahiswar
44
ATN 44~ Penghinaan
45
ATN 45~ Tidak pernah kehilangan akal
46
ATN 46~ Oleh-oleh amih
47
ATN 47~ cinta sampai mati
48
ATN 48~ Siapa yang kuat itu yang bertahan
49
ATN 49~ melihatmu dari jauh
50
ATN 50~ Pemuja rahasia
51
ATN 51~ Beberapa bulan berlalu
52
ATN 52~ Janji ayahanda
53
ATN 53~ Apa kabar?
54
ATN 54~ Hanya butuh kamu
55
ATN 55~ Peniru
56
ATN 56~ Sekar Taji dari Cikahuripan
57
ATN 57~ Melangkah semakin jauh
58
ATN 58~ Kukejar kau sampai ke ujung dunia sekalipun
59
ATN 59~ Warung kopi Purnama
60
ATN 60~ Jaga selalu hatimu
61
ATN 61~ Aku pulang...
62
ATN 62~ Selebriti pulang
63
ATN 63~ Level tertinggi mencintai
64
ATN 64~ Tikus kecil jelmaan bidadari
65
ATN 65~ Kabar mengejutkan
66
ATN 66~ Gadis itu telah kalah
67
ATN 67~ Lelah berlari
68
ATN 68~ Lamaran tak biasa
69
ATN 69~ Sejenak menjadi proletar
70
ATN 70~ Restu
71
ATN 71~ Aku dan da rah biru
72
ATN 72~ Sang banondari
73
ATN 73~ Kakang 'ipar' Reksa
74
ATN 74~ Penari plus+
75
ATN 75~ Mandi malam
76
ATN 76~ berbicara tentang pengabdian
77
ATN 77~ Disetiri
78
ATN 78~ Gerilya
79
ATN 79~ Sedalam itu
80
ATN 80~ Satu hati
81
ATN 81~ Posesif
82
ATN 82~ Rumah Abah
83
ATN 83~ Melayani dan dilayani
84
ATN 84~ Perlakuan khusus
85
ATN 85~ Sekar Harisbaya
86
ATN 86~ Sawang sinawang
87
ATN 87~ Pregnant?
88
ATN 88~ Calon ayah
89
ATN 89~ Memahami dan dipahami
90
ATN 90 ~ Latihan ngibing
91
ATN 91~ Saat harus kembali ikhlas
92
ATN 92~ Semua milik keraton
93
ATN 93~ Bagai bumi dan langit
94
ATN 94~ Menginap
95
ATN 95 ~ Merelakanmu (Asmarandana Raden Anom Bahureksa)
96
ATN 96~ Inhale---exhale
97
ATN 97~ Restui langkahku
98
ATN 98~ Diterima?
99
ATN 99~ Epilog chapter 1
100
ATN 100~ Epilog chapter 2
101
ATN 101~ epilog chapter 3
102
ATN Epilog 4~Bahureksa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!