Bab 4 Insiden kecil

"Maaf, aku baru saja mendengar Anda akan menjual guci itu dengan harga sepuluh juta. Bolehkah saya memeriksa keasliannya?"

Seketika, seluruh pasang mata mengalihkan perhatian ke sumber suara tersebut. Mereka melihat seorang pemuda dengan pakaian yang sedikit lusuh berjalan perlahan membelah kerumunan, mendekati kios Sabdi.

"Eh, i-ini... Sobat, apakah Anda serius ingin membelinya?" Sabdi merasa sedikit terselamatkan dengan kemunculan pemuda itu. Ia segera memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari tekanan Robert dan ketiga preman bawahannya.

"Tentu saja. Tapi, izinkan saya memeriksa guci itu terlebih dahulu," jawab pemuda yang tak lain adalah rayan.

"Ah, ya, ya! Silakan, Anda boleh memeriksanya," kata Sabdi dengan antusias, langsung menyodorkan guci itu.

Namun, belum sempat guci itu berpindah ke tangan rayan, sebuah benda tajam melesat cepat menghantam guci tersebut.

Wusss! Prak!

Guci itu terlepas dari genggaman Sabdi, pecah berkeping-keping di lantai akibat tebasan pisau yang dilemparkan oleh Robert.

"Dasar bajingan! Bocah bau kencur dari mana kau berani-beraninya ingin merebut barang milikku?!" teriak Robert dengan tatapan tajam yang penuh ancaman kepada rayan.

"Robert! Beraninya kau...!" Sabdi menggertakkan giginya menahan amarah, menyaksikan barang dagangannya hancur. Ia bahkan tidak menyadari kapan Robert menggunakan teknik pisau terbangnya.

"Hais... sayang sekali," lirih rayan, menunjukkan kekecewaan melihat guci itu telah tiada.

"Sobat, maafkan aku. Aku yang kurang hati-hati terhadap bajingan itu," Sabdi merasa bersalah pada pemuda di hadapannya.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Mungkin keberuntunganku sedang kurang baik hari ini," jawab raya, mengabaikan tatapan Robert yang kini menatapnya dengan niat membunuh.

"Robert, sudah cukup kau membuat kekacauan di tempatku! Apa kau pikir aku tidak berani melaporkan perbuatanmu ini pada Tuan Paul?" Sabdi tak kuasa menahan emosinya. Ia segera mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Tuan Paul.

"Oh, kalau begitu, kau boleh mencobanya," Robert menyeringai, menatap Sabdi dengan pandangan meremehkan. "Kurasa kau sudah begitu ketakutan, bukan? Bahkan ayahmu sendiri belum tentu memiliki nomor ponsel Tuan Paul. Beraninya kau berbicara omong kosong seolah punya hubungan dengannya!"

"Akh, sial! Aku lupa kalau memang tidak mungkin punya nomor Tuan Paul," gumam Sabdi, tersadar akan kebodohannya.

"Masih berani melawan Bos Robert? Sepertinya kau memang harus diberi sedikit pelajaran," ujar salah seorang preman. Ketiga bawahan Robert itu langsung menerjang Sabdi dengan sangat cepat.

"Kalian! Mau apa kalian?!" Sabdi terkejut melihat serangan mendadak itu.

"Tentu saja memberimu sedikit 'pengertian' karena terus melawan," jawab preman itu sambil melayangkan tinjunya, diikuti oleh dua rekannya yang menyerang dari arah lain, menutup semua celah Sabdi untuk melarikan diri.

Semua pengunjung menahan napas. Nasib pemilik kios itu sudah dipastikan akan berakhir buruk. Sementara Robert sendiri menyalakan rokoknya, menikmati pertunjukan yang sebentar lagi akan dipersembahkan oleh ketiga anak buahnya.

Wusss! Bam!

Tepat ketika serangan ketiga preman itu hanya berjarak beberapa senti dari Sabdi, mereka merasakan sebuah kekuatan maha besar mendorong tubuh mereka hingga terpental jauh.

Brak!

"A-apa yang terjadi?" Semua orang terkejut menyaksikan ketiga preman itu tiba-tiba terlempar tanpa melihat penyebabnya.

Bahkan Robert sendiri menyipitkan matanya, bingung mengapa ketiga anak buahnya bisa terpental.

"I-ini... apa yang terjadi?" lirih Sabdi. Tak ada yang lebih terkejut darinya, apalagi melihat ketiga preman itu langsung tak sadarkan diri.

"Bedebah! Siapa yang berani menyerang anak buahku secara tiba-tiba?! Cepat tunjukkan dirimu! Jangan bersikap seperti pengecut melakukan penyerangan menyelinap tak tahu malu!" teriak Robert sambil menyapukan pandangannya ke segala arah. Ia berasumsi, pasti ada seorang ahli bela diri yang cukup tinggi mencoba membantu Sabdi.

Namun, setelah beberapa saat, sosok yang dicarinya tak kunjung keluar dari keramaian. Robert langsung melompat ke hadapan Sabdi.

"Tampaknya kau tidak ingin keluar, ya? Baiklah! Kalau begitu, aku akan mematahkan tangan bocah ini terlebih dahulu! Lalu, aku akan mematahkan kedua kakinya jika kau masih tidak mau menampakkan batang hidungmu!" ancam Robert, bersiap mengulurkan tangannya pada Sabdi.

"Ini...?" Robert terkejut. Tepat ketika tangannya hendak menyentuh Sabdi, tangannya tiba-tiba berhenti, kaku, dan tak bisa digerakkan meski ia terus berusaha keras.

'Apa yang terjadi? Kenapa tanganku tak dapat bergerak?' Pikir Robert.

Ia pun menggerakkan tangan kirinya untuk menyentuh Sabdi, tetapi hasilnya sama. Kini, kedua tangannya berhenti kaku di udara. Sabdi menatap Robert dengan linglung, ia akhirnya menyadari ada seseorang yang sedang melindunginya dari kejauhan.

"Bedebah! Keluarlah jika kau seorang pria, bajingan!"

"Aku yakin ini pasti ulahmu!" Robert meraung marah, entah pada siapa.

Namun, detik berikutnya, Robert merasakan tangan kanannya bergerak sendiri tanpa bisa ia hentikan.

Plak!

"Akhhh! Bajingan!"

"Apa yang terjadi? Kenapa dia menampar dirinya sendiri?" lirih salah seorang penonton. Mereka semua kebingungan. Tiga preman sebelumnya belum sadar, dan sekarang Robert tampak menampar wajahnya sendiri.

Plak! Plak! Plak!

"Akhhh!"

Tangan kanan dan kiri Robert bergerak bergantian, menampar wajahnya sendiri. Wajahnya seketika bengkak tak karuan.

"Tidak! Akhh! Am-ampun! To-tolong hentikan!"

Plak!

"To-tolong hentikan! Saya-saya mengaku salah! Senior, saya mengaku salah!"

Keadaan Robert tampak begitu menyedihkan. Mulut dan hidungnya terus mengeluarkan darah. Entah sudah berapa kali ia menampar dirinya sendiri. Saat ini, Robert merasa tak bisa berpikir jernih. Selain tidak dapat melihat siapa yang menggunakan cara aneh itu, ia juga tak habis pikir siapa sebenarnya orang yang membantu sabdi ini.

"Te-terima kasih, Senior! Terima kasih! Saya berjanji tidak akan mengganggunya lagi!"

Setelah merasakan kedua tangannya kembali normal, Robert segera membungkukkan tubuhnya ke segala arah karena tak tahu asal orang misterius itu.

"So-sobat, aku meminta maaf padamu. Di dalam kartu ini ada sejumlah uang seratus juta rupiah. Anggap saja sebagai kompensasi atas kesalahanku."

Setelah memberikan kartu berisi uang pada Sabdi, Robert buru-buru pergi dari sana dengan menyeret ketiga bawahan yang baru saja ia tendang wajahnya hingga tersadar.

Sementara Sabdi dan semua orang di sana tampak linglung. Tak ada satu pun dari mereka yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah di pasar ini sekarang terdapat makhluk halus? Kenapa para preman itu tampak ketakutan?" ucap salah seorang dengan kebingungan.

"Mana aku tahu. Aku bahkan tidak tahu kenapa para preman itu sebelumnya terpental. Belum lagi Robert yang terus menampar dirinya sendiri saat akan menyerang pemuda itu?" timpal yang lainnya.

Tanpa mereka ketahui, rayan yang sedari tadi berdiri diam saja, cukup merasa puas dengan Jurus Pengendali yang sudah lama ia pelajari dari gurunya.

Meskipun ia baru mencapai tingkat dasar, tetapi itu sudah cukup baginya untuk mengendalikan sesuatu — termasuk makhluk hidup — dalam waktu kurang lebih satu menit, dan sekitar satu jam pada sebuah benda. Semakin tinggi tingkatan pengendaliannya, semakin lama pula waktu yang bisa ia dapatkan dalam mengendalikan sesuatu.

'Aku tidak berharap efek pada manusia tidak jauh berbeda dengan binatang,' pikir rayan.

Tujuan utama dirinya mendekati kios itu sebetulnya karena ia tidak menyukai sikap Robert dan anak buahnya. Karena semuanya telah teratasi, rayan pun langsung pergi dari sana, meninggalkan semua orang yang masih dalam kebingungan.

Terpopuler

Comments

Widianto Dalang

Widianto Dalang

awal yg bagus

2026-07-22

0

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

hancur bukan tiada...

2026-05-27

0

Robby Tom

Robby Tom

oh gitu

2026-03-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kejadian di masa lalu
2 Bab 2 kepergian sang guru
3 Bab 3 Terobosan
4 Bab 4 Insiden kecil
5 Bab 5 Balap liar
6 Bab 6 di rumah sakit
7 Bab 7 Pergi dari rumah sakit
8 Bab 8 restoran
9 Bab 9 restoran yunda
10 Bab 10 Menolong gadis
11 Bab 11 gadis bernama maudy
12 Bab 12 membeli rumah
13 Bab 13 Aroma keringat rayan
14 Bab 14 kekesalan maudy
15 Bab 15 di hadang
16 Bab 16 pusat perbelanjaan
17 Bab 17 menolong seseorang
18 Bab 18 menjual koin emas
19 Bab 19 masih tentang koin emas
20 Bab 20 Kemunculan alin
21 Bab 21 Sedikit komplik
22 Bab 22 pulang
23 Bab 23 Leluhur keluarga raharja
24 Bab 24 Masakan rayan yang begitu nikmat
25 Bab 25 Telpon dari teman maudy
26 Bab 26 sang pengintai
27 Bab 27 Keributan di luar
28 Bab 28 yosen dan orang-orang bayaran
29 Bab 29 Menghantam gunda
30 Bab 30 keterkejutan
31 Bab 31 Setelah kepergian yosen
32 Bab 32 Jalan-jalan sore
33 Bab 33 Buaya predator
34 Bab 34 membunuh biaya predator
35 Bab 35 Di cegat di jalan
36 Bab 36 Menolong hana
37 Bab 37 mendatangi markas genk kapak hitam
38 Bab 28 membuat keributan di markas tuan baret
39 Bab 39 Baret pemimpin gunda
40 Bab 40 Baret dan rayan
41 Bab 41 Masih di margkas genk kapak hitam
42 Bab 42 Pertarungan
43 Bab 43 baret turun tangan
44 Bab 44 Kekalahan baret
45 Bab 45 kegugupan maudy
46 Bab 46 Sekte bayangan
47 Bab 47 Mendatangi yosen
48 Bab 48 menagih kesepakatan
49 Bab 49 Kemunculan yoswa ayah yosen
50 Bab 50 menagih kesepakatan yang membuahkan hasil
51 Bab 51 Pergi ke pusat perbelanjaan kembali
52 Bab 52 Linjia dan putrinya
53 Bab 53 Menolong bela
54 Bab 54 Membantu seorang pria tua
55 Bab 55 Batu energi tingkat tinggi
56 Bab 56 Kekesalan Shela yang memuncak
57 Bab 57 memberi pelajaran pada Shela
58 Bab 58 Bertemu dengan tuan satya kembali
59 Bab 59 pulang
60 Bab 60 menolong seorang bocah
61 Bab 61 Bernard
62 Bab 62 Di interogasi
63 Bab 63 Kabur
64 Bab 64 Prihal cincin penyimpanan
65 Bab 65 Keterkejutan sera
66 Bab 66 Kebingungan di kantor polisi
67 Bab 67 kedatangan sera
68 Bab 68 Sera yang kesal
69 Bab 69 Sera yang terpaksa menekan kekesalannya
70 Bab 70 Bersiap untuk menerobos
71 Bab 71 kedatangan beberpa orang tak di kenal
72 Bab 72 Formasi pedang pembunuh
73 Bab 73 Mengalahkan mereka dengan mudah
74 Bab 74 mengikat mereka di batang pohon
75 Bab 75 Menuduh Rama dari sekte hantu
76 Bab 76 Mengobati sera
77 Bab 77 Takjub, kesal, dan malu secara bersamaan
78 Bab 78 Rencana dari sekte bayangan
79 Bab 79 Kedatangan reybong
80 Bab 80 Reymond turun tangan
81 Bab 81 Api bawaan
82 Bab 82 Rayan vs Reymond
83 Bab 83 Formasi gabungan
84 Bab 84 Terobosan rayan
85 Bab 85 Mengalahkan mereka semua
86 Bab 86 Kegemparan di sekte bayangan
87 Bab 87 Menolong liwa
88 Bab 88 Mengajak liwa makan
89 Bab 89 Kebetulan bertemu maudy
90 Bab 90 Budi yang tidak normal
91 Bab 91 Tersedak makanan
92 Bab 92 Keluar dari restoran
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Menuju sebuah pelelangan
95 Bab 95 Bertemu dengan bayu setyo
96 Bab 96 Riuh di balik tirai Vip
97 Bab 98 Ruang VIP yang memanas
98 Bab 98 persaingan para penguasa
99 Bab 99 Membutuhkan pil pembangkit jiwa sebagai alat tukar
100 Bab 100 gejolak di aula lelang
101 Bab 101 Masih berlanjut
102 Bab 102 Usai acara lelang
103 Bab 103 Keluar dari rumah lelang
104 Bab 104 Di cegat
105 Bab 105 Di jalan malam
106 Bab 106 Orang-orang dari sekte bayangan
107 Bab 107 Bertarung dengan resi tetua sekte bayangan
108 Bab 108 Masih berlanjut
109 Bab 109 Kekalahan resi
110 Bab 110 Peringatan untuk resi
111 Bab 111 Artefak pelindung Giok kaisar
112 Bab 12 Bayang-bayang dendam dan kehangatan keluarga
113 Bab 113 Memperbaiki artefak pelindung dari pelelangan
114 Bab 114 menguji artefak pemberian rayan
115 Bab 105 Kunjungan gundala
116 Bab 116 Amelia yang membutuhkan harapan
117 Bab 117 Gulungan pasangan artefak Giok kaisar
118 Bab 118 Kedatangan Shela
119 Bab 119 Akhirnya amel meminta bantuan rayan
120 Bab 120 Rencana menyembuhkan kaki Amelia
121 Bab 121 Terhambat oleh kedatangan dokter leo
122 Bab 122 Teguran dari Rayan terhadap dokter jenius
123 Bab 123 Pringatan rayan yang menjadi kenyataan
124 Bab 124 Antara marah dan malu di rasakan dokter hadi
125 Bab 125 Rama turun tangan
126 126 Menyembuhkan kaki Amelia
127 Bab 127 Situasi yang memalukan bagi Amelia
128 Bab 128 Akhir cerita di rumah sakit
129 Bab 129 Beberapa orang suruhan tono
130 Bab 130 Senjata makan tuan
131 Bab 131 Kedatangan bu Wanda
132 Bab 132 Membantu menyembuhkan budi
133 Bab 133 Menyembuhkan budi
134 Bab 134 Hadiah dari Amelia
135 Bab 135 Mobil seharga 87,5 miliyar
136 Bab 136 Tamu tak di undang
137 Bab 137 Bayang bayang perjanjian Lama
138 Bab 138 Perjanjian perjodohan
139 Bab 139 Kedatangan Shela kembali
140 Bab 140 Kutukan dalam gulungan
141 Bab 141 Sosok iblis yang terkunci dalam gulungan kuno
142 Bab 142 kunjungan tiga gadis cantik
143 Bab 143 Tantangan dari rayan untuk Shela
144 Bab 134 Menerima taruhan dan kalah
145 Bab 145 Di sebuah restoran
146 Bab 146 Reyhan sang pengganggu
147 Bab 147 Mengunjungi kediaman priyadi
148 Bab 148 Bertemu tuan broto
149 Bab 149 Kewaspadaan broto
150 Bab 150 Broto yang telah salah menilai
151 Bab 151 Perjamuan di rumah priyadi
152 Bab 152 Perjamuan telah siap
153 Bab 153 Sambutan dan kemunculan seseorang
154 Bab 154 Wanni Dari Asosiasi beladiri
155 Bab 155 Maudy tak sengaja menyenggol wanji
156 Bab 156 Tumpahan minuman yang menjadi masalah
157 Bab 157 Pertarungan tanpa perlawanan
158 Bab 158 Pelajaran untuk wanji
159 Bab 159 Melelang barang
160 Bab 160 Jamur kametian
161 Bab 161 Suki dari keluarga Setyo
162 Bab 162 Kedatangan juban
163 Bab 163 Broto vs Juban
164 Bab 164 Pertarungan yang tak bisa di hindari
165 Bab 165 Pertarungan cukup sengit
166 Bab 166 Rayan akhirnya keluar
167 Bab 167 Antara Rayan dan tetua ke tiga
168 Bab 168 Keterkejutan semua orang
169 Bab 169 Masih berlanjut
170 Bab 170 Kekalahan juban
171 Bab 171 Kembali
172 Bab 172 Asal usul rayan mulai terbuka
173 Bab 173 Sera datang meminta bantuan
174 Bab 174 Para penjahat terlatih
175 Bab 175 Kedatangan rayan
176 Bab 176 Markas penjahat kelas kakap
177 Bab 177 Membebaskan tawanan
178 Bab 178 Bertarung
179 Bab 179 Wahna pemimpin dari mereka
180 Bab 180 Rama vs Wahna
181 Bab 181 Wahna mengeluarkan jurus terkuatnya
182 Bab 182 Kekalahan Wahna
183 Bab 183 Bertemu Bernard kembali
184 Bab 184 Beralih pada keluarga Setyo
185 Bab 185 Kegitan melatih suliwa
186 Bab 186 Memberi penawaran
187 Bab 187 Keribuaran kecil karena kesalahfahaman
188 Bab 188 Rencana untuk pertandingan tahunan
189 Bab 189 Dua minggu menjelang acara tahunan
190 Bab 190 Resmi menjadi pengikut rayan
191 Bab 191 Hadiah dari keluarga priyadi
192 Bab 192 Berlatih bersama suliwa
193 Bab 193 rumah baru di puncak kota
194 Bab 194 Memilih kamar
195 Bab 195 Malam pertama di rumah baru
196 Bab 196 Hari baru
197 Bab 197 Kedatangan hana
198 Bab 198 Bertemu Ibu angkat maudy
199 Bab 199 Geng tinju besi
200 Bab 200 Akhirnya Masalah maudy selesai
201 Bab 201 Markas geng tinju besi
202 Bab 202 Maudy dalam bahaya
203 Bab 203 mendatangi markas kepolisian
204 Bab 204 Di bawa ke ruangan gundala
205 Bab 205 melacat melalui sapu tangan
206 Bab 206 Maudy di bawa ke sekte hantu
207 Bab 207 Membantu dua murid dari sekte bintang
208 Bab 208 Membantu kina dan ruga
209 Bab 209 Tiba di sekte bintang
210 Bab 210 Yunji Salah satu tetua sekte bintang
211 Bab 211 Lembah kabut abadi
212 Bab 212 Danau air hitam penyegel jiwa
Episodes

Updated 212 Episodes

1
Episode 1 Kejadian di masa lalu
2
Bab 2 kepergian sang guru
3
Bab 3 Terobosan
4
Bab 4 Insiden kecil
5
Bab 5 Balap liar
6
Bab 6 di rumah sakit
7
Bab 7 Pergi dari rumah sakit
8
Bab 8 restoran
9
Bab 9 restoran yunda
10
Bab 10 Menolong gadis
11
Bab 11 gadis bernama maudy
12
Bab 12 membeli rumah
13
Bab 13 Aroma keringat rayan
14
Bab 14 kekesalan maudy
15
Bab 15 di hadang
16
Bab 16 pusat perbelanjaan
17
Bab 17 menolong seseorang
18
Bab 18 menjual koin emas
19
Bab 19 masih tentang koin emas
20
Bab 20 Kemunculan alin
21
Bab 21 Sedikit komplik
22
Bab 22 pulang
23
Bab 23 Leluhur keluarga raharja
24
Bab 24 Masakan rayan yang begitu nikmat
25
Bab 25 Telpon dari teman maudy
26
Bab 26 sang pengintai
27
Bab 27 Keributan di luar
28
Bab 28 yosen dan orang-orang bayaran
29
Bab 29 Menghantam gunda
30
Bab 30 keterkejutan
31
Bab 31 Setelah kepergian yosen
32
Bab 32 Jalan-jalan sore
33
Bab 33 Buaya predator
34
Bab 34 membunuh biaya predator
35
Bab 35 Di cegat di jalan
36
Bab 36 Menolong hana
37
Bab 37 mendatangi markas genk kapak hitam
38
Bab 28 membuat keributan di markas tuan baret
39
Bab 39 Baret pemimpin gunda
40
Bab 40 Baret dan rayan
41
Bab 41 Masih di margkas genk kapak hitam
42
Bab 42 Pertarungan
43
Bab 43 baret turun tangan
44
Bab 44 Kekalahan baret
45
Bab 45 kegugupan maudy
46
Bab 46 Sekte bayangan
47
Bab 47 Mendatangi yosen
48
Bab 48 menagih kesepakatan
49
Bab 49 Kemunculan yoswa ayah yosen
50
Bab 50 menagih kesepakatan yang membuahkan hasil
51
Bab 51 Pergi ke pusat perbelanjaan kembali
52
Bab 52 Linjia dan putrinya
53
Bab 53 Menolong bela
54
Bab 54 Membantu seorang pria tua
55
Bab 55 Batu energi tingkat tinggi
56
Bab 56 Kekesalan Shela yang memuncak
57
Bab 57 memberi pelajaran pada Shela
58
Bab 58 Bertemu dengan tuan satya kembali
59
Bab 59 pulang
60
Bab 60 menolong seorang bocah
61
Bab 61 Bernard
62
Bab 62 Di interogasi
63
Bab 63 Kabur
64
Bab 64 Prihal cincin penyimpanan
65
Bab 65 Keterkejutan sera
66
Bab 66 Kebingungan di kantor polisi
67
Bab 67 kedatangan sera
68
Bab 68 Sera yang kesal
69
Bab 69 Sera yang terpaksa menekan kekesalannya
70
Bab 70 Bersiap untuk menerobos
71
Bab 71 kedatangan beberpa orang tak di kenal
72
Bab 72 Formasi pedang pembunuh
73
Bab 73 Mengalahkan mereka dengan mudah
74
Bab 74 mengikat mereka di batang pohon
75
Bab 75 Menuduh Rama dari sekte hantu
76
Bab 76 Mengobati sera
77
Bab 77 Takjub, kesal, dan malu secara bersamaan
78
Bab 78 Rencana dari sekte bayangan
79
Bab 79 Kedatangan reybong
80
Bab 80 Reymond turun tangan
81
Bab 81 Api bawaan
82
Bab 82 Rayan vs Reymond
83
Bab 83 Formasi gabungan
84
Bab 84 Terobosan rayan
85
Bab 85 Mengalahkan mereka semua
86
Bab 86 Kegemparan di sekte bayangan
87
Bab 87 Menolong liwa
88
Bab 88 Mengajak liwa makan
89
Bab 89 Kebetulan bertemu maudy
90
Bab 90 Budi yang tidak normal
91
Bab 91 Tersedak makanan
92
Bab 92 Keluar dari restoran
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Menuju sebuah pelelangan
95
Bab 95 Bertemu dengan bayu setyo
96
Bab 96 Riuh di balik tirai Vip
97
Bab 98 Ruang VIP yang memanas
98
Bab 98 persaingan para penguasa
99
Bab 99 Membutuhkan pil pembangkit jiwa sebagai alat tukar
100
Bab 100 gejolak di aula lelang
101
Bab 101 Masih berlanjut
102
Bab 102 Usai acara lelang
103
Bab 103 Keluar dari rumah lelang
104
Bab 104 Di cegat
105
Bab 105 Di jalan malam
106
Bab 106 Orang-orang dari sekte bayangan
107
Bab 107 Bertarung dengan resi tetua sekte bayangan
108
Bab 108 Masih berlanjut
109
Bab 109 Kekalahan resi
110
Bab 110 Peringatan untuk resi
111
Bab 111 Artefak pelindung Giok kaisar
112
Bab 12 Bayang-bayang dendam dan kehangatan keluarga
113
Bab 113 Memperbaiki artefak pelindung dari pelelangan
114
Bab 114 menguji artefak pemberian rayan
115
Bab 105 Kunjungan gundala
116
Bab 116 Amelia yang membutuhkan harapan
117
Bab 117 Gulungan pasangan artefak Giok kaisar
118
Bab 118 Kedatangan Shela
119
Bab 119 Akhirnya amel meminta bantuan rayan
120
Bab 120 Rencana menyembuhkan kaki Amelia
121
Bab 121 Terhambat oleh kedatangan dokter leo
122
Bab 122 Teguran dari Rayan terhadap dokter jenius
123
Bab 123 Pringatan rayan yang menjadi kenyataan
124
Bab 124 Antara marah dan malu di rasakan dokter hadi
125
Bab 125 Rama turun tangan
126
126 Menyembuhkan kaki Amelia
127
Bab 127 Situasi yang memalukan bagi Amelia
128
Bab 128 Akhir cerita di rumah sakit
129
Bab 129 Beberapa orang suruhan tono
130
Bab 130 Senjata makan tuan
131
Bab 131 Kedatangan bu Wanda
132
Bab 132 Membantu menyembuhkan budi
133
Bab 133 Menyembuhkan budi
134
Bab 134 Hadiah dari Amelia
135
Bab 135 Mobil seharga 87,5 miliyar
136
Bab 136 Tamu tak di undang
137
Bab 137 Bayang bayang perjanjian Lama
138
Bab 138 Perjanjian perjodohan
139
Bab 139 Kedatangan Shela kembali
140
Bab 140 Kutukan dalam gulungan
141
Bab 141 Sosok iblis yang terkunci dalam gulungan kuno
142
Bab 142 kunjungan tiga gadis cantik
143
Bab 143 Tantangan dari rayan untuk Shela
144
Bab 134 Menerima taruhan dan kalah
145
Bab 145 Di sebuah restoran
146
Bab 146 Reyhan sang pengganggu
147
Bab 147 Mengunjungi kediaman priyadi
148
Bab 148 Bertemu tuan broto
149
Bab 149 Kewaspadaan broto
150
Bab 150 Broto yang telah salah menilai
151
Bab 151 Perjamuan di rumah priyadi
152
Bab 152 Perjamuan telah siap
153
Bab 153 Sambutan dan kemunculan seseorang
154
Bab 154 Wanni Dari Asosiasi beladiri
155
Bab 155 Maudy tak sengaja menyenggol wanji
156
Bab 156 Tumpahan minuman yang menjadi masalah
157
Bab 157 Pertarungan tanpa perlawanan
158
Bab 158 Pelajaran untuk wanji
159
Bab 159 Melelang barang
160
Bab 160 Jamur kametian
161
Bab 161 Suki dari keluarga Setyo
162
Bab 162 Kedatangan juban
163
Bab 163 Broto vs Juban
164
Bab 164 Pertarungan yang tak bisa di hindari
165
Bab 165 Pertarungan cukup sengit
166
Bab 166 Rayan akhirnya keluar
167
Bab 167 Antara Rayan dan tetua ke tiga
168
Bab 168 Keterkejutan semua orang
169
Bab 169 Masih berlanjut
170
Bab 170 Kekalahan juban
171
Bab 171 Kembali
172
Bab 172 Asal usul rayan mulai terbuka
173
Bab 173 Sera datang meminta bantuan
174
Bab 174 Para penjahat terlatih
175
Bab 175 Kedatangan rayan
176
Bab 176 Markas penjahat kelas kakap
177
Bab 177 Membebaskan tawanan
178
Bab 178 Bertarung
179
Bab 179 Wahna pemimpin dari mereka
180
Bab 180 Rama vs Wahna
181
Bab 181 Wahna mengeluarkan jurus terkuatnya
182
Bab 182 Kekalahan Wahna
183
Bab 183 Bertemu Bernard kembali
184
Bab 184 Beralih pada keluarga Setyo
185
Bab 185 Kegitan melatih suliwa
186
Bab 186 Memberi penawaran
187
Bab 187 Keribuaran kecil karena kesalahfahaman
188
Bab 188 Rencana untuk pertandingan tahunan
189
Bab 189 Dua minggu menjelang acara tahunan
190
Bab 190 Resmi menjadi pengikut rayan
191
Bab 191 Hadiah dari keluarga priyadi
192
Bab 192 Berlatih bersama suliwa
193
Bab 193 rumah baru di puncak kota
194
Bab 194 Memilih kamar
195
Bab 195 Malam pertama di rumah baru
196
Bab 196 Hari baru
197
Bab 197 Kedatangan hana
198
Bab 198 Bertemu Ibu angkat maudy
199
Bab 199 Geng tinju besi
200
Bab 200 Akhirnya Masalah maudy selesai
201
Bab 201 Markas geng tinju besi
202
Bab 202 Maudy dalam bahaya
203
Bab 203 mendatangi markas kepolisian
204
Bab 204 Di bawa ke ruangan gundala
205
Bab 205 melacat melalui sapu tangan
206
Bab 206 Maudy di bawa ke sekte hantu
207
Bab 207 Membantu dua murid dari sekte bintang
208
Bab 208 Membantu kina dan ruga
209
Bab 209 Tiba di sekte bintang
210
Bab 210 Yunji Salah satu tetua sekte bintang
211
Bab 211 Lembah kabut abadi
212
Bab 212 Danau air hitam penyegel jiwa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!