Bab 5 Balap liar

Di pinggiran kota yang lengang, dua mobil mewah melaju kencang, siluetnya berkejaran seperti predator di malam hari. Di dalamnya, dua gadis cantik tampak begitu bersemangat, memanfaatkan jalanan sepi untuk sebuah balapan liar yang memacu adrenalin.

"Ayolah, Kak Amel! Bukankah kemampuan mengemudimu semakin bagus?" seru seorang gadis dari mobil berwarna biru tua, ia baru saja berhasil menyalip mobil sepupunya.

"Gadis bodoh! Biar kuperlihatkan padamu siapa Dewi Jalanan yang sesungguhnya!" Dengan senyum samar yang menantang, gadis cantik yang mengendarai mobil merah itu langsung menginjak gasnya. Suara deru mesin yang menggelegar memecah kesunyian jalanan.

Brum! Brum!

Dua mobil sport mewah itu meliuk-liuk, bergantian memimpin barisan depan, terus melaju dengan kecepatan mematikan. Kecepatan mobil merah kian menjadi-jadi, meninggalkan mobil biru tua di belakang. Namun, nahas, tiba-tiba mobil merah itu kehilangan kendali.

Jauh di depan sana, seorang pemuda tengah berjalan santai di tepi jalan, pikirannya melayang memikirkan rencana selanjutnya.

"Guru, aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan" Gumam pemuda itu dalam hati, "Aku juga tidak mungkin mendatangi keluarga itu. Dulu, mereka mengusir ayah dan ibuku. Kebencian pun kembali muncul di hatinya.

Tin! Tin! Tin!

"Sial! Kenapa pemuda gila itu tiba-tiba ada di sana?!"

"Hei! Cepat menyingkir! Apakah kau ingin segera mati?!" teriak Amelia dari dalam mobil merah. Ia berusaha menginjak rem, tetapi karena kecepatan yang terlampau tinggi, rem mobilnya tidak berfungsi dengan baik.

''Ap-apaan! Apakah orang itu ingin membunuhku?' Tersadar dari lamunannya, Rayan bereaksi dalam sepersekian detik. Ia langsung meloncat ke dahan pohon terdekat, menghindari benturan maut.

"Akhhhhhh...!" Amelia berteriak panik, membanting setir mobilnya ke kanan hingga mobil itu melaju dan menabrak sebatang pohon besar.

Brakkk!

"Tidak! Kak Amel!" teriak gadis di mobil biru tua itu. Meskipun tertinggal jauh di belakang, ia masih melihat jelas apa yang terjadi pada mobil sepupunya.

Asap mulai mengepul dari kap mobil merah itu. Bagian depan mobil tampak remuk tak berbentuk setelah menghantam keras batang pohon.

"Huhu... Kak Amel, ja-jangan membuatku takut!" Sosok gadis cantik berseragam SMA itu—Shela—bergegas keluar dari mobil birunya dan berlari menghampiri mobil sepupunya.

"Ahhh... apa yang harus kulakukan? Tidak! Kak Amel, bertahanlah! Aku akan mencari bantuan!" Setelah berusaha membuka pintu mobil merah yang ringsek, Shela semakin panik karena pintu itu terkunci dan macet.

Ia buru-buru meraih ponselnya.

["H-halo... Kakek! Huhu, Kak Amel, Kakek! Cepat tolong Kak Amel! Huhu..."]

["Halo. Ada apa, Shela? Apa yang terjadi? Bicaralah dengan jelas!"] terdengar suara seorang pria tua di seberang sana.

["Kakek, huhu... Kak Amel dia-dia...?"]

Tut. Tut.

Belum sempat Shela menjelaskan, teleponnya terputus.

"Akh, sial!" Gadis itu merasa putus asa, ternyata baterai ponselnya telah habis.

"Huhu... Kak Amel, a-apa yang haru kulakukan?"

Melihat jalanan yang sepi, keputusasaan Shela semakin menjadi. Ia mencoba kembali membuka pintu mobil, tetapi tetap tak berhasil. Ia tidak tahu bagaimana keadaan sepupunya di dalam sana.

"Berhentilah menangis. Biar aku coba membukanya."

Shela terkejut atas kemunculan pemuda itu di belakangnya. Sekelebat ingatan berputar di kepalanya. Pemuda inilah yang membuat sepupunya membanting setir.

"Kau! Kau gelandangan tidak tahu diri! Semua ini salahmu! Kau—kau pantas mati!"

"Akh! Bajingan! Aku akan membunuhmu!" Gadis itu langsung meraung marah saat melihat Rayan. Saat aksi balapan tadi, ia melihat jelas dari belakang bahwa pemuda gembel inilah yang menyebabkan Kak Amel membanting setir hingga menabrak pohon.

"Hei, Nona, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau menyalahkanku?" Rayan tidak habis pikir. Jelas-jelas ia yang hampir menjadi korban jika tidak cepat menghindar, tetapi gadis ini malah menyalahkannya secara sepihak.

"Kau masih berani mengelak?! Jelas kau yang membuat Kak Amel membanting setir! Tunggu saja, jangan harap kau bisa melarikan diri!" ucap Shela dengan dada naik turun karena emosi.

Brak!

Tanpa menghiraukan gadis itu, rayan langsung menarik pintu mobil tersebut dengan satu sentakan kuat hingga terlepas dari engselnya.

"Kau...!" Gadis itu terkejut melihat pemuda itu bisa dengan mudahnya merobek pintu mobil.

"Tenanglah, Nona. Bukankah kau ingin menolong temanmu ini?" ujar rayan sembari melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Amelia.

Dengan keahlian medisnya, rayan dapat langsung melihat bahwa kedua kaki gadis itu patah karena terjepit oleh bagian depan mobil sport tersebut. Bukan hanya itu, tampak luka cukup serius di kepalanya yang mengakibatkan darah terus mengalir membasahi wajah Amelia.

"Kau! Kau mau apa?!" Melihat pemuda itu tampak memeluk tubuh Amelia, Shela langsung menarik rayan. Ia berpikir, gelandangan bau ini berani-beraninya memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal memalukan pada sepupunya.

"Hei, bisakah kau tenang sedikit saja, Nona? Lihatlah keadaan temanmu ini. Aku hanya ingin menolongnya!" rayan mulai merasa kesal dengan sikap gadis itu.

"Apanya yang menolong?! Jelas-jelas kau ingin melecehkan kakakku! Kau dasar gembel tidak tahu diri! Cepat menyingkir dari kakakku!" Shela menarik rayan agar menjauh dari Amelia.

Brum!

Tepat saat itu juga, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di lokasi. Tak lama kemudian, keluar sosok pria paruh baya dengan empat orang pengawal di belakangnya.

"Kakek! Huhu... akhirnya Kakek datang juga!" Melihat sosok yang datang adalah kakeknya, Shela langsung menghambur ke pelukan pria paruh baya itu.

"Shela, apa yang terjadi?" tanya pria paruh baya itu. Melihat mobil Ferrari merah menabrak pohon, ia terkejut. Mobil itu adalah milik cucu pertamanya.

"Huhu... Kakek, ce-cepat selamatkan Kak Amel!" Tangis Shela pecah. Ia merasa bersalah karena ialah yang menantang sepupunya untuk balapan liar sepulang sekolah.

"Tenanglah. Apakah kau sudah memanggil ambulans?" tanya pria paruh baya itu, tetapi mendapat gelengan dari Shela. Gadis itu menjelaskan bahwa ponselnya kehabisan baterai.

"Kalian! Cepat keluarkan cucuku dari mobil!" perintah pria paruh baya itu pada keempat pengawalnya, sementara dirinya segera menghubungi sebuah nomor telepon.

"Kakek, dia! Dialah yang menyebabkan Kak Amel kecelakaan!" Shela segera menjelaskan secara singkat, sembari menunjuk ke arah rayan.

Tak lama kemudian, mobil ambulans tiba dan segera membawa Amelia yang sudah tak sadarkan diri dan berlumuran darah.

Melihat keadaan cucunya, pria paruh baya itu langsung menatap tajam ke arah rayan dan berkata kepada dua pengawalnya, "Bawa anak itu."

"Maaf, Tuan. Bisakah saya menjelaskan terlebih dahulu?"

"Sebenarnya apa yang gadis itu katakan tidaklah benar. Justru mereka berdualah yang mengemudi ugal-ugalan, dan pengendara mobil merah itu hampir menabrak saya. Jadi...?" rayan mencoba menjelaskan, tetapi langsung dipotong oleh pria paruh baya itu.

"Siapa yang mengizinkanmu bicara?"

"Ikutlah dengan patuh, atau kau akan menyesalinya." Aura yang tampak tidak bisa ditolak memancar dari pria paruh baya itu, bahkan membuat keempat pengawalnya merasa ketakutan.

"Maaf, saya tidak bersalah, jadi saya tidak memiliki alasan untuk ikut dengan kalian," jawab rayan acuh tak acuh. Menurutnya, orang-orang ini sangat tidak masuk akal. Ia tidak menyangka setelah turun gunung, ia akan mengalami kejadian seperti ini.

Pria paruh baya itu menyipitkan matanya. Ini adalah pertama kalinya ia diabaikan oleh seseorang yang usianya masih sangat muda. Belum lagi, ia telah memancarkan sedikit tekanan aura bela dirinya. Jika orang lain, pasti mereka akan ketakutan dan menuruti perkataannya. Tetapi, anak muda ini selain tidak menurut, bahkan tidak ada jejak ketakutan di wajahnya.

"Kau! Beraninya kau tidak mengikuti perintah Kakek! Apakah kau tidak takut mati?!" Shela langsung memarahi pemuda itu, kebenciannya semakin bertambah.

"Sudah saya katakan, saya tidak akan ikut dengan kalian. Jangan coba memprovokasiku," ujar rayan dengan tatapan yang agak berbeda. Tatapan itu seketika membuat Shela merasa seolah berada di jurang kematian.

"K-kau...!" Tanpa sadar, Shela mundur beberapa langkah. Ini adalah pertama kalinya ia merasa takut hanya dengan ditatap oleh seseorang.

''Apa yang terjadi? Kenapa tatapannya membuatku takut "? pikirnya.

"Ikutlah. Melihat penampilanmu, sepertinya kamu bukan berasal dari kota ini," ujar pria paruh baya itu lagi, sambil mengeluarkan seluruh tekanan aura bela dirinya.

"Saya hanya akan meminta beberapa penjelasan darimu. Setelah kamu terbukti tidak bersalah, saya tidak akan menahanmu untuk pergi."

Rayan cukup terkejut merasakan aura pria paruh baya itu. Meskipun ia tidak tahu di tingkat apa kekuatan pria paruh baya ini, tetapi kekuatannya memang cukup tinggi. Rayan pun menjadi penasaran tentang para ahli bela diri di kota ini. Dulu, gurunya pernah berkata padanya bahwa di zaman ini hanya sedikit ahli kultivasi seperti dirinya, dan keberadaan mereka cukup tersembunyi. Sementara kebanyakan orang-orang kuat di zaman ini adalah para ahli bela diri, dan Rayan menebak, pastilah pria paruh baya ini adalah seorang ahli bela diri yang tingkatannya cukup tinggi.

"Baiklah. Tetapi, jangan coba untuk menyulitkanku," ucap rayan. Karena ia memang tidak mempunyai tujuan, tidak ada salahnya ikut dengan pria paruh baya ini. Dengan begitu, ia akan sedikit berkeliling kota tanpa berjalan kaki.

Ekspresi pria paruh baya itu tidak berubah, tatapannya tetap dingin, tetapi dalam pikirannya ia bergumam, "Pemuda ini sepertinya tidak tahu siapa aku."

Kemudian, rayan pun ikut bersama mereka menuju rumah sakit terbesar di kota.

Terpopuler

Comments

VirgoRaurus 31Smile

VirgoRaurus 31Smile

melepas pintu mobil bukan merobek

2026-05-27

0

teguh andriyanto

teguh andriyanto

baca novel spt lihat dracin. 🤣🤣🤣

2026-04-22

0

Robby Tom

Robby Tom

lanjut

2026-03-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 Kejadian di masa lalu
2 Bab 2 kepergian sang guru
3 Bab 3 Terobosan
4 Bab 4 Insiden kecil
5 Bab 5 Balap liar
6 Bab 6 di rumah sakit
7 Bab 7 Pergi dari rumah sakit
8 Bab 8 restoran
9 Bab 9 restoran yunda
10 Bab 10 Menolong gadis
11 Bab 11 gadis bernama maudy
12 Bab 12 membeli rumah
13 Bab 13 Aroma keringat rayan
14 Bab 14 kekesalan maudy
15 Bab 15 di hadang
16 Bab 16 pusat perbelanjaan
17 Bab 17 menolong seseorang
18 Bab 18 menjual koin emas
19 Bab 19 masih tentang koin emas
20 Bab 20 Kemunculan alin
21 Bab 21 Sedikit komplik
22 Bab 22 pulang
23 Bab 23 Leluhur keluarga raharja
24 Bab 24 Masakan rayan yang begitu nikmat
25 Bab 25 Telpon dari teman maudy
26 Bab 26 sang pengintai
27 Bab 27 Keributan di luar
28 Bab 28 yosen dan orang-orang bayaran
29 Bab 29 Menghantam gunda
30 Bab 30 keterkejutan
31 Bab 31 Setelah kepergian yosen
32 Bab 32 Jalan-jalan sore
33 Bab 33 Buaya predator
34 Bab 34 membunuh biaya predator
35 Bab 35 Di cegat di jalan
36 Bab 36 Menolong hana
37 Bab 37 mendatangi markas genk kapak hitam
38 Bab 28 membuat keributan di markas tuan baret
39 Bab 39 Baret pemimpin gunda
40 Bab 40 Baret dan rayan
41 Bab 41 Masih di margkas genk kapak hitam
42 Bab 42 Pertarungan
43 Bab 43 baret turun tangan
44 Bab 44 Kekalahan baret
45 Bab 45 kegugupan maudy
46 Bab 46 Sekte bayangan
47 Bab 47 Mendatangi yosen
48 Bab 48 menagih kesepakatan
49 Bab 49 Kemunculan yoswa ayah yosen
50 Bab 50 menagih kesepakatan yang membuahkan hasil
51 Bab 51 Pergi ke pusat perbelanjaan kembali
52 Bab 52 Linjia dan putrinya
53 Bab 53 Menolong bela
54 Bab 54 Membantu seorang pria tua
55 Bab 55 Batu energi tingkat tinggi
56 Bab 56 Kekesalan Shela yang memuncak
57 Bab 57 memberi pelajaran pada Shela
58 Bab 58 Bertemu dengan tuan satya kembali
59 Bab 59 pulang
60 Bab 60 menolong seorang bocah
61 Bab 61 Bernard
62 Bab 62 Di interogasi
63 Bab 63 Kabur
64 Bab 64 Prihal cincin penyimpanan
65 Bab 65 Keterkejutan sera
66 Bab 66 Kebingungan di kantor polisi
67 Bab 67 kedatangan sera
68 Bab 68 Sera yang kesal
69 Bab 69 Sera yang terpaksa menekan kekesalannya
70 Bab 70 Bersiap untuk menerobos
71 Bab 71 kedatangan beberpa orang tak di kenal
72 Bab 72 Formasi pedang pembunuh
73 Bab 73 Mengalahkan mereka dengan mudah
74 Bab 74 mengikat mereka di batang pohon
75 Bab 75 Menuduh Rama dari sekte hantu
76 Bab 76 Mengobati sera
77 Bab 77 Takjub, kesal, dan malu secara bersamaan
78 Bab 78 Rencana dari sekte bayangan
79 Bab 79 Kedatangan reybong
80 Bab 80 Reymond turun tangan
81 Bab 81 Api bawaan
82 Bab 82 Rayan vs Reymond
83 Bab 83 Formasi gabungan
84 Bab 84 Terobosan rayan
85 Bab 85 Mengalahkan mereka semua
86 Bab 86 Kegemparan di sekte bayangan
87 Bab 87 Menolong liwa
88 Bab 88 Mengajak liwa makan
89 Bab 89 Kebetulan bertemu maudy
90 Bab 90 Budi yang tidak normal
91 Bab 91 Tersedak makanan
92 Bab 92 Keluar dari restoran
93 Bab 93 Tamu tak di undang
94 Bab 94 Menuju sebuah pelelangan
95 Bab 95 Bertemu dengan bayu setyo
96 Bab 96 Riuh di balik tirai Vip
97 Bab 98 Ruang VIP yang memanas
98 Bab 98 persaingan para penguasa
99 Bab 99 Membutuhkan pil pembangkit jiwa sebagai alat tukar
100 Bab 100 gejolak di aula lelang
101 Bab 101 Masih berlanjut
102 Bab 102 Usai acara lelang
103 Bab 103 Keluar dari rumah lelang
104 Bab 104 Di cegat
105 Bab 105 Di jalan malam
106 Bab 106 Orang-orang dari sekte bayangan
107 Bab 107 Bertarung dengan resi tetua sekte bayangan
108 Bab 108 Masih berlanjut
109 Bab 109 Kekalahan resi
110 Bab 110 Peringatan untuk resi
111 Bab 111 Artefak pelindung Giok kaisar
112 Bab 12 Bayang-bayang dendam dan kehangatan keluarga
113 Bab 113 Memperbaiki artefak pelindung dari pelelangan
114 Bab 114 menguji artefak pemberian rayan
115 Bab 105 Kunjungan gundala
116 Bab 116 Amelia yang membutuhkan harapan
117 Bab 117 Gulungan pasangan artefak Giok kaisar
118 Bab 118 Kedatangan Shela
119 Bab 119 Akhirnya amel meminta bantuan rayan
120 Bab 120 Rencana menyembuhkan kaki Amelia
121 Bab 121 Terhambat oleh kedatangan dokter leo
122 Bab 122 Teguran dari Rayan terhadap dokter jenius
123 Bab 123 Pringatan rayan yang menjadi kenyataan
124 Bab 124 Antara marah dan malu di rasakan dokter hadi
125 Bab 125 Rama turun tangan
126 126 Menyembuhkan kaki Amelia
127 Bab 127 Situasi yang memalukan bagi Amelia
128 Bab 128 Akhir cerita di rumah sakit
129 Bab 129 Beberapa orang suruhan tono
130 Bab 130 Senjata makan tuan
131 Bab 131 Kedatangan bu Wanda
132 Bab 132 Membantu menyembuhkan budi
133 Bab 133 Menyembuhkan budi
134 Bab 134 Hadiah dari Amelia
135 Bab 135 Mobil seharga 87,5 miliyar
136 Bab 136 Tamu tak di undang
137 Bab 137 Bayang bayang perjanjian Lama
138 Bab 138 Perjanjian perjodohan
139 Bab 139 Kedatangan Shela kembali
140 Bab 140 Kutukan dalam gulungan
141 Bab 141 Sosok iblis yang terkunci dalam gulungan kuno
142 Bab 142 kunjungan tiga gadis cantik
143 Bab 143 Tantangan dari rayan untuk Shela
144 Bab 134 Menerima taruhan dan kalah
145 Bab 145 Di sebuah restoran
146 Bab 146 Reyhan sang pengganggu
147 Bab 147 Mengunjungi kediaman priyadi
148 Bab 148 Bertemu tuan broto
149 Bab 149 Kewaspadaan broto
150 Bab 150 Broto yang telah salah menilai
151 Bab 151 Perjamuan di rumah priyadi
152 Bab 152 Perjamuan telah siap
153 Bab 153 Sambutan dan kemunculan seseorang
154 Bab 154 Wanni Dari Asosiasi beladiri
155 Bab 155 Maudy tak sengaja menyenggol wanji
156 Bab 156 Tumpahan minuman yang menjadi masalah
157 Bab 157 Pertarungan tanpa perlawanan
158 Bab 158 Pelajaran untuk wanji
159 Bab 159 Melelang barang
160 Bab 160 Jamur kametian
161 Bab 161 Suki dari keluarga Setyo
162 Bab 162 Kedatangan juban
163 Bab 163 Broto vs Juban
164 Bab 164 Pertarungan yang tak bisa di hindari
165 Bab 165 Pertarungan cukup sengit
166 Bab 166 Rayan akhirnya keluar
167 Bab 167 Antara Rayan dan tetua ke tiga
168 Bab 168 Keterkejutan semua orang
169 Bab 169 Masih berlanjut
170 Bab 170 Kekalahan juban
171 Bab 171 Kembali
172 Bab 172 Asal usul rayan mulai terbuka
173 Bab 173 Sera datang meminta bantuan
174 Bab 174 Para penjahat terlatih
175 Bab 175 Kedatangan rayan
176 Bab 176 Markas penjahat kelas kakap
177 Bab 177 Membebaskan tawanan
178 Bab 178 Bertarung
179 Bab 179 Wahna pemimpin dari mereka
180 Bab 180 Rama vs Wahna
181 Bab 181 Wahna mengeluarkan jurus terkuatnya
182 Bab 182 Kekalahan Wahna
183 Bab 183 Bertemu Bernard kembali
184 Bab 184 Beralih pada keluarga Setyo
185 Bab 185 Kegitan melatih suliwa
186 Bab 186 Memberi penawaran
187 Bab 187 Keribuaran kecil karena kesalahfahaman
188 Bab 188 Rencana untuk pertandingan tahunan
189 Bab 189 Dua minggu menjelang acara tahunan
190 Bab 190 Resmi menjadi pengikut rayan
191 Bab 191 Hadiah dari keluarga priyadi
192 Bab 192 Berlatih bersama suliwa
193 Bab 193 rumah baru di puncak kota
194 Bab 194 Memilih kamar
195 Bab 195 Malam pertama di rumah baru
196 Bab 196 Hari baru
197 Bab 197 Kedatangan hana
198 Bab 198 Bertemu Ibu angkat maudy
199 Bab 199 Geng tinju besi
200 Bab 200 Akhirnya Masalah maudy selesai
201 Bab 201 Markas geng tinju besi
202 Bab 202 Maudy dalam bahaya
203 Bab 203 mendatangi markas kepolisian
204 Bab 204 Di bawa ke ruangan gundala
205 Bab 205 melacat melalui sapu tangan
206 Bab 206 Maudy di bawa ke sekte hantu
207 Bab 207 Membantu dua murid dari sekte bintang
208 Bab 208 Membantu kina dan ruga
209 Bab 209 Tiba di sekte bintang
210 Bab 210 Yunji Salah satu tetua sekte bintang
211 Bab 211 Lembah kabut abadi
212 Bab 212 Danau air hitam penyegel jiwa
Episodes

Updated 212 Episodes

1
Episode 1 Kejadian di masa lalu
2
Bab 2 kepergian sang guru
3
Bab 3 Terobosan
4
Bab 4 Insiden kecil
5
Bab 5 Balap liar
6
Bab 6 di rumah sakit
7
Bab 7 Pergi dari rumah sakit
8
Bab 8 restoran
9
Bab 9 restoran yunda
10
Bab 10 Menolong gadis
11
Bab 11 gadis bernama maudy
12
Bab 12 membeli rumah
13
Bab 13 Aroma keringat rayan
14
Bab 14 kekesalan maudy
15
Bab 15 di hadang
16
Bab 16 pusat perbelanjaan
17
Bab 17 menolong seseorang
18
Bab 18 menjual koin emas
19
Bab 19 masih tentang koin emas
20
Bab 20 Kemunculan alin
21
Bab 21 Sedikit komplik
22
Bab 22 pulang
23
Bab 23 Leluhur keluarga raharja
24
Bab 24 Masakan rayan yang begitu nikmat
25
Bab 25 Telpon dari teman maudy
26
Bab 26 sang pengintai
27
Bab 27 Keributan di luar
28
Bab 28 yosen dan orang-orang bayaran
29
Bab 29 Menghantam gunda
30
Bab 30 keterkejutan
31
Bab 31 Setelah kepergian yosen
32
Bab 32 Jalan-jalan sore
33
Bab 33 Buaya predator
34
Bab 34 membunuh biaya predator
35
Bab 35 Di cegat di jalan
36
Bab 36 Menolong hana
37
Bab 37 mendatangi markas genk kapak hitam
38
Bab 28 membuat keributan di markas tuan baret
39
Bab 39 Baret pemimpin gunda
40
Bab 40 Baret dan rayan
41
Bab 41 Masih di margkas genk kapak hitam
42
Bab 42 Pertarungan
43
Bab 43 baret turun tangan
44
Bab 44 Kekalahan baret
45
Bab 45 kegugupan maudy
46
Bab 46 Sekte bayangan
47
Bab 47 Mendatangi yosen
48
Bab 48 menagih kesepakatan
49
Bab 49 Kemunculan yoswa ayah yosen
50
Bab 50 menagih kesepakatan yang membuahkan hasil
51
Bab 51 Pergi ke pusat perbelanjaan kembali
52
Bab 52 Linjia dan putrinya
53
Bab 53 Menolong bela
54
Bab 54 Membantu seorang pria tua
55
Bab 55 Batu energi tingkat tinggi
56
Bab 56 Kekesalan Shela yang memuncak
57
Bab 57 memberi pelajaran pada Shela
58
Bab 58 Bertemu dengan tuan satya kembali
59
Bab 59 pulang
60
Bab 60 menolong seorang bocah
61
Bab 61 Bernard
62
Bab 62 Di interogasi
63
Bab 63 Kabur
64
Bab 64 Prihal cincin penyimpanan
65
Bab 65 Keterkejutan sera
66
Bab 66 Kebingungan di kantor polisi
67
Bab 67 kedatangan sera
68
Bab 68 Sera yang kesal
69
Bab 69 Sera yang terpaksa menekan kekesalannya
70
Bab 70 Bersiap untuk menerobos
71
Bab 71 kedatangan beberpa orang tak di kenal
72
Bab 72 Formasi pedang pembunuh
73
Bab 73 Mengalahkan mereka dengan mudah
74
Bab 74 mengikat mereka di batang pohon
75
Bab 75 Menuduh Rama dari sekte hantu
76
Bab 76 Mengobati sera
77
Bab 77 Takjub, kesal, dan malu secara bersamaan
78
Bab 78 Rencana dari sekte bayangan
79
Bab 79 Kedatangan reybong
80
Bab 80 Reymond turun tangan
81
Bab 81 Api bawaan
82
Bab 82 Rayan vs Reymond
83
Bab 83 Formasi gabungan
84
Bab 84 Terobosan rayan
85
Bab 85 Mengalahkan mereka semua
86
Bab 86 Kegemparan di sekte bayangan
87
Bab 87 Menolong liwa
88
Bab 88 Mengajak liwa makan
89
Bab 89 Kebetulan bertemu maudy
90
Bab 90 Budi yang tidak normal
91
Bab 91 Tersedak makanan
92
Bab 92 Keluar dari restoran
93
Bab 93 Tamu tak di undang
94
Bab 94 Menuju sebuah pelelangan
95
Bab 95 Bertemu dengan bayu setyo
96
Bab 96 Riuh di balik tirai Vip
97
Bab 98 Ruang VIP yang memanas
98
Bab 98 persaingan para penguasa
99
Bab 99 Membutuhkan pil pembangkit jiwa sebagai alat tukar
100
Bab 100 gejolak di aula lelang
101
Bab 101 Masih berlanjut
102
Bab 102 Usai acara lelang
103
Bab 103 Keluar dari rumah lelang
104
Bab 104 Di cegat
105
Bab 105 Di jalan malam
106
Bab 106 Orang-orang dari sekte bayangan
107
Bab 107 Bertarung dengan resi tetua sekte bayangan
108
Bab 108 Masih berlanjut
109
Bab 109 Kekalahan resi
110
Bab 110 Peringatan untuk resi
111
Bab 111 Artefak pelindung Giok kaisar
112
Bab 12 Bayang-bayang dendam dan kehangatan keluarga
113
Bab 113 Memperbaiki artefak pelindung dari pelelangan
114
Bab 114 menguji artefak pemberian rayan
115
Bab 105 Kunjungan gundala
116
Bab 116 Amelia yang membutuhkan harapan
117
Bab 117 Gulungan pasangan artefak Giok kaisar
118
Bab 118 Kedatangan Shela
119
Bab 119 Akhirnya amel meminta bantuan rayan
120
Bab 120 Rencana menyembuhkan kaki Amelia
121
Bab 121 Terhambat oleh kedatangan dokter leo
122
Bab 122 Teguran dari Rayan terhadap dokter jenius
123
Bab 123 Pringatan rayan yang menjadi kenyataan
124
Bab 124 Antara marah dan malu di rasakan dokter hadi
125
Bab 125 Rama turun tangan
126
126 Menyembuhkan kaki Amelia
127
Bab 127 Situasi yang memalukan bagi Amelia
128
Bab 128 Akhir cerita di rumah sakit
129
Bab 129 Beberapa orang suruhan tono
130
Bab 130 Senjata makan tuan
131
Bab 131 Kedatangan bu Wanda
132
Bab 132 Membantu menyembuhkan budi
133
Bab 133 Menyembuhkan budi
134
Bab 134 Hadiah dari Amelia
135
Bab 135 Mobil seharga 87,5 miliyar
136
Bab 136 Tamu tak di undang
137
Bab 137 Bayang bayang perjanjian Lama
138
Bab 138 Perjanjian perjodohan
139
Bab 139 Kedatangan Shela kembali
140
Bab 140 Kutukan dalam gulungan
141
Bab 141 Sosok iblis yang terkunci dalam gulungan kuno
142
Bab 142 kunjungan tiga gadis cantik
143
Bab 143 Tantangan dari rayan untuk Shela
144
Bab 134 Menerima taruhan dan kalah
145
Bab 145 Di sebuah restoran
146
Bab 146 Reyhan sang pengganggu
147
Bab 147 Mengunjungi kediaman priyadi
148
Bab 148 Bertemu tuan broto
149
Bab 149 Kewaspadaan broto
150
Bab 150 Broto yang telah salah menilai
151
Bab 151 Perjamuan di rumah priyadi
152
Bab 152 Perjamuan telah siap
153
Bab 153 Sambutan dan kemunculan seseorang
154
Bab 154 Wanni Dari Asosiasi beladiri
155
Bab 155 Maudy tak sengaja menyenggol wanji
156
Bab 156 Tumpahan minuman yang menjadi masalah
157
Bab 157 Pertarungan tanpa perlawanan
158
Bab 158 Pelajaran untuk wanji
159
Bab 159 Melelang barang
160
Bab 160 Jamur kametian
161
Bab 161 Suki dari keluarga Setyo
162
Bab 162 Kedatangan juban
163
Bab 163 Broto vs Juban
164
Bab 164 Pertarungan yang tak bisa di hindari
165
Bab 165 Pertarungan cukup sengit
166
Bab 166 Rayan akhirnya keluar
167
Bab 167 Antara Rayan dan tetua ke tiga
168
Bab 168 Keterkejutan semua orang
169
Bab 169 Masih berlanjut
170
Bab 170 Kekalahan juban
171
Bab 171 Kembali
172
Bab 172 Asal usul rayan mulai terbuka
173
Bab 173 Sera datang meminta bantuan
174
Bab 174 Para penjahat terlatih
175
Bab 175 Kedatangan rayan
176
Bab 176 Markas penjahat kelas kakap
177
Bab 177 Membebaskan tawanan
178
Bab 178 Bertarung
179
Bab 179 Wahna pemimpin dari mereka
180
Bab 180 Rama vs Wahna
181
Bab 181 Wahna mengeluarkan jurus terkuatnya
182
Bab 182 Kekalahan Wahna
183
Bab 183 Bertemu Bernard kembali
184
Bab 184 Beralih pada keluarga Setyo
185
Bab 185 Kegitan melatih suliwa
186
Bab 186 Memberi penawaran
187
Bab 187 Keribuaran kecil karena kesalahfahaman
188
Bab 188 Rencana untuk pertandingan tahunan
189
Bab 189 Dua minggu menjelang acara tahunan
190
Bab 190 Resmi menjadi pengikut rayan
191
Bab 191 Hadiah dari keluarga priyadi
192
Bab 192 Berlatih bersama suliwa
193
Bab 193 rumah baru di puncak kota
194
Bab 194 Memilih kamar
195
Bab 195 Malam pertama di rumah baru
196
Bab 196 Hari baru
197
Bab 197 Kedatangan hana
198
Bab 198 Bertemu Ibu angkat maudy
199
Bab 199 Geng tinju besi
200
Bab 200 Akhirnya Masalah maudy selesai
201
Bab 201 Markas geng tinju besi
202
Bab 202 Maudy dalam bahaya
203
Bab 203 mendatangi markas kepolisian
204
Bab 204 Di bawa ke ruangan gundala
205
Bab 205 melacat melalui sapu tangan
206
Bab 206 Maudy di bawa ke sekte hantu
207
Bab 207 Membantu dua murid dari sekte bintang
208
Bab 208 Membantu kina dan ruga
209
Bab 209 Tiba di sekte bintang
210
Bab 210 Yunji Salah satu tetua sekte bintang
211
Bab 211 Lembah kabut abadi
212
Bab 212 Danau air hitam penyegel jiwa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!