Chapter 3 - Basah Kuyup

Kini Rangga dan kedua temannya sudah di kelas. Tahun ini dia berada di kelas tiga. Jadi tidak heran dia mulai berlagak berkuasa.

Muhammad Rangga Ramadhan, itulah nama panjang Rangga. Dia cukup populer di sekolah karena memiliki paras yang terbilang tampan dan merupakan anggota ekstrakulikuler pramuka. Ia tinggal di desa Sadewo, yang mana lokasinya berada cukup dekat pegunungan. Dimana mayoritas warganya kebanyakan bertani dan berkebun. Namun kebetulan ibunya Rangga bekerja sebagai bidan kampung. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal karena kesambar petir saat di ladang.

"Minggu ini jangan lupa ada acara kemah pramuka. Kau harus ikut kali ini, Ga!" kata Junaidi.

"Ck. Malas banget tahu sama acara begituan. Enak tidur di rumah. Di kasur. Lagian aku ikut pramuka juga karena dipaksa kau," sahut Rangga.

"Makanya kau harus ikut. Sekali ini aja, Ga. Kami berdua tanpamu itu nggak seru loh. Definisi pohon tanpa akar," kata Junaidi.

"Nanti aku pikirkan dulu."

"Kayak gitu aja mau dipikirkan dulu."

"Biarkan saja, Nai. Dia pengen di rumah terus karena kakak iparnya," sergah Ifan. Dia langsung kena geplak di kepala oleh Rangga. Sebagai teguran keras dari cowok itu. Namun Ifan hanya tertawa bersama Junaidi.

Tak lama kemudian guru yang mengajar masuk. Mereka segera duduk dan belajar. Di sekolah sendiri Rangga tergolong murid yang biasa saja. Tidak pintar, tapi juga tidak bodoh. Akan tetapi dia punya bakat di bidang olahraga dan seni.

Saat jam belajar berlangsung, Rangga dan Ifan tak bisa melewatkan kejahilan Junaidi. Ifan tampak selalu berusaha mengganggu Nanda, siswi paling cantik di kelas itu. Kebetulan Nanda duduk di depan Junaidi. Mereka sering bertengkar seperti kucing dan tikus, karena Junaidi yang sering bikin ulah.

Ketika bel istirahat berbunyi, Nanda tampak bergegas pergi. Namun Junaidi tak membiarkan. Tangan nakalnya sengaja mencubit bokongnya.

"Junai! Kau mau aku tampar, hah? Nakal banget sih!" omel Nanda.

"Ya udah. Ayo tampar aja. Aku nggak apa-apa," sahut Junaidi sambil cengengesan.

Buk!

Nanda melayangkan pukulan keras ke punggung Junaidi. Terdengar suara gedebuk dari pukulan itu. Nanda lalu beranjak keluar kelas dengan wajah cemberut.

Sedangkan Junaidi hanya tertawa sambil mengelus punggungnya. Saat dia menatap Rangga dan Ifan, dua temannya itu menatap dengan serius.

"Kalian kenapa?" tanya Junaidi.

"Kau suka ya sama Nanda?" tukas Rangga.

"Hampir tiap hari kau gangguin Nanda. Cubit bokongnya lah, colek dagunya lah. Jelas itu naksir namanya," imbuh Ifan.

"Enak aja! Aku cuman jahil doang. Lagian Nanda kayak suka gitu dijahilin. Kadang dia ketawa aja loh," jelas Junaidi.

"Cih. Alasan!" cibir Rangga.

"Beneran! Kalau suka, pasti udah bilang. Nggak bakalan dipendam kayak Ifan," ucap Junaidi.

"Aku terus yang disudutkan!" Ifan mencubit perut Junaidi. Temannya itu hanya bisa mengaduh.

Hari itu sekolah berlangsung seperti biasa. Namun mulai hari itu keadaan di rumah Rangga berubah, karena ada orang baru yang tinggal di sana.

Rangga baru saja pulang ke rumah. Ia menaikkan motornya ke teras, sebab kebetulan hari hujan. Rangga basah kuyup karena hujan.

Pintu depan terbuka. Sosok Dita menyambut kedatangan Rangga.

"Astaga, kau basah kuyup, Dek. Aku ambilkan handuk ya," kata Dita sembari berlari masuk ke rumah.

Rangga diam saja dan fokus melepas sepatunya yang juga basah. Ia berdecak kesal karena semuanya jadi basah.

Saat hendak masuk ke rumah, langkah Rangga terhenti karena Dita mendekat. Lalu menggosokkan handuk ke rambut Rangga. Jantung Rangga jadi berdebar aneh. Buru-buru dia merebut handuk dari Dita.

"Aku bisa handukan sendiri kok, Kak. Hehe..." ujarnya kikuk.

"Ya sudah. Keringkan dirimu, terus langsung mandi biar nggak sakit. Aku akan bikinkan teh hangat untukmu," kata Dita.

"Mama mana, Kak?" tanya Rangga sembari mengedarkan pandangan untuk mencari ibunya. Karena biasanya sang ibu sudah pulang saat dirinya pulang begini.

"Mama belum pulang," sahut Dita. Ekspresinya mendadak berubah jadi sedih. Tapi Rangga tak berani bertanya.

"Mungkin mama belum pulang karena di rumah ada aku," ungkap Dita.

"Mu-mungkin mama lagi banyak kerjaan, Kak. Dia kan bidan senior di kampung ini," sahut Rangga.

"Kau benar." Dita tersenyum lembut.

Rangga sempat terpana. Karena memang kakak iparnya itu memiliki wajah yang sangat cantik. Senyumannya begitu manis. Namun Rangga langsung menyadarkan diri. Dia sadar kalau dirinya tak pantas begitu. Buru-buru Rangga pergi ke kamar mandi untuk segera mandi.

Terpopuler

Comments

Rommy Wasini Khumaidi

Rommy Wasini Khumaidi

waduh mereka berduaan...gaswat nih,yang ke 3 biasanya setan

2025-12-04

0

Suharto

Suharto

waduh bisa gawat nih ada kesempatan bisa berduaan

2026-07-23

0

Jhonson Siregar

Jhonson Siregar

mulai nih memberi perhatian / p3luang 🤣🤣

2026-06-05

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Suara Malam Pertama
2 Chapter 2 - Di Sekolah
3 Chapter 3 - Basah Kuyup
4 Chapter 4 - Perasaan Aneh
5 Chapter 5 - Perginya Ibu
6 Chapter 6 - Berduka
7 Chapter 7 - My Hot Kakak Ipar
8 Chapter 8 - Semakin Resah
9 Chapter 9 - Hanya Mimpi
10 Chapter 10 - Traktir
11 Chapter 11 - Bintitan
12 Chapter 12 - Membolos
13 Chapter 13 - Ipar Adalah Maut
14 Chapter 14 - Susu Panas
15 Chapter 15 - Cewek Kota
16 Chapter 16 - Pacar Khayalan
17 Chapter 17 - Sikap Aneh
18 Chapter 18 - Tawaran Gila Astrid
19 Chapter 19 - Pacaran
20 Chapter 20 - Pindah Tugas
21 Chapter 21 - Pergi Ke Pasar
22 Chapter 22 - Membuktikan
23 Chapter 23 - Kekurangan Rangga
24 Chapter 24 - Pak Warsito
25 Chapree 25 - Ketahuan?
26 Chapter 26 - Cerita Astrid
27 Chapter 27 - Mati Lampu
28 Chapter 28 - Menahan Gejolak
29 Chapter 29 - Pertama & Terakhir
30 Chapter 30 - Pilihan Rangga
31 Chapter 31 - Pertama Kalinya
32 Chapter 32 - Merajuk Lagi
33 Chapter 33 - Tidak Nyaman
34 Chapter 34 - Mencemaskan
35 Chapter 35 - Kok Jadi Gini?
36 Chapter 36 - Manggung Lagi
37 Chapter 37 - Terjebak
38 Chapter 38 - Lebih Hati-Hati
39 Chapter 39 - Mandi Bareng?
40 Chapter 40 - Sakit Hati
41 Chapter 41 - Cara Membatasi Astrid
42 Chapter 42 - Selingkuhan Firza
43 Chapter 43 - Lepas Tanggung Jawab
44 Chapter 44 - Mancing Berkedok Curhat
45 Chapter 45 - Salah Potong
46 Chapter 46 - Lele Montok
47 Chapter 47 - Terjadilah
48 Chapter 48 - Tetap Jaga Batas
49 Chapter 49 - Senyum-Senyum Terus
50 Chapter 50 - Memberitahu Astrid
51 Chapter 51 - Cemburu
52 Chapter 52 - Dikerjai
53 Chapter 53 - Yang Terakhir?
54 Chapter 54 - Tiba-Tiba Rajin Belajar
55 Chapter 55 - Kembalinya Firza
56 Chapter 56 - Niat Firza
57 Chapter 57 - Bicara Baik-Baik
58 Chapter 58 - Dibalik Topeng Firza
59 Chapter 59 - Sulit Dimengerti
60 Chapter 60 - Lebih Manjur
61 Chapter 61 - Cita-Cita
62 Chapter 62 - Yang Terakhir?
63 Chapter 63 - Tawaran Pak Tejo
64 Chapter 64 - Tak Tahan [Visual]
65 Chapter 65 - Janji
66 Chapter 66 - Bekal Cinta
67 Chapter 67 - Akan Pergi
68 Chapter 68 - Terakhir Kali
69 Chapter 69 - Kepergok
70 Chapter 70 - Ancaman Dita
71 Chapter 71 - Hari Kelulusan
72 Chapter 72 - Astrid & Dita
73 Chapter 73 - Kejutan Junaidi
74 Chapter 74 - Pelan-Pelan
75 Chapter 75 - Undangan
76 Chapter 76 - Pernikahan Firza
77 Chapter 77 - Mendaftar Polisi
78 Chapter 78 - Menemui Mbah Gustam
79 Chapter 79 - Cemas
80 Chapter 80 - Pencarian
81 Chapter 81 - Kehidupan Baru Firza
82 Chapter 82 - Ditemukan
83 Chapter 83 - Serius Belajar
84 Chapter 84 - Mulai Berlatih
85 Chapter 85 - Berkembang
86 Chapter 86 - Tantangan Terakhir
87 Chapter 87 - Akhirnya Berhasil
88 Chapter 88 - Rahasia Dita
89 Chapter 89 - Semakin Kalut
90 Chapter 90 - Ending
91 Pengumuman
92 NOVEL BARU FOTOGRAFER P|US-P|US
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Chapter 1 - Suara Malam Pertama
2
Chapter 2 - Di Sekolah
3
Chapter 3 - Basah Kuyup
4
Chapter 4 - Perasaan Aneh
5
Chapter 5 - Perginya Ibu
6
Chapter 6 - Berduka
7
Chapter 7 - My Hot Kakak Ipar
8
Chapter 8 - Semakin Resah
9
Chapter 9 - Hanya Mimpi
10
Chapter 10 - Traktir
11
Chapter 11 - Bintitan
12
Chapter 12 - Membolos
13
Chapter 13 - Ipar Adalah Maut
14
Chapter 14 - Susu Panas
15
Chapter 15 - Cewek Kota
16
Chapter 16 - Pacar Khayalan
17
Chapter 17 - Sikap Aneh
18
Chapter 18 - Tawaran Gila Astrid
19
Chapter 19 - Pacaran
20
Chapter 20 - Pindah Tugas
21
Chapter 21 - Pergi Ke Pasar
22
Chapter 22 - Membuktikan
23
Chapter 23 - Kekurangan Rangga
24
Chapter 24 - Pak Warsito
25
Chapree 25 - Ketahuan?
26
Chapter 26 - Cerita Astrid
27
Chapter 27 - Mati Lampu
28
Chapter 28 - Menahan Gejolak
29
Chapter 29 - Pertama & Terakhir
30
Chapter 30 - Pilihan Rangga
31
Chapter 31 - Pertama Kalinya
32
Chapter 32 - Merajuk Lagi
33
Chapter 33 - Tidak Nyaman
34
Chapter 34 - Mencemaskan
35
Chapter 35 - Kok Jadi Gini?
36
Chapter 36 - Manggung Lagi
37
Chapter 37 - Terjebak
38
Chapter 38 - Lebih Hati-Hati
39
Chapter 39 - Mandi Bareng?
40
Chapter 40 - Sakit Hati
41
Chapter 41 - Cara Membatasi Astrid
42
Chapter 42 - Selingkuhan Firza
43
Chapter 43 - Lepas Tanggung Jawab
44
Chapter 44 - Mancing Berkedok Curhat
45
Chapter 45 - Salah Potong
46
Chapter 46 - Lele Montok
47
Chapter 47 - Terjadilah
48
Chapter 48 - Tetap Jaga Batas
49
Chapter 49 - Senyum-Senyum Terus
50
Chapter 50 - Memberitahu Astrid
51
Chapter 51 - Cemburu
52
Chapter 52 - Dikerjai
53
Chapter 53 - Yang Terakhir?
54
Chapter 54 - Tiba-Tiba Rajin Belajar
55
Chapter 55 - Kembalinya Firza
56
Chapter 56 - Niat Firza
57
Chapter 57 - Bicara Baik-Baik
58
Chapter 58 - Dibalik Topeng Firza
59
Chapter 59 - Sulit Dimengerti
60
Chapter 60 - Lebih Manjur
61
Chapter 61 - Cita-Cita
62
Chapter 62 - Yang Terakhir?
63
Chapter 63 - Tawaran Pak Tejo
64
Chapter 64 - Tak Tahan [Visual]
65
Chapter 65 - Janji
66
Chapter 66 - Bekal Cinta
67
Chapter 67 - Akan Pergi
68
Chapter 68 - Terakhir Kali
69
Chapter 69 - Kepergok
70
Chapter 70 - Ancaman Dita
71
Chapter 71 - Hari Kelulusan
72
Chapter 72 - Astrid & Dita
73
Chapter 73 - Kejutan Junaidi
74
Chapter 74 - Pelan-Pelan
75
Chapter 75 - Undangan
76
Chapter 76 - Pernikahan Firza
77
Chapter 77 - Mendaftar Polisi
78
Chapter 78 - Menemui Mbah Gustam
79
Chapter 79 - Cemas
80
Chapter 80 - Pencarian
81
Chapter 81 - Kehidupan Baru Firza
82
Chapter 82 - Ditemukan
83
Chapter 83 - Serius Belajar
84
Chapter 84 - Mulai Berlatih
85
Chapter 85 - Berkembang
86
Chapter 86 - Tantangan Terakhir
87
Chapter 87 - Akhirnya Berhasil
88
Chapter 88 - Rahasia Dita
89
Chapter 89 - Semakin Kalut
90
Chapter 90 - Ending
91
Pengumuman
92
NOVEL BARU FOTOGRAFER P|US-P|US

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!