Chapter 5 - Perginya Ibu

Mata Rangga terbelalak saat Dita tiba-tiba menarik tangannya dan menghisap jarinya yang berdarah. Sensasi hangat dan basah itu membuat tubuh Rangga menegang seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa canggung yang menyeruak tanpa bisa ia kendalikan. Ia tak pernah sedekat itu dengan perempuan, apalagi dengan kakak iparnya sendiri.

Refleks, Rangga buru-buru menarik tangannya dengan agak kasar.

“Aku bisa sendiri, Kak. Jangan begitu,” ucapnya tergesa, suaranya terdengar gugup dan kaku. Ia bahkan tak berani menatap wajah Dita. Tanpa menunggu respons, Rangga langsung beranjak masuk ke kamar mandi, meninggalkan Dita yang masih mematung di tempat dengan ekspresi sulit ditebak.

Pintu kamar mandi ditutup sedikit lebih keras dari biasanya. Di dalam, Rangga berdiri di depan wastafel sambil menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat pucat, napasnya masih sedikit memburu. Ia membuka keran dan membilas jarinya yang terluka, memperhatikan darah yang perlahan larut bersama air. Rasa perih itu sebenarnya tidak seberapa, namun kejadian barusan membuat pikirannya kacau.

Setelah membersihkan lukanya dengan sabun, Rangga mengambil plester luka dari kotak P3K kecil yang menempel di dinding. Dengan gerakan hati-hati, ia membalut jarinya. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Konyol,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Keluar dari kamar mandi, Rangga berjalan menuju kamar. Di ruang tengah, ia melewati Dita yang sedang berjongkok membersihkan pecahan beling. Perempuan itu hanya melirik sekilas ke arahnya. Tatapan mereka sempat bertemu sepersekian detik, namun Dita segera mengalihkan pandangannya. Tak ada sepatah kata pun terucap. Keheningan itu justru terasa lebih canggung daripada percakapan apa pun.

Rangga mempercepat langkahnya. Ia masuk ke kamar dan langsung menjatuhkan tubuhnya telentang di atas ranjang. Tangannya meraih ponsel di samping bantal. Seperti kebiasaan sehari-hari, ia membuka game favoritnya. Jarinya bergerak di layar, namun fokusnya buyar. Berkali-kali ia kalah karena pikirannya melayang ke mana-mana.

Tak lama kemudian, terdengar suara berisik dari kamar sebelah. Suara benturan yang cukup keras, seolah ada sesuatu yang menghantam dinding. Rangga menghentikan permainannya. Ia mendengarkan dengan saksama. Suara itu kembali terdengar, disusul bunyi lain yang samar.

Rangga mendesah pelan. Dalam benaknya, hanya ada satu kemungkinan. Kakaknya dan kakak iparnya pasti sedang bergulat lagi. Wajar saja, pikirnya, mereka masih pengantin baru. Namun tetap saja, suara-suara itu membuatnya tak nyaman. Ia merasa seperti orang asing di rumah sendiri.

Dengan perasaan risih, Rangga memutuskan keluar dari kamar. Ia berjalan ke teras dan duduk di bangku kayu panjang. Udara sore terasa lembap. Langit menggelap, awan hitam menggantung berat. Niat Rangga sebenarnya ingin menunggu kepulangan sang ibu yang belum juga pulang dari puskesmas.

Belum lama ia duduk, pintu rumah mendadak terbuka. Firza keluar dengan langkah tergesa. Wajahnya pucat, matanya membesar, napasnya terengah.

“Kenapa?” tukas Rangga sambil berdiri. Ada sesuatu dalam raut Firza yang membuat dadanya terasa tidak enak.

“Mama, Ga! Dia jatuh katanya. Pak Imron baru saja menelepon,” ungkap Firza dengan suara bergetar.

Rangga mengerutkan kening. “Jangan bohong, Bang. Nggak lucu kalau jadiin mama bahan candaan,” katanya tegas, meski jauh di lubuk hatinya muncul rasa takut yang ia tekan sekuat mungkin.

Firza tidak menjawab. Tubuh kakaknya itu malah melemas dan jatuh terduduk di lantai teras. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Bahunya bergetar hebat. Pemandangan itu membuat jantung Rangga seolah diremas.

Tak lama, Dita menyusul keluar. Ia langsung menghampiri Firza dan memeluknya, berusaha menenangkan. Melihat itu semua, Rangga merasa dunia di sekitarnya mulai goyah. Kakinya terasa lemas. Sepertinya apa yang dikatakan Firza memang benar adanya.

Beberapa menit kemudian, suara sirene memecah hujan yang mulai turun. Sebuah mobil ambulans berhenti tepat di depan rumah. Rangga mengenali mobil itu. Ambulans puskesmas kampungnya. Tempat ibunya bekerja selama bertahun-tahun.

Pak Imron, rekan kerja ibunya, turun dari ambulans. Wajah pria paruh baya itu terlihat muram. Ia membuka pintu belakang ambulans. Saat itulah pandangan Rangga membeku. Di dalam, terbaring tubuh ibunya, Yuli, tak bergerak, wajahnya pucat dan tertutup selimut tipis.

“Mama!” pekik Rangga. Ia berlari menghampiri tanpa memedulikan hujan yang mengguyur deras tubuhnya. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah sang ibu. “Ma… bangun, Ma… Rangga di sini.”

Ia mengguncang pelan tubuh Yuli, memanggilnya berulang kali. Namun tak ada respons. Kulit ibunya terasa dingin. Terlalu dingin. Kesadaran itu menghantam Rangga dengan keras.

Tangis Rangga pecah. Suaranya parau, penuh keputusasaan. Ia tahu benar arti dinginnya tubuh itu. Ia pernah merasakannya dulu, saat ayahnya pergi dengan cara yang sama. Dunia seolah berulang dengan kejam.

Jenazah Yuli segera dibawa masuk ke dalam rumah. Pak Imron menjelaskan dengan suara berat bahwa Yuli tiba-tiba jatuh saat bekerja. Tidak terpeleset, tidak didorong siapa pun. Menurut dokter, Yuli mengalami serangan jantung akibat kaget mendengar suara petir yang sangat nyaring.

Rangga terdiam. Petir. Lagi-lagi petir. Ayahnya dulu juga meninggal setelah tersambar petir. Kini ibunya pergi karena suara petir. Ia menatap kosong ke lantai.

Malam itu, rumah Rangga dipenuhi orang. Warga berdatangan untuk melayat. Beberapa ibu membantu memandikan dan mengafani jenazah Yuli. Bau kapur barus bercampur dengan aroma tanah basah dan hujan yang masih turun sesekali.

Rangga duduk di sudut ruang tamu. Tatapannya kosong, seolah jiwanya ikut terkubur bersama ibunya. Junaidi dan Ifan datang menghampiri, lalu duduk di sampingnya.

“Aku dengar mamamu meninggal juga karena petir? Kayak mendiang bapakmu?” tanya Junaidi pelan.

Rangga mengangguk lemah. “Katanya dia kaget sama suara petir. Aku heran… Apa masalah petir sama keluargaku. Kayaknya dendam banget…” ucapnya lirih.

Ifan nyaris tertawa kecil, mungkin karena gugup, namun segera menahannya saat melihat tatapan tajam Junaidi. Ia sadar betul tempat dan situasinya.

“Yang sabar ya, Ga. Masih ada kami,” ujar Junaidi sambil menepuk pundak Rangga dengan tulus. “Kalau ada apa-apa, ngomong ke kami. Aku sama Ifan bakal bantu sebisa mungkin.”

“Benar, Ga,” tambah Ifan cepat.

Rangga menunduk. Air mata kembali mengalir tanpa bisa dicegah. “Makasih, Fan… Junai… Tapi aku yatim piatu sekarang.”

Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. Ia benar-benar sendiri. Tangisnya kembali pecah, di tengah rumah yang dipenuhi doa dan kesedihan. Dunia Rangga seakan kehilangan warna.

Terpopuler

Comments

Nikolaus wolo Hekin

Nikolaus wolo Hekin

iya emang bener hati mana yang tidak sedih bila seorang ibu udah di jemput oleh Allah SWT yang maha kuasa,

2026-07-26

0

Ronggolawe Ronggo

Ronggolawe Ronggo

kasihan sih Rangga nya.tapi kan ada kka ipar yg baik hati

2026-06-02

1

Suharto

Suharto

kasihan juga Rangga di tinggal orang yang di cintai

2026-07-23

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Suara Malam Pertama
2 Chapter 2 - Di Sekolah
3 Chapter 3 - Basah Kuyup
4 Chapter 4 - Perasaan Aneh
5 Chapter 5 - Perginya Ibu
6 Chapter 6 - Berduka
7 Chapter 7 - My Hot Kakak Ipar
8 Chapter 8 - Semakin Resah
9 Chapter 9 - Hanya Mimpi
10 Chapter 10 - Traktir
11 Chapter 11 - Bintitan
12 Chapter 12 - Membolos
13 Chapter 13 - Ipar Adalah Maut
14 Chapter 14 - Susu Panas
15 Chapter 15 - Cewek Kota
16 Chapter 16 - Pacar Khayalan
17 Chapter 17 - Sikap Aneh
18 Chapter 18 - Tawaran Gila Astrid
19 Chapter 19 - Pacaran
20 Chapter 20 - Pindah Tugas
21 Chapter 21 - Pergi Ke Pasar
22 Chapter 22 - Membuktikan
23 Chapter 23 - Kekurangan Rangga
24 Chapter 24 - Pak Warsito
25 Chapree 25 - Ketahuan?
26 Chapter 26 - Cerita Astrid
27 Chapter 27 - Mati Lampu
28 Chapter 28 - Menahan Gejolak
29 Chapter 29 - Pertama & Terakhir
30 Chapter 30 - Pilihan Rangga
31 Chapter 31 - Pertama Kalinya
32 Chapter 32 - Merajuk Lagi
33 Chapter 33 - Tidak Nyaman
34 Chapter 34 - Mencemaskan
35 Chapter 35 - Kok Jadi Gini?
36 Chapter 36 - Manggung Lagi
37 Chapter 37 - Terjebak
38 Chapter 38 - Lebih Hati-Hati
39 Chapter 39 - Mandi Bareng?
40 Chapter 40 - Sakit Hati
41 Chapter 41 - Cara Membatasi Astrid
42 Chapter 42 - Selingkuhan Firza
43 Chapter 43 - Lepas Tanggung Jawab
44 Chapter 44 - Mancing Berkedok Curhat
45 Chapter 45 - Salah Potong
46 Chapter 46 - Lele Montok
47 Chapter 47 - Terjadilah
48 Chapter 48 - Tetap Jaga Batas
49 Chapter 49 - Senyum-Senyum Terus
50 Chapter 50 - Memberitahu Astrid
51 Chapter 51 - Cemburu
52 Chapter 52 - Dikerjai
53 Chapter 53 - Yang Terakhir?
54 Chapter 54 - Tiba-Tiba Rajin Belajar
55 Chapter 55 - Kembalinya Firza
56 Chapter 56 - Niat Firza
57 Chapter 57 - Bicara Baik-Baik
58 Chapter 58 - Dibalik Topeng Firza
59 Chapter 59 - Sulit Dimengerti
60 Chapter 60 - Lebih Manjur
61 Chapter 61 - Cita-Cita
62 Chapter 62 - Yang Terakhir?
63 Chapter 63 - Tawaran Pak Tejo
64 Chapter 64 - Tak Tahan [Visual]
65 Chapter 65 - Janji
66 Chapter 66 - Bekal Cinta
67 Chapter 67 - Akan Pergi
68 Chapter 68 - Terakhir Kali
69 Chapter 69 - Kepergok
70 Chapter 70 - Ancaman Dita
71 Chapter 71 - Hari Kelulusan
72 Chapter 72 - Astrid & Dita
73 Chapter 73 - Kejutan Junaidi
74 Chapter 74 - Pelan-Pelan
75 Chapter 75 - Undangan
76 Chapter 76 - Pernikahan Firza
77 Chapter 77 - Mendaftar Polisi
78 Chapter 78 - Menemui Mbah Gustam
79 Chapter 79 - Cemas
80 Chapter 80 - Pencarian
81 Chapter 81 - Kehidupan Baru Firza
82 Chapter 82 - Ditemukan
83 Chapter 83 - Serius Belajar
84 Chapter 84 - Mulai Berlatih
85 Chapter 85 - Berkembang
86 Chapter 86 - Tantangan Terakhir
87 Chapter 87 - Akhirnya Berhasil
88 Chapter 88 - Rahasia Dita
89 Chapter 89 - Semakin Kalut
90 Chapter 90 - Ending
91 Pengumuman
92 NOVEL BARU FOTOGRAFER P|US-P|US
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Chapter 1 - Suara Malam Pertama
2
Chapter 2 - Di Sekolah
3
Chapter 3 - Basah Kuyup
4
Chapter 4 - Perasaan Aneh
5
Chapter 5 - Perginya Ibu
6
Chapter 6 - Berduka
7
Chapter 7 - My Hot Kakak Ipar
8
Chapter 8 - Semakin Resah
9
Chapter 9 - Hanya Mimpi
10
Chapter 10 - Traktir
11
Chapter 11 - Bintitan
12
Chapter 12 - Membolos
13
Chapter 13 - Ipar Adalah Maut
14
Chapter 14 - Susu Panas
15
Chapter 15 - Cewek Kota
16
Chapter 16 - Pacar Khayalan
17
Chapter 17 - Sikap Aneh
18
Chapter 18 - Tawaran Gila Astrid
19
Chapter 19 - Pacaran
20
Chapter 20 - Pindah Tugas
21
Chapter 21 - Pergi Ke Pasar
22
Chapter 22 - Membuktikan
23
Chapter 23 - Kekurangan Rangga
24
Chapter 24 - Pak Warsito
25
Chapree 25 - Ketahuan?
26
Chapter 26 - Cerita Astrid
27
Chapter 27 - Mati Lampu
28
Chapter 28 - Menahan Gejolak
29
Chapter 29 - Pertama & Terakhir
30
Chapter 30 - Pilihan Rangga
31
Chapter 31 - Pertama Kalinya
32
Chapter 32 - Merajuk Lagi
33
Chapter 33 - Tidak Nyaman
34
Chapter 34 - Mencemaskan
35
Chapter 35 - Kok Jadi Gini?
36
Chapter 36 - Manggung Lagi
37
Chapter 37 - Terjebak
38
Chapter 38 - Lebih Hati-Hati
39
Chapter 39 - Mandi Bareng?
40
Chapter 40 - Sakit Hati
41
Chapter 41 - Cara Membatasi Astrid
42
Chapter 42 - Selingkuhan Firza
43
Chapter 43 - Lepas Tanggung Jawab
44
Chapter 44 - Mancing Berkedok Curhat
45
Chapter 45 - Salah Potong
46
Chapter 46 - Lele Montok
47
Chapter 47 - Terjadilah
48
Chapter 48 - Tetap Jaga Batas
49
Chapter 49 - Senyum-Senyum Terus
50
Chapter 50 - Memberitahu Astrid
51
Chapter 51 - Cemburu
52
Chapter 52 - Dikerjai
53
Chapter 53 - Yang Terakhir?
54
Chapter 54 - Tiba-Tiba Rajin Belajar
55
Chapter 55 - Kembalinya Firza
56
Chapter 56 - Niat Firza
57
Chapter 57 - Bicara Baik-Baik
58
Chapter 58 - Dibalik Topeng Firza
59
Chapter 59 - Sulit Dimengerti
60
Chapter 60 - Lebih Manjur
61
Chapter 61 - Cita-Cita
62
Chapter 62 - Yang Terakhir?
63
Chapter 63 - Tawaran Pak Tejo
64
Chapter 64 - Tak Tahan [Visual]
65
Chapter 65 - Janji
66
Chapter 66 - Bekal Cinta
67
Chapter 67 - Akan Pergi
68
Chapter 68 - Terakhir Kali
69
Chapter 69 - Kepergok
70
Chapter 70 - Ancaman Dita
71
Chapter 71 - Hari Kelulusan
72
Chapter 72 - Astrid & Dita
73
Chapter 73 - Kejutan Junaidi
74
Chapter 74 - Pelan-Pelan
75
Chapter 75 - Undangan
76
Chapter 76 - Pernikahan Firza
77
Chapter 77 - Mendaftar Polisi
78
Chapter 78 - Menemui Mbah Gustam
79
Chapter 79 - Cemas
80
Chapter 80 - Pencarian
81
Chapter 81 - Kehidupan Baru Firza
82
Chapter 82 - Ditemukan
83
Chapter 83 - Serius Belajar
84
Chapter 84 - Mulai Berlatih
85
Chapter 85 - Berkembang
86
Chapter 86 - Tantangan Terakhir
87
Chapter 87 - Akhirnya Berhasil
88
Chapter 88 - Rahasia Dita
89
Chapter 89 - Semakin Kalut
90
Chapter 90 - Ending
91
Pengumuman
92
NOVEL BARU FOTOGRAFER P|US-P|US

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!