#08
Malam semakin larut, udara semakin dingin, membelai permukaan tanah berumput, membawa titik – titik embun menuju siwaratri yang berada di langit sebelah Timur. Membungkam nyanyian binatang – binatang malam, menggelitik sekawanan burung yang masih terlelap di sarang dan memaksanya mendendangkan lagu menyambut datangnya sang fajar. ( Siwaratri adalah, proses pelebur kegelapan malam untuk menuju pagi ).
Langit di sebelah Timur merekah kemerahan, memayungi deretan perbukitan dan pegunungan serta lembah yang membentang dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, mengelilingi wilayah PAKUAN PAJAJARAN dan sekitarnya. ( Asal – usul Kerajaan Pajajaran ( 932 – 1579 M ) dapat Anda ikuti kembali pada SAUR SEPUH EPISODE KEMBANG GUNUNG LAWU ).
Hari masih gelap saat sesosok bayangan hitam berkelebat ringan. Berlompatan kesana – kemari dari dahan pohon satu ke pohon lain, melintasi padang ilalang bagai melayang hingga akhirnya tiba di tepi sebuah sungai berarus deras. Jarak antara tempatnya berdiri hingga ke seberang lebih kurang 3 – 4 tombak.
Sejauh mata memandang, yang tampak adalah bongkahan – bongkahan batu cadas berbagai ukuran, beragam bentuk. Sebagian menyembul ke permukaan sungai, membelah aliran air, sebagian pula menjorok ke dalam sungai. Sosok bercadar hitam itu mengangkat tangan kanan ke udara dan mengibaskannya ke depan. Beberapa helai daun melayang – layang turun dan jatuh diatas permukaan air, bersamaan dengan itu, ia melompat kaki - kakinya menotol dedaunan yang mulai terbawa arus sungai. Dengan menggunakan daun yang mengapung di permukaan air, Si Cadar Hitam menyeberangi sungai berarus deras itu. Ia bagaikan seekor burung raksasa bermain – main di permukaan air.
Bagi orang awam, untuk menyeberangi sungai berarus deras itu harus menggunakan perahu atau rakit. Akan tetapi, menyeberangi sungai dengan menggunakan daun, itu adalah hal yang sulit diterima oleh akal sehat. Namun, itulah kenyataannya, Si Cadar Hitam mampu melakukannya dengan mudah. Jelas sekali, ia bukanlah orang sembarangan.
Sesampai di seberang sungai, bayangan itu terus bergerak bagai tupai, sesekali meliukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, sesekali melompat tinggi dan berjumpalitan di udara hingga tibalah di sebuah lembah yang diapit oleh 2 buah tebing curam dan terjal. Lembah itu diselimuti oleh kabut tebal.
“Hhhiiiaaa !”
Teriakannya menggema seakan memenuhi tempat itu. Ia melompat ke atas tebing. Kaki – kakinya bergerak lincah menjejak dinding tebing yang terdiri dari batu – batu cadas sebesar kerbau secara bergantian. Dinding – dinding tebing yang terjal dan curam itu seakan tidak menghalanginya untuk terus naik ke atas dan tubuhnya menghilang bagai ditelan kabut tebal yang menyelimuti bagian atas tebing.
Si Cadar Hitam tiba di sebuah mulut gua. Tingginya hanya beberapa depa saja, namun saat memasuki mulut gua, di hadapannya membentan g sebuah ruangan yang cukup luas dan menakjubkan. Udara begitu dingin, pada langit – langitnya, menggantung bebatuan beragam bentuk dan ukuran, demikian pula dasar gua. Selain pada ujungnya sebagian besar tampak tajam, juga permukaannya berlapis – lapis bagai dibelah – belah menjadi kepingan – kepingan kecil. Dalam keadaan seperti itu, kita bagaikan berada di alam lain. INDAH SEKALIGUS MENYERAMKAN.
Di tengah ruangan, seorang pemuda berpakaian abu – abu, terbaring lemah pada sebuah lempengan batu datar yang dikelilingi oleh sebuah kolam berair jernih dan senantiasa mengepulkan asap tipis. Hawa di sekitar kolam hangat dan sejuk, akan tetapi, pada bagian bagian bibir kolam membeku.
Si Cadar Hitam duduk bersila sambil melipat kedua tangan di dada, kepalanya tertunduk, sepasang matanya terpejam rapat. Aneh sekali, mendadak saja air di dalam kolam bergolak seperti diaduk – aduk oleh kekuatan tak kasat mata. Sebagian air memercik, membasahi tubuh pemuda itu.
Asap putih tipis yang keluar dari dalam kolam semakin lama – semakin tebal, melayang – layang rendah, mengelilingi dan membungkus tu…
Senjakala Di Madangkara Dalam Kisah Mengais Suka Diatas Luka
Babak Kedelapan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 84 Episodes
Comments