Episode 2

Arman menatap Kinara tanpa berkedip, tubuhnya tegang meski ia hanya duduk di kursi roda. Ruangan itu terasa terlalu sempit, terlalu sunyi. Aksa duduk di samping Arman, tampak cemas, menggigit bibir sambil terus memandangi Kinara, seolah takut kehilangan wanita yang baru beberapa menit dikenalnya, namun sudah berhasil meredam semua amukannya.

“Aska, keluar dulu,” ucap Arman pelan namun tajam. Aksa langsung menggeleng cepat. “Nggak mau. Aku mau di sini sama Mommy Ki...”

“Rudi,” suara Arman berubah lebih dalam, “bawa dia keluar.”

Rudi mengangguk. Aksa langsung menegang. “Daddy, nggak mau! Aku...”

“Aksa.” Satu kata yang keluar dari mulut Arman, dingin dan datar membuat Aksa segera turun dari kursi. Aksa langsung diam. Mata mungilnya berkaca-kaca, lalu ia menunduk dan mengikuti langkah Rudi keluar dari ruangan. Setiap langkah kecil itu terdengar seperti pukulan di dada Arman namun ia tidak boleh goyah. Pintu tertutup, dan ruangan kembali tenggelam dalam keheningan.

Kini hanya ada Arman, Kinara dan ketegangan yang bisa memecah kapan saja. Arman memandangi Kinara lama. Wanita itu tampak gugup, namun tidak menghindar. Ada sesuatu dalam sorot mata Kinara yang mampu menjinakkan Aksa. Itu fakta, fakta yang membuat Arman memutuskan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia lakukan.

“Duduk,” ujar Arman akhirnya.

Kinara menurut, tangannya saling menggenggam cemas di atas pangkuan.

“Kau tahu,” suara Arman lirih namun penuh tekanan, “Aksa tidak pernah setenang ini sebelumnya. Dia tidak pernah berhenti kabur. Tidak pernah berhenti … mencari sosok ibu.”

Kinara menunduk, membiarkan ucapan itu menyentuh sesuatu di dadanya. Arman melanjutkan, “Aku tidak punya pilihan lain.”

Mata Kinara terangkat. “Maksudnya?”

Arman mengunci tatapannya. “Menikahlah denganku.”

Kinara terhenyak, kursi di bawahnya nyaris bergeser. Napasnya tercekat seolah sesuatu menghantam dadanya.

“A—apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.

Wajah Arman mengeras ketika melihat ekspresi keterkejutan itu. Detik itu juga, sorot matanya berubah dingin, tersinggung, pahit. Seolah Kinara baru saja menertawakan kenyataan bahwa ia terjebak di kursi roda atau rumor jahat yang beredar sejak kecelakaan itu.

Orang bilang ada bagian penting dari tubuhnya yang tak lagi berfungsi. Gosip itu menusuk harga dirinya tiap hari. Dan reaksi Kinara barusan menyayat lebih dalam.

“Aku tidak butuh simpati,” desis Arman. “Ini bukan pernikahan sungguhan.”

Kinara membeku.

“Kontrak,” ujar Arman tegas. “Demi Aksa, kau berada di rumah ini sebagai istriku sampai dia cukup besar memahami keadaan. Setelah itu kau bebas pergi.”

Kinara membuka mulut, tetapi Arman melanjutkan tanpa memberi celah.

“Aku akan membayar sesuai yang kau inginkan, berapa pun itu!”

“Kita tidur terpisah,” lanjutnya, suaranya seperti baja dingin. “Aku hanya butuh kau di sini, untuknya bukan untukku.”

Kinara menatap pria itu lama. Detik ini, dunia mereka terasa terjebak antara keputusasaan dan harapan samar. Setelah beberapa saat, dia mengangguk.

“Iya … aku setuju.”

Tanpa dia sadari, raut wajahnya memancarkan sesuatu yang seperti kelegaan. Ada kegembiraan kecil, sesaat saja yang muncul karena ia memang membutuhkan tempat untuk tinggal. Butuh stabilitas dan menjadi ibu tiri dan ia pikir itu hanya pekerjaan.

Arman melihat perubahan itu. Melihat senyum kecil yang muncul tanpa bisa ditutupi. Dan seluruh tubuhnya menegang dan dalam hati, ia bergumam dingin,

'Benar kan … semua perempuan sama saja. Pada akhirnya, yang mereka cari hanya uang. Bukan aku, bukan Aksa, dan hanya … apa yang bisa ku berikan.'

Tatapan Arman meredup, namun suaranya tetap datar saat ia berkata,

“Baik, kontrak kita dimulai hari ini.”

Dan seketika, Kinara sadar hidupnya baru saja masuk ke dalam badai yang tidak akan pernah sama lagi.

Arman menekan tombol interkom di meja kerjanya. Suaranya datar, tanpa nada ragu sedikit pun.

“Rudi, masuk!”

Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Rudi melangkah masuk. Wajahnya kaku ia tahu, setiap kali dipanggil Arman di ruangan kerja, pasti ada perintah penting.

“Ya, Tuan Arman?”

Arman tidak menjawab. Ia hanya mendorong berkas-berkas di mejanya ke samping, menciptakan ruang kosong, seolah ruangan itu harus bersih sebelum keputusan besar diumumkan.

“Kami akan menikah,” ucap Arman tiba-tiba.

Rudi terangkat setengah langkah, nyaris tersandung udara. Pandangannya bergantian antara Arman dan Kinara yang duduk di sofa.

“Me … menikah, Tuan?”

“Ya.” Arman mendengkus pelan. “Segera urus semuanya. Daftar pernikahan, jadwal kantor catatan sipil, dan buatkan surat kontraknya.”

Nada itu dingin, keras, sebuah keputusan final yang tidak memberi ruang untuk diskusi.

Rudi menelan ludah. “Tuan … maaf, tapi...”

“Rudi.” Arman memotong tanpa melihat ke arah asistennya. “Ini semua demi Aksa.”

Hening menggantung. Di luar dugaan, kalimat itu melunak. Ada beban berat yang menggulung di dada Arman setiap kali berbicara tentang anak itu beban yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Namun sebelum Rudi sempat menjawab, terdengar suara kecil. Nyaring memecah ketegangan di dalam ruangan itu. Bunyi engsel pintu berderit halus.

Semua kepala menoleh. Aksa berdiri di sana separuh tubuhnya bersembunyi di balik pintu, pipinya menempel pada kayu, mata bulatnya berbinar-binar. Ia sudah mengintip sejak tadi, mendengarkan setiap kata tentang pernikahan.

Begitu mendengar demi Aksa, bocah itu langsung berlari kecil, menghampiri Kinara seperti anak ayam yang menemukan induknya.

“Mommy! Mommy!” Aksa memeluk kaki Kinara erat, wajah mungilnya berseri-seri, tanpa menyadari betapa rumitnya keputusan yang baru saja dibuat orang dewasa di ruangan itu.

Kinara hanya bisa membalas dengan senyum kecut antara geli, khawatir, dan tak percaya.

'Astaga … tidak ada yang tahu apa yang anak ini pikirkan dan senakal apa dia?' pikirnya sambil mengelus kepala Aksa.

Dari kursi rodanya, Arman memperhatikan adegan itu. Fealnya mencengkram kursi.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama rumah itu dipenuhi suara tawa kecil yang tidak berasal dari luka.

Dan untuk pertama kalinya pula, Arman memutuskan sesuatu bukan demi dirinya,

tetapi demi bocah yang kini tersenyum dalam pelukan wanita asing itu.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

si Kirana blm ngomong apa2 eh dianya nyeriscos terus.. efek kurang percaya diri ya Arman..

2026-01-24

1

Eli Elieboy Eboy

Eli Elieboy Eboy

һᥲ𝗍і2 ⍴ᥲk ძᥙძᥲ ᥒ𝗍ᥲr 𝗍ᥲkᥙ𝗍ᥒᥡᥲ mᥲᥣᥲһ kᥱ ᑲᥙᥴіᥒᥲᥒ ძᥣᥙᥲᥒ 😂😂😂

2026-04-17

1

Maryati

Maryati

bagus banget dan saya sangat tertarik endingnya nanti

2026-01-23

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!