Episode 5

Ruang kerja itu terlalu besar untuk seorang pria yang jarang keluar dari rumah. Namun setiap detailnya lemari buku tinggi, meja marmer hitam, dinding kaca tebal, dan cahaya lampu kuning hangat memancarkan satu hal, kekuasaan.

Kekuasaan yang tetap melekat pada Arman Pramudya meski tubuhnya terkunci di kursi roda.

Arman masuk perlahan, roda kursinya berderit tipis. Begitu sampai di meja, ia menahan napas sebentar, lalu mengatur posisi duduknya gerakan sederhana yang menuntut sisa kebiasaan sebagai pria penuh wibawa. Rudi menutup pintu dan berdiri tegak.

“Semua sudah rapi, Tuan Arman,” ucapnya dengan sopan.

Arman tidak menjawab. Pandangannya fokus pada layar komputer besar di depan meja. Logo Mission Bar Corporation terpampang jelas.

Rudi mengalihkan mata, menunggu perintah. Arman menekan satu tombol. Data perusahaan terbuka, laporan rapat, grafik saham semua terpajang. Namun Arman belum menyentuhnya.

Ia hanya menatap, seolah mencoba mengingat dirinya sebelum kecelakaan itu merampas seluruh hidupnya. Setahun lalu, semua orang berlomba mendekati CEO muda yang tampan, jenius, dan dingin ini. Tetapi, sekarang hanya sebagian kecil yang tahu siapa Arman sebenarnya. Sisanya hanya melihatnya sebagai duda lumpuh yang mengasingkan diri.

Arman mengembus napas.

“Rudi.”

“Ya, Tuan?”

Arman menoleh, tatapannya gelap, bukan marah tapi berbahaya, dingin dan mengintimidasi. Seperti seorang raja yang memutuskan perang.

“Selidiki dua orang.”

Suara Arman turun seperempat oktaf.

“Mimi ... saudara tiri Kinara.”

Seketika perubahan terjadi di wajah Rudi.

“Dan satu lagi … Rayyan. Mantan kekasihnya.”

Rudi mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Informasi apa yang Anda butuhkan?”

“Semua.” Arman mengetukkan jarinya pada meja marmer, iramanya lambat dan teratur.

“Latar belakang mereka.”

“Tempat tinggal.”

“Catatan pekerjaan.”

“Hubungan mereka dengan Kinara sebelum ini.”

Rudi menelan ludah, suaranya ragu ketika bertanya, “Jika boleh tahu … tujuannya, Tuan?”

Arman mendongak sedikit. Cahaya lampu mengenai wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas, lebih dingin.

“Aku tidak ingin perempuan itu,” Ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras,

“membawa dampak buruk pada Aksa.”

Nada itu begitu mantap, begitu keras seakan menegaskan bahwa semua ini hanyalah demi anaknya. Rudi mengangguk, meski matanya memperhatikan sesuatu yang berbeda.

Ada hal lain di balik suara itu. Sebuah nada tak kasat mata halus, samar, dan baru Arman sendiri merasakannya.

Perasaan yang muncul sejak wanita itu berteriak padanya, menantangnya, melindungi Aksa, dan berkata dengan berani bahwa ia tetap akan menjadi ibu tiri, bukan sekadar pengasuh.

Perasaan yang sama sekali tidak pantas dimiliki oleh pria cacat sepertinya setidaknya itulah yang pikirnya, namun wajahnya tetap datar.

Rudi membuka tablet untuk mencatat.

“Ada perintah lain, Tuan?”

Arman menatap layar komputer, tapi matanya kosong jelas pikirannya tidak berada di sana.

“Tidak,” jawabnya tegas. “Keluarkan laporan begitu selesai.”

“Baik.” Rudi membungkuk sopan dan hendak keluar.

Namun sebelum pintu tertutup, Arman menambahkan dengan suara rendah, nyaris seperti gumaman,

“Jangan biarkan siapa pun … terutama dua orang itu … mendekati Kinara.” Rudi mengangguk dan menutup pintu ruangan setelahnya.

Malam itu, rumah besar itu sunyi kecuali suara tawa kecil Aksa yang memecah keheningan. Rudi baru kembali dari perusahaan, awalnya dan ketika ia melangkah masuk, pemandangan di ruang keluarga membuatnya berhenti di ambang pintu.

Kinara duduk bersila di karpet, rambutnya diikat asal, wajahnya lembut diterangi lampu kuning redup. Aksa di pangkuannya, mencoret-coret buku gambar besar. Namun yang membuat langkah Rudi terhenti adalah gambar yang dia lihat.

Sebuah garis lengkung, pepohonan dan di tengahnya sebuah bangunan kecil bersiluet gelap dengan satu jendela menyala. Gambar itu tampak sederhana bagi anak kecil, tetapi simbolnya sangat familiar bagi Rudi hanya beberapa orang yang pernah mengetahuinya.

'Kenapa Nyonya Kinara mengajari Aksa gambar itu? Darimana dia tahu?' Rudi memejamkan mata sejenak, mengingat hari pertamanya masuk rumah ini. Ada banyak hal yang ia lihat sekilas hal-hal yang ia simpan karena tak ingin menyalakan bara yang masih tidur.

Kinara mendongak, menyadari kehadirannya.

“Pak Rudi,” katanya sambil tersenyum kecil, “Anda mencari sesuatu? Mau bertemu Pak Arman?”

Rudi mengangguk sambil menjaga ekspresi tetap netral. “Iya, Nyonya.”

Kinara menghela napas panjang, menggeleng, lalu memutar bola matanya gerakan khasnya sejak hari pertama.

“Dia masih di ruang kerjanya. Dari pagi sampai malam tidak bergerak ke mana-mana. Entah apa menariknya duduk sendirian begitu lama.” Nada sinis itu tidak disembunyikan.

“Pantas saja hidupnya sesuram itu. Dia bahkan tidak tahu cara menikmati udara luar.”

Rudi tersenyum samar mendengar komentar itu bukan mengejek, lebih seperti seseorang yang tahu terlalu banyak tapi memilih menahan diri.

“Kalau boleh jujur, Nyonya…” Rudi menatap Ki­nara dengan lembut namun penuh makna.

“Anda … belum benar-benar mengenal Tuan Arman.”

Kinara mengangkat bahu, jelas tidak peduli. “Aku tidak perlu mengenalnya.”

Rudi hanya tersenyum tipis, senyum yang mengandung banyak rahasia yang tidak siap dia ungkapkan, terutama kepada wanita yang kini menjadi pusat perhatian bosnya.

“Kalau begitu, saya pamit dulu,” ucapnya.

Dia berlalu, meninggalkan Kinara yang kembali meniup rambut Aksa sambil menggoda anak itu agar mewarnai dengan benar. Namun sebelum Rudi benar-benar memasuki lorong menuju ruang kerja Arman, ia menoleh sekali lagi. Aksa menggambar bangunan gelap itu dengan pola yang terlalu tepat untuk ukuran anak usia segitu.

Rudi tiba di depan ruangan kerja Arman, dengan napas berat, Rudi mengetuk pintu ruang kerja Arman.

Di balik pintu itu, ia tahu ada seseorang yang sedang mencoba membunuh masa lalunya sendiri sementara masa lalu Kinara perlahan muncul di depan mata. Dan keduanya entah bagaimana sedang berjalan menuju satu titik benturan yang tidak akan bisa dihindari.

Rudi menutup pintu ruang kerja perlahan, memastikan tak ada suara yang bocor keluar. Arman tidak menoleh. Ia duduk tegak di kursi rodanya, punggung lurus, jari mengetuk sisi meja kayu mahoni dengan ritme teratur tanda ia sedang menahan emosi.

“Bagaimana?” tanyanya datar, tanpa menatap.

Rudi menelan ludah. “Saya sudah menemukan yang Anda minta, Tuan.”

Hening sesaat, lalu Arman menggeser sedikit kursinya, memberi isyarat agar Rudi bicara.

Rudi membuka map cokelat tebal. “Nama saudara tirinya … Mimi Maheswari. Dia tinggal bersama ibunya, dan ayah kandung Kinara dulu. Setelah ayah Nyonya Kinara meninggal dalam kecelakaan satu tahun lalu … Nyonya Kinara diusir dari rumah, tanpa warisan sepeser pun.”

Arman akhirnya mengangkat kepalanya. Sorot matanya masih dingin, tapi ada sedikit kilat tajam kilat yang hanya muncul saat sesuatu membuatnya tidak suka.

“Kecelakaan seperti apa?” tanya Arman.

“Tidak jelas, Tuan. Laporannya … tampak janggal. Seolah sengaja ditutupi.”

Rudi menahan napas. “Dan Mimi dan ibunya yang mengusir Nyonya Kinara tepat setelah pemakaman.”

Jari Arman berhenti mengetuk meja.

Rudi melanjutkan, “Rayyan … pria yang tadi muncul di depan gedung catatan sipil … dia adalah calon tunangan Nyonya Kinara dulu. Tapi setelah Nyonya Kinara terusir, Mimi mengambil alih. Mereka berdua sekarang tinggal bersama dengan ibunya Mimi.”

Arman menajamkan tatapannya. “Jadi mereka mengkhianatinya.”

Rudi mengangguk perlahan. “Iya, Tuan. Dan satu hal lagi … cukup mengejutkan.”

Ia menyerahkan berkas lain.

“Nyonya Kinara lulus sebagai lulusan terbaik Farmasi. Nilainya … sempurna. Dan harusnya dia pemimpin perusahaan Thropy sebelum masalah keluarganya membuat semua itu berhenti.”

Arman kembali diam. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tetapi Rudi tahu pikirannya bergerak cepat.

“Perusahaan Thropy…” gumam Arman pelan sambil membuka map.

Rudi mengangguk. “Baru saja ada rencana penandatanganan kerja sama dengan Mission Bar. Dan … perusahaan itu nantinya akan dipimpin oleh Rayyan setelah menikah dengan Mimi.”

Kali ini, reaksi Arman terlihat jelas. Ia mengerutkan kening dalam untuk Arman, itu setara dengan orang lain meninju meja.

“Menarik,” katanya dingin. Lalu matanya menatap lurus ke berkas seolah ingin membakarnya.

Kemudian, tanpa ragu sedikit pun, “batalkan kerja sama itu.”

Rudi terpaku. “T-Tuan?”

Arman mengangkat wajah, tatapannya setajam pisau bedah.

“Aku tidak akan bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh pria sepertinya.”

Nada suaranya turun satu oktaf gelap, dingin, berbahaya.

“Dia tidak layak berada di orbit yang sama dengan Mission Bar.”

Rudi hampir ingin bertanya apakah keputusan itu murni untuk mencegah pengaruh buruk pada Aksa atau karena alasan lain yang Arman sendiri belum sanggup akui. Arman menambahkan dengan suara rendah yang mengandung sesuatu, amarah, proteksi, dan cemburu.

“Tidak ada orang yang pernah menginjak-injak istri Arman Pramudya tanpa menerima balasannya.”

Rudi menunduk. “Baik, Tuan. Saya mengerti.”

Saat ia hendak pergi, Arman kembali bersuara, pelan namun tegas,

“Dan Rudi … cari tahu lebih banyak tentang kecelakaan ayahnya.”

Tatapannya menajam.

“Aku punya firasat … ini bukan kecelakaan biasa.”

Rudi membungkuk hormat. “Siap, Tuan.” Ia keluar meninggalkan Arman dalam kesunyian.

Di luar pintu, Rudi bisa mendengar Aksa tertawa kecil bersama Kinara suara yang membuat suasana rumah besar itu terasa sedikit hidup.

Namun di balik pintu tertutup itu, Arman hanya menatap berkas di hadapannya.

"Kinara..." gumam Arman pelan.

Terpopuler

Comments

Deera__

Deera__

diihh mulai muncul posesif dan bucin 🤣🤣🤣🤣 Nelan ludah sendiri. diakui istri pas dibelakang orngnya. didepan sok cuek jual mahal 🤣🤣🤣🤣

2026-08-05

0

Siti Solikah

Siti Solikah

apakah kecelakaan ayahnya Kinara juga jadi penyebab lumpuhnya arman

2026-05-16

0

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ

sepertinya kecelakaan ayah kinara & Arman berkaitan. bukan begitu? 🤔🤔😒😒

2026-02-03

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!