“Jadi sekarang kita harus mencari Nona Victoria?”
Salah seorang anggota FBI akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menggantung berat di antara mereka, seolah lorong tua ini ikut menahan napas bersama langkah-langkah yang berhenti sesaat.
Pria yang berjalan di sebelahnya hanya mengangkat bahu pelan, gerakannya santai namun matanya tetap waspada.
“Entahlah. Itu satu-satunya perintah yang kita terima.”
“Aneh.”
Kening pria pertama langsung berkerut dalam, alisnya bertaut seakan mencoba menarik jawaban dari sesuatu yang tidak kasat mata.
“Bukankah sebelumnya Tuan Hunter bilang kalau Nona Victoria adalah orang yang sedang di incar Tuan Reed?”
Ia berhenti sejenak, pandangannya sedikit kosong, seperti sedang menyusun ulang potongan informasi yang tidak cocok satu sama lain.
“Kalau begitu kenapa sekarang dia malah meminta kita menangkapnya?”
“Aku juga tidak mengerti.”
“Benar. Lagi pula, siapa yang bisa mengerti isi kepala orang-orang seperti mereka?”
Ucapan itu langsung dibalas senggolan siku dari rekannya, cukup keras untuk membuatnya sedikit tersentak.
“Hei.”
“Apa?”
“Jangan bicara sembarangan.”
Pria itu memutar bola matanya, meski ada sedikit keraguan yang mulai muncul di balik ekspresinya.
“Memangnya aku bilang apa?”
“Bagaimana kalau Tuan Hunter mendengarmu?”
Raut santainya perlahan memudar, seperti lilin yang tersentuh angin dingin.
“Kenapa memangnya?”
“Kau tahu sendiri seperti apa beliau saat marah.”
Mendengar itu, wajah pria tersebut perlahan memucat. Matanya sedikit melebar, dan tenggorokannya bergerak menelan ludah. Bayangan tentang William yang memberi hukuman bahkan untuk pelanggaran kecil langsung melintas di kepalanya, terlalu jelas untuk diabaikan.
“Baiklah.”
Ia berdeham pelan, mencoba mengembalikan ketenangannya yang sempat runtuh.
“Mungkin aku memang seharusnya diam.”
Hal itu langsung memancing tawa kecil dari beberapa orang di sekitarnya, meredakan ketegangan yang sempat mengendap.
Obrolan ringan kembali mengalir di antara mereka, meski tidak sepenuhnya…
Misi Rahasia Dengan Kode Merah
Chapter 230 : tembakan karna kemarahan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 245 Episodes
Comments