3. Jalan yang Dipilih

Pertanyaan itu tidak mengejutkan sang dokter. Justru terasa… akhirnya keluar.

Dokter Wira menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja. Tatapannya tenang, tapi mengamati.

“Kamu sudah hidup dengan disiplin sejak lama, Raska,” katanya. “Bahkan tanpa seragam.”

Raska menunduk. Jarinya mengepal di atas lutut.

“Menjadi tentara berarti menghadapi bahaya. Kekerasan. Kematian,” lanjut dokter itu. “Kamu sadar?”

“Sadar,” jawab Raska singkat.

Dokter Wira memiringkan kepala. “Dan kamu tahu trauma tidak otomatis hilang hanya karena disiplin dan aturan ketat?”

Raska mengangguk sekali. Gerakannya kaku.

“Saya tahu.”

Hening sejenak. Dokter itu menghela napas pelan, lalu maju sedikit.

“Kalau begitu,” tanyanya, “kenapa kamu ingin menjadi tentara?”

Raska diam lebih lama dari sebelumnya. Rahangnya mengeras, lalu mengendur.

“Agar saya berhenti merasa rusak,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. “Agar saya punya alasan untuk bangga pada diri sendiri.”

Dokter Wira tidak langsung menjawab. “Dan?” dorongnya lembut.

“Agar saya layak,” lanjut Raska. Ia menelan ludah. “Untuk istri saya.”

Alis dokter itu berkerut tipis. “Istri?”

“Menikah siri,” jawab Raska jujur. Bahunya sedikit jatuh. “Tapi… saya sudah menyakiti dia.”

Dokter Wira tetap diam, memberinya ruang.

“Ibu mertua,” lanjut Raska, “mengidamkan menantu tentara. Pria yang bisa dibanggakan.”

Ia tersenyum getir. “Bukan lelaki kaya yang menjadikan anaknya taruhan.”

Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Ia cepat-cepat menarik napas, seolah malu pada dirinya sendiri.

“Saya ingin suatu hari berdiri di depan beliau,” katanya pelan, “tanpa merasa kecil. Tanpa malu.”

Dokter itu menatap Raska lama. Bukan sebagai pasien—melainkan sebagai anak yang terlalu cepat dewasa.

“Kalau alasanmu hanya untuk lari dari trauma,” katanya akhirnya, jujur, “saya akan melarangmu.”

Raska menegang. Bahunya kaku.

“Tapi kamu tidak sedang lari,” lanjut dokter itu. “Kamu ingin menghadapi hidup dengan arah.”

Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Suaranya tetap tegas, tapi hangat.

“Dengar baik-baik, Raska. Menjadi tentara tidak akan menghapus trauma kamu. Tapi bisa memberimu struktur untuk hidup berdampingan dengannya.”

Raska mengangguk. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah.

“Dan kamu harus siap,” tambahnya, “bahwa jalan ini akan jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan.”

“Saya siap,” jawab Raska. Kali ini tanpa ragu.

Dokter Wira tersenyum tipis. Ia mengambil pena.

“Kamu baru tujuh belas,” katanya. “Terlalu muda untuk memikul semua ini sendirian.”

Pena itu berhenti sesaat di udara.

“Dan kamu tidak akan sendirian.”

Raska menghembuskan napas panjang. Bukan lega, melainkan mantap.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar bertahan.

Ia memilih arah.

***

Raska, Asep, Vicky, dan Gayus duduk di ruang tengah apartemen Raska. Suasananya tenang. Terlalu tenang, seperti ada sesuatu yang akan jatuh.

“Ada apa lo manggil kami semua ke sini?” Asep membuka suara.

“Muka lo serius banget,” sambung Vicky. “Masalah apa lagi?”

Gayus menatap Raska lurus. “Bilang aja. Kita dengerin.”

Raska menghela napas panjang. “Gue mau ngasih tahu kalian sesuatu.”

“Apaan sih, Ras?” Asep menyandarkan punggung. “Jangan muter-muter.”

“Gue daftar tentara.”

Sunyi.

Asep melongo. Vicky meluruskan duduknya. Gayus mengerutkan alis.

“Lo… serius?” Asep setengah berdiri. “Tentara yang hidupnya keras itu?”

Raska mengangguk.

“Ras,” Vicky menggeleng pelan, “hidup lo udah enak. Usaha jalan. Masa depan kebuka. Kenapa malah nyemplung ke hidup ekstrem begitu?”

Gayus langsung menembak, datar tapi menekan. “Ini soal Elvara?”

Raska diam.

“Karena ibunya?” lanjut Gayus. “Karena lo pengin diterima?”

Asep menghembuskan napas kasar. “Cinta boleh, Ras. Tapi jangan hancurin diri sendiri.”

Raska mengangkat wajah. “Bukan cuma itu.”

Ia menarik napas. “Gue capek hidup dikejar bayangan. Kepala gue nggak pernah bener-bener diem. Gue butuh struktur. Tujuan.”

“Militer bukan terapi,” potong Gayus. “Trauma lo nggak hilang cuma karena seragam.”

“Gue tahu,” jawab Raska cepat. “Makanya gue tetap lanjut terapi.”

Ia menatap mereka satu per satu. “Tapi gue juga pengin hidup gue ada artinya. Pengin nyokap gue bangga. Dan kalau suatu hari gue berdiri di depan ibu Elvara—”

Ia berhenti sejenak.

“—gue nggak berdiri sebagai cowok yang lari.”

Hening.

“Lo yakin?” tanya Asep akhirnya.

“Yakin.”

Asep mengangguk pelan. “Berarti udah final.”

“Udah,” sahut Vicky singkat.

Gayus menghela napas. “Kalau begitu, kami nggak bisa ngelarang.”

Asep menepuk bahu Raska. “Keras kepala tetap keras kepala.”

“Tapi,” lanjut Gayus, suaranya lebih lembut, “kalau ini keputusan sadar, kami dukung sebisanya.”

Raska tersenyum tipis. “Makanya gue minta tolong.”

Ketiganya menoleh bersamaan.

“Usaha nyokap gue,” kata Raska. “Gue nggak bakal bisa bolak-balik. Gue mau kalian yang ngurus.”

“Hah?” Asep refleks.

“Kita baru lulus,” tambah Vicky. “Ini bukan urusan kecil.”

Gayus menimbang cepat. “Risikonya besar.”

“Gue tahu,” jawab Raska. “Makanya orang-orang kepercayaan nyokap gue bakal dampingi. Kalau ada masalah besar, kalian hubungi bokap gue.”

Sunyi lagi.

Asep mengangguk lebih dulu. Vicky menyusul. Gayus yang terakhir.

“Hidup kita bakal berubah,” gumam Vicky.

“Iya,” sahut Asep.

Gayus menutupnya tenang. “Berat, tapi bisa jadi pijakan.”

Raska menghembuskan napas lega. “Thanks.”

Dan untuk pertama kalinya, meski jalan di depannya terasa sunyi dan keras, Raska tahu satu hal,

ia tidak berjalan sendirian.

***

Apartemen itu sunyi seperti biasa.

Jam dinding berdetak pelan. Terlalu pelan.

Wijanata berdiri di depan pintu dengan dua kantong belanjaan di tangan. Ia menekan bel, lalu menunggu. Bahunya sedikit turun, seperti sudah menyiapkan diri untuk apa pun yang akan ia temui di balik pintu.

Hingga hari ini, ia tak pernah tahu password apartemen putranya sendiri. Padahal tiap minggu ia datang, membawa sayur, buah, daging, dan bahan masak. Hal-hal kecil yang tak pernah diminta, tapi selalu ia antar.

Pintu terbuka.

Raska menatap ayahnya sekilas. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Ia langsung berbalik dan berjalan ke dinding kaca ruang tamu, menatap kota di bawah sana. Lampu, klakson, dan kehidupan yang terasa lebih ramai daripada ruangan ini.

Nata menghela napas pelan. Ia sudah hafal jarak itu. Jarak yang tak pernah benar-benar bisa ia sentuh.

"Papa harap suatu hari jarak tak kasat mata ini hilang," batinnya.

Ia tersenyum kecut. Harapan itu terasa terlalu tinggi untuk pagi biasa seperti ini.

Tanpa bicara, Nata menuju dapur.

Ia memindahkan sayur ke wadah kaca. Menyusun daging di kulkas. Membuang yang layu dan busuk. Tangannya bergerak rapi, teratur. Terlalu tenang untuk seorang ayah yang tahu anaknya hampir tak pernah meminta apa pun darinya.

Selesai.

Ia menghampiri Raska. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti dua dunia.

“Kau belum bilang ke Papa,” ujarnya lembut, hampir berhati-hati, “mau lanjut kuliah di mana. Jurusannya apa.”

Tak ada jawaban.

Raska berbalik. Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja samping dan meletakkannya di atas meja utama. Bunyi map itu jatuh terdengar lebih keras dari seharusnya.

“Aku butuh tanda tangan.”

Nada datar. Tak meminta. Tak menjelaskan.

Nata menatap map itu lama sebelum menyentuhnya. Jarinya ragu, seolah sudah menebak isinya.

“Untuk apa?” tanyanya pelan.

“Administrasi.”

Satu kata. Dinginnya terasa.

Nata membuka map itu. Matanya bergerak cepat. Lalu berhenti.

Persetujuan Orang Tua/Wali

Pendaftaran Calon Prajurit

Napasnya tertahan. Jarinya mengencang di tepi kertas. Untuk sesaat, ruangan itu kembali sunyi, bahkan jam dinding seolah lupa berdetak.

Ia menoleh ke Raska. “Kamu mau jadi tentara?”

“Iya.”

Pendek. Tegas. Tak ada ruang tawar.

Nata menyandarkan punggung ke sofa. Telapak tangannya meremas map itu, lalu melepasnya lagi, seolah kertas tipis itu terlalu berat untuk dipegang lama-lama.

“Sejak kapan?” tanyanya, suara tetap tenang, meski rahangnya mengeras.

“Baru.”

“Kenapa?”

Wijanata tidak lagi menatap map itu.

Ia menatap anaknya. Lama, dalam, seolah mencoba mencari sisa bocah yang dulu pernah menggenggam tangannya tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nata sadar, jawaban apa pun yang akan keluar dari mulut Raska…

akan mengubah segalanya.

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua orang memilih jalan karena mimpi. Sebagian memilihnya agar tetap hidup.”...

...“Kadang yang kita cari bukan kesembuhan, melainkan cara hidup yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.”...

...“Ia tidak memilih jalan yang paling aman. Ia memilih jalan yang membuatnya bertahan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Kalau Raska menjadi tenrara, itu Artinta, harus bisa ilmu beladiri dong ya kak Nana? Wah, Seperti bisa, Karakter Cerita di novel kak Nana, pasti bisa ilmu beladiri. Contohnya Saja Seperto Zayn Nugroho dulu, Waktu melawan Antonio dan Dua Cecunguknya 😂😂😂 dan Seperti Vexia yang Badas, Aylin yang badung, dan brutal, melawam Sekelompok Mafia bersama Akay. Mereka Semua bisa ilmu beladiri, Seperti Biasa, jika kak Nana membuat Karakternya bisa ilmu beladiri, pasti menegangkan, kayak Aylin dan Akay dulu.

Melawan Kanzaki dan Kelompoknya 😁😁😁 Mantap Kak Nana... Lanjutkan Kak 🙏🙏🙏😁

2025-12-21

1

anonim

anonim

Keinginan Raska daftar menjadi tentara sudah final seperti kata Vicky. Gayus pun menganggap keputusan Raska paling nggak rasional yang pernah dia ambil. Gayus mendukung dengan doa dan support keputusan yang di ambil Raska.

Berhubung Raska mau fokus di militer, perusahaan mamanya yang selama ini dia terlibat mengurusnya, Raska minta tolong sama tiga sahabat yang sudah dipercaya, untuk mengurusnya. Raska sudah memastikan kalau tidak bisa bolak-balik.

Ketiganya pasti kaget ya.

Raska tahu kalau ini tidak mudah bagi ke tiga sahabatnya. Mereka akan didampingi dan diajari oleh orang-orang kepercayaan mamanya. Kalau ada masalah besar bisa langsung hubungi papanya Raska.

Raska sudah mulai menata kehidupan untuk masa depannya.

2025-12-21

1

anonim

anonim

Amin. Semoga doa pak Nata terkabul.

Walaupun suasana terasa beku, rutin tiap minggu mengantar bahan-bahan memasak untuk putranya - suatu saat pak Nata pasti merindukan hal seperti ini, ketika nanti Raska sudah di terima di pendidikan militer.

Raska mode mulut terkunci rapat, irit bicara - ketika papanya bicara - Raska belum bilang mau lanjut kuliah dimana dan ambil jurusan apa.

Sepatah-sepatah saja dia membalas ucapan papanya.

2025-12-21

1

lihat semua
Episodes
1 1. Harga Sebuah Kebohongan
2 2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
3 3. Jalan yang Dipilih
4 4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan
5 5. Ketika Menjadi Layak Lebih Penting dari Bahagia
6 6. Rumah yang Tidak Pernah Adil
7 7. Di Ambang Luka
8 8. Belajar Bertahan
9 9. Antara Marah dan Bertahan
10 10. Versi yang Bertahan
11 11. Lelaki yang Tidak Kabur
12 12. Slow-Cooked Love
13 13. Yang Bertahan dalam Sunyi
14 14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir
15 15. Pengikat Takdir
16 16. Dua Dunia, Satu Alasan Bertahan
17 17. Dua Cincin, Satu Kehilangan
18 18. Yang Dilindungi Kekuasaan
19 19. Prosedur Tidak Ikut Berdarah
20 20. Mereka Pulang Hidup
21 21. Alasan untuk Pulang
22 22. Alasan untuk Bertahan
23 23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani
24 24. Sebelum Pulang
25 25. Tetap Manusia
26 26. Ruang yang Menunggu
27 27. Ruang yang Tidak Diminta
28 28. Takdir Menahan Napas
29 29. Wajah di Cermin Lama
30 30. Cermin Bernama Anak
31 31. Wajah yang Kembali
32 32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
33 33. Di Ambang Pintu Itu
34 34. Ayah yang Akhirnya Pulang
35 35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
36 36. Tanpa Peluru, Aku Kalah
37 37. Bukan Kamar Tamu
38 38. Pulang Bukan Sekadar Datang
39 39. Awal yang Belum Bernama
40 40. Meja Makan yang Terlalu Jujur
41 41. Janji Hari Minggu
42 42. Kursi Kosong di Meja Makan
43 43. Belajar Merindu
44 44. Sabtu yang Terlalu Panjang
45 45. Sabtu yang Terlambat
46 46. Aku Tidak Akan Memaksamu
47 47. Yang Sah, Tapi Tak Mudah
48 48. Menunggu Tanpa Menuntut
49 49. Wilayah yang Tidak Ia Kuasai
50 50. Yang Tidak Diucapkan
51 51. Tawa yang Tidak Pernah Kupunya
52 52. Kesempatan Terakhir Bernama Jujur
53 53. Salah Waktu
54 54. Yang Dilihat Anak Kecil
55 55. Pria yang Berhenti Menunggu
56 56. Ketika Diam Menjadi Luka
57 57. Tak Ada Janji, Hanya Takut
58 58. Ia Tidak Pernah Pergi
59 59. Hari Ini, Kami Bertahan
60 60. Kebahagiaan yang Dilihat dari Jauh
61 61. Di Ambang
62 62. Garis Tembak
63 63. Garis yang Dipilih
64 64. Ranjang yang Menunggu Waktu
65 65. Satu Langkah Terlambat
66 66. Terlambat Lima Menit
67 67. Bukan Lagi Bidak
68 68. Bukan Lagi Wilayah Mereka
69 69. Posisi yang Tidak Tergantikan
70 70. Bukan Sekadar Panggilan
71 71. Yang Tidak Lagi Setengah
72 72. Tanpa Darah Tambahan
73 73. Cek Ekor
74 74. Jarak Aman
75 75. Di Antara Rumah dan Kuburan
76 76. Tidak Lagi Senyap
77 77. Tameng Hidup
78 78. Satu Detik
79 79. Jalur Tanpa Pulang
80 80. Harga yang Tak Pernah Ditagih
81 81. Izin untuk Pulang
82 82. Jeda Sebelum Harga
83 83. Ruang yang Tidak Disediakan
84 84. Kepercayaan
85 85. Dicatat
86 86. Ritme yang Melambat
87 87. Harga Menjadi Pantas
88 88. Cinta yang Belum Diakui Negara
89 89. Di Antara Sidang dan Nyawa
90 90. Antara Waktu
91 91. Kesaksian dari Jarak Jauh
92 92. Lengkap
93 93. Yang Datang Tanpa Janji
94 94. Yang Tidak Diwariskan
95 95. Garis Depan dan Garis Belakang
96 96. Hak yang Tak Pernah Diminta
97 97. Hampir Berhasil
98 98. Hampir
99 99. Tim yang Tidak Dicatat
100 100. Bertahan Hidup Dulu
101 101. Wa'alaikumsalam Mantan Imam
102 102. Zona Mati
103 103. Yang Tidak Terlihat
104 104. Menjadi Bayangan
105 105. Yang Menang Memilih Lenyap
106 106. Pulang Tanpa Izin
107 107. Solusi yang Tidak Boleh Diakui
108 108. Sumpah yang Tidak Pernah Dicatat
109 109. Masuk Tanpa Permisi
110 110. Warisan Tanpa Nama
111 111. Pencegahan
112 112. Arsip yang Bergerak
113 113. Batas yang Tidak Boleh Disentuh
114 114. Benteng Negara, Rumah Keluarga
115 115. Keluarga yang Utuh
116 116. Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. Harga Sebuah Kebohongan
2
2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
3
3. Jalan yang Dipilih
4
4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan
5
5. Ketika Menjadi Layak Lebih Penting dari Bahagia
6
6. Rumah yang Tidak Pernah Adil
7
7. Di Ambang Luka
8
8. Belajar Bertahan
9
9. Antara Marah dan Bertahan
10
10. Versi yang Bertahan
11
11. Lelaki yang Tidak Kabur
12
12. Slow-Cooked Love
13
13. Yang Bertahan dalam Sunyi
14
14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir
15
15. Pengikat Takdir
16
16. Dua Dunia, Satu Alasan Bertahan
17
17. Dua Cincin, Satu Kehilangan
18
18. Yang Dilindungi Kekuasaan
19
19. Prosedur Tidak Ikut Berdarah
20
20. Mereka Pulang Hidup
21
21. Alasan untuk Pulang
22
22. Alasan untuk Bertahan
23
23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani
24
24. Sebelum Pulang
25
25. Tetap Manusia
26
26. Ruang yang Menunggu
27
27. Ruang yang Tidak Diminta
28
28. Takdir Menahan Napas
29
29. Wajah di Cermin Lama
30
30. Cermin Bernama Anak
31
31. Wajah yang Kembali
32
32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
33
33. Di Ambang Pintu Itu
34
34. Ayah yang Akhirnya Pulang
35
35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
36
36. Tanpa Peluru, Aku Kalah
37
37. Bukan Kamar Tamu
38
38. Pulang Bukan Sekadar Datang
39
39. Awal yang Belum Bernama
40
40. Meja Makan yang Terlalu Jujur
41
41. Janji Hari Minggu
42
42. Kursi Kosong di Meja Makan
43
43. Belajar Merindu
44
44. Sabtu yang Terlalu Panjang
45
45. Sabtu yang Terlambat
46
46. Aku Tidak Akan Memaksamu
47
47. Yang Sah, Tapi Tak Mudah
48
48. Menunggu Tanpa Menuntut
49
49. Wilayah yang Tidak Ia Kuasai
50
50. Yang Tidak Diucapkan
51
51. Tawa yang Tidak Pernah Kupunya
52
52. Kesempatan Terakhir Bernama Jujur
53
53. Salah Waktu
54
54. Yang Dilihat Anak Kecil
55
55. Pria yang Berhenti Menunggu
56
56. Ketika Diam Menjadi Luka
57
57. Tak Ada Janji, Hanya Takut
58
58. Ia Tidak Pernah Pergi
59
59. Hari Ini, Kami Bertahan
60
60. Kebahagiaan yang Dilihat dari Jauh
61
61. Di Ambang
62
62. Garis Tembak
63
63. Garis yang Dipilih
64
64. Ranjang yang Menunggu Waktu
65
65. Satu Langkah Terlambat
66
66. Terlambat Lima Menit
67
67. Bukan Lagi Bidak
68
68. Bukan Lagi Wilayah Mereka
69
69. Posisi yang Tidak Tergantikan
70
70. Bukan Sekadar Panggilan
71
71. Yang Tidak Lagi Setengah
72
72. Tanpa Darah Tambahan
73
73. Cek Ekor
74
74. Jarak Aman
75
75. Di Antara Rumah dan Kuburan
76
76. Tidak Lagi Senyap
77
77. Tameng Hidup
78
78. Satu Detik
79
79. Jalur Tanpa Pulang
80
80. Harga yang Tak Pernah Ditagih
81
81. Izin untuk Pulang
82
82. Jeda Sebelum Harga
83
83. Ruang yang Tidak Disediakan
84
84. Kepercayaan
85
85. Dicatat
86
86. Ritme yang Melambat
87
87. Harga Menjadi Pantas
88
88. Cinta yang Belum Diakui Negara
89
89. Di Antara Sidang dan Nyawa
90
90. Antara Waktu
91
91. Kesaksian dari Jarak Jauh
92
92. Lengkap
93
93. Yang Datang Tanpa Janji
94
94. Yang Tidak Diwariskan
95
95. Garis Depan dan Garis Belakang
96
96. Hak yang Tak Pernah Diminta
97
97. Hampir Berhasil
98
98. Hampir
99
99. Tim yang Tidak Dicatat
100
100. Bertahan Hidup Dulu
101
101. Wa'alaikumsalam Mantan Imam
102
102. Zona Mati
103
103. Yang Tidak Terlihat
104
104. Menjadi Bayangan
105
105. Yang Menang Memilih Lenyap
106
106. Pulang Tanpa Izin
107
107. Solusi yang Tidak Boleh Diakui
108
108. Sumpah yang Tidak Pernah Dicatat
109
109. Masuk Tanpa Permisi
110
110. Warisan Tanpa Nama
111
111. Pencegahan
112
112. Arsip yang Bergerak
113
113. Batas yang Tidak Boleh Disentuh
114
114. Benteng Negara, Rumah Keluarga
115
115. Keluarga yang Utuh
116
116. Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!