Pertanyaan itu tidak mengejutkan sang dokter. Justru terasa… akhirnya keluar.
Dokter Wira menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja. Tatapannya tenang, tapi mengamati.
“Kamu sudah hidup dengan disiplin sejak lama, Raska,” katanya. “Bahkan tanpa seragam.”
Raska menunduk. Jarinya mengepal di atas lutut.
“Menjadi tentara berarti menghadapi bahaya. Kekerasan. Kematian,” lanjut dokter itu. “Kamu sadar?”
“Sadar,” jawab Raska singkat.
Dokter Wira memiringkan kepala. “Dan kamu tahu trauma tidak otomatis hilang hanya karena disiplin dan aturan ketat?”
Raska mengangguk sekali. Gerakannya kaku.
“Saya tahu.”
Hening sejenak. Dokter itu menghela napas pelan, lalu maju sedikit.
“Kalau begitu,” tanyanya, “kenapa kamu ingin menjadi tentara?”
Raska diam lebih lama dari sebelumnya. Rahangnya mengeras, lalu mengendur.
“Agar saya berhenti merasa rusak,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. “Agar saya punya alasan untuk bangga pada diri sendiri.”
Dokter Wira tidak langsung menjawab. “Dan?” dorongnya lembut.
“Agar saya layak,” lanjut Raska. Ia menelan ludah. “Untuk istri saya.”
Alis dokter itu berkerut tipis. “Istri?”
“Menikah siri,” jawab Raska jujur. Bahunya sedikit jatuh. “Tapi… saya sudah menyakiti dia.”
Dokter Wira tetap diam, memberinya ruang.
“Ibu mertua,” lanjut Raska, “mengidamkan menantu tentara. Pria yang bisa dibanggakan.”
Ia tersenyum getir. “Bukan lelaki kaya yang menjadikan anaknya taruhan.”
Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Ia cepat-cepat menarik napas, seolah malu pada dirinya sendiri.
“Saya ingin suatu hari berdiri di depan beliau,” katanya pelan, “tanpa merasa kecil. Tanpa malu.”
Dokter itu menatap Raska lama. Bukan sebagai pasien—melainkan sebagai anak yang terlalu cepat dewasa.
“Kalau alasanmu hanya untuk lari dari trauma,” katanya akhirnya, jujur, “saya akan melarangmu.”
Raska menegang. Bahunya kaku.
“Tapi kamu tidak sedang lari,” lanjut dokter itu. “Kamu ingin menghadapi hidup dengan arah.”
Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Suaranya tetap tegas, tapi hangat.
“Dengar baik-baik, Raska. Menjadi tentara tidak akan menghapus trauma kamu. Tapi bisa memberimu struktur untuk hidup berdampingan dengannya.”
Raska mengangguk. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah.
“Dan kamu harus siap,” tambahnya, “bahwa jalan ini akan jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan.”
“Saya siap,” jawab Raska. Kali ini tanpa ragu.
Dokter Wira tersenyum tipis. Ia mengambil pena.
“Kamu baru tujuh belas,” katanya. “Terlalu muda untuk memikul semua ini sendirian.”
Pena itu berhenti sesaat di udara.
“Dan kamu tidak akan sendirian.”
Raska menghembuskan napas panjang. Bukan lega, melainkan mantap.
Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar bertahan.
Ia memilih arah.
***
Raska, Asep, Vicky, dan Gayus duduk di ruang tengah apartemen Raska. Suasananya tenang. Terlalu tenang, seperti ada sesuatu yang akan jatuh.
“Ada apa lo manggil kami semua ke sini?” Asep membuka suara.
“Muka lo serius banget,” sambung Vicky. “Masalah apa lagi?”
Gayus menatap Raska lurus. “Bilang aja. Kita dengerin.”
Raska menghela napas panjang. “Gue mau ngasih tahu kalian sesuatu.”
“Apaan sih, Ras?” Asep menyandarkan punggung. “Jangan muter-muter.”
“Gue daftar tentara.”
Sunyi.
Asep melongo. Vicky meluruskan duduknya. Gayus mengerutkan alis.
“Lo… serius?” Asep setengah berdiri. “Tentara yang hidupnya keras itu?”
Raska mengangguk.
“Ras,” Vicky menggeleng pelan, “hidup lo udah enak. Usaha jalan. Masa depan kebuka. Kenapa malah nyemplung ke hidup ekstrem begitu?”
Gayus langsung menembak, datar tapi menekan. “Ini soal Elvara?”
Raska diam.
“Karena ibunya?” lanjut Gayus. “Karena lo pengin diterima?”
Asep menghembuskan napas kasar. “Cinta boleh, Ras. Tapi jangan hancurin diri sendiri.”
Raska mengangkat wajah. “Bukan cuma itu.”
Ia menarik napas. “Gue capek hidup dikejar bayangan. Kepala gue nggak pernah bener-bener diem. Gue butuh struktur. Tujuan.”
“Militer bukan terapi,” potong Gayus. “Trauma lo nggak hilang cuma karena seragam.”
“Gue tahu,” jawab Raska cepat. “Makanya gue tetap lanjut terapi.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Tapi gue juga pengin hidup gue ada artinya. Pengin nyokap gue bangga. Dan kalau suatu hari gue berdiri di depan ibu Elvara—”
Ia berhenti sejenak.
“—gue nggak berdiri sebagai cowok yang lari.”
Hening.
“Lo yakin?” tanya Asep akhirnya.
“Yakin.”
Asep mengangguk pelan. “Berarti udah final.”
“Udah,” sahut Vicky singkat.
Gayus menghela napas. “Kalau begitu, kami nggak bisa ngelarang.”
Asep menepuk bahu Raska. “Keras kepala tetap keras kepala.”
“Tapi,” lanjut Gayus, suaranya lebih lembut, “kalau ini keputusan sadar, kami dukung sebisanya.”
Raska tersenyum tipis. “Makanya gue minta tolong.”
Ketiganya menoleh bersamaan.
“Usaha nyokap gue,” kata Raska. “Gue nggak bakal bisa bolak-balik. Gue mau kalian yang ngurus.”
“Hah?” Asep refleks.
“Kita baru lulus,” tambah Vicky. “Ini bukan urusan kecil.”
Gayus menimbang cepat. “Risikonya besar.”
“Gue tahu,” jawab Raska. “Makanya orang-orang kepercayaan nyokap gue bakal dampingi. Kalau ada masalah besar, kalian hubungi bokap gue.”
Sunyi lagi.
Asep mengangguk lebih dulu. Vicky menyusul. Gayus yang terakhir.
“Hidup kita bakal berubah,” gumam Vicky.
“Iya,” sahut Asep.
Gayus menutupnya tenang. “Berat, tapi bisa jadi pijakan.”
Raska menghembuskan napas lega. “Thanks.”
Dan untuk pertama kalinya, meski jalan di depannya terasa sunyi dan keras, Raska tahu satu hal,
ia tidak berjalan sendirian.
***
Apartemen itu sunyi seperti biasa.
Jam dinding berdetak pelan. Terlalu pelan.
Wijanata berdiri di depan pintu dengan dua kantong belanjaan di tangan. Ia menekan bel, lalu menunggu. Bahunya sedikit turun, seperti sudah menyiapkan diri untuk apa pun yang akan ia temui di balik pintu.
Hingga hari ini, ia tak pernah tahu password apartemen putranya sendiri. Padahal tiap minggu ia datang, membawa sayur, buah, daging, dan bahan masak. Hal-hal kecil yang tak pernah diminta, tapi selalu ia antar.
Pintu terbuka.
Raska menatap ayahnya sekilas. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Ia langsung berbalik dan berjalan ke dinding kaca ruang tamu, menatap kota di bawah sana. Lampu, klakson, dan kehidupan yang terasa lebih ramai daripada ruangan ini.
Nata menghela napas pelan. Ia sudah hafal jarak itu. Jarak yang tak pernah benar-benar bisa ia sentuh.
"Papa harap suatu hari jarak tak kasat mata ini hilang," batinnya.
Ia tersenyum kecut. Harapan itu terasa terlalu tinggi untuk pagi biasa seperti ini.
Tanpa bicara, Nata menuju dapur.
Ia memindahkan sayur ke wadah kaca. Menyusun daging di kulkas. Membuang yang layu dan busuk. Tangannya bergerak rapi, teratur. Terlalu tenang untuk seorang ayah yang tahu anaknya hampir tak pernah meminta apa pun darinya.
Selesai.
Ia menghampiri Raska. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti dua dunia.
“Kau belum bilang ke Papa,” ujarnya lembut, hampir berhati-hati, “mau lanjut kuliah di mana. Jurusannya apa.”
Tak ada jawaban.
Raska berbalik. Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja samping dan meletakkannya di atas meja utama. Bunyi map itu jatuh terdengar lebih keras dari seharusnya.
“Aku butuh tanda tangan.”
Nada datar. Tak meminta. Tak menjelaskan.
Nata menatap map itu lama sebelum menyentuhnya. Jarinya ragu, seolah sudah menebak isinya.
“Untuk apa?” tanyanya pelan.
“Administrasi.”
Satu kata. Dinginnya terasa.
Nata membuka map itu. Matanya bergerak cepat. Lalu berhenti.
Persetujuan Orang Tua/Wali
Pendaftaran Calon Prajurit
Napasnya tertahan. Jarinya mengencang di tepi kertas. Untuk sesaat, ruangan itu kembali sunyi, bahkan jam dinding seolah lupa berdetak.
Ia menoleh ke Raska. “Kamu mau jadi tentara?”
“Iya.”
Pendek. Tegas. Tak ada ruang tawar.
Nata menyandarkan punggung ke sofa. Telapak tangannya meremas map itu, lalu melepasnya lagi, seolah kertas tipis itu terlalu berat untuk dipegang lama-lama.
“Sejak kapan?” tanyanya, suara tetap tenang, meski rahangnya mengeras.
“Baru.”
“Kenapa?”
Wijanata tidak lagi menatap map itu.
Ia menatap anaknya. Lama, dalam, seolah mencoba mencari sisa bocah yang dulu pernah menggenggam tangannya tanpa ragu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nata sadar, jawaban apa pun yang akan keluar dari mulut Raska…
akan mengubah segalanya.
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua orang memilih jalan karena mimpi. Sebagian memilihnya agar tetap hidup.”...
...“Kadang yang kita cari bukan kesembuhan, melainkan cara hidup yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.”...
...“Ia tidak memilih jalan yang paling aman. Ia memilih jalan yang membuatnya bertahan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fadillah Ahmad
Kalau Raska menjadi tenrara, itu Artinta, harus bisa ilmu beladiri dong ya kak Nana? Wah, Seperti bisa, Karakter Cerita di novel kak Nana, pasti bisa ilmu beladiri. Contohnya Saja Seperto Zayn Nugroho dulu, Waktu melawan Antonio dan Dua Cecunguknya 😂😂😂 dan Seperti Vexia yang Badas, Aylin yang badung, dan brutal, melawam Sekelompok Mafia bersama Akay. Mereka Semua bisa ilmu beladiri, Seperti Biasa, jika kak Nana membuat Karakternya bisa ilmu beladiri, pasti menegangkan, kayak Aylin dan Akay dulu.
Melawan Kanzaki dan Kelompoknya 😁😁😁 Mantap Kak Nana... Lanjutkan Kak 🙏🙏🙏😁
2025-12-21
1
anonim
Keinginan Raska daftar menjadi tentara sudah final seperti kata Vicky. Gayus pun menganggap keputusan Raska paling nggak rasional yang pernah dia ambil. Gayus mendukung dengan doa dan support keputusan yang di ambil Raska.
Berhubung Raska mau fokus di militer, perusahaan mamanya yang selama ini dia terlibat mengurusnya, Raska minta tolong sama tiga sahabat yang sudah dipercaya, untuk mengurusnya. Raska sudah memastikan kalau tidak bisa bolak-balik.
Ketiganya pasti kaget ya.
Raska tahu kalau ini tidak mudah bagi ke tiga sahabatnya. Mereka akan didampingi dan diajari oleh orang-orang kepercayaan mamanya. Kalau ada masalah besar bisa langsung hubungi papanya Raska.
Raska sudah mulai menata kehidupan untuk masa depannya.
2025-12-21
1
anonim
Amin. Semoga doa pak Nata terkabul.
Walaupun suasana terasa beku, rutin tiap minggu mengantar bahan-bahan memasak untuk putranya - suatu saat pak Nata pasti merindukan hal seperti ini, ketika nanti Raska sudah di terima di pendidikan militer.
Raska mode mulut terkunci rapat, irit bicara - ketika papanya bicara - Raska belum bilang mau lanjut kuliah dimana dan ambil jurusan apa.
Sepatah-sepatah saja dia membalas ucapan papanya.
2025-12-21
1