You Can Run, But You'Re Still Mine

You Can Run, But You'Re Still Mine

1. Harga Sebuah Kebohongan

Hubungan mereka dimulai dari kebohongan. Dan pagi itu, Elvara baru tahu, dirinya hanya alat taruhan.

Di bawah pohon ketapang belakang sekolah, Raska menatap Roy lurus. Tenang. Tidak menghindar. Namun kali ini, senyum itu muncul lagi, tipis, tapi jelas.

“Lo kalah taruhan,” ucap Raska datar. “Gue udah resmi jadian sama Elvara.”

Ia berhenti sejenak, jeda yang disengaja, seolah memberi waktu kalimat itu menancap.

“Artinya, taruhan kita selesai. Mulai sekarang, semua hak waris lo lepas. Semua. Lo mundur dari rebutan warisan. Gak ikut campur urusan keluarga lagi.

Gak minta sepeser pun saham, properti, apa pun yang bokap punya. Hidup pakai kemampuan lo sendiri.”

DEG!

Seperti palu godam menghantam dadanya. Di tempat persembunyiannya, Elvara menutup mulutnya refleks. Napasnya tercekat.

"Jadian… karena taruhan?"

Tangan gadis seratus kilo itu mengepal erat, kuku menekan telapak sampai nyeri.

"Aku… objek?"

Perlahan ia menegakkan tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan.

"Aku gak butuh sandaran," katanya dalam hati. "Bukan dari hubungan yang lahir dari kebohongan."

Langkahnya mantap.

Mulai hari ini, Elvara memilih satu hal dengan sadar, bukan sebagai istri, bukan sebagai objek taruhan, bukan pula sebagai alat pembuktian siapa pun.

Mulai hari ini, ia akan berdiri dengan kakinya sendiri. Dan jika harus lelah, ia akan lelah dengan jujur. Jika harus jatuh, ia akan jatuh tanpa sandiwara.

Karena cinta, yang lahir bukan dari ketulusan, tak pernah layak dijadikan sandaran.

***

Warung kecil di teras rumah itu tak pernah sepi. Pagi belum siang, sendok sudah beradu dengan gelas, aroma kopi hitam bercampur gorengan hangat.

Di tengah rutinitas Elda, seorang pemuda berdiri kaku. Kemeja rapi, sepatu mahal, jam tangan yang harganya bisa menutup biaya kontrakan setahun.

Ia seperti salah tempat. Salah dunia.

“SAYA BILANG, ELVARA GAK MAU KETEMU!”

Suara Elda melengking, tajam, membuat beberapa pelanggan menoleh.

Raska berdiri di ambang pintu, punggungnya lurus, wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang memanas.

“Bu,” katanya pelan, sopan, nyaris formal. “Saya cuma mau bicara.”

“BICARA APA?!”

Elda melangkah maju, tangan bertolak pinggang. “Bicara itu dilakukan sama orang yang masih punya harga diri. Bukan yang bikin anak orang nangis terus ngurung diri di kamar!”

Beberapa ibu-ibu di bangku warung mulai saling sikut.

“Wah… rame.”

“Itu siapa?”

“Kok kayak artis sinetron?”

Raska mengabaikan semuanya. Tatapannya lurus ke wajah Elda.

“Saya minta izin. Cuma sebentar. Izinkan saya ke kamar Elvara.”

Kalimat itu seperti bensin yang disiram ke api.

“KAMAR?!”

Elda meraih penyapu lidi yang bersandar di tembok. “KAMAR ANAK SAYA ITU BUKAN LOBI HOTEL!”

PLAK!

Penyapu mendarat di lengan Raska.

Ia terhuyung setengah langkah, bukan karena sakit, melainkan terkejut.

“Bu—”

PLAK!

Kali ini lebih keras.

“PERGI!” teriak Elda. “SAYA SUDAH BILANG PERGI!”

Seorang bapak-bapak nyeletuk pelan, “Bu Elda, sabar—”

“MANA BISA SABAR, KALAU ANAK SAYA DIJADIKAN OBJEK TARUHAN!” balas Elda tanpa menoleh.

Raska tetap berdiri.

Tidak mundur. Tidak membalas. Tidak mengelak.

Elda menatapnya, napasnya memburu. Lalu matanya menangkap sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Penampilan Raska bersih, mahal, tenang. Seperti pria itu dulu. Trauma lama menyembur tanpa izin.

“SAYA TAU TIPE KAYAK KAMU!” Suara Elda bergetar, bukan karena marah, melainkan terluka.

“Kalian orang kaya menganggap kami orang miskin ini tidak berarti. Layak dijadikan mainan. Apa kalian pikir kami orang miskin ini nggak punya hati?”

Tangannya meraih panci aluminium dari atas kompor.

“PERGI!”

BRAK!

Panci itu melayang. Tak tepat sasaran, tapi cukup membuat warung riuh.

“Astagaaa—”

“Ini beneran perang!”

Raska akhirnya menunduk. Bukan menyerah, melainkan menahan sesuatu yang menggelegak di dadanya.

“Saya nggak akan pergi,” katanya pelan, namun jelas terdengar di tengah keributan. “Sebelum Elvara sendiri yang nyuruh saya pergi.”

Elda tertawa pendek. Pahit.

“Anak saya nggak mau lihat muka kamu,” ucapnya. “Dan saya akan pastiin itu.”

Ia menunjuk ke arah jalan dengan penyapu di tangan.

“PERGI. ATAU—”

Elda menoleh kanan-kiri, lalu mengangkat ember berisi air pel.

“Pergi sebelum kamu mandi pakai air ini!”

Bu RT yang kebetulan ada di warung itu akhirnya angkat suara. Nadanya tegas, tapi masih menyisakan niat menengahi.

“Nak, pulang saja dulu. Situasinya nggak kondusif. Malah bakal tambah ribut kalau kamu tetap di sini.”

Yang lain ikut menimpali.

“Kami bisa panggil keamanan kalau ini ganggu kenyamanan kampung.”

“Bener itu. Bu Elda jadi nggak melayani kami gara-gara kamu.”

“Iya, saya lagi buru-buru.”

“Anak saya di rumah sudah lapar.”

Suara-suara itu bertumpuk. Bukan marah, tapi menekan. Seperti tembok yang perlahan menyempit.

Raska mengangkat wajahnya lagi.

Tatapannya menyapu warung kecil itu. Meja yang belum dibersihkan, gelas kopi yang dibiarkan dingin, pelanggan yang mulai gelisah. Beberapa menatapnya terang-terangan, beberapa berbisik tanpa berusaha mengecilkan suara.

Bukan Elda yang ia lihat. Bukan ember air pel di tangan wanita itu.

"Aku datang untuk istriku. Aku tak takut apa pun. Tapi situasi ini makin tak memberiku ruang."

Raska menarik napas panjang. Rahangnya mengeras. Ia bisa tetap berdiri. Bisa bersikeras. Bisa memaksa semua orang melihat betapa ia tak salah.

Namun setiap detik berlalu, tekanan itu makin nyata. Pandangan makin tajam. Suasana makin panas. Dan untuk pertama kalinya, Raska sadar, jika ia tetap bertahan, ini tak akan berakhir baik.

Bukan untuknya.

Ia menoleh ke Elda.

Matanya merah. Bukan karena sakit. Bukan pula karena iba.

Melainkan karena kemarahan yang harus ia telan.

“Saya akan kembali lagi,” gumamnya.

Entah pada Elda, atau pada Elvara.

Warung kembali ramai. Gorengan tetap habis. Kopi tetap diseruput.

Hanya satu hal yang berubah pagi itu, di teras rumah kecil itu, seorang lelaki kaya belajar rasanya tak punya apa-apa, selain tekad.

***

Keesokan harinya, pagi sekali. Bahkan sang Surya belum muncul dari peraduannya.

Elvara dan Elda berdiri di depan rumah itu. Rumah sederhana yang telah mereka tinggali bertahun-tahun. Dua koper berdiri di samping mereka, diam, seolah ikut menunggu keputusan terakhir.

Elda menatap rumah itu lama.

Di sanalah dulu ia berdiri dengan dada membusung, melepas kepergian suaminya dalam seragam loreng. Penuh bangga. Penuh doa.

"Pak… maaf," batinnya lirih. "Kami harus pergi. Demi kebaikan putri kita."

Elvara ikut memandang rumah itu.

Kenangan kecil berkelebat. Dirinya yang berlari dikejar ayah dan ibunya, tertawa riang, lalu diangkat tinggi. Ayahnya menggendongnya sambil membuat suara pesawat, membuatnya tertawa sampai lupa dunia.

Elvara memejamkan mata. Kelopak itu basah.

Ia, gadis cuek level dewa, yang dijuluki Gasekil (Gadis Seratus Kilo), menghela napas panjang. Napas yang terasa sesak di dada.

"Andai aku nggak ketipu," batinnya getir. "Aku seharusnya nggak pernah percaya."

Mana mungkin pangeran sekolah yang tampan, kaya raya, seperti Raska, benar-benar mencintainya. Mencintai dirinya yang hanya gadis biasa, dari keluarga sederhana.

“Sudah,” ujar Elda pelan, mengusap lengan putrinya dengan lembut.

“Kita mulai dengan lembaran baru.”

Elvara membuka mata. Mengangguk.

Tanpa menoleh lagi, mereka berbalik meninggalkan rumah penuh kenangan itu.

“Loh, Bu… mau ke mana?”

“Pagi-pagi kok sudah bawa koper?”

Satu dua tetangga bertanya.

Elda yang menjawab dengan senyum tipis.

Elvara tetap melangkah dalam diam.

Namun di balik sunyinya, hatinya mengeras oleh tekad.

"Akan aku buktikan," katanya pada dirinya sendiri.

"Aku harus bisa hidup tanpa sandaran siapa pun.”

Dan pagi itu, dua perempuan meninggalkan masa lalu mereka… tanpa tahu, bahwa seseorang di belakang sana akan mengejar.

Bukan sebagai pangeran, melainkan sebagai pria yang terlambat menyadari apa arti kehilangan.

...🔸🔸🔸...

...“Cinta yang lahir dari kebohongan, tak pernah pantas dijadikan sandaran.”...

...“Aku pergi bukan karena tak mencintai, tapi karena aku menolak dicintai sebagai taruhan.”...

...“Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi menyadari bahwa sejak awal… kita hanya alat.”...

...“Aku pikir aku sedang menang taruhan. Ternyata aku sedang kehilangan segalanya.”...

...“Ia pergi membawa harga diri....

...Dan di belakangnya, seorang lelaki belajar arti kehilangan. Terlambat.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

🔸Kalau kamu di posisi Elvara, kamu pergi… atau bertahan?

To be continued

Terpopuler

Comments

Muzaata Alenmiyu

Muzaata Alenmiyu

hadir lagi thor,, baru ada notif masuk jadi baru baca 🙏🏼 selamat atas launching karya barunya thor 🤗💪

2025-12-21

2

septiana

septiana

tetap semangat Elvara,tenangkan diri dulu..jadi nanti saat kamu bertemu Raska kembali kalian sudah berada di vase terbaik untuk saling menerima atau saling melepaskan..

2025-12-20

3

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

wah setelah sekian lama ga pernah baca karya othor ini, akhirnya mampir lagi,,,

2025-12-23

1

lihat semua
Episodes
1 1. Harga Sebuah Kebohongan
2 2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
3 3. Jalan yang Dipilih
4 4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan
5 5. Ketika Menjadi Layak Lebih Penting dari Bahagia
6 6. Rumah yang Tidak Pernah Adil
7 7. Di Ambang Luka
8 8. Belajar Bertahan
9 9. Antara Marah dan Bertahan
10 10. Versi yang Bertahan
11 11. Lelaki yang Tidak Kabur
12 12. Slow-Cooked Love
13 13. Yang Bertahan dalam Sunyi
14 14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir
15 15. Pengikat Takdir
16 16. Dua Dunia, Satu Alasan Bertahan
17 17. Dua Cincin, Satu Kehilangan
18 18. Yang Dilindungi Kekuasaan
19 19. Prosedur Tidak Ikut Berdarah
20 20. Mereka Pulang Hidup
21 21. Alasan untuk Pulang
22 22. Alasan untuk Bertahan
23 23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani
24 24. Sebelum Pulang
25 25. Tetap Manusia
26 26. Ruang yang Menunggu
27 27. Ruang yang Tidak Diminta
28 28. Takdir Menahan Napas
29 29. Wajah di Cermin Lama
30 30. Cermin Bernama Anak
31 31. Wajah yang Kembali
32 32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
33 33. Di Ambang Pintu Itu
34 34. Ayah yang Akhirnya Pulang
35 35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
36 36. Tanpa Peluru, Aku Kalah
37 37. Bukan Kamar Tamu
38 38. Pulang Bukan Sekadar Datang
39 39. Awal yang Belum Bernama
40 40. Meja Makan yang Terlalu Jujur
41 41. Janji Hari Minggu
42 42. Kursi Kosong di Meja Makan
43 43. Belajar Merindu
44 44. Sabtu yang Terlalu Panjang
45 45. Sabtu yang Terlambat
46 46. Aku Tidak Akan Memaksamu
47 47. Yang Sah, Tapi Tak Mudah
48 48. Menunggu Tanpa Menuntut
49 49. Wilayah yang Tidak Ia Kuasai
50 50. Yang Tidak Diucapkan
51 51. Tawa yang Tidak Pernah Kupunya
52 52. Kesempatan Terakhir Bernama Jujur
53 53. Salah Waktu
54 54. Yang Dilihat Anak Kecil
55 55. Pria yang Berhenti Menunggu
56 56. Ketika Diam Menjadi Luka
57 57. Tak Ada Janji, Hanya Takut
58 58. Ia Tidak Pernah Pergi
59 59. Hari Ini, Kami Bertahan
60 60. Kebahagiaan yang Dilihat dari Jauh
61 61. Di Ambang
62 62. Garis Tembak
63 63. Garis yang Dipilih
64 64. Ranjang yang Menunggu Waktu
65 65. Satu Langkah Terlambat
66 66. Terlambat Lima Menit
67 67. Bukan Lagi Bidak
68 68. Bukan Lagi Wilayah Mereka
69 69. Posisi yang Tidak Tergantikan
70 70. Bukan Sekadar Panggilan
71 71. Yang Tidak Lagi Setengah
72 72. Tanpa Darah Tambahan
73 73. Cek Ekor
74 74. Jarak Aman
75 75. Di Antara Rumah dan Kuburan
76 76. Tidak Lagi Senyap
77 77. Tameng Hidup
78 78. Satu Detik
79 79. Jalur Tanpa Pulang
80 80. Harga yang Tak Pernah Ditagih
81 81. Izin untuk Pulang
82 82. Jeda Sebelum Harga
83 83. Ruang yang Tidak Disediakan
84 84. Kepercayaan
85 85. Dicatat
86 86. Ritme yang Melambat
87 87. Harga Menjadi Pantas
88 88. Cinta yang Belum Diakui Negara
89 89. Di Antara Sidang dan Nyawa
90 90. Antara Waktu
91 91. Kesaksian dari Jarak Jauh
92 92. Lengkap
93 93. Yang Datang Tanpa Janji
94 94. Yang Tidak Diwariskan
95 95. Garis Depan dan Garis Belakang
96 96. Hak yang Tak Pernah Diminta
97 97. Hampir Berhasil
98 98. Hampir
99 99. Tim yang Tidak Dicatat
100 100. Bertahan Hidup Dulu
101 101. Wa'alaikumsalam Mantan Imam
102 102. Zona Mati
103 103. Yang Tidak Terlihat
104 104. Menjadi Bayangan
105 105. Yang Menang Memilih Lenyap
106 106. Pulang Tanpa Izin
107 107. Solusi yang Tidak Boleh Diakui
108 108. Sumpah yang Tidak Pernah Dicatat
109 109. Masuk Tanpa Permisi
110 110. Warisan Tanpa Nama
111 111. Pencegahan
112 112. Arsip yang Bergerak
113 113. Batas yang Tidak Boleh Disentuh
114 114. Benteng Negara, Rumah Keluarga
115 115. Keluarga yang Utuh
116 116. Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. Harga Sebuah Kebohongan
2
2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
3
3. Jalan yang Dipilih
4
4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan
5
5. Ketika Menjadi Layak Lebih Penting dari Bahagia
6
6. Rumah yang Tidak Pernah Adil
7
7. Di Ambang Luka
8
8. Belajar Bertahan
9
9. Antara Marah dan Bertahan
10
10. Versi yang Bertahan
11
11. Lelaki yang Tidak Kabur
12
12. Slow-Cooked Love
13
13. Yang Bertahan dalam Sunyi
14
14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir
15
15. Pengikat Takdir
16
16. Dua Dunia, Satu Alasan Bertahan
17
17. Dua Cincin, Satu Kehilangan
18
18. Yang Dilindungi Kekuasaan
19
19. Prosedur Tidak Ikut Berdarah
20
20. Mereka Pulang Hidup
21
21. Alasan untuk Pulang
22
22. Alasan untuk Bertahan
23
23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani
24
24. Sebelum Pulang
25
25. Tetap Manusia
26
26. Ruang yang Menunggu
27
27. Ruang yang Tidak Diminta
28
28. Takdir Menahan Napas
29
29. Wajah di Cermin Lama
30
30. Cermin Bernama Anak
31
31. Wajah yang Kembali
32
32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
33
33. Di Ambang Pintu Itu
34
34. Ayah yang Akhirnya Pulang
35
35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
36
36. Tanpa Peluru, Aku Kalah
37
37. Bukan Kamar Tamu
38
38. Pulang Bukan Sekadar Datang
39
39. Awal yang Belum Bernama
40
40. Meja Makan yang Terlalu Jujur
41
41. Janji Hari Minggu
42
42. Kursi Kosong di Meja Makan
43
43. Belajar Merindu
44
44. Sabtu yang Terlalu Panjang
45
45. Sabtu yang Terlambat
46
46. Aku Tidak Akan Memaksamu
47
47. Yang Sah, Tapi Tak Mudah
48
48. Menunggu Tanpa Menuntut
49
49. Wilayah yang Tidak Ia Kuasai
50
50. Yang Tidak Diucapkan
51
51. Tawa yang Tidak Pernah Kupunya
52
52. Kesempatan Terakhir Bernama Jujur
53
53. Salah Waktu
54
54. Yang Dilihat Anak Kecil
55
55. Pria yang Berhenti Menunggu
56
56. Ketika Diam Menjadi Luka
57
57. Tak Ada Janji, Hanya Takut
58
58. Ia Tidak Pernah Pergi
59
59. Hari Ini, Kami Bertahan
60
60. Kebahagiaan yang Dilihat dari Jauh
61
61. Di Ambang
62
62. Garis Tembak
63
63. Garis yang Dipilih
64
64. Ranjang yang Menunggu Waktu
65
65. Satu Langkah Terlambat
66
66. Terlambat Lima Menit
67
67. Bukan Lagi Bidak
68
68. Bukan Lagi Wilayah Mereka
69
69. Posisi yang Tidak Tergantikan
70
70. Bukan Sekadar Panggilan
71
71. Yang Tidak Lagi Setengah
72
72. Tanpa Darah Tambahan
73
73. Cek Ekor
74
74. Jarak Aman
75
75. Di Antara Rumah dan Kuburan
76
76. Tidak Lagi Senyap
77
77. Tameng Hidup
78
78. Satu Detik
79
79. Jalur Tanpa Pulang
80
80. Harga yang Tak Pernah Ditagih
81
81. Izin untuk Pulang
82
82. Jeda Sebelum Harga
83
83. Ruang yang Tidak Disediakan
84
84. Kepercayaan
85
85. Dicatat
86
86. Ritme yang Melambat
87
87. Harga Menjadi Pantas
88
88. Cinta yang Belum Diakui Negara
89
89. Di Antara Sidang dan Nyawa
90
90. Antara Waktu
91
91. Kesaksian dari Jarak Jauh
92
92. Lengkap
93
93. Yang Datang Tanpa Janji
94
94. Yang Tidak Diwariskan
95
95. Garis Depan dan Garis Belakang
96
96. Hak yang Tak Pernah Diminta
97
97. Hampir Berhasil
98
98. Hampir
99
99. Tim yang Tidak Dicatat
100
100. Bertahan Hidup Dulu
101
101. Wa'alaikumsalam Mantan Imam
102
102. Zona Mati
103
103. Yang Tidak Terlihat
104
104. Menjadi Bayangan
105
105. Yang Menang Memilih Lenyap
106
106. Pulang Tanpa Izin
107
107. Solusi yang Tidak Boleh Diakui
108
108. Sumpah yang Tidak Pernah Dicatat
109
109. Masuk Tanpa Permisi
110
110. Warisan Tanpa Nama
111
111. Pencegahan
112
112. Arsip yang Bergerak
113
113. Batas yang Tidak Boleh Disentuh
114
114. Benteng Negara, Rumah Keluarga
115
115. Keluarga yang Utuh
116
116. Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!