4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan

Pertanyaan itu menggantung lama di udara.

Raska menatap lurus ke depan. “Aku mau.”

Itu saja.

Tak ada cerita soal trauma. Tak ada nama Elvara. Tak ada alasan patriotik. Tak ada luka yang dibuka.

Hanya keputusan.

Nata tersenyum kecil. Pahit. “Kamu selalu begitu,” katanya pelan. “Nggak pernah mau cerita.”

Raska tetap diam.

“Ras, militer itu keras,” lanjut Nata. “Bukan tempat lari.”

“Aku nggak lari.”

Nata menatapnya lama. Terlalu lama.

“Kamu mirip mamamu,” katanya akhirnya. “Kalau sudah memutuskan, nggak ada yang bisa menghentikan.”

Nama itu membuat dada Raska mengencang. Mendiang ibunya yang meninggal tak lama setelah pertengkaran hebat itu.

Sunyi kembali turun.

Nata mengambil pulpen. Jemarinya berhenti sejenak di atas kertas.

“Kamu benci Papa,” katanya lirih. Bukan tuduhan. Lebih seperti pengakuan.

Raska menegang. “Aku cuma nggak lupa.”

Pulpen itu akhirnya menyentuh kertas. Tanda tangan tergores tegas.

Nata menutup map, lalu mendorongnya ke arah Raska. “Papa nggak setuju,” katanya jujur. “Tapi Papa juga nggak punya hak menghalangi.”

Raska mengambil map itu. “Terima kasih,” ucapnya datar. Ia berbalik menuju kamarnya.

“Raska.”

Langkahnya berhenti.

Nata berdiri. Suaranya lebih rendah. “Kalau suatu hari kamu jatuh… kamu tetap anak Papa.”

Raska tidak menoleh. “Kalau aku jatuh,” jawabnya pelan, “aku bangun sendiri. Dan itu nggak akan terjadi.”

Pintu kamar tertutup.

Nata duduk sendirian di ruang tamu kecil itu, menatap kota yang tak pernah tidur.

Untuk pertama kalinya, ia sadar, bukan hanya kehilangan istrinya, tapi juga anak laki-laki yang tak pernah benar-benar memaafkan.

Nata menyandarkan tubuh di sofa. Matanya terpejam. Namun ketenangan itu hanya ilusi.

Ingatan tujuh tahun lalu datang tanpa izin.

“Aku mencintaimu.”

Suara Nata terdengar tegas, tapi berat. Seolah setiap kata ditarik dari dada yang sudah lama lelah.

“Dan aku tidak pernah mencintai Lisa. Tidak pernah.”

Ibu Raska tertawa pendek. Bukan geli, melainkan pahit.

“Tapi itu tidak berarti,” lanjut Nata, “kalau kamu menyakiti Lisa dan Roy, aku akan diam saja.”

“MENYAKITI?” suara wanita itu meninggi. “Aku yang terluka, Nata!”

Ia melangkah maju. Matanya merah, dadanya naik turun.

“Aku menerima wanita itu. Aku menerima anak hasil jebakannya. Dengan hati hancur, aku terima. Tapi apa balasanmu?”

Ia menunjuk dada Nata.

“Kamu terus menuduh aku. Seolah aku monster yang ingin menghancurkan hidup mereka!”

“Semua bukti bicara, Ma,” jawab Nata, suaranya mulai goyah. “Kamu memang berusaha menyakiti mereka. Bahkan—”

Ia membuang napas kasar. “Bahkan pernah berniat melenyapkan mereka.”

“CUKUP!”

Teriakan itu mengguncang ruangan.

Ibu Raska menatapnya dengan mata basah dan tajam sekaligus.

“Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi,” katanya bergetar. “Rumah tangga dibangun dari kepercayaan. Kalau itu sudah mati, untuk apa dipertahankan?”

Ia menarik napas panjang.

“Kita cerai.”

Di balik dinding, seorang bocah kecil berdiri terpaku.

Raska, sepuluh tahun, menggenggam ujung kausnya. Matanya membesar. Napasnya tercekat.

“Jangan asal bicara,” sahut Nata keras. “Aku tidak akan menceraikanmu.”

Ibu Raska tersenyum miring. Hampa. “Kau tidak percaya padaku,” katanya pelan, menusuk. “Tapi juga tidak ingin melepaskanku.”

Ia mendekat. Suaranya bergetar karena luka yang sudah terlalu lama ditahan. “Apa kau ingin membunuhku perlahan-lahan, Nata?”

Nata menatapnya lurus. Rahangnya mengeras. “Aku mencintaimu.”

“Omong kosong.”

Kalimat itu memotong tanpa ampun.

“Kalau kau mencintaiku,” lanjutnya, air mata jatuh tanpa suara, “kau tak akan pernah meragukanku.”

Ia membalikkan badan. “Aku akan menggugat cerai.”

“Kita tidak akan berpisah,” balas Nata. “Kecuali maut yang menjemput.”

Ingatan itu pecah. Digantikan oleh gambar lain.

Lebih sunyi. Lebih dingin. Lebih mematikan.

Langkah tergesa terdengar.

“Raska! Apa yang terjadi?!”

Nata berlutut, lalu membeku.

Tubuh itu terbaring kaku di lantai. Wajah pucat. Dingin. Tak bernapas. Obat tidur berserakan di sekitarnya.

Dunia seolah runtuh tanpa suara.

“Ma…” panggilnya nyaris tak terdengar.

Tangannya terangkat, gemetar, hendak menyentuh, lalu ragu. Seolah takut menerima kenyataan.

“Nggak… ini nggak mungkin…” gumamnya lirih.

Di samping tubuh itu, Raska kecil mengguncang bahu ibunya dengan panik.

“Mama bangun, Ma… Mama…”

Tangis bocah itu menusuk kesadaran Nata. Ia menoleh. Dan di detik itu, tatapan Raska menghantamnya lebih keras dari tamparan apa pun.

“Aku benci Papa!”

Kalimat itu pecah di udara yang dingin.

“Mama nggak akan mati kalau Papa percaya Mama!” teriaknya histeris.

“Ini semua karena Papa! Karena Papa lebih percaya wanita jahat itu!”

Kepalan kecil itu menghantam dada Nata berkali-kali. Nata tersentak, seperti baru kembali ke tubuhnya sendiri. Refleks ia mengangkat tangan, hendak memeluk. Namun Raska mundur.

“Jangan sentuh aku!”

Tangisnya berubah amarah.

“Aku benci Papa!”

Ingatan terakhir menyusul.

Seorang bocah duduk di sudut kamar. Memeluk lutut. Menenggelamkan wajah di pahanya. Bahu kecil itu bergetar. Isaknya lirih, tapi menyayat.

Nata membuka mata.

Ruang tamu kembali sunyi. Dadanya terasa sesak, seperti tujuh tahun lalu.

Kini ia mengerti.

Trauma Raska bukan hanya karena kehilangan ibunya. Melainkan karena seorang anak yang melihat cinta berubah menjadi kecurigaan, dan kematian yang ia yakini… bisa dicegah.

Dan penyesalan itu, tak pernah benar-benar pergi.

***

Sore itu, ruang praktik Dokter Wira kembali sunyi.

Kali ini tak ada Raska di kursi pasien.

Yang duduk di sana adalah Wijanata, pria dewasa dengan bahu tegap, namun sorot matanya kelelahan. Tangannya saling bertaut di pangkuan, seperti menahan sesuatu agar tak runtuh.

Dokter Wira menutup map cokelat di tangannya.

“Raska ingin jadi tentara,” ujar Nata akhirnya. Bukan bertanya, lebih seperti memastikan kalimat itu benar-benar nyata.

Dokter Wira mengangguk kecil. “Saya sudah tahu.”

Nata menoleh. “Dia cerita ke Dokter?”

“Tidak secara langsung,” jawab Dokter Wira tenang. “Tapi keputusannya sudah lama terbaca.”

Nata menghela napas pendek. “Alasannya?” Kali ini ia menatap lurus. “Jangan jawab normatif.”

Dokter Wira menarik napas pelan. “Trauma hanyalah satu lapisan,” katanya jujur. “Bukan satu-satunya.”

Nata terdiam.

“Trauma Raska memang kambuh saat melihat orang terlentang, pucat, dingin,” lanjutnya. “Tidak selalu ibunya. Tapi paling keras ketika yang terbaring memiliki ikatan emosional.”

“Itu sebabnya saya ragu,” potong Nata. “Militer penuh kematian.”

“Dan justru itu,” jawab Dokter Wira tanpa meninggikan suara, “yang membuat Raska memilihnya.”

Nata mengernyit.

“Di medan tugas,” lanjut dokter Wira, “ia bukan saksi. Ia pelaku yang memiliki kendali. Bukan anak sepuluh tahun yang berdiri di balik dinding. Tak berdaya.”

Kalimat itu menghantam pelan, tapi tepat.

Nata menelan ludah. “Lalu… selain trauma?”

Dokter Wira menatapnya lebih lama dari sebelumnya, seolah menimbang batas yang tak boleh ia lewati.

“Raska kehilangan lebih dari satu hal,” katanya akhirnya, hati-hati. “Ia kehilangan ibunya. Setelah itu, ia kembali mengalami kehilangan dalam relasi personal.”

Dahi Nata berkerut. “Relasi personal?”

Dokter Wira mengangguk. “Ia pernah membangun rumah tangga. Singkat. Dan berakhir tanpa penyelesaian.”

“Apa?!”

Nata refleks setengah berdiri. “Maksud dokter, dia sudah menikah?”

“Tenang,” ujar Dokter Wira cepat, suaranya tetap terkendali. “Saya tidak membicarakan detail. Hanya konteks yang relevan.”

Nata duduk kembali, napasnya berat. “Wanita itu,” katanya pelan, “yang sebelumnya membuat emosi Raska tidak stabil?”

Dokter Wira mengangguk. “Benar. Ia sangat terikat secara emosional.”

“Namanya?” tanya Nata nyaris berbisik.

Dokter Wira menghela napas pelan.

“Nama itu,” katanya,

...🔸🔸🔸...

...“Beberapa luka tidak meminta disembuhkan....

...Mereka hanya ingin diakui pernah ditorehkan.”...

...“Ia tidak tumbuh dari trauma....

...Ia tumbuh menghindarinya, dengan cara yang paling berbahaya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Pak Nata tentu kaget setelah membaca berkas yang membutuhkan tanda tangannya - putranya mau jadi tentara.

Pak Nata tidak setuju putranya jadi tentara, tapi tetap menandatangani berkas yang di berikan Raska - karena merasa nggak punya hak untuk menghalangi.

Kebencian Raska terhadap papanya sudah merasuk ke tulang sumsum - komunikasi hanya seperlunya - bahkan hampir tidak pernah.

Nata mendatangi tempat praktik dokter Wira. Jadi tahu kalau Raska sudah menikah.

2025-12-22

1

Marsiyah Minardi

Marsiyah Minardi

Aku pernah "terluka " oleh orang terdekat
Aku tak ke psikolog /psikiater
Aku cuma bilang ke diri sendiri " wahai diri maafkan aku melukaimu .wahai luka ,ku terima dirimu ,ku terima rasa sakitnya ,tapi kita berdamai ya .aku ingin terus lanjut hidup merajut mimpi yang belum ku raih ,"

2025-12-21

2

abimasta

abimasta

maaf thor bacanya seperti numpuk bab,baru sempat baca

2025-12-22

2

lihat semua
Episodes
1 1. Harga Sebuah Kebohongan
2 2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
3 3. Jalan yang Dipilih
4 4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan
5 5. Ketika Menjadi Layak Lebih Penting dari Bahagia
6 6. Rumah yang Tidak Pernah Adil
7 7. Di Ambang Luka
8 8. Belajar Bertahan
9 9. Antara Marah dan Bertahan
10 10. Versi yang Bertahan
11 11. Lelaki yang Tidak Kabur
12 12. Slow-Cooked Love
13 13. Yang Bertahan dalam Sunyi
14 14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir
15 15. Pengikat Takdir
16 16. Dua Dunia, Satu Alasan Bertahan
17 17. Dua Cincin, Satu Kehilangan
18 18. Yang Dilindungi Kekuasaan
19 19. Prosedur Tidak Ikut Berdarah
20 20. Mereka Pulang Hidup
21 21. Alasan untuk Pulang
22 22. Alasan untuk Bertahan
23 23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani
24 24. Sebelum Pulang
25 25. Tetap Manusia
26 26. Ruang yang Menunggu
27 27. Ruang yang Tidak Diminta
28 28. Takdir Menahan Napas
29 29. Wajah di Cermin Lama
30 30. Cermin Bernama Anak
31 31. Wajah yang Kembali
32 32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
33 33. Di Ambang Pintu Itu
34 34. Ayah yang Akhirnya Pulang
35 35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
36 36. Tanpa Peluru, Aku Kalah
37 37. Bukan Kamar Tamu
38 38. Pulang Bukan Sekadar Datang
39 39. Awal yang Belum Bernama
40 40. Meja Makan yang Terlalu Jujur
41 41. Janji Hari Minggu
42 42. Kursi Kosong di Meja Makan
43 43. Belajar Merindu
44 44. Sabtu yang Terlalu Panjang
45 45. Sabtu yang Terlambat
46 46. Aku Tidak Akan Memaksamu
47 47. Yang Sah, Tapi Tak Mudah
48 48. Menunggu Tanpa Menuntut
49 49. Wilayah yang Tidak Ia Kuasai
50 50. Yang Tidak Diucapkan
51 51. Tawa yang Tidak Pernah Kupunya
52 52. Kesempatan Terakhir Bernama Jujur
53 53. Salah Waktu
54 54. Yang Dilihat Anak Kecil
55 55. Pria yang Berhenti Menunggu
56 56. Ketika Diam Menjadi Luka
57 57. Tak Ada Janji, Hanya Takut
58 58. Ia Tidak Pernah Pergi
59 59. Hari Ini, Kami Bertahan
60 60. Kebahagiaan yang Dilihat dari Jauh
61 61. Di Ambang
62 62. Garis Tembak
63 63. Garis yang Dipilih
64 64. Ranjang yang Menunggu Waktu
65 65. Satu Langkah Terlambat
66 66. Terlambat Lima Menit
67 67. Bukan Lagi Bidak
68 68. Bukan Lagi Wilayah Mereka
69 69. Posisi yang Tidak Tergantikan
70 70. Bukan Sekadar Panggilan
71 71. Yang Tidak Lagi Setengah
72 72. Tanpa Darah Tambahan
73 73. Cek Ekor
74 74. Jarak Aman
75 75. Di Antara Rumah dan Kuburan
76 76. Tidak Lagi Senyap
77 77. Tameng Hidup
78 78. Satu Detik
79 79. Jalur Tanpa Pulang
80 80. Harga yang Tak Pernah Ditagih
81 81. Izin untuk Pulang
82 82. Jeda Sebelum Harga
83 83. Ruang yang Tidak Disediakan
84 84. Kepercayaan
85 85. Dicatat
86 86. Ritme yang Melambat
87 87. Harga Menjadi Pantas
88 88. Cinta yang Belum Diakui Negara
89 89. Di Antara Sidang dan Nyawa
90 90. Antara Waktu
91 91. Kesaksian dari Jarak Jauh
92 92. Lengkap
93 93. Yang Datang Tanpa Janji
94 94. Yang Tidak Diwariskan
95 95. Garis Depan dan Garis Belakang
96 96. Hak yang Tak Pernah Diminta
97 97. Hampir Berhasil
98 98. Hampir
99 99. Tim yang Tidak Dicatat
100 100. Bertahan Hidup Dulu
101 101. Wa'alaikumsalam Mantan Imam
102 102. Zona Mati
103 103. Yang Tidak Terlihat
104 104. Menjadi Bayangan
105 105. Yang Menang Memilih Lenyap
106 106. Pulang Tanpa Izin
107 107. Solusi yang Tidak Boleh Diakui
108 108. Sumpah yang Tidak Pernah Dicatat
109 109. Masuk Tanpa Permisi
110 110. Warisan Tanpa Nama
111 111. Pencegahan
112 112. Arsip yang Bergerak
113 113. Batas yang Tidak Boleh Disentuh
114 114. Benteng Negara, Rumah Keluarga
115 115. Keluarga yang Utuh
116 116. Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan
Episodes

Updated 116 Episodes

1
1. Harga Sebuah Kebohongan
2
2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
3
3. Jalan yang Dipilih
4
4. Yang Tidak Pernah Dimaafkan
5
5. Ketika Menjadi Layak Lebih Penting dari Bahagia
6
6. Rumah yang Tidak Pernah Adil
7
7. Di Ambang Luka
8
8. Belajar Bertahan
9
9. Antara Marah dan Bertahan
10
10. Versi yang Bertahan
11
11. Lelaki yang Tidak Kabur
12
12. Slow-Cooked Love
13
13. Yang Bertahan dalam Sunyi
14
14. Di Bawah Dua Langit, Satu Takdir
15
15. Pengikat Takdir
16
16. Dua Dunia, Satu Alasan Bertahan
17
17. Dua Cincin, Satu Kehilangan
18
18. Yang Dilindungi Kekuasaan
19
19. Prosedur Tidak Ikut Berdarah
20
20. Mereka Pulang Hidup
21
21. Alasan untuk Pulang
22
22. Alasan untuk Bertahan
23
23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani
24
24. Sebelum Pulang
25
25. Tetap Manusia
26
26. Ruang yang Menunggu
27
27. Ruang yang Tidak Diminta
28
28. Takdir Menahan Napas
29
29. Wajah di Cermin Lama
30
30. Cermin Bernama Anak
31
31. Wajah yang Kembali
32
32. Ketika Masa Lalu Mulai Mendekat
33
33. Di Ambang Pintu Itu
34
34. Ayah yang Akhirnya Pulang
35
35. Wilayah yang Tak Pernah Ia Pelajari
36
36. Tanpa Peluru, Aku Kalah
37
37. Bukan Kamar Tamu
38
38. Pulang Bukan Sekadar Datang
39
39. Awal yang Belum Bernama
40
40. Meja Makan yang Terlalu Jujur
41
41. Janji Hari Minggu
42
42. Kursi Kosong di Meja Makan
43
43. Belajar Merindu
44
44. Sabtu yang Terlalu Panjang
45
45. Sabtu yang Terlambat
46
46. Aku Tidak Akan Memaksamu
47
47. Yang Sah, Tapi Tak Mudah
48
48. Menunggu Tanpa Menuntut
49
49. Wilayah yang Tidak Ia Kuasai
50
50. Yang Tidak Diucapkan
51
51. Tawa yang Tidak Pernah Kupunya
52
52. Kesempatan Terakhir Bernama Jujur
53
53. Salah Waktu
54
54. Yang Dilihat Anak Kecil
55
55. Pria yang Berhenti Menunggu
56
56. Ketika Diam Menjadi Luka
57
57. Tak Ada Janji, Hanya Takut
58
58. Ia Tidak Pernah Pergi
59
59. Hari Ini, Kami Bertahan
60
60. Kebahagiaan yang Dilihat dari Jauh
61
61. Di Ambang
62
62. Garis Tembak
63
63. Garis yang Dipilih
64
64. Ranjang yang Menunggu Waktu
65
65. Satu Langkah Terlambat
66
66. Terlambat Lima Menit
67
67. Bukan Lagi Bidak
68
68. Bukan Lagi Wilayah Mereka
69
69. Posisi yang Tidak Tergantikan
70
70. Bukan Sekadar Panggilan
71
71. Yang Tidak Lagi Setengah
72
72. Tanpa Darah Tambahan
73
73. Cek Ekor
74
74. Jarak Aman
75
75. Di Antara Rumah dan Kuburan
76
76. Tidak Lagi Senyap
77
77. Tameng Hidup
78
78. Satu Detik
79
79. Jalur Tanpa Pulang
80
80. Harga yang Tak Pernah Ditagih
81
81. Izin untuk Pulang
82
82. Jeda Sebelum Harga
83
83. Ruang yang Tidak Disediakan
84
84. Kepercayaan
85
85. Dicatat
86
86. Ritme yang Melambat
87
87. Harga Menjadi Pantas
88
88. Cinta yang Belum Diakui Negara
89
89. Di Antara Sidang dan Nyawa
90
90. Antara Waktu
91
91. Kesaksian dari Jarak Jauh
92
92. Lengkap
93
93. Yang Datang Tanpa Janji
94
94. Yang Tidak Diwariskan
95
95. Garis Depan dan Garis Belakang
96
96. Hak yang Tak Pernah Diminta
97
97. Hampir Berhasil
98
98. Hampir
99
99. Tim yang Tidak Dicatat
100
100. Bertahan Hidup Dulu
101
101. Wa'alaikumsalam Mantan Imam
102
102. Zona Mati
103
103. Yang Tidak Terlihat
104
104. Menjadi Bayangan
105
105. Yang Menang Memilih Lenyap
106
106. Pulang Tanpa Izin
107
107. Solusi yang Tidak Boleh Diakui
108
108. Sumpah yang Tidak Pernah Dicatat
109
109. Masuk Tanpa Permisi
110
110. Warisan Tanpa Nama
111
111. Pencegahan
112
112. Arsip yang Bergerak
113
113. Batas yang Tidak Boleh Disentuh
114
114. Benteng Negara, Rumah Keluarga
115
115. Keluarga yang Utuh
116
116. Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!