​Bab 5: Undangan

​"Bisa lebih tinggi lagi nggak harganya? Ini jam tangan asli, Ko. Masih mulus, cuma butuh ganti baterai saja."

​Maya menyodorkan jam tangan perak tua itu ke atas meja kayu yang penuh noda kopi. Di depannya, Koh Acong, rentenir pasar yang terkenal paling galak se-kecamatan, cuma melirik sebelah mata sambil asyik mengorek kuping pakai korek api kayu.

​"Tiga ratus ribu. Nggak bisa lebih. Jam model begini sudah ketinggalan zaman, May. Siapa yang mau beli kalau kamu nggak tebus?" suara Koh Acong parau, bikin telinga sakit.

​"Ko, tiga ratus ribu mana cukup buat beli ayam lima puluh porsi sama daging sapi? Belum lagi kotak kateringnya. Ini jam tangan almarhum Bapak, Ko. Nilai sejarahnya tinggi," Maya mencoba bernegosiasi, suaranya agak gemetar.

​Koh Acong akhirnya menaruh korek apinya dan menatap Maya tajam. "Kamu pikir saya museum? Sejarah nggak bisa dimakan, May. Tiga ratus ribu ambil, atau bawa pulang lagi itu jam rongsok."

​Maya memejamkan mata sesaat. Jantungnya terasa nyeri. Jam itu adalah satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan almarhum ayahnya. Setiap kali dia merasa lelah di Jakarta, dia selalu memandangi jam itu untuk mencari kekuatan. Sekarang, benda itu harus berpindah tangan demi modal belanja.

​"Oke, tiga ratus ribu. Tapi Ko, tolong simpan baik-baik. Jangan sampai lecet. Saya pasti tebus lusa," kata Maya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.

​"Lusa ya lusa. Lewat sehari, saya jual ke pasar loak. Nih, ambil duitnya," Koh Acong menghitung lembaran uang lusuh dan melemparnya ke meja.

​Maya menyambar uang itu, memasukkannya ke saku celana dengan perasaan hampa. Dia tidak punya waktu untuk bersedih.

 Langit di luar pasar Dharma Raya mulai gelap, dan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Bau tanah basah dan aroma khas pasar tradisional yang campur aduk langsung menyambutnya.

​"Ayam potong! Ayam segar! Ayo Bu, dipilih!" teriakan para pedagang bersahutan dengan bunyi air hujan yang menghantam atap seng.

​Maya menerobos kerumunan, menenteng kantong plastik besar berisi ayam dan sayuran. Bajunya sudah mulai lembab kena tempias hujan. Saat dia sedang sibuk menawar cabai di salah satu kios, seseorang menepuk pundaknya keras-keras.

​"Lho, Maya? Maya kan?"

​Maya menoleh. Seorang perempuan dengan daster batik dan payung besar berdiri di belakangnya. Itu Lusi, teman SMA-nya dulu yang sekarang punya toko kelontong di pasar.

​"Eh, Lusi. Apa kabar?" Maya mencoba tersenyum ramah.

​"Kabar baik sih, tapi denger kabar kamu kok kurang enak ya? Katanya kamu dipecat dari Jakarta gara-gara kasus uang ya? Terus kok pulangnya sendirian? Adit mana? Katanya mau nikah bulan depan?" Lusi memberondong dengan pertanyaan yang langsung menghujam jantung Maya.

​Maya terdiam sebentar, menelan ludah yang terasa pahit. "Aku sudah putus sama Adit, Lus."

​Mata Lusi membelalak. "Putus? Waduh, May, kamu nggak tahu ya? Berita di grup alumni sudah rame lho. Si Adit itu mau nikah sama Siska, katanya pesta besar-besaran di Hotel Cipta Pesona. Siska itu katanya juga temen kantor kamu juga kan? Duh, tega bener ya."

​"Aku tahu mereka mau nikah, Lus. Sudah ya, aku lagi buru-buru," Maya mencoba menghindar, tapi Lusi menahan lengannya.

​"Eh tunggu! Ada satu lagi. Katanya rumah ibumu mau disita ya? Aduh May, kok nasibmu apes banget sih? Padahal dulu kamu paling pinter di kelas. Kenapa jadi begini? Mending kamu cari kerjaan lain deh, jangan di warung terus. Tante Rosa aja tadi pagi belanja di tempatku, katanya kamu sekarang cuma jadi beban ibumu."

​Maya menarik tangannya dengan tegas. "Terima kasih infonya, Lus. Tapi aku nggak serendah itu sampai jadi beban. Permisi."

​Maya berjalan cepat menembus hujan yang semakin deras. Kata-kata Lusi terngiang di telinganya. 

Jadi beban? Dipecat karena kasus uang? 

Siska, wanita ular itu, benar-benar menghancurkan reputasinya bahkan sampai ke kampung halaman. Air hujan bercampur dengan air mata di pipinya, tapi dia segera mengusapnya dengan kasar.

​"Jangan nangis, Maya. Jangan sekarang," bisiknya pada diri sendiri.

​Sampai di depan rumah, Maya melihat sebuah motor matik merah parkir di teras. Seorang kurir berjaket kuning sedang berdiri menunggu sambil memegang sebuah amplop besar berplastik bening.

​"Atas nama Mbak Maya? Ini ada titipan paket kilat, Mbak," kata kurir itu.

​"Dari siapa Mas?" Maya menerima amplop itu. Tangannya yang basah membuat plastik pelindungnya berembun.

​"Kurang tahu Mbak, tertulisnya dari 'Sahabat Lama'. Saya permisi ya, hujan makin gede," kurir itu langsung memacu motornya pergi.

​Maya masuk ke dalam rumah. Ibunya sedang duduk di sofa ruang tamu yang busuk, tampak cemas. "Apa itu, May? Modal belanjanya cukup?"

​"Cukup, Bu. Tadi ada rezeki sedikit," Maya menyembunyikan rasa pedih soal jam tangan ayahnya. Dia menaruh kantong belanjaan di dapur, lalu kembali ke ruang tamu untuk membuka amplop tadi.

​Begitu amplop itu dibuka, sebuah undangan mewah berwarna emas mengkilap terjatuh ke atas meja. Bahannya tebal, berbau parfum mahal, dan ada cetakan timbul nama pengantinnya: ADIT & SISKA.

​Tangan Maya gemetar. Dia membuka lipatan undangan itu. Di dalamnya ada foto pre-wedding mereka yang diambil di luar negeri. Adit tampak gagah dengan setelan jas, dan Siska tersenyum penuh kemenangan dengan gaun putih yang harganya mungkin setara dengan utang warung ibunya.

​"Ini undangan nikahan Adit ya, Nak?" Ibu mendekat, suaranya pelan dan penuh simpati. "Kenapa mereka jahat sekali kirim begini ke sini?"

​Maya tidak menjawab. Dia melihat selembar kertas kecil yang terselip di dalam undangan tersebut. Ada tulisan tangan yang sangat dia kenali. Tulisan Siska yang rapi namun tajam.

​“Hai Maya sayang. Gimana kabar di kampung? Pasti lagi pusing ya bayar utang bank? Aku denger warung ibumu sepi banget. Kasihan deh. Eh, daripada kamu nganggur dan makin stres, mending kamu datang ke pesta pernikahan kami. Aku butuh tambahan tenaga di bagian belakang. Kalau kamu mau, jadi tukang cuci piring saja di nikahanku nanti. Aku kasih upah dua kali lipat dari gaji buruh cuci di desa. Lumayan kan buat cicil utang rumah? Jangan ditolak ya, ini bentuk kepedulianku sebagai teman lama. See you!”

​"Kurang ajar!" Maya berteriak pelan, suaranya serak menahan amarah yang meledak di dadanya.

​"Ada apa, May? Siska tulis apa?" Ibu tampak khawatir.

​Maya meremas kertas itu sampai hancur dalam kepalannya. Air matanya benar-benar jatuh sekarang, bukan karena sedih kehilangan Adit, tapi karena harga dirinya diinjak-injak sampai ke titik terendah. 

Dia membayangkan jam tangan ayahnya yang sekarang ada di laci Koh Acong, sementara perempuan yang menghancurkan hidupnya malah menawarinya kerja sebagai tukang cuci piring.

​"Dia pikir aku ini apa?" Maya menatap undangan emas itu dengan benci. "Dia pikir dia bisa beli harga diriku dengan uangnya?"

​"Sudah, May. Jangan dilayani. Kita fokus katering besok saja ya," bujuk Ibu sambil mengusap punggung Maya.

​Maya menarik napas panjang, mencoba mengendalikan gemetar di tubuhnya. Dia menatap robekan-robekan kertas di tangannya, lalu menatap undangan mewah itu sekali lagi. Senyum Siska di foto itu seolah mengejeknya, menertawakan kemiskinannya.

​"Ibu benar," kata Maya, suaranya tiba-tiba menjadi sangat dingin dan tenang. "Maya nggak akan nangis lagi buat mereka. Maya akan dateng ke pernikahan itu, Bu. Tapi bukan buat jadi tukang cuci piring."

​Maya mengambil undangan mewah itu, lalu dengan satu gerakan cepat, dia merobeknya menjadi dua bagian, tepat di tengah-tengah foto wajah Adit dan Siska.

​"Maya akan dateng sebagai pemenang. Maya akan buktikan kalau katering 'produk gagal' ini jauh lebih mahal harganya daripada seluruh pesta sampah mereka!"

​Maya membuang potongan undangan itu ke lantai, lalu berjalan menuju dapur dengan langkah mantap. Dia mulai mengeluarkan pisau dagingnya. Suara dentuman pisau yang menghantam talenan kayu mulai terdengar, beradu dengan suara guntur di luar rumah.

​Namun, di tengah semangatnya, Maya melirik tumpukan bahan makanan di atas meja dapur. Dia sadar, modal dagsngnya itu benar-benar pas-pasan. Jika satu saja masakannya gagal atau gosong, habislah sudah. Dia benar-benar sedang bertaruh dengan satu-satunya kesempatan yang dia punya.

​"Aku nggak boleh gagal. Sedikit pun nggak boleh," gumamnya sambil menatap potongan daging ayam di depannya.

​Tiba-tiba, lampu di dapur berkedip-kedip lalu padam total. Suasana menjadi gelap. Hanya suara hujan yang semakin mengganas menghantam atap seng yang bocor di beberapa titik.

​"Maya! Lampunya mati! Kayaknya ada pohon tumbang kena kabel di depan!" teriak Ibu dari ruang tengah.

​Maya berdiri mematung di tengah kegelapan dapur, memegang pisau yang dingin. Pesanan harus diantar  jam dua belas siang, dan sekarang dia bahkan tidak bisa melihat apa yang sedang dia potong.

Terpopuler

Comments

Dewiendahsetiowati

Dewiendahsetiowati

kamu kuat Maya dan Adit akan menyesal membuang berlian kayak kamu

2026-01-05

0

awesome moment

awesome moment

tu kn...sengsara ditumpuk. bnr2 edisi sinet ikan terbang. pdhl udh bagus lho. judul lain punya kakak, g d modelan bgini. knp, kak?

2026-02-07

0

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1: Hadiah Ulang Tahun Paling Berdarah
2 ​Bab 2: Turun Kasta
3 ​Bab 3: Rahasia di Balik Sambal Ulek
4 ​Bab 4: Pelanggan Pertama dan Harapan Baru
5 ​Bab 5: Undangan
6 ​Bab 6: Perang di Dapur
7 ​Bab 7: Penyelamat yang Tak Terduga
8 ​Bab 8: Cek yang Mengubah Nasib
9 ​Bab 9: Mantan yang Tak Tahu Diri
10 ​Bab 10: Kontrak Kerja Sama yang Menggiurkan
11 ​Bab 11: Sabotase di Pasar Pagi
12 ​Bab 12: Resep Rahasia Sang Bapak
13 ​Bab 13: Fitnah yang Menghancurkan
14 ​Bab 14: Panggung Panas di Festival Kabupaten
15 ​Bab 15: Tamparan di Meja Juri
16 ​Bab 16: Pengakuan dan Penyesalan Adit
17 ​Bab 17: Tamu Tak Diundang di Warung
18 ​Bab 18: Strategi di Balik Dapur
19 ​Bab 19: H-1 Menuju "Pesta Balas Dendam"
20 ​Bab 20: Hari Pernikahan (The Big Event)
21 ​Bab 21: Kekacauan di Atas Pelaminan
22 ​Bab 22: Perubahan Tukang Gosip
23 Bab 23. Tembok Pelindung
24 ​Bab 24: Ekspansi Bisnis dan Tawaran Jakarta
25 ​Bab 25: Pilihan Hati dan Langkah Baru
26 Bab 26: Helm Proyek dan Mandor Bermulut Besar
27 Bab 27. Karyawan Baru Mbak Maya
28 ​Bab 28: Sambal Pedas untuk Tamu Tak Diundang
29 ​Bab 29: Telepon Satu Menit yang Mematikan
30 ​Bab 30: Dalang
31 Bab 31. Akuisisi
32 ​Bab 32: Pusat Pelatihan Rempah Jati
33 ​Bab 33: Operasi "Gerebek Jagal"
34 ​Bab 34: Bukti Digital Sang Predator
35 Bab 35: Peresmian Tahta Rempah Jati
36 ​Bab 36: Dapur Berisik, Tetangga Syirik
37 ​Bab 37: Demo Berujung Laper
38 Bab 38: Jurus Pengubah Dari Musuh Jadi Pelanggan Tetap
39 ​Bab 39: Perang Dingin di Dunia Maya
40 ​Bab 40: Skakmat Sang Ratu Fitnah
41 ​Bab 41: Orderan Dari Kursi Satu
42 ​Bab 42: Serbuk Putih di Rak Bumbu
43 Bab 43. Insting Koki Profesional
44 ​Bab 44: Skakmat Untuk Sang Ratu Selokan
45 Bab 45. Happy Ending
Episodes

Updated 45 Episodes

1
​Bab 1: Hadiah Ulang Tahun Paling Berdarah
2
​Bab 2: Turun Kasta
3
​Bab 3: Rahasia di Balik Sambal Ulek
4
​Bab 4: Pelanggan Pertama dan Harapan Baru
5
​Bab 5: Undangan
6
​Bab 6: Perang di Dapur
7
​Bab 7: Penyelamat yang Tak Terduga
8
​Bab 8: Cek yang Mengubah Nasib
9
​Bab 9: Mantan yang Tak Tahu Diri
10
​Bab 10: Kontrak Kerja Sama yang Menggiurkan
11
​Bab 11: Sabotase di Pasar Pagi
12
​Bab 12: Resep Rahasia Sang Bapak
13
​Bab 13: Fitnah yang Menghancurkan
14
​Bab 14: Panggung Panas di Festival Kabupaten
15
​Bab 15: Tamparan di Meja Juri
16
​Bab 16: Pengakuan dan Penyesalan Adit
17
​Bab 17: Tamu Tak Diundang di Warung
18
​Bab 18: Strategi di Balik Dapur
19
​Bab 19: H-1 Menuju "Pesta Balas Dendam"
20
​Bab 20: Hari Pernikahan (The Big Event)
21
​Bab 21: Kekacauan di Atas Pelaminan
22
​Bab 22: Perubahan Tukang Gosip
23
Bab 23. Tembok Pelindung
24
​Bab 24: Ekspansi Bisnis dan Tawaran Jakarta
25
​Bab 25: Pilihan Hati dan Langkah Baru
26
Bab 26: Helm Proyek dan Mandor Bermulut Besar
27
Bab 27. Karyawan Baru Mbak Maya
28
​Bab 28: Sambal Pedas untuk Tamu Tak Diundang
29
​Bab 29: Telepon Satu Menit yang Mematikan
30
​Bab 30: Dalang
31
Bab 31. Akuisisi
32
​Bab 32: Pusat Pelatihan Rempah Jati
33
​Bab 33: Operasi "Gerebek Jagal"
34
​Bab 34: Bukti Digital Sang Predator
35
Bab 35: Peresmian Tahta Rempah Jati
36
​Bab 36: Dapur Berisik, Tetangga Syirik
37
​Bab 37: Demo Berujung Laper
38
Bab 38: Jurus Pengubah Dari Musuh Jadi Pelanggan Tetap
39
​Bab 39: Perang Dingin di Dunia Maya
40
​Bab 40: Skakmat Sang Ratu Fitnah
41
​Bab 41: Orderan Dari Kursi Satu
42
​Bab 42: Serbuk Putih di Rak Bumbu
43
Bab 43. Insting Koki Profesional
44
​Bab 44: Skakmat Untuk Sang Ratu Selokan
45
Bab 45. Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!