Reruntuhan yang Bernapas

"Buktikan kata-katamu, Tuan Muda Ye."

Nona Peramal berbicara dengan nada yang tenang namun tajam, seolah sedang menantang takdir itu sendiri. Di sekelilingnya, para pengawal Aliansi Dagang masih mengarahkan senjata mereka ke arah Chen Kai, siap menyerang jika pemuda itu membuat satu gerakan mencurigakan.

Chen Kai tersenyum tipis. Ia melirik ke arah tandu tertutup di belakang pelayan tua bungkuk dari Ruang Nomor 1. Aura dingin yang memancar dari tandu itu semakin pekat, seolah monster di dalamnya sedang menahan napas, menunggu pertunjukan dimulai.

"Baik," kata Chen Kai. "Perhatikan baik-baik."

Ia berjalan mendekati Prasasti Penyeimbang Gravitasi. Namun, alih-alih menyentuh prasasti itu secara langsung, Chen Kai mengarahkan jarinya ke permukaan air danau yang tenang di sekitar prasasti.

"Kalian semua berpikir bahwa kunci untuk menstabilkan gravitasi ada pada batu ini," kata Chen Kai, suaranya bergema di lembah yang sunyi. "Tapi kalian lupa satu hal. Ini adalah Makam Transformasi Dewa. Di sini, yang terlihat padat bisa jadi cair, dan yang cair bisa jadi kunci."

Chen Kai menghentakkan kakinya.

DUM!

Gelombang gravitasi tak kasat mata menyebar dari kakinya, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menggetarkan.

Permukaan danau kristal itu bergetar hebat. Airnya tidak memercik, melainkan mulai terangkat ke udara, membentuk butiran-butiran air yang melayang melawan gravitasi. Jutaan butiran air itu perlahan menyatu di udara, membentuk sebuah pola rumit—sebuah peta bintang tiga dimensi.

"Peta Bintang Terbalik..." bisik Nona Peramal, 'mata'-nya yang tertutup melebar di balik kain sutra. "Jadi prasasti itu hanya umpan? Kuncinya ada pada refleksi air?"

"Tepat," jawab Chen Kai. "Prasasti itu hanyalah jangkar. Air ini... air ini adalah memori spasial dari pemilik makam. Ia merekam posisi bintang saat makam ini dibuat."

Chen Kai menggerakkan tangannya, memanipulasi butiran air itu dengan Fragmen Ruang dan Gravitasi-nya. Ia memutar susunan bintang itu hingga sejajar dengan posisi tiga matahari buatan di langit.

KLIK.

Suara mekanis yang sangat berat terdengar dari bawah danau.

Tanah bergemuruh. Air danau tiba-tiba surut dengan cepat, tersedot ke dalam lubang pusaran di dasar danau. Dari dalam lubang itu, sebuah tangga spiral raksasa yang terbuat dari Giok Bintang perlahan naik ke permukaan, menghubungkan tanah tempat mereka berpijak dengan jembatan cahaya yang mengarah langsung ke gerbang Istana Terbalik di langit.

"Jalan pintas..." Pelayan tua bungkuk itu bergumam, matanya yang keruh berkilat tamak. "Tuan Muda Ye memang luar biasa. Tuan kami sangat terkesan."

Dari dalam tandu, sebuah suara serak dan berat akhirnya terdengar.

"Kerja bagus, anak muda. Sekarang... minggir."

WUSH!

Sebuah tekanan spiritual yang mengerikan meledak dari dalam tandu. Itu bukan sekadar tekanan Inti Emas. Itu adalah tekanan yang membawa Domain—tanda dari seseorang yang telah menyentuh Ranah Jiwa Baru Lahir.

Kain penutup tandu itu robek. Sesosok pria tua kurus kering dengan kulit yang tampak seperti kulit pohon mati melayang keluar. Matanya tidak memiliki putih, hanya hitam pekat dengan titik merah di tengahnya. Di punggungnya, tumbuh tiga pasang sayap tulang yang patah.

"Tetua Iblis Sayap Patah?!" seru pengawal Nona Peramal dengan wajah pucat pasi. "Dia seharusnya sudah mati seratus tahun yang lalu!"

Tetua Iblis itu tertawa, suara tawanya seperti gesekan logam berkarat. "Mati? Aku hanya tidur, menunggu saat yang tepat untuk mengambil Jantung Makam ini."

Dia menatap Chen Kai dengan tatapan meremehkan. "Kau membuka pintunya, jadi aku akan membiarkanmu hidup... sebagai budakku. Ikutlah, dan bawa pelayan cantikmu itu."

Chen Kai tidak bergeming. Ia menatap Tetua Iblis itu dengan tatapan bosan.

"Kau tahu," kata Chen Kai santai, "aku paling benci dua hal. Pertama, orang yang menyuruhku minggir. Kedua, orang yang menginginkan orang-orangku."

"Lancang!" Tetua Iblis mengibaskan tangannya. Angin hitam berbau busuk melesat ke arah Chen Kai, membentuk cakar raksasa yang hendak meremukkannya.

Nona Peramal hendak berteriak peringatan, tapi Chen Kai lebih cepat.

Ia tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya.

"Gravitasi: Lubang Hitam Mini."

Sebuah titik hitam seukuran kelereng muncul di telapak tangannya.

Cakar angin hitam itu tersedot masuk ke dalam titik itu dalam sekejap mata, lenyap tanpa sisa.

Mata Tetua Iblis membelalak. "Apa?!"

"Kau bilang kau sudah tidur seratus tahun?" Chen Kai menyeringai di balik topengnya. "Kalau begitu, kembalilah tidur."

Chen Kai menjentikkan jarinya.

Langkah Hampa.

Ia menghilang. Bukan bergerak cepat, tapi benar-benar lenyap dari persepsi ruang.

Detik berikutnya, Chen Kai muncul tepat di atas Tetua Iblis, kakinya diselimuti aura gravitasi yang sangat padat.

"Teknik Gabungan: Palu Dewa Jatuh."

Chen Kai menendang ke bawah.

Berat kakinya saat ini setara dengan sebuah gunung kecil yang dijatuhkan dari orbit.

Tetua Iblis meraung, mencoba memanggil perisai tulang untuk melindungi dirinya.

KRAAAAK!

Perisai tulang itu hancur berkeping-keping seperti kerupuk. Kaki Chen Kai menghantam bahu Tetua Iblis.

BOOOOM!

Tetua Iblis itu terlempar ke bawah dengan kecepatan supersonik, menghantam tangga Giok Bintang dengan dampak yang menciptakan kawah sedalam lima meter. Debu dan pecahan giok berhamburan ke mana-mana.

Hening.

Semua orang—Nona Peramal, pengawalnya, pelayan tua bungkuk—ternganga.

Seorang Inti Emas Tahap Menengah... baru saja mempecundangi seorang monster Jiwa Baru Lahir (meskipun mungkin kondisinya tidak prima) dalam satu serangan?

Chen Kai mendarat perlahan di pinggir kawah, menatap tubuh Tetua Iblis yang tertanam di batu.

"Jiwa Baru Lahir, ya?" gumam Chen Kai, menyeka debu dari jubahnya. "Ternyata tulangmu tidak sekeras mulutmu."

Luo Sha di belakangnya menghela napas panjang, tangannya yang memegang pedang gemetar bukan karena takut, tapi karena kegembiraan. Tuannya... benar-benar monster.

Chen Kai menoleh ke arah Nona Peramal yang masih terpaku.

"Jadi, Nona," kata Chen Kai ramah. "Apakah kita akan lanjut naik, atau kau mau menunggu teman lamamu ini bangun dari tidurnya?"

Nona Peramal menelan ludah. Ia menatap Chen Kai dengan pandangan yang sama sekali baru. Bukan lagi sebagai mitra, tapi sebagai ancaman setara—atau bahkan lebih besar—dari Tetua Iblis itu.

"Kita... kita naik," jawabnya pelan.

"Bagus," Chen Kai melangkah ke tangga Giok Bintang. "Setelah Anda."

Di dalam kawah, jari Tetua Iblis berkedut sedikit, tapi Chen Kai tidak peduli. Ia tahu serangan itu tidak membunuhnya, tapi cukup untuk membuatnya berpikir dua kali sebelum mengganggunya lagi.

Perjalanan menuju Istana Terbalik dimulai. Dan kali ini, Chen Kai memimpin barisan.

Terpopuler

Comments

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

ranah jiwa baru lahir sekali tendang nyungsep tertanam di lantai.....😄

2026-02-25

0

ddrhart

ddrhart

jiwa baru lahir tumbang dalam segeprakan.....

2026-02-25

0

Darwito

Darwito

yyeyeue

2026-06-23

0

lihat semua
Episodes
1 Fajar di Hutan Batu
2 Pertemuan di Lembah Cermin
3 Reruntuhan yang Bernapas
4 Titik Balik Gravitasi
5 Kunci Berdarah dan Gerbang Emas
6 Tarian Logam dan Ruang
7 Warisan yang Hilang
8 Sungai Waktu di Bawah Istana
9 Detik yang Hilang
10 Raja Waktu Baru
11 Fondasi Baru
12 Armada Naga Hitam
13 Neraka Tanpa Pijakan
14 Hujan Emas dan Detik yang Terbelah
15 Gema Raja Hitam
16 Seleksi Darah di Hutan Batu
17 Satu Bulan, Seribu Tahun
18 Perang di Langit Terbalik
19 Naga Melawan Raja Waktu
20 Jatuhnya Sang Naga, Bangkitnya Raja Hitam
21 Janji Sang Raja
22 Rahasia di Balik Kabut
23 Menyeberangi Lautan Hampa
24 Di Bawah Bayangan Pagoda
25 Jamuan di Atas Awan
26 Lautan Api dan Kuali Retak
27 Bayangan di Balik Cahaya
28 Tarian Naga dan Teratai
29 Bayangan di Gerbang Kabut
30 Labirin Ungu dan Ilusi Jiwa
31 Kelopak yang Mengurung Waktu
32 Darah Besi dan Sumpah Es
33 Hadiah Perpisahan dan Layar Terbentang
34 Invasi
35 Bayangan yang Menelan Baja
36 Guntur di Benua Tengah
37 Bara di Lumbung Merah
38 Jebakan di Dalam Jebakan
39 Kota Naga Tidur
40 Mendaki Tulang Naga
41 Satu Melawan Empat
42 Kiamat di Puncak Naga
43 Mahkota Putih
44 Gurun Tulang dan Tamu Tak Diundang
45 Tarian Api Neraka
46 Tungku Pembakaran Dunia
47 Serigala yang Menunggu di Pintu
48 Tahta yang Tidak Lagi Kosong
49 Pengadilan di Atas Awan
50 Langit di Atas Langit
51 Saat Dewa Berdarah
52 Amarah Samudra Purba
53 Dewa yang Jatuh ke Laut
54 Warisan Sang Utusan
55 Konfrensi Penyatuan Benua
56 Daftar Hitam dan Darah Pengkhianat
57 Kelahiran Kembali dalam Kekacauan
58 Salam dari Neraka
59 Janji yang Ditepati
60 Saat Langit Runtuh
61 Tarian Phoenix Es
62 Neraka Petir Kekacauan
63 Penghakiman Sang Pembunuh Dewa
64 Lembah Penempaan Bahtera Dewa
65 Anggur Perpisahan dan Sumpah Darah
66 Kekacauan
67 Klan Terbuang
68 Kota Budak dan Pilar Penindas Jiwa
69 Duel Sang Tiran
70 Armada Eksekutor
71 Benturan Batu dan Tulang
72 Hukum Kekacauan
73 Gema Kehancuran
74 Pisau dalam Gelap
75 Ngarai Pemisah Langit
76 Kilat Ungu dan Harga Sebuah Nyawa
77 Gerbang Pusat
78 Kota Tanpa Jiwa
79 Tiga Dewa Penjaga Gerbang
80 Langit Runtuh!
81 Tarian di Antara Dimensi
82 Perisai Darah
83 Eksekusi Dewa Palsu
84 Meninggalkan Tahta Emas
85 Gurun Tulang
86 Pedang Ganda Melawan Pedang Berat
87 Arena Tulang Putih
88 Boneka Pedang Neraka
89 Undangan Makan Malam Sang Putri
90 Han Fei vs Xie Jian
91 Gerbang Makam Pedang
92 Penjaga Jurang Pedang
93 Ritual Pedang Berdarah
94 Kebenaran di Ujung Pena Kuno
95 Di Bawah Tatapan Penguasa
96 Dua Wajah Sang Raja
97 Sisa Kehidupan Di Padang Es
98 Diplomasi di Ujung Jarum
99 Kota Kristal Abadi
100 Perjamuan Racun dan Es
101 Sang Penguasa Es
102 Jantung Beku yang Ternoda
103 Aliansi di Bawah Cahaya Aurora
104 Gema Kehidupan di Tanah Beku
105 Langkah di Batas Cakrawala
106 Celah Kabut Abadi
107 Emas yang Pahit
108 Tawar-Menawar di Ujung Pisau
109 Jalan Pulang yang Berdarah
110 Ribuan Serangga Melawan Satu Orang
111 Kios Kecil di Sudut Kota
112 Gudang Seribu Herbal
113 Konfrontasi di Alun-alun Kota
114 Suaka Binatang Terkutuk
115 Meditasi Emas
116 Segel Langit
117 Jejak di Rawa
118 Desa di Ujung Petir
119 Berlayar ke Mata Badai
120 Guntur Abadi
121 Jejak Darah di Pasir Merah
122 Roh Senjata yang Mengamuk
123 Kunci Kedua
124 Garis Batas Abu-Abu
125 Teh Abu dan Orang-Orang Tanpa Nama
126 Pasukan yang Tertidur di Akar
127 Cinta yang Membusuk
128 Teka-Teki di Atas Awan
129 Pasar Informasi Kota Menara
130 Puncak Awan Putus
131 Desa Parasit di Punggung Paus
132 Hukum Langit
133 Gerbang Awan Putih
134 Pemberontak
135 Pesta Angin
136 Pesta Darah di Atas Awan
137 Jatuh Menuju Kebebasan
138 Sejarah di Pustaka Sunyi
139 Adu Pengetahuan
140 Negosiasi di Atas Meja Batu
141 Menuju Gerbang Penjara Dunia
142 Dentingan Rantai Pertama
143 Turun ke Jantung Bumi
144 Bisikan dari Sel Gelap
145 Tarian Kehendak dalam Gelap
146 Proyeksi Jiwa di Dasar Neraka
147 Gema Pemberontakan
148 Pecahnya Segala Belenggu
149 Runtuhnya Penjara Dunia
150 Abu Penjara dan Peta Darah
151 Janji di Atas Awan
152 Badai Lima Warna di Atas Pustaka
153 Di Bawah Bayang-bayang Pilar Langit
154 Gema Perang di Kaki Pilar
155 Harmoni yang Pecah di Kaki Langit
156 Runtuhnya Jaring Emas
157 Napas Naga di Tangga Kristal
158 Darah di Atas Kristal
159 Cermin Masa Depan yang Kelam
160 Keheningan di Batas Langit
161 Altar Penyebrangan
162 Benturan di Ambang Surga
163 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Fajar di Hutan Batu
2
Pertemuan di Lembah Cermin
3
Reruntuhan yang Bernapas
4
Titik Balik Gravitasi
5
Kunci Berdarah dan Gerbang Emas
6
Tarian Logam dan Ruang
7
Warisan yang Hilang
8
Sungai Waktu di Bawah Istana
9
Detik yang Hilang
10
Raja Waktu Baru
11
Fondasi Baru
12
Armada Naga Hitam
13
Neraka Tanpa Pijakan
14
Hujan Emas dan Detik yang Terbelah
15
Gema Raja Hitam
16
Seleksi Darah di Hutan Batu
17
Satu Bulan, Seribu Tahun
18
Perang di Langit Terbalik
19
Naga Melawan Raja Waktu
20
Jatuhnya Sang Naga, Bangkitnya Raja Hitam
21
Janji Sang Raja
22
Rahasia di Balik Kabut
23
Menyeberangi Lautan Hampa
24
Di Bawah Bayangan Pagoda
25
Jamuan di Atas Awan
26
Lautan Api dan Kuali Retak
27
Bayangan di Balik Cahaya
28
Tarian Naga dan Teratai
29
Bayangan di Gerbang Kabut
30
Labirin Ungu dan Ilusi Jiwa
31
Kelopak yang Mengurung Waktu
32
Darah Besi dan Sumpah Es
33
Hadiah Perpisahan dan Layar Terbentang
34
Invasi
35
Bayangan yang Menelan Baja
36
Guntur di Benua Tengah
37
Bara di Lumbung Merah
38
Jebakan di Dalam Jebakan
39
Kota Naga Tidur
40
Mendaki Tulang Naga
41
Satu Melawan Empat
42
Kiamat di Puncak Naga
43
Mahkota Putih
44
Gurun Tulang dan Tamu Tak Diundang
45
Tarian Api Neraka
46
Tungku Pembakaran Dunia
47
Serigala yang Menunggu di Pintu
48
Tahta yang Tidak Lagi Kosong
49
Pengadilan di Atas Awan
50
Langit di Atas Langit
51
Saat Dewa Berdarah
52
Amarah Samudra Purba
53
Dewa yang Jatuh ke Laut
54
Warisan Sang Utusan
55
Konfrensi Penyatuan Benua
56
Daftar Hitam dan Darah Pengkhianat
57
Kelahiran Kembali dalam Kekacauan
58
Salam dari Neraka
59
Janji yang Ditepati
60
Saat Langit Runtuh
61
Tarian Phoenix Es
62
Neraka Petir Kekacauan
63
Penghakiman Sang Pembunuh Dewa
64
Lembah Penempaan Bahtera Dewa
65
Anggur Perpisahan dan Sumpah Darah
66
Kekacauan
67
Klan Terbuang
68
Kota Budak dan Pilar Penindas Jiwa
69
Duel Sang Tiran
70
Armada Eksekutor
71
Benturan Batu dan Tulang
72
Hukum Kekacauan
73
Gema Kehancuran
74
Pisau dalam Gelap
75
Ngarai Pemisah Langit
76
Kilat Ungu dan Harga Sebuah Nyawa
77
Gerbang Pusat
78
Kota Tanpa Jiwa
79
Tiga Dewa Penjaga Gerbang
80
Langit Runtuh!
81
Tarian di Antara Dimensi
82
Perisai Darah
83
Eksekusi Dewa Palsu
84
Meninggalkan Tahta Emas
85
Gurun Tulang
86
Pedang Ganda Melawan Pedang Berat
87
Arena Tulang Putih
88
Boneka Pedang Neraka
89
Undangan Makan Malam Sang Putri
90
Han Fei vs Xie Jian
91
Gerbang Makam Pedang
92
Penjaga Jurang Pedang
93
Ritual Pedang Berdarah
94
Kebenaran di Ujung Pena Kuno
95
Di Bawah Tatapan Penguasa
96
Dua Wajah Sang Raja
97
Sisa Kehidupan Di Padang Es
98
Diplomasi di Ujung Jarum
99
Kota Kristal Abadi
100
Perjamuan Racun dan Es
101
Sang Penguasa Es
102
Jantung Beku yang Ternoda
103
Aliansi di Bawah Cahaya Aurora
104
Gema Kehidupan di Tanah Beku
105
Langkah di Batas Cakrawala
106
Celah Kabut Abadi
107
Emas yang Pahit
108
Tawar-Menawar di Ujung Pisau
109
Jalan Pulang yang Berdarah
110
Ribuan Serangga Melawan Satu Orang
111
Kios Kecil di Sudut Kota
112
Gudang Seribu Herbal
113
Konfrontasi di Alun-alun Kota
114
Suaka Binatang Terkutuk
115
Meditasi Emas
116
Segel Langit
117
Jejak di Rawa
118
Desa di Ujung Petir
119
Berlayar ke Mata Badai
120
Guntur Abadi
121
Jejak Darah di Pasir Merah
122
Roh Senjata yang Mengamuk
123
Kunci Kedua
124
Garis Batas Abu-Abu
125
Teh Abu dan Orang-Orang Tanpa Nama
126
Pasukan yang Tertidur di Akar
127
Cinta yang Membusuk
128
Teka-Teki di Atas Awan
129
Pasar Informasi Kota Menara
130
Puncak Awan Putus
131
Desa Parasit di Punggung Paus
132
Hukum Langit
133
Gerbang Awan Putih
134
Pemberontak
135
Pesta Angin
136
Pesta Darah di Atas Awan
137
Jatuh Menuju Kebebasan
138
Sejarah di Pustaka Sunyi
139
Adu Pengetahuan
140
Negosiasi di Atas Meja Batu
141
Menuju Gerbang Penjara Dunia
142
Dentingan Rantai Pertama
143
Turun ke Jantung Bumi
144
Bisikan dari Sel Gelap
145
Tarian Kehendak dalam Gelap
146
Proyeksi Jiwa di Dasar Neraka
147
Gema Pemberontakan
148
Pecahnya Segala Belenggu
149
Runtuhnya Penjara Dunia
150
Abu Penjara dan Peta Darah
151
Janji di Atas Awan
152
Badai Lima Warna di Atas Pustaka
153
Di Bawah Bayang-bayang Pilar Langit
154
Gema Perang di Kaki Pilar
155
Harmoni yang Pecah di Kaki Langit
156
Runtuhnya Jaring Emas
157
Napas Naga di Tangga Kristal
158
Darah di Atas Kristal
159
Cermin Masa Depan yang Kelam
160
Keheningan di Batas Langit
161
Altar Penyebrangan
162
Benturan di Ambang Surga
163
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!