Titik Balik Gravitasi

Tangga Giok Bintang itu membentang ke atas seperti tulang punggung naga kristal yang menembus awan. Setiap anak tangganya selebar sepuluh meter, memancarkan hawa dingin purba yang meresap hingga ke sumsum tulang. Di sini, suara angin dimensi yang biasanya menderu-deru terdengar redup, seolah-olah area di sekitar tangga ini berada di dalam gelembung vakum raksasa.

Chen Kai melangkah dengan ritme yang stabil. Jubah biru lautnya tidak bergerak sedikit pun, seakan gravitasi di sekitar tubuhnya telah ia kunci dalam keadaan statis yang sempurna. Di belakangnya, Luo Sha mengikuti dengan setia, meskipun napasnya mulai terdengar sedikit berat.

Namun, kondisi rombongan Aliansi Dagang jauh lebih buruk.

"Ukh..." Pengawal pribadi Nona Peramal, seorang pria kekar bernama Tie Zha, mengerang pelan. Kakinya gemetar setiap kali ia mengangkatnya untuk menaiki anak tangga berikutnya. Keringat dingin bercucuran di wajahnya yang pucat.

"Tekanan ini... bukan sekadar berat," desis Tie Zha. "Ini seperti... dunia sedang mencoba menolak keberadaan kita."

Nona Peramal, yang berjalan di tengah lindungan para pengawalnya, juga tampak kesulitan. Kain penutup matanya basah oleh keringat. Meskipun ia tidak memikul beban fisik, tekanan spiritual di tangga ini menghantam jiwanya seperti ombak pasang yang tak henti-hentinya.

"Ini adalah 'Jalan Kenaikan'," Nona Peramal menjelaskan dengan suara serak. "Pemilik makam ini merancang tangga ini untuk menyaring mereka yang memiliki fondasi kultivasi yang lemah. Semakin tinggi kita naik, semakin kuat penolakan Hukum Alam terhadap kita."

Ia menatap punggung Chen Kai yang berjalan sepuluh meter di depan mereka. Pemuda itu tampak seolah sedang berjalan-jalan di taman bunga, tangannya santai di belakang punggung, bahkan sesekali berhenti untuk mengamati ukiran naga di pegangan tangga.

"Bagaimana dia bisa sesantai itu?" bisik salah satu pengawal lain dengan nada iri bercampur takut. "Apakah dia tidak merasakan tekanan ini?"

Chen Kai tiba-tiba berhenti. Ia tidak menoleh, tapi suaranya terdengar jelas di telinga mereka semua.

"Kalian merasa berat karena kalian melawannya," kata Chen Kai tenang. "Kalian mencoba menggunakan Qi kalian untuk mendorong balik tekanan ini. Itu bodoh. Itu seperti mencoba menahan air terjun dengan telapak tangan."

Chen Kai berbalik perlahan. Topeng wajah bangsawannya memancarkan senyum tipis yang misterius.

"Di tempat ini, gravitasi bukanlah musuh. Ia adalah arus. Jangan melawannya. Mengalirlah bersamanya."

"Mengalir?" Tie Zha mendengus. "Jika kami mengendurkan pertahanan Qi kami, kami akan digencet sampai mati dalam sekejap!"

"Benarkah?"

Chen Kai mengangkat jari telunjuknya. Sebuah bola kecil energi hitam—esensi dari Fragmen Kedua—muncul di ujung jarinya.

"Perhatikan."

Ia menjentikkan bola energi itu ke arah Tie Zha.

"Tuan Muda, apa yang Anda—" Nona Peramal hendak berteriak, mengira Chen Kai menyerang.

Namun, bola energi itu tidak meledak. Saat menyentuh dada Tie Zha, bola itu menyebar menjadi lapisan tipis aura hitam yang menyelimuti seluruh tubuh pria itu.

Seketika, ekspresi kesakitan di wajah Tie Zha menghilang. Ia menegakkan tubuhnya, matanya membelalak kaget. Ia melompat-lompat kecil di anak tangga.

"Ringan..." gumam Tie Zha tak percaya. "Rasanya seperti beban gunung di pundakku baru saja diangkat! Bagaimana... bagaimana Anda melakukannya?"

"Aku hanya mengubah vektor tekanan di sekitarmu," jawab Chen Kai santai. "Aku membelokkan arusnya agar mengalir di sisimu, bukan menabrakmu. Anggap saja itu hadiah kecil karena kalian tidak lari saat monster tua tadi muncul."

Nona Peramal terdiam. Ia adalah seorang ahli ramalan yang mempelajari pola takdir dan energi, namun manipulasi hukum alam sehalus ini berada di luar pemahamannya.

"Dia bukan hanya kuat secara kasar," batin Nona Peramal. "Pemahamannya tentang Dao Gravitasi setara dengan para Grandmaster di Benua Tengah. Tuan Muda Ye... monster macam apa yang sebenarnya dilahirkan oleh Benua Timur?"

"Terima kasih, Tuan Muda," kata Nona Peramal dengan nada yang jauh lebih hormat. "Aliansi Dagang berhutang budi pada Anda."

"Simpan hutang budi itu," kata Chen Kai, kembali membalikkan badan dan melanjutkan pendakian. "Kita hampir sampai di 'Titik Balik'. Bersiaplah. Perut kalian mungkin akan sedikit mual."

Mereka terus mendaki selama setengah jam lagi. Tangga Giok Bintang itu tampaknya tak berujung, namun Istana Terbalik di atas mereka semakin besar dan jelas. Atap emasnya yang megah kini memenuhi pandangan, seolah langit itu sendiri terbuat dari emas.

Dan kemudian, mereka mencapainya.

Anak tangga ke-999.

Di depan mereka, tangga itu tidak lagi menanjak. Tangga itu... melengkung.

Melengkung secara vertikal, membentuk setengah lingkaran sempurna yang menghubungkan "bawah" dan "atas".

"Ini..." Luo Sha menahan napas.

"Pegang erat senjatamu, Bai," perintah Chen Kai. "Kita akan melompat."

"Melompat ke mana?"

"Ke langit."

Chen Kai melangkah maju, melewati titik lengkungan itu.

Seketika, dunia berputar.

Bagi mata orang awam, Chen Kai tampak berjalan terbalik, kepalanya menghadap ke bawah, kakinya menempel pada tangga yang kini berada di atas kepala mereka.

Tapi bagi Chen Kai, persepsinya tentang "bawah" telah berubah total. Istana Terbalik di atas sana tiba-tiba menjadi "tanah", dan lautan awan tempat mereka berasal menjadi "langit".

Gaya tarik bumi menghilang, digantikan oleh gaya tarik buatan dari Istana tersebut.

WUSH!

Sensasi jatuh yang mengerikan menyerang mereka semua saat mereka melewati titik inversi tersebut.

"KYAAA!" Beberapa pengawal Aliansi Dagang berteriak panik, merasa seolah-olah mereka jatuh bebas ke angkasa luas.

Namun, kaki mereka tetap menempel pada tangga giok itu.

"Buka mata kalian," suara Chen Kai terdengar tenang dan stabil.

Mereka membuka mata.

Pemandangan di depan mereka sungguh menakjubkan.

Mereka telah sampai di ujung tangga. Di depan mereka, terbentang sebuah alun-alun raksasa yang terbuat dari marmer putih, melayang di angkasa. Alun-alun itu adalah halaman depan dari Istana Terbalik.

Di sekeliling alun-alun, air terjun mengalir dari "tanah" ke "Langit", menciptakan tirai air yang berkilauan diterpa cahaya matahari buatan.

Mereka mendarat di alun-alun itu.

Di sini, di gerbang utama istana, ternyata sudah ada "tamu" lain.

Bukan lewat tangga rahasia seperti Chen Kai, melainkan kelompok-kelompok yang berhasil menembus jalur utama dengan kekuatan kasar dan pengorbanan besar.

Di sisi kiri alun-alun, sekelompok kultivator dengan jubah merah darah sedang mendirikan tenda darurat. Aura mereka amis dan ganas. Sekte Darah Iblis.

Di sisi kanan, sebuah kereta perang raksasa yang ditarik oleh Singa Api terparkir, namun kondisinya rusak parah dengan bekas cakaran gargoyle. Bendera Sekte Hiu Besi berkibar di sana, robek dan terbakar.

Dan tepat di depan gerbang raksasa istana yang tertutup rapat, berdiri seorang pria paruh baya dengan baju zirah emas yang retak. Dia sedang memukuli pintu gerbang itu dengan palu raksasa, mencoba menghancurkannya, namun pintu itu tidak bergeming sedikit pun.

"Ketua Sekte Hiu Besi..." bisik Luo Sha, mengenali sosok itu. "Dia berhasil sampai di sini."

Kedatangan rombongan Chen Kai dan Aliansi Dagang melalui "Jalan Pintas" yang bersih dan tanpa luka segera menarik perhatian semua orang di alun-alun.

Mata-mata yang lelah, terluka, dan paranoid itu menatap mereka. Mereka melihat Chen Kai yang jubahnya masih rapi, Nona Peramal yang tampak segar (berkat bantuan Chen Kai), dan pasukan mereka yang utuh.

Keheningan yang mematikan turun di Alun-alun Langit Runtuh.

"Aliansi Dagang?" geram Ketua Sekte Hiu Besi, menghentikan pukulannya pada gerbang. Dia memutar tubuhnya, palu raksasanya menghantam lantai marmer hingga retak. "Bagaimana kalian bisa sampai di sini tanpa kehilangan satu orang pun? Jalur mana yang kalian ambil?!"

Tatapan serakah dan penuh curiga tertuju pada mereka. Di tempat ini, menjadi satu-satunya pihak yang masih dalam kondisi prima adalah sebuah dosa.

Nona Peramal melirik Chen Kai dengan cemas. "Tuan Muda Ye, sepertinya kita menjadi target."

Chen Kai tersenyum di balik topengnya. Senyum predator yang baru saja menemukan mangsa baru.

"Target?" Chen Kai melangkah maju, memisahkan diri dari rombongan Nona Peramal, berdiri sendirian menghadapi tatapan ratusan kultivator ganas itu.

"Tidak, Nona. Kita bukan target," kata Chen Kai, suaranya tenang namun bergema ke seluruh penjuru alun-alun, didukung oleh resonansi Mutiara Hitam.

"Kita adalah VIP."

Chen Kai mengeluarkan Token Penstabil Ruang keduanya dari cincin penyimpanannya dan melemparkannya ke udara, menangkapnya kembali dengan santai. Cahaya perak token itu berkilauan, kontras dengan wajah-wajah kotor para petarung lain.

"Dan sepertinya," lanjut Chen Kai, menatap langsung ke mata Ketua Sekte Hiu Besi yang merah menyala, "kalian semua sedang kesulitan membuka pintu itu."

Provokasi itu instan. Dan efektif.

Chen Kai tidak berniat bersembunyi lagi. Di depan gerbang Istana Transformasi Dewa, dia siap untuk mendominasi panggung.

Terpopuler

Comments

ddrhart

ddrhart

naik 1000 tangga kaya jalan-jalan di taman saja..... emang hebring nih long kai......👍👍👍

2026-02-25

1

Mamat Stone

Mamat Stone

waktunya Jagoan beraksi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/

2025-12-26

1

Ahmad Gatot

Ahmad Gatot

ayo chen hajar semua...selain kelompokmu.....

2026-02-25

0

lihat semua
Episodes
1 Fajar di Hutan Batu
2 Pertemuan di Lembah Cermin
3 Reruntuhan yang Bernapas
4 Titik Balik Gravitasi
5 Kunci Berdarah dan Gerbang Emas
6 Tarian Logam dan Ruang
7 Warisan yang Hilang
8 Sungai Waktu di Bawah Istana
9 Detik yang Hilang
10 Raja Waktu Baru
11 Fondasi Baru
12 Armada Naga Hitam
13 Neraka Tanpa Pijakan
14 Hujan Emas dan Detik yang Terbelah
15 Gema Raja Hitam
16 Seleksi Darah di Hutan Batu
17 Satu Bulan, Seribu Tahun
18 Perang di Langit Terbalik
19 Naga Melawan Raja Waktu
20 Jatuhnya Sang Naga, Bangkitnya Raja Hitam
21 Janji Sang Raja
22 Rahasia di Balik Kabut
23 Menyeberangi Lautan Hampa
24 Di Bawah Bayangan Pagoda
25 Jamuan di Atas Awan
26 Lautan Api dan Kuali Retak
27 Bayangan di Balik Cahaya
28 Tarian Naga dan Teratai
29 Bayangan di Gerbang Kabut
30 Labirin Ungu dan Ilusi Jiwa
31 Kelopak yang Mengurung Waktu
32 Darah Besi dan Sumpah Es
33 Hadiah Perpisahan dan Layar Terbentang
34 Invasi
35 Bayangan yang Menelan Baja
36 Guntur di Benua Tengah
37 Bara di Lumbung Merah
38 Jebakan di Dalam Jebakan
39 Kota Naga Tidur
40 Mendaki Tulang Naga
41 Satu Melawan Empat
42 Kiamat di Puncak Naga
43 Mahkota Putih
44 Gurun Tulang dan Tamu Tak Diundang
45 Tarian Api Neraka
46 Tungku Pembakaran Dunia
47 Serigala yang Menunggu di Pintu
48 Tahta yang Tidak Lagi Kosong
49 Pengadilan di Atas Awan
50 Langit di Atas Langit
51 Saat Dewa Berdarah
52 Amarah Samudra Purba
53 Dewa yang Jatuh ke Laut
54 Warisan Sang Utusan
55 Konfrensi Penyatuan Benua
56 Daftar Hitam dan Darah Pengkhianat
57 Kelahiran Kembali dalam Kekacauan
58 Salam dari Neraka
59 Janji yang Ditepati
60 Saat Langit Runtuh
61 Tarian Phoenix Es
62 Neraka Petir Kekacauan
63 Penghakiman Sang Pembunuh Dewa
64 Lembah Penempaan Bahtera Dewa
65 Anggur Perpisahan dan Sumpah Darah
66 Kekacauan
67 Klan Terbuang
68 Kota Budak dan Pilar Penindas Jiwa
69 Duel Sang Tiran
70 Armada Eksekutor
71 Benturan Batu dan Tulang
72 Hukum Kekacauan
73 Gema Kehancuran
74 Pisau dalam Gelap
75 Ngarai Pemisah Langit
76 Kilat Ungu dan Harga Sebuah Nyawa
77 Gerbang Pusat
78 Kota Tanpa Jiwa
79 Tiga Dewa Penjaga Gerbang
80 Langit Runtuh!
81 Tarian di Antara Dimensi
82 Perisai Darah
83 Eksekusi Dewa Palsu
84 Meninggalkan Tahta Emas
85 Gurun Tulang
86 Pedang Ganda Melawan Pedang Berat
87 Arena Tulang Putih
88 Boneka Pedang Neraka
89 Undangan Makan Malam Sang Putri
90 Han Fei vs Xie Jian
91 Gerbang Makam Pedang
92 Penjaga Jurang Pedang
93 Ritual Pedang Berdarah
94 Kebenaran di Ujung Pena Kuno
95 Di Bawah Tatapan Penguasa
96 Dua Wajah Sang Raja
97 Sisa Kehidupan Di Padang Es
98 Diplomasi di Ujung Jarum
99 Kota Kristal Abadi
100 Perjamuan Racun dan Es
101 Sang Penguasa Es
102 Jantung Beku yang Ternoda
103 Aliansi di Bawah Cahaya Aurora
104 Gema Kehidupan di Tanah Beku
105 Langkah di Batas Cakrawala
106 Celah Kabut Abadi
107 Emas yang Pahit
108 Tawar-Menawar di Ujung Pisau
109 Jalan Pulang yang Berdarah
110 Ribuan Serangga Melawan Satu Orang
111 Kios Kecil di Sudut Kota
112 Gudang Seribu Herbal
113 Konfrontasi di Alun-alun Kota
114 Suaka Binatang Terkutuk
115 Meditasi Emas
116 Segel Langit
117 Jejak di Rawa
118 Desa di Ujung Petir
119 Berlayar ke Mata Badai
120 Guntur Abadi
121 Jejak Darah di Pasir Merah
122 Roh Senjata yang Mengamuk
123 Kunci Kedua
124 Garis Batas Abu-Abu
125 Teh Abu dan Orang-Orang Tanpa Nama
126 Pasukan yang Tertidur di Akar
127 Cinta yang Membusuk
128 Teka-Teki di Atas Awan
129 Pasar Informasi Kota Menara
130 Puncak Awan Putus
131 Desa Parasit di Punggung Paus
132 Hukum Langit
133 Gerbang Awan Putih
134 Pemberontak
135 Pesta Angin
136 Pesta Darah di Atas Awan
137 Jatuh Menuju Kebebasan
138 Sejarah di Pustaka Sunyi
139 Adu Pengetahuan
140 Negosiasi di Atas Meja Batu
141 Menuju Gerbang Penjara Dunia
142 Dentingan Rantai Pertama
143 Turun ke Jantung Bumi
144 Bisikan dari Sel Gelap
145 Tarian Kehendak dalam Gelap
146 Proyeksi Jiwa di Dasar Neraka
147 Gema Pemberontakan
148 Pecahnya Segala Belenggu
149 Runtuhnya Penjara Dunia
150 Abu Penjara dan Peta Darah
151 Janji di Atas Awan
152 Badai Lima Warna di Atas Pustaka
153 Di Bawah Bayang-bayang Pilar Langit
154 Gema Perang di Kaki Pilar
155 Harmoni yang Pecah di Kaki Langit
156 Runtuhnya Jaring Emas
157 Napas Naga di Tangga Kristal
158 Darah di Atas Kristal
159 Cermin Masa Depan yang Kelam
160 Keheningan di Batas Langit
161 Altar Penyebrangan
162 Benturan di Ambang Surga
163 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 163 Episodes

1
Fajar di Hutan Batu
2
Pertemuan di Lembah Cermin
3
Reruntuhan yang Bernapas
4
Titik Balik Gravitasi
5
Kunci Berdarah dan Gerbang Emas
6
Tarian Logam dan Ruang
7
Warisan yang Hilang
8
Sungai Waktu di Bawah Istana
9
Detik yang Hilang
10
Raja Waktu Baru
11
Fondasi Baru
12
Armada Naga Hitam
13
Neraka Tanpa Pijakan
14
Hujan Emas dan Detik yang Terbelah
15
Gema Raja Hitam
16
Seleksi Darah di Hutan Batu
17
Satu Bulan, Seribu Tahun
18
Perang di Langit Terbalik
19
Naga Melawan Raja Waktu
20
Jatuhnya Sang Naga, Bangkitnya Raja Hitam
21
Janji Sang Raja
22
Rahasia di Balik Kabut
23
Menyeberangi Lautan Hampa
24
Di Bawah Bayangan Pagoda
25
Jamuan di Atas Awan
26
Lautan Api dan Kuali Retak
27
Bayangan di Balik Cahaya
28
Tarian Naga dan Teratai
29
Bayangan di Gerbang Kabut
30
Labirin Ungu dan Ilusi Jiwa
31
Kelopak yang Mengurung Waktu
32
Darah Besi dan Sumpah Es
33
Hadiah Perpisahan dan Layar Terbentang
34
Invasi
35
Bayangan yang Menelan Baja
36
Guntur di Benua Tengah
37
Bara di Lumbung Merah
38
Jebakan di Dalam Jebakan
39
Kota Naga Tidur
40
Mendaki Tulang Naga
41
Satu Melawan Empat
42
Kiamat di Puncak Naga
43
Mahkota Putih
44
Gurun Tulang dan Tamu Tak Diundang
45
Tarian Api Neraka
46
Tungku Pembakaran Dunia
47
Serigala yang Menunggu di Pintu
48
Tahta yang Tidak Lagi Kosong
49
Pengadilan di Atas Awan
50
Langit di Atas Langit
51
Saat Dewa Berdarah
52
Amarah Samudra Purba
53
Dewa yang Jatuh ke Laut
54
Warisan Sang Utusan
55
Konfrensi Penyatuan Benua
56
Daftar Hitam dan Darah Pengkhianat
57
Kelahiran Kembali dalam Kekacauan
58
Salam dari Neraka
59
Janji yang Ditepati
60
Saat Langit Runtuh
61
Tarian Phoenix Es
62
Neraka Petir Kekacauan
63
Penghakiman Sang Pembunuh Dewa
64
Lembah Penempaan Bahtera Dewa
65
Anggur Perpisahan dan Sumpah Darah
66
Kekacauan
67
Klan Terbuang
68
Kota Budak dan Pilar Penindas Jiwa
69
Duel Sang Tiran
70
Armada Eksekutor
71
Benturan Batu dan Tulang
72
Hukum Kekacauan
73
Gema Kehancuran
74
Pisau dalam Gelap
75
Ngarai Pemisah Langit
76
Kilat Ungu dan Harga Sebuah Nyawa
77
Gerbang Pusat
78
Kota Tanpa Jiwa
79
Tiga Dewa Penjaga Gerbang
80
Langit Runtuh!
81
Tarian di Antara Dimensi
82
Perisai Darah
83
Eksekusi Dewa Palsu
84
Meninggalkan Tahta Emas
85
Gurun Tulang
86
Pedang Ganda Melawan Pedang Berat
87
Arena Tulang Putih
88
Boneka Pedang Neraka
89
Undangan Makan Malam Sang Putri
90
Han Fei vs Xie Jian
91
Gerbang Makam Pedang
92
Penjaga Jurang Pedang
93
Ritual Pedang Berdarah
94
Kebenaran di Ujung Pena Kuno
95
Di Bawah Tatapan Penguasa
96
Dua Wajah Sang Raja
97
Sisa Kehidupan Di Padang Es
98
Diplomasi di Ujung Jarum
99
Kota Kristal Abadi
100
Perjamuan Racun dan Es
101
Sang Penguasa Es
102
Jantung Beku yang Ternoda
103
Aliansi di Bawah Cahaya Aurora
104
Gema Kehidupan di Tanah Beku
105
Langkah di Batas Cakrawala
106
Celah Kabut Abadi
107
Emas yang Pahit
108
Tawar-Menawar di Ujung Pisau
109
Jalan Pulang yang Berdarah
110
Ribuan Serangga Melawan Satu Orang
111
Kios Kecil di Sudut Kota
112
Gudang Seribu Herbal
113
Konfrontasi di Alun-alun Kota
114
Suaka Binatang Terkutuk
115
Meditasi Emas
116
Segel Langit
117
Jejak di Rawa
118
Desa di Ujung Petir
119
Berlayar ke Mata Badai
120
Guntur Abadi
121
Jejak Darah di Pasir Merah
122
Roh Senjata yang Mengamuk
123
Kunci Kedua
124
Garis Batas Abu-Abu
125
Teh Abu dan Orang-Orang Tanpa Nama
126
Pasukan yang Tertidur di Akar
127
Cinta yang Membusuk
128
Teka-Teki di Atas Awan
129
Pasar Informasi Kota Menara
130
Puncak Awan Putus
131
Desa Parasit di Punggung Paus
132
Hukum Langit
133
Gerbang Awan Putih
134
Pemberontak
135
Pesta Angin
136
Pesta Darah di Atas Awan
137
Jatuh Menuju Kebebasan
138
Sejarah di Pustaka Sunyi
139
Adu Pengetahuan
140
Negosiasi di Atas Meja Batu
141
Menuju Gerbang Penjara Dunia
142
Dentingan Rantai Pertama
143
Turun ke Jantung Bumi
144
Bisikan dari Sel Gelap
145
Tarian Kehendak dalam Gelap
146
Proyeksi Jiwa di Dasar Neraka
147
Gema Pemberontakan
148
Pecahnya Segala Belenggu
149
Runtuhnya Penjara Dunia
150
Abu Penjara dan Peta Darah
151
Janji di Atas Awan
152
Badai Lima Warna di Atas Pustaka
153
Di Bawah Bayang-bayang Pilar Langit
154
Gema Perang di Kaki Pilar
155
Harmoni yang Pecah di Kaki Langit
156
Runtuhnya Jaring Emas
157
Napas Naga di Tangga Kristal
158
Darah di Atas Kristal
159
Cermin Masa Depan yang Kelam
160
Keheningan di Batas Langit
161
Altar Penyebrangan
162
Benturan di Ambang Surga
163
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!