Reksa Arya Nugraha ( Revisi)

"Buset, muka kusut banget kayak cucian nggak di setrika, kenapa Lo keliatan BT banget!" seorang laki-laki terlihat menegur sahabatnya yang baru saja datang ke club miliknya dengan mood yang berantakan.

Laki-laki itu menatap sekilas ke arah sang sahabat lalu duduk di depan meja bar. "Gue minta kayak biasa." mendengar ucapan sang sahabat, laki-laki bernama Adrian pun langsung memberikan isyarat pada seorang bartender untuk membuatkan pesanan sang sahabat.

Adrian menatap sang sahabat bernama Reksa itu dengan tatapan bingung. " Lo ada masalah apa Sa, soal nyokap lo lagi?" Adrian pun menebak apa yang menjadi masalah sahabatnya akhir-akhir ini.

Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah hampir menginjak usia 35 tahun. Pewaris dari Anugrah Abadi Group dengan kesuksesan yang diraih raih beberapa tahun ini. Laki-laki yang terbilang dingin dengan lawan jenis. Bahkan sampai banyak rumor yang beredar mengenai dirinya yang tidak menyukai wanita alias gay. Ada pula kabar jika Reksa laki-laki imp*ten.

Entah rumor-rumor itu dari mana asalnya. Reksa benar-benar tak ambil pusing tentang rumor tentang dirinya di luar sana.

"Gue rasa ada benarnya juga nyokap lo nyuruh lo balik Indonesia. Bahkan dalam waktu sepuluh tahun ini lo nggak pernah punya minat buat balik ke Indonesia walaupun sebentar." Reksa tersenyum miring mendengar penuturan sang sahabat.

"Bos..!" seorang bartender menyodorkan segelas minuman ke depan Reksa. Terlihat Reksa hanya menganggukkan kepalanya.

"Lo masih cari Utari?" Reksa yang baru saja mengangkat gelas minuman nya langsung melirik kearah Adrian dan kemudian menenggak habis wine yang ada di dalam gelas yang dia pegang.

" Lima tahun lalu gue sudah berhenti buat cari dia. Mungkin benar kata temen-temen kita kalau dia sudah nikah. Mungkin malah sudah punya anak." Reksa menggenggam gelas di tangannya dengan erat.

Mengingat bagaimana dulu dia kebingungan mencari keberadaan perempuan yang saat itu masih menjadi kekasihnya. Utari, kekasih nya yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.

Reksa masih ingat saat kejadian sehari sebelum acara wisuda gadis yang masih berstatus menjadi kekasihnya itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Bahkan Reksa sampai membayar orang untuk mencari hingga ke kampung halaman Utari. Tapi, kenyataanya gadis itu tidak pernah kembali ke sana.

"Gue yakin ada hal yang buat dia pergi ninggalin lo Sa, apa dia sudah tahu soal taruhan itu?"

Reksa menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin. Bahkan kita nggak pernah bahas soal taruhan itu bukan?" Adrian terlihat mengingat-ingat sesuatu.

"Sa, bukan nya sehari sebelum kita wisuda kita pernah bahas soal ini? Apa mungkin dia tahu atau dengar dari seseorang." Reksa menghela nafas berat.

"Kalau memang Tari dengar, pastinya dia akan bilang sama gue. Tapi, ini nggak kan? Bahkan sahabatnya sendiri pun nggak tahu kemana dia pergi."

Pembicaraan mereka pun terus bergulir.Cerita tentang masa-masa di bangku kuliah mereka. Tentang sebuah hubungan yang terjadi layaknya sebuah kompetisi.

"Terus apa Lo akan tetap tinggal di sini Sa?" Reksa masih tidak bereaksi. " Gue rasa omongan bokap lo ada benernya juga soal perusahaan keluarga lo yang harusnya sudah lo pegang dari dulu. Bokap lo yang semakin tua pasti sangat butuh bantuan lo buat pegang perusahaan." Adrian menepuk pelan pundak Reksa.

" Itu pasti, tapi bukan sekarang." Seorang Reksa memang sudah lama menetap di luar negeri. Namun dalam hati yang paling dalam pastinya dia merindukan keluarga nya yang ada di Indonesia.

Selama ini kedua orang tuanya yang selalu menyempatkan diri untuk mengunjunginya di London. Sudah berulang kali Hanum sang ibu memintanya untuk kembali ke Indonesia.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu di Indonesia, Tari dan putrinya kini tinggal di rumah keluarga Nugraha.

Sofia sudah mulai sekolah Yayasan Nugraha.

"Bunda," terlihat bocah sepuluh tahun memanggil sang bunda dan mendekat ke arah Tari.

Tari yang sedang ada di dapur menoleh ke arah pintu penghubung mansion dan paviliun dengan senyum lebarnya melihat malaikat kecilnya mendekati nya. "Ada apa sayang? " dengan lembut Tari merespon sang putri.

"Bun. Lusa kan hari ayah, apa bisa minta ayah Wisnu buat datang ke sekolah Fia sebentar?" gadis cilik yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu dengan ragu mengutarakan keinginannya pada sang bunda.

Tari yang sedang memotong bawang pun menghentikan kegiatan nya dan kemudian menatap sang putri. " Biar bunda yang datang ke sekolah kamu. Nggak perlu ayah juga."

" Tapi kan__

" Sofia, dengar kata bunda kan?" Sofia pun mengangguk dengan lemah.

"Kalau gitu, Fia berangkat dulu bun. " Sofia mengulurkan tangannya tangan Tari dengan takzim "Assalamu'alaikum.." dengan mengucapkan salam, Sofia melangkah keluar lewat pintu belakang untuk menuju halaman depan.

"Wa'alaikum salam.." Tari pun menjawab salam dari Sofia.

"Tar, kenapa kamu nggak coba untuk minta mantan suami kamu ke sekolah Sofia, kasihan dia." Tari sejenak diam mendengarkan ucapan bi Marni.

"Mas Wahyu nggak akan mau bi. Sebenarnya, Sofia bukan anak kandung mas Wahyu dan aku." bi Marni mendengar pengakuan Tari tentu saja terkejut.

Bukan apa, Tari hanya menceritakan tentang perceraian nya dengan mantan suaminya Wahyu yang ternyata lebih memilih untuk bersama selingkuhan nya.

" Lalu Sofia__

"Nanti aku ceritakan bi." bi Marni mengangguk mengiyakan perkataan Tari.

Di saat makan siang, sesuai dengan janji Tari yang ingin menceritakan tentang apa yang sebenarnya yang terjadi pada pernikahan Tari dan mantan suaminya itu.

"Jadi, apa sebenarnya terjadi Tari? Kenapa kamu bilang kalau Sofia bukan anak kandung mantan suami kamu?" Tari menarik nafas panjang sebelum dia menceritakan tentang kisah hidupnya yang sebenarnya.

"Sebenarnya, sebelas tahun lalu.. Tari sudah melakukan kesalahan yang mengakibatkan adanya Sofia." bi Marni mengerti dan paham apa yang di maksud Tari.

"Kenapa kamu nggak minta tanggung jawab laki-laki itu?" Tari menggelengkan kepalanya.

"Saat itu Tari sudah terlanjur kecewa dengan laki-laki baji*gan itu bi, ternyata dia sudah bohong sama Tari. Dia dan beberapa sahabatnya, menjadikan Tari taruhan..hiks hiks hiks.." bi Marni melebarkan matanya mendengar pengakuan Tari.

"Taruhan, astaghfirullah.. maksudnya bagaimana Tari!" bi Marni benar-benar tak menyangka ada orang sejahat itu pada Tari.

" Sahabat pria breng*ek itu memberikan tantangan untuk membuat Tari pacaran dengan pria breng*ek itu. Sampai hampir satu tahun kami bersama-sama dan saat dua bulan sebelum wisuda, kesalahan fatal itu terjadi. Saat Tari ingin kasih tahu tentang kehamilan Tari ke dia, Tari nggak sengaja dengar kalau sebenarnya Tari di jadikan bahan taruhan mereka. Laki-laki itu, dia bahkan tidak sedikit pun merasa bersalah.." mengingat kejadian itu, mata Tari terlihat berkaca-kaca.

" Jadi, laki-laki itu nggak tahu kalau kamu hamil?" Tari menggelengkan kepalanya.

Marni mengusap punggung Tari, berusaha untuk menenangkan wanita yang bernasib malang itu.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Suhainah Haris

Suhainah Haris

upnya gak bisa lebih sering kak, semangat 💪

2026-01-04

0

Nar Sih

Nar Sih

lanjutt kak👍

2026-01-05

0

ngatun Lestari

ngatun Lestari

lanjut... semangat terus💪

2026-01-04

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!