Jerat Cinta Lama Sang Billionaire
Sebuah mobil masuk ke dalam halaman sebuah mansion mewah di area elit di pusat kota.
Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil bersama seorang perempuan dan seorang bocah berusia 10 tahun.
"Malam nyonya.."wanita paruh baya itu menyapa seorang perempuan yang sedang sibuk dengan ponselnya sembari duduk di ruang tamu.
Perempuan itu menatap wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kediamannya. Lalu pandangannya dia arahkan pada sosok perempuan asing yang berdiri di samping perempuan paruh baya itu yang merupakan salah satu asisten rumah tangga di rumah besar itu.
" Malam bi, ini...
Perempuan itu menunjuk ke arah perempuan asing dan anak perempuan yang datang bersama pembantu nya tersebut.
Tatapan intens sang majikan di arahkan ke bocah 10 tahun yang memeluk tubuh sang ibu dengan wajah terlihat takut.
Bi Marni mencoba untuk menjelaskan kenapa dia tiba-tiba bawa orang asing ke rumah besar itu. "Maaf nyonya, ini Utari dan ini putrinya Sofia. Saya bertemu mereka di terminal . Tari tadi habis kecopetan,makanya saya bawa dia kesini. Jika nyonya mengijinkan, untuk malam ini mereka untuk tinggal disini. Mereka akan keluar besok pagi-pagi buat cari tempat tinggal."
Hanum, majikan dari bi Marni perlahan beranjak dari tempat duduknya. Dia terlihat mendekati Tari dan anaknya.
Terlihat dia menatap lekat anak perempuan yang semakin erat memeluk tubuh sang ibu. "Maaf nyonya, jika memang nyonya tidak mengijinkan.. biar...
Belum juga bi Marni menyelesaikan ucapannya, Hanum tiba-tiba berkata " Antar mereka ke paviliun. Malam ini mereka bisa tidur di kamar bekas Wulan." Bi Marni, mendengar ucapan Hanum langsung tersenyum dan mengangguk . Rasanya dia bisa bernafas lega saat majikannya mengijinkan Tari dan putrinya untuk menginap di paviliun di belakang kediaman nya.
"Te_terimakasih nyonya, kami tidak akan lupa kebaikan nyonya." tiba-tiba saja perempuan bernama Utari itu buka suara dan berterimakasih karena Hanum karena sudah mengijinkan Tari dan putrinya tinggal semalam di rumah itu.
"Hemmm.." Hanum terlihat hanya menanggapinya dengan singkat.
"Ayo, biar bibi antar ke kamar kalian." Utari menganggukan kepalanya dan kemudian mengikuti langkah bi Marni ke rumah yang ada di belakang mansion yang di khususkan untuk para pekerja di mansion besar itu.
Setelah Utari dan anaknya di bawa pergi oleh bi Marni, Hanum duduk dan terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Hanum merasa saat menatap wajah Sofia, Hanum merasa wajah bocah itu begitu familiar. Tapi, dia lupa entah dimana bertemu dengan wajah mirip dengan anak itu.
Karena merasa mengganjal di hati, Hanum pun memanggil salah satu pekerja yang kebetulan melintas di depannya. "Pak Tomo, tolong panggil Bi Marni kesini." tak lama Hanum pun meminta salah satu pekerja disana untuk memanggil bi Marni.
"Baik nyonya." laki-laki bernama Tomo langsung berjalan ke arah paviliun.
Tak begitu lama, bi Marni pun datang dan terlihat mendekati Hanum. "Nyonya panggil saya?" Hanum mengangguk mengiyakan.
"Duduk bi, ada yang saya ingin tanyakan." bi Marni mengangguk dan duduk di salah satu kursi. "Saya ingin tanya soal Utari.' bi Marni menatap bingung ke arah Hanum.
"Maaf nya, nyonya mau tanya apa?"
Hanum menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama mereka, sepertinya anaknya kelihatan ketakutan."
Bi Marni mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Sebenarnya, saya bertemu dengan mereka di terminal. Saat itu, Tari habis kecopetan , saat saya akan masuk ke dalam mobil dan kebetulan melihat Sofia menangis ketakutan. Utari dan anaknya baru saja di usir oleh suaminya. Utari menolak di madu, makanya suaminya mengusir Tari dan Sofia. Bahkan hanya berbekal sisa uang belanja yang sengaja Tari kumpulkan setiap harinya.
Mendengar cerita bi Marni, hati Hanum pun terenyuh. Dia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Tari saat orang yang seharusnya menjadi pelindung untuk anak dan istrinya, malah berperilaku kejam sampai mengusir anak dan istrinya. Binatang saja masih peduli dengan darah dagingnya, tapi manusia lebih tega mengusir istri dan anaknya demi wanita lain.
"Bi, sementara ini belum ada pengganti Wulan. Jadi, jika Tari mau dia bisa bekerja disini. Besok pagi setelah sarapan, bibi ajak dia menemui saya."'
Bi Marni dengan cepat menganggukan kepalanya. "Terimakasih nyonya, terimakasih sudah baik mau mempekerjakan Tari disini. Besok pagi saya akan sampaikan pada Tari dan langsung saya ajak Tari menemui nyonya."
Bi Marni begitu senang mendapat kabar yang baik itu. Bahkan Bi Marni nggak tega lihat Sofia harus merasakan susahnya mencari tempat tinggal.
"Baiklah, kalau begitu..bibi bisa istirahat." Marni mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya
"Baik nyonya, saya permisi.." Hanum hanya menganggukan kepalanya kemudian Marni melangkah meninggalkan teman itu.
...----------------...
Di pagi hari bi Marni sudah mengetuk pintu kamar yang di tempati Utari dan putrinya.
Tak lama kemudian pintu kamar itu terlihat terbuka. "Bi, bisa tunggu sebentar, Sofia sedang mandi."
" Tari, sebenarnya bibi mau tawarkan pekerjaan buat kamu." Tari yang mendengar ucapan Marni tentu saja terkejut karena tak percaya secepat itu bi Marni mendapatkan tawaran kerja untuk dirinya.
"Tawaran pekerjaan?" Marni menganggukan kepalanya.
"Iya. Semalam nyonya Hanum menawarkan pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga untuk kamu. Tapi, jika kamu tidak berminat __
"Tari mau bi.." Tari memotong ucapan Marni dan langsung menjawab dengan penuh semangat untuk menerima pekerjaan yang Hanum tawarkan.
"Sebagai Art nggak apa-apa?" Marni menatap ragu.
"Nggak apa-apa, lagi pula kalau Tari cari kerja diluar pun belum tentu sehari dapat bi. Tari bahkan sangat bersyukur sudah di pertemukan dengan bibi lalu dengan nyonya Hanum. Tapi, soal Sofia__
"Kamu tenang saja, nanti bibi akan bantu ngomong sama nyonya. Sekarang, kamu tetap disini. Setelah sarapan, kamu akan bibi bawa menghadap nyonya Hanum."
"Baik bi, terimakasih sekali lagi bi, terimakasih.." bi Marni tersenyum dan menepuk bahu Tari pelan.
"Jangan sungkan Tari, semua sudah di atur Allah. Bibi tunggal dulu, bibi akan mulai kerja dulu. Nanti bibi akan kesini lagi." Tari mengangguk dan bi Marni pun meninggalkan kamar yang di tempati Tari dan putrinya.
"Bunda, apa kita akan tinggal disini? rumah nya besar banget. Kalau Fia punya rumah sebesar ini pastinya Fia seneng.." bocah sepuluh tahun itu terlihat menatap hamparan rumput hijau di belakang mansion.
"Amiin.. walaupun kita tidak punya rumah sebesar ini, yang terpenting buat bunda akan selalu bahagia jika bisa terus sama kamu sayang.." Sofia menatap sang bunda yang terlihat murung.
"Bun, kenapa ayah Wisnu jahat sama kita? Kenapa ayah lebih milih tante jahat itu dari pada sama kita?" dengan wajah sedihnya bocah itu dengan polosnya bertanya soal sikap ayah sambungnya yang telah mengusir dirinya dan sang bunda demi perempuan yang menurutnya lebih baik.
"Sayang, dengar bunda. Mulai sekarang, cukup hanya kita berdua. Selama Sofia di sisi bunda, buat bunda nggak masalah. Sofia harus tetap ingat untuk jadi anak baik dan harus terus belajar supaya pintar. Jika nanti bunda bekerja di sini, Sofia harus baik dengan siapa pun di rumah ini, jangan lupa untuk selalu sopan sama siapapun. Mengerti?" Sofia mengangguk dan memeluk tubuh Tari dengan erat.
Anak dan ibu itu pun akhirnya diminta tinggal di paviliun dan Tari mulai bekerja di kediaman Nugraha sebagai asisten rumah tangga. Sementara itu, Hanum pun memasukkan Sofia di Sekolah milik yayasan keluarga Nugraha.
Tari begitu bersyukur sudah bertemu dengan orang-orang baik setelah keluar dari rumah di mana dia di buang seperti sampah oleh mantan suaminya. Kini dia mulai belajar berdamai dengan keadaan dan bertekad untuk menjalani hidup dengan baik dengan sang putri.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Gustinur Arofah
𝚖𝚎𝚗𝚊𝚛𝚒𝚔 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒𝚗𝚢𝚊, 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚖𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚛𝚒𝚔, 𝚓𝚗𝚐𝚗 𝚔𝚎𝚋𝚊𝚗𝚢𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚒𝚛 𝚖𝚊𝚝𝚊 𝚢 𝚝𝚑𝚘𝚛, 𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚊𝚝𝚊𝚔𝚞 𝚐𝚊𝚖𝚙𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚒𝚛🤣🤣🤣🤣🤣
2026-01-02
0
Nar Sih
alhamdulilah kak puspa yg lama di tunggu udah hadir lgi ,siipp kakk👍🥰🥰
2026-01-03
0
Gustinur Arofah
𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚞 𝚔𝚘𝚙𝚒 𝚍𝚊𝚗 𝚋𝚞𝚗𝚐𝚊 𝚋𝚒𝚊𝚛 𝚞𝚙 𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝😚😚😚
2026-01-02
0