Seandainya...( R)

"Bunda!" Fia mendekati Tari yang masih terpaku menatap orang yang saat itu di belakang Fia.

"Tari, kamu Utari __

"Fia. Ayo, kita harus cepat pulang!" dengan cepat Tari menarik tangan Fia untuk cepat-cepat pergi dari tempat itu.

Tapi tidak semudah itu, untuk menghindar dari seorang laki-laki yang sudah menarik tangan Tari sehingga langkah Tari terhenti.

"Tari, kamu kemana saja. Kita-kita cari kamu kemana-mana. Apalagi...

"Cukup!! maaf, aku minta kamu jangan pernah kasih tahu dia kalau aku masih di kota ini. Aku nggak bisa lagi ketemu sama dia. Aku permisi dulu." Tari segera melepaskan tangannya yang sempat di tahan oleh laki-laki yang merupakan teman satu kampusnya dulu. " Fia, ayo !!" Tari dengan cepat menarik tangan Fia pergi dari sana.

Laki-laki itu terlihat ingin mengejar Tari namun tiba-tiba seorang perempuan memanggil dirinya.

"Doni! kamu kemana saja sih, aku cari-cari loh di sana!" seorang perempuan dengan wajah kesal memanggil laki-laki itu dengan nama Doni.

Tari sesekali menatap ke belakang takut laki-laki bernama Doni itu mengikutinya. Jantung nya berdebar kencang saat mengingat kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang pernah ada di dalam masa lalunya.

"Bunda, bunda kenapa? Apa om tadi orang jahat?" Sofia terlihat bingung dengan sikap Tari setelah bertemu Doni tadi. Tari langsung mendekap erat putrinya.

" Ayo, kita harus cepat-cepat pulang." Tari tak menjawab pertanyaan putrinya.

"Ya Allah, semoga Doni nggak pernah bilang kalau aku masih di kota ini. Jangan pernah Engkau pertemukan hamba dengan orang itu ya Allah.." dalam hati Tari meminta untuk tidak pernah bertemu dengan orang yang dulu sudah melukai hatinya.

Sampai di mansion Tari dan Fia langsung ke paviliun. Saat melintas di area dapur belakang, para pekerja disana sedang beristirahat sembari ngobrol santai.

"Ehh...Fia, kamu bawa apa cantik!" seorang tukang kebun bernama Jamal menegur Fia yang terlihat membawa piala di tangannya.

"Ini piala punya Fia om, tadi Fia ikut lomba sama Opa Pram! Ehh..menang dan dapet 3 piala!" dengan wajah terlihat gembira, Fia menceritakan jika dia ikut lomba dengan Opa Pram.

"Opa Pram, siapa itu?"

"Masa Om Jamal nggak tahu, Opa Pram...Opa Pramana."

Mendengar ucapan bocah itu, semua yang ada di sana saling pandang dan kemudian menatap Tari yang baru saja ingin kembali ke kamarnya.

"Tari, tadi anak kamu ikut lomba?" Tomo yang melihat Tari langsung bertanya

"Iya mang Tomo,kenapa?" dengan senyum tipis Tari menjawab santai.

" Sama Opa Pram, siapa dia?" Kembali terdengar suara Jamal kembali bertanya pada Tari.

"Tuan besar. Tadi kebetulan beliau sedang pantau Yayasan. Jadi, ngajak Fia ikut lomba." Tari pun dengan senyum kikuk menjelaskan tentang kejadian di sekolah walaupun ada cerita yang sedikit dia karang.

"Walahhh...anak mu untung banget toh Tar, baru sebulan di sini bahkan sudah suruh panggil tuan besar Opa, kayak cucu nya saja.." sindiran halus terdengar dari seorang perempuan yang juga menjadi salah satu asisten rumah tangga di mansion itu.

" Itu cuma kebetulan saja mba Mini, lagi pula panggilan itu juga tuan besar yang usulkan buat Fia panggil Opa Pram."

"Penjilat." dengan nada lirih Mini berkata dengan pedas.

"Mini, sudah! Kamu ini kenapa pedes gitu ngomong nya. Lagi pula tuan besar sendiri yang minta di panggil Opa sama Fia. Kenapa kamu yang sewot sih.." akhirnya bi Marni pun mencoba untuk membuat Mini berhenti nyinyir pada Tari dan Fia.

Sedari awal keberadaan Tari dan Fia di mansion itu, yang terang-terangan tidak menyukai mereka adalah Mini. Dia sebelumnya memang di tugaskan untuk di bagian dapur dan dia merasa dekat dengan Marni yang merupakan kepala pelayan disana. Tapi, semenjak ada Tari semua berubah. Bahkan terlihat orang-orang lebih dekat dengan Tari dan putrinya. Jadilah dia merasa cemburu dan tersaingi. Apalagi wajah Tari yang sudah berusia kepala tiga masih terlihat cantik walaupun tanpa make up.

...----------------...

"Marni, saya dengar tadi sore di belakang rame-rame ada apa? Apa ada masalah?' Hanum yang sempat melihat ada sedikit ketegangan saat dia tak sengaja melihat para pekerja yang sedang berkumpul .

"Ah ..biasa nyonya, si Mini. Mungkin dia merasa cemburu sama Tari. Apalagi tadi Fia cerita kalau dia dapet piala habis menang lomba dan ternyata lomba sama tuan besar. Sudah begitu, Fia panggil tuan besar Opa Pram. Mini rasa Fia terlalu lancang. Tapi Tari bilang kalau tuan besar sendiri yang minta di panggil Opa sama Fia.."

Marni memang tak menutup-nutupi apa yang terjadi tadi sore di belakang. Dia tak ingin Hanum salah paham pada Tari dan anaknya.

"Astaghfirullah, karena itu saja Mini bisa kesal sama anak kecil? ada-ada saja dia." mendengar ucapan Hanum, Marni sedikit heran kenapa nyonya Hanum seperti tak keberatan dengan panggilan Fia pada suaminya.

" Nyonya nggak masalah kalau Fia panggil tuan besar Opa Pram?" Hanum terkekeh mendengar ucapan Marni.

"Bi, apa bibi pernah berpikir kalau wajah Fia itu mirip__

"Nyonya, jangan bilang nyonya berpikir kalau Fia mirip tuan muda. Nyonya, awal saya bertemu Fia..saya merasa bertemu tuan muda di versi lainnya." Hanum mengangguk lalu dia terlihat menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.

" Bibi benar, saat saya melihat Sofia saya ingat Reksa kecil. Sampai saya bilang sama mas Pram soal itu. Dia pun berpikir yang sama. Tapi, saat saya ingat status Tari yang janda, saya merasa kalau apa yang saya pikirkan tentang dia itu salah."

Bi Marni terlihat terdiam dan mengerutkan keningnya.

"Apa Jangan-jangan laki-laki yang nggak bertanggung jawab itu adalah tuan muda. Apa aku harus tanya Tari? Tapi, kelihatan nya Tari masih enggan untuk membahas tentang laki-laki itu. Bahkan aku rasa Tari nggak ingin bertemu lagi dengan laki-laki itu. Tapi kalau benar Fia anak tuan muda dan Tari, apa yang akan nyonya dan tuan besar lakukan sama Tari dan Fia? Ya Allah, jika memang Fia anak tuan muda dan Tari, semoga Tari bisa memaafkan tuan muda. Pasti ada hal yang membuat mereka salah paham."

Bi Marni hanya bisa membatin dan berharap dalam hati jika memang Fia anak dari sang tuan muda. Tari bisa memaafkan kesalahan tuan mudanya dulu. Bagaimana pun Fia butuh ayahnya.

" Bi, bi Marni..!!" bi Marni terperanjat saat mendengar suara Hanum yang menegurnya.

"Nyo_nyonya maaf, saya kebelakang dulu.." dengan wajah sedikit panik Bi Marni pun langsung ijin untuk undur diri dan hal itu membuat Hanum terheran-heran dengan sikap bi Marni yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Nia nurhayati

Nia nurhayati

iya bener nyonya hanum dofia adalah putrinya tuan muda reksa da sofia itu cucu andaa

2026-01-11

0

Elly Maryani

Elly Maryani

doni bilang ma reksa suruh pulang,

2026-01-11

0

Nar Sih

Nar Sih

seperti nya perkiraan bu marni dan nyonya hanum bnr yaa ,fia ank dri putra nya

2026-01-11

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!