BAB 3

JEJAK PENGKHIANATAN DI BALIK CERMIN

Lantai dapur terasa sangat dingin di bawah lututku. Rasa mual itu bukan hanya karena kondisi fisikku, tapi karena kenyataan yang baru saja menyumbat napasku. Di hadapanku, Stevanus berdiri seperti raksasa yang murka. Dia merampas ponsel itu dari tanganku dengan kasar hingga kuku jarinya menggores luka bakarku.

"Berani-beraninya kamu menyentuh barangku!" suaranya menggelegar, namun ada nada panik yang tertahan di sana.

Aku masih terengah-engah, mencoba menguasai rasa mual yang melilit perut. "Mas... anting itu... pesan dari Maya itu... apa maksudnya?" suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar.

Stevanus terdiam sejenak. Dia melihat anting mutiara yang tergeletak di dekat pecahan porselen, lalu menatapku dengan tatapan paling dingin yang pernah kulihat. Tidak ada penyesalan. Tidak ada permintaan maaf.

"Maksudnya? Maksudnya adalah aku bosan, Yati!" Dia tertawa hambar, sebuah tawa yang menyayat hatiku lebih dalam dari sembilu. "Kamu pikir kenapa aku mempertahankan Maya sebagai sekretaris selama tiga tahun? Karena dia tahu cara menyenangkan pria, tidak seperti kamu yang hanya bisa menangis dan memasang wajah seperti korban setiap hari!"

Duniaku serasa berhenti berputar. Lima tahun pengabdianku, semua rasa sakit yang kutelan bulat-buat, dianggap tidak ada artinya hanya karena aku tidak "menyenangkan" baginya.

"Dia sahabatku, Mas... Dia tempatku bercerita saat aku terluka olehmu..."

"Itulah yang membuatnya semakin menarik," potong Stevanus sambil merapikan dasinya di depan cermin dapur, seolah-olah dia baru saja membicarakan cuaca. "Dia menceritakan semua keluhan konyolmu padaku sambil tertawa di tempat tidur. Kamu benar-benar naif, Yati. Itulah alasan kenapa kamu pantas ditindas. Kamu terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dunia ini tidak punya tempat untuk orang lemah."

Dia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang kini tercium seperti bau bangkai di hidungku. Namun, sebelum dia benar-benar keluar, dia berbalik.

"Bersihkan dirimu. Bau muntahmu menjijikkan. Dan jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini, atau aku pastikan keluargamu di kampung akan menanggung akibatnya."

Brak! Pintu depan tertutup dengan dentuman keras.

Aku terisak sendirian di dapur yang berantakan. Tanganku yang melepuh mulai berdenyut hebat, tapi rasa sakit di rahimku terasa lebih mendesak. Aku harus tahu. Aku harus memastikan firasat ini.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku pergi ke apotek terjauh dari rumah agar tidak ada yang mengenaliku. Aku membeli tiga alat tes kehamilan berbeda. Sepanjang jalan pulang, tanganku tak berhenti mengusap perut. Ada ketakutan yang luar biasa: Jika benar ada nyawa di sini, nyawa ini adalah darah daging dari pria yang baru saja menghinaku sebagai sampah.

Di kamar mandi, aku menunggu dengan jantung yang berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Satu menit terasa seperti satu abad.

Dua garis merah. Jelas. Tegas.

Air mataku jatuh seketika, namun kali ini bukan air mata kesedihan biasa. Ini adalah air mata ketakutan yang amat sangat. Di saat aku ingin menyerah pada hidup, Tuhan justru menitipkan satu nyawa yang harus kulindungi. Namun, bagaimana aku bisa melindungi anak ini jika aku sendiri adalah tawanan di rumah ini?

Aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas. Mataku tertuju pada lemari rias besar milikku. Aku mendekat, melihat pantulan diriku di cermin. Bedak yang luntur, bibir yang pecah, dan mata yang sembap.

Aku membuka laci rias, mencari sesuatu. Di sana, di balik tumpukan perhiasan mahal yang jarang kupakai, aku menemukan sebuah foto kecil foto kami saat awal menikah. Kami tampak sangat bahagia. Atau mungkin, hanya aku yang bahagia sementara dia sedang merencanakan penindasanku.

Tiba-tiba, rasa benci yang murni mulai tumbuh di sela-sela rasa takutku. Aku tidak boleh membiarkan anak ini tumbuh di tangan pria kejam seperti Stevanus. Aku tidak boleh membiarkan dia menjadi alat untuk mengikatku selamanya dalam neraka ini.

Aku harus mencari bukti lebih banyak. Aku harus tahu apa yang mereka rencanakan.

Sore itu, saat Stevanus belum pulang, aku menyelinap ke ruang kerjanya yang selalu terkunci. Beruntung, aku pernah mengintip kode brankasnya saat dia mabuk beberapa bulan lalu. Dengan tangan gemetar, aku menekan angka-angka itu.

Klik.

Brankas itu terbuka. Di dalamnya terdapat tumpukan uang tunai, dokumen perusahaan, dan sebuah map hitam bertuliskan "Harta Warisan Keluarga Yati".

Jantungku berhenti berdetak. Keluargaku memang punya tanah luas di desa yang sedang diincar untuk proyek jalan tol pemerintah. Ayahku menitipkan surat-suratnya padaku sebelum dia meninggal. Stevanus bilang dia yang akan mengurusnya agar lebih aman.

Aku membuka map itu. Isinya bukan surat tanah, melainkan surat kuasa palsu yang menyatakan bahwa aku telah menjual seluruh aset keluargaku kepada perusahaan milik Stevanus dengan harga yang sangat rendah. Dan di sana, ada tanda tanganku yang jelas-jelas dipalsukan.

Dia bukan hanya menghancurkan jiwaku. Dia telah merampok masa depan keluargaku.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Bukan langkah kaki Stevanus yang berat, melainkan suara sepatu hak tinggi yang tajam. Klik, klok, klik, klok.

Aku segera menutup brankas, tapi tidak sempat menguncinya. Aku bersembunyi di balik gorden besar yang menutupi jendela ruang kerja.

Pintu terbuka. Maya masuk ke dalam ruangan. Dia tidak menyadari keberadaanku. Dia berjalan langsung ke meja kerja Stevanus, duduk di kursinya dengan angkuh, dan mengeluarkan ponselnya. Dia melakukan panggilan video.

"Halo, Sayang... Iya, aku sudah di rumahmu. Si bodoh itu sepertinya sedang tidur atau menangis di kamarnya," Maya tertawa renyah, suara yang dulu sangat aku percayai. "Kapan kita akan menyingkirkannya secara permanen? Aku sudah bosan melihat wajahnya. Apalagi setelah surat tanah itu beres, kita tidak butuh dia lagi, kan?"

Aku membekap mulutku sendiri agar tidak berteriak. Air mata kemarahan mengalir deras.

Suara Stevanus terdengar dari seberang telepon, cukup keras untuk kudengar di kesunyian ruangan itu. "Sabar, Maya. Sedikit lagi. Aku sudah mengatur skenario kecelakaan untuknya akhir pekan ini. Setelah dia 'pergi', semua hartanya dan tanah itu akan jadi milik kita sepenuhnya. Kita akan merayakannya dengan bayi kita nanti."

Duniaku gelap seketika. Bayi? Apakah Maya juga sedang hamil?.

Terpopuler

Comments

Bela Viona

Bela Viona

sesekali klo bikin kopi,di kasih 3 tetes racun tikus kn gak masalah thor...
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik

2026-01-14

1

Serena Khanza

Serena Khanza

ya udah kenapa gak nikah aja sama sekretaris mu itu 😤 dasar laki laki murahan 😡

2026-02-04

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: GAUN PUTIH YANG TERNODA
2 BAB 2
3 BAB 3
4 BAB 4: KABAR GEMBIRA DI WAKTU YANG SALAH
5 BAB 5: NERAKA DI RUMAH SENDIRI
6 BAB 6: NAFAS DI BALIK KEMATIAN
7 BAB 7: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
8 BAB 8: JAMUAN DI ATAS LUKA
9 BAB 9: HARAPAN YANG TERSISA
10 BAB 10: PERMAINAN DI UJUNG TANDUK
11 BAB 11: KEMBALI KE SANGKAR BERDARAH
12 BAB 12: SOSOK DI BALIK BAYANG-BAYANG
13 BAB 13: SUDUT SEMPIT DI UJUNG BELATI
14 BAB:14 JEBAKAN DALAM KEPANIKAN
15 BAB 15: NYAWA DI UJUNG DUSTA
16 BAB 16: TARUHAN NYAWA DI ATAS MARMER
17 BAB 17: DETAK DARI KEGELAPAN
18 BAB 18: IBLIS DI BALIK LAYAR
19 Draft
20 BAB 20: DI ANTARA DUA MAUT
21 BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH
22 BAB 22: RAHIM DI ATAS BELATI
23 BAB 23: CERMIN DUA WAJAH
24 BAB 24: TEBING KEMATIAN
25 BAB 25: TAMU DARI MASA LALU
26 BAB 26: DARAH DINGIN DI BALIK KACA
27 BAB 27: JATUH KE DALAM RAHIM BUMI
28 PARADOKS DARAH DAN BAJA
29 RAHASIA DI DASAR SAMUDRA
30 SUAMI YANG SEBENARNYA
31 BAB 31: YATIM DI TENGAH DARAH
32 BAB 32: PROTOKOL KELAHIRAN GELAP
33 BAB 33: RAHIM YANG MENGAMUK
34 BAB 34: PILIHAN SANG ALGOJO RAHIM
35 BAB 35: TANGISAN DI LORONG WAKTU
36 BAB 36: KUTUKAN YANG TERULANG
37 BAB 37: PERTARUHAN SANG SEKUTU
38 BAB 38: RAHIM KODE BINER
39 BAB 39: PERANG DI TENGAH PINUS
40 BAB 40: PINTU MENUJU NOL
41 BAB 41: TAWA IBLIS DI MANHATTAN
42 BAB 42: PENGKHIANAT DI BALIK SALJU
43 BAB 43: ANTARA CINTA DAN KEHANCURAN
44 BAB 44: TANGISAN PERAK DI TENGAH BADAI
45 BAB 45: TERJUN KE DALAM KEGELAPAN
46 BAB 46: DETAK KIAMAT DI BAWAH MANHATTAN
47 BAB 47: GERBANG CAHAYA DI TITIK NOL
48 BAB 48: MELAYAT DIRI SENDIRI
49 BAB 49: ASIMILASI DUA JIWA
50 BAB 50: PILIHAN DI ATAS ABU
51 BAB 51: CERMIN KEGELAPAN
52 BAB 52: PENEBUSAN DI ATAS GELOMBANG
53 BAB 53: GERIMIS DARAH DI BORNEO
54 BAB 54: ANAK YANG BUKAN MANUSIA
55 BAB 55: GERBANG 1975
56 BAB 56: PERJAMUAN MAUT 1975
57 BAB 57: PERISAI RAHIM TERAKHIR
58 BAB 58: NYAWA DI UJUNG PARADOKS
59 BAB 59: BERBURU BAYANGAN SENDIRI
60 BAB 60: PENGORBANAN DI TITIK NOL
61 BAB 61: IDENTITAS YANG TERBELAH
62 BAB 62: KEMATIAN SANG PION
63 BAB 63: BENIH DI BALIK CERMIN
64 BAB 64: DERMAGA KEMATIAN DAN JANJI PERAK
65 BAB 65: RAHASIA DARAH SANG PEMBANTU
66 BAB 66: AMARAH SANG PENAWAR
67 BAB 67: PERJAMUAN SANG PENGKHIANAT
68 BAB 68: DETIK YANG MEMBEKU
69 BAB 69: PENGKHIANATAN RAHIM
70 BAB 70: LABIRIN DI BAWAH AKAR
71 BAB 71: CAHAYA DI ATAS PENDERITAAN
72 BAB 72: HUJAN YANG MENGHAPUS DOSA
73 BAB 73: AWAL DARI AKHIR
74 BAB 74: SANG RATU KECIL DI ZURICH
75 BAB 75
76 BAB 76: SISA DEBU DI ATAS SALJU
77 BAB 77: WARISAN YANG TERSISA
78 BAB 78: DARAH YANG TERSEMBUNYI
79 BAB 79: FREKUENSI TERAKHIR ANWAR
80 BAB 80: KEMBALI KE TITIK NOL
81 BAB 81: GEMA YANG TAK TERHAPUS
82 BAB 82: PERANG DI DALAM PIKIRAN
83 BAB 83: GUA BAYANGAN DAN PARADOKS CAHAYA
84 BAB 84: JEJAK MELATI DI DIMENSI ANTARA
85 BAB 85: JANGKAR HARAPAN
86 BAB 86: STASIUN BIRU DI DASAR SAMUDERA
87 BAB 87: PELUKAN MAUT SANG PENCIPTA
88 BAB 88: TITIK NADIR DI KEDALAMAN
89 BAB 89: BISIKAN DARI KEDALAMAN ABADI
90 BAB 90: REUNI DI AMBANG REALITAS
91 BAB 91: BENIH BARU DI DUNIA YANG PULIH
92 BAB 92: LABIRIN KEHENINGAN
93 BAB 93: MEMORI YANG BERACUN
Episodes

Updated 93 Episodes

1
BAB 1: GAUN PUTIH YANG TERNODA
2
BAB 2
3
BAB 3
4
BAB 4: KABAR GEMBIRA DI WAKTU YANG SALAH
5
BAB 5: NERAKA DI RUMAH SENDIRI
6
BAB 6: NAFAS DI BALIK KEMATIAN
7
BAB 7: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
8
BAB 8: JAMUAN DI ATAS LUKA
9
BAB 9: HARAPAN YANG TERSISA
10
BAB 10: PERMAINAN DI UJUNG TANDUK
11
BAB 11: KEMBALI KE SANGKAR BERDARAH
12
BAB 12: SOSOK DI BALIK BAYANG-BAYANG
13
BAB 13: SUDUT SEMPIT DI UJUNG BELATI
14
BAB:14 JEBAKAN DALAM KEPANIKAN
15
BAB 15: NYAWA DI UJUNG DUSTA
16
BAB 16: TARUHAN NYAWA DI ATAS MARMER
17
BAB 17: DETAK DARI KEGELAPAN
18
BAB 18: IBLIS DI BALIK LAYAR
19
Draft
20
BAB 20: DI ANTARA DUA MAUT
21
BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH
22
BAB 22: RAHIM DI ATAS BELATI
23
BAB 23: CERMIN DUA WAJAH
24
BAB 24: TEBING KEMATIAN
25
BAB 25: TAMU DARI MASA LALU
26
BAB 26: DARAH DINGIN DI BALIK KACA
27
BAB 27: JATUH KE DALAM RAHIM BUMI
28
PARADOKS DARAH DAN BAJA
29
RAHASIA DI DASAR SAMUDRA
30
SUAMI YANG SEBENARNYA
31
BAB 31: YATIM DI TENGAH DARAH
32
BAB 32: PROTOKOL KELAHIRAN GELAP
33
BAB 33: RAHIM YANG MENGAMUK
34
BAB 34: PILIHAN SANG ALGOJO RAHIM
35
BAB 35: TANGISAN DI LORONG WAKTU
36
BAB 36: KUTUKAN YANG TERULANG
37
BAB 37: PERTARUHAN SANG SEKUTU
38
BAB 38: RAHIM KODE BINER
39
BAB 39: PERANG DI TENGAH PINUS
40
BAB 40: PINTU MENUJU NOL
41
BAB 41: TAWA IBLIS DI MANHATTAN
42
BAB 42: PENGKHIANAT DI BALIK SALJU
43
BAB 43: ANTARA CINTA DAN KEHANCURAN
44
BAB 44: TANGISAN PERAK DI TENGAH BADAI
45
BAB 45: TERJUN KE DALAM KEGELAPAN
46
BAB 46: DETAK KIAMAT DI BAWAH MANHATTAN
47
BAB 47: GERBANG CAHAYA DI TITIK NOL
48
BAB 48: MELAYAT DIRI SENDIRI
49
BAB 49: ASIMILASI DUA JIWA
50
BAB 50: PILIHAN DI ATAS ABU
51
BAB 51: CERMIN KEGELAPAN
52
BAB 52: PENEBUSAN DI ATAS GELOMBANG
53
BAB 53: GERIMIS DARAH DI BORNEO
54
BAB 54: ANAK YANG BUKAN MANUSIA
55
BAB 55: GERBANG 1975
56
BAB 56: PERJAMUAN MAUT 1975
57
BAB 57: PERISAI RAHIM TERAKHIR
58
BAB 58: NYAWA DI UJUNG PARADOKS
59
BAB 59: BERBURU BAYANGAN SENDIRI
60
BAB 60: PENGORBANAN DI TITIK NOL
61
BAB 61: IDENTITAS YANG TERBELAH
62
BAB 62: KEMATIAN SANG PION
63
BAB 63: BENIH DI BALIK CERMIN
64
BAB 64: DERMAGA KEMATIAN DAN JANJI PERAK
65
BAB 65: RAHASIA DARAH SANG PEMBANTU
66
BAB 66: AMARAH SANG PENAWAR
67
BAB 67: PERJAMUAN SANG PENGKHIANAT
68
BAB 68: DETIK YANG MEMBEKU
69
BAB 69: PENGKHIANATAN RAHIM
70
BAB 70: LABIRIN DI BAWAH AKAR
71
BAB 71: CAHAYA DI ATAS PENDERITAAN
72
BAB 72: HUJAN YANG MENGHAPUS DOSA
73
BAB 73: AWAL DARI AKHIR
74
BAB 74: SANG RATU KECIL DI ZURICH
75
BAB 75
76
BAB 76: SISA DEBU DI ATAS SALJU
77
BAB 77: WARISAN YANG TERSISA
78
BAB 78: DARAH YANG TERSEMBUNYI
79
BAB 79: FREKUENSI TERAKHIR ANWAR
80
BAB 80: KEMBALI KE TITIK NOL
81
BAB 81: GEMA YANG TAK TERHAPUS
82
BAB 82: PERANG DI DALAM PIKIRAN
83
BAB 83: GUA BAYANGAN DAN PARADOKS CAHAYA
84
BAB 84: JEJAK MELATI DI DIMENSI ANTARA
85
BAB 85: JANGKAR HARAPAN
86
BAB 86: STASIUN BIRU DI DASAR SAMUDERA
87
BAB 87: PELUKAN MAUT SANG PENCIPTA
88
BAB 88: TITIK NADIR DI KEDALAMAN
89
BAB 89: BISIKAN DARI KEDALAMAN ABADI
90
BAB 90: REUNI DI AMBANG REALITAS
91
BAB 91: BENIH BARU DI DUNIA YANG PULIH
92
BAB 92: LABIRIN KEHENINGAN
93
BAB 93: MEMORI YANG BERACUN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!