BAB 4: KABAR GEMBIRA DI WAKTU YANG SALAH

Dinding ruang kerja itu seolah mulai menghimpitku. Di balik gorden beludru yang berat, aku memeluk perutku dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Suara tawa Maya di telepon tadi masih terngiang, tajam seperti pisau yang mengiris gendang telingaku.

Skenario kecelakaan. Menyingkirkanku secara permanen. Bayi mereka.

Setiap kata itu seperti paku panas yang ditancapkan ke jantungku. Jadi, selama ini aku bukan hanya istri yang tidak dicintai, aku hanyalah penghalang bagi rencana besar mereka. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa pria yang baru saja menanamkan benih di rahimku, juga sedang menyiapkan liang lahat untukku.

Aku menunggu hingga suara sepatu hak tinggi Maya menjauh dan pintu ruang kerja tertutup kembali. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, aku keluar dari persembunyian. Kakiku terasa seperti jeli, tidak sanggup menopang berat badanku sendiri.

Aku harus lari. Kalimat itu bergema di kepalaku. Tapi ke mana? Seluruh aset keluargaku sudah dirampasnya dengan surat kuasa palsu itu. Aku tidak punya uang, tidak punya sekutu, dan sekarang... aku memiliki nyawa kecil yang bergantung padaku.

Aku kembali ke kamarku, mengunci pintu, dan jatuh terduduk di depan pintu. Aku mengusap perutku yang masih rata.

"Maafkan Ibu, Nak..." bisikku di sela isak tangis yang tertahan. "Ibu sangat menginginkanmu, tapi Ibu takut kamu tidak akan pernah melihat dunia jika kita tetap di sini."

Tiba-tiba, terdengar suara mesin mobil memasuki garasi. Itu Stevanus. Tubuhku secara otomatis bereaksi dengan ketakutan yang luar biasa. Setiap kali dia pulang, itu berarti awal dari babak baru penderitaanku. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, nyawa di rahimku menjadi taruhannya.

Aku segera mencuci wajahku, mencoba menghapus jejak air mata. Aku memakai syal sutra tebal untuk menutupi memar di leher dan bekas siraman kopi di tanganku. Aku harus bersikap normal. Aku harus menjadi "si bodoh" yang mereka tertawakan, setidaknya sampai aku menemukan cara untuk keluar.

Pintu kamar terbuka. Stevanus masuk dengan wajah yang terlihat sedikit lebih cerah dari pagi tadi mungkin karena rencana pembunuhanku sudah matang di kepalanya.

"Yati, kamu sudah bangun?" tanyanya dengan nada yang berpura-pura lembut, namun matanya tetap sedingin es.

"Sudah, Mas," jawabku sambil menunduk, mencoba menghindari kontak mata yang bisa membongkar rahasiaku.

Dia mendekat, mengusap kepalaku dengan gerakan yang seharusnya mesra, namun bagiku terasa seperti predator yang sedang memeriksa mangsanya sebelum diterkam. "Maafkan aku soal tadi pagi. Aku hanya sedang stres dengan proyek tol itu. Kamu tahu kan, aku melakukan semua ini demi masa depan kita?"

Masa depan kita? Atau masa depanmu dengan Maya? teriakku dalam hati.

"Iya, Mas. Aku mengerti," hanya itu yang sanggup kukatakan.

"Bagus. Nah, sebagai permintaan maaf, akhir pekan ini aku akan mengajakmu berlibur ke vila di puncak. Kita butuh waktu berdua, hanya kita, tanpa gangguan," dia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Jantungku berdegup kencang. Vila di puncak. Jalannya curam dan rawan kecelakaan. Itulah tempatnya. Itulah saat di mana dia berencana menghabisi nyawaku.

Aku merasa harus mengatakannya. Mungkin, jika dia tahu aku hamil, sisa-sisa kemanusiaannya akan muncul. Mungkin dia akan membatalkan niat jahatnya demi anaknya sendiri. Itu adalah pemikiran paling bodoh yang pernah kupunya, namun sebagai seorang wanita yang terpojok, aku mencari pegangan pada harapan sekecil apa pun.

"Mas..." aku meraih tangannya yang besar dan kasar. "Sebenarnya, ada sesuatu yang harus aku sampaikan."

Stevanus menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku. "Aku... aku sudah terlambat bulan. Tadi aku tes, dan hasilnya positif. Mas, aku hamil."

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Aku menatap matanya, mencari binar kebahagiaan, mencari air mata haru, atau setidaknya keterkejutan yang tulus.

Namun, yang kutemukan hanyalah kebencian yang murni.

Wajah Stevanus berubah menjadi pucat, lalu merah padam. Dia tidak memelukku. Dia justru mendorongku hingga aku tersungkur ke atas ranjang.

"Hamil?!" suaranya meledak, bukan karena senang, tapi karena murka. "Bagaimana mungkin kamu hamil sekarang?! Sialan!"

Dia mulai mondar-mandir di kamar seperti singa yang terkurung. "Aku sudah bilang berkali-kali, aku belum mau anak dari wanita seperti kamu! Kamu itu lemah, penyakitan, dan hanya bisa merengek! Bagaimana mungkin kamu berani memasang jebakan ini untuk mengikatku?!"

"Ini bukan jebakan, Mas! Ini anugerah..." isyakku, melindungi perutku dengan kedua tangan.

Stevanus berhenti di depan ranjang. Dia menatapku seolah-olah aku adalah kutu yang menjijikkan. "Anugerah? Bagiku ini adalah bencana. Kamu tahu berapa banyak rencana yang akan berantakan karena kehamilan bodohmu ini?"

Dia tiba-tiba mencengkeram rahangku dengan sangat kuat, memaksaku menatap matanya yang dipenuhi kegilaan. "Siapa ayahnya, Yati? Aku tahu aku sering memakai pengaman. Jangan-jangan kamu berselingkuh dengan sopir atau penjaga kebun di belakangku untuk mendapatkan warisanku, ya?!"

"Tega sekali kamu bicara begitu, Mas! Aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu meskipun kamu menyiksaku setiap hari!"

"Bohong!" dia berteriak dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Aku memejamkan mata, menunggu tamparan atau pukulan yang biasa datang. Namun, kali ini lebih buruk. Stevanus melepaskan cengkeramannya dan tersenyum dengan cara yang membuat jiwaku merinding.

"Baiklah. Kalau itu memang anakku, maka dia harus pergi bersamamu," bisiknya dengan suara yang begitu tenang namun mematikan.

Dia berjalan menuju lemari, mengambil koper kecil, dan mulai memasukkan baju-bajuku secara asal.

"Apa yang kamu lakukan, Mas?"

"Kita berangkat ke vila sekarang. Tidak perlu menunggu akhir pekan," katanya tanpa menoleh. "Udara gunung akan sangat baik untuk... 'ketenangan' mu."

Aku tahu itu adalah ajakan menuju kematian. Dia ingin mempercepat rencananya karena berita kehamilanku ini membuat segalanya menjadi lebih rumit baginya. Dia tidak ingin ada ahli waris yang akan menghambat jalannya bersama Maya.

"Aku tidak mau pergi, Mas! Aku sakit, aku butuh istirahat!" aku mencoba bangkit dan lari menuju pintu.

Namun Stevanus jauh lebih cepat. Dia menyambar rambutku dan menyeretku menuju pintu kamar.

Saat aku berjuang melepaskan diri dari seretannya, ponsel Stevanus yang tergeletak di atas ranjang berbunyi nyaring. Ada panggilan masuk yang terhubung ke speaker mobil yang sudah menyala di garasi karena dia baru saja mematikan mesin tapi Bluetooth masih terhubung. Suara Maya terdengar sangat jelas memenuhi seluruh koridor rumah melalui sistem audio canggih itu:

"Stev! Cepat habisi dia! Hasil tes DNA-ku sudah keluar. Bayi yang kukandung ini memang benar anakmu, dan orang tuaku menuntut pernikahan bulan depan. Jika istrimu masih hidup saat itu, karir politikmu akan hancur karena skandal perselingkuhan!"

Stevanus terpaku. Aku terpaku. Kini rahasia itu bukan lagi bisikan, tapi lonceng kematian yang berdentang keras di telingaku.

Terpopuler

Comments

Serena Khanza

Serena Khanza

makin menarik seru ayo thor lagi 💪🏻

2026-02-08

0

Chici👑👑

Chici👑👑

Lanjutkan thor

2026-01-10

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: GAUN PUTIH YANG TERNODA
2 BAB 2
3 BAB 3
4 BAB 4: KABAR GEMBIRA DI WAKTU YANG SALAH
5 BAB 5: NERAKA DI RUMAH SENDIRI
6 BAB 6: NAFAS DI BALIK KEMATIAN
7 BAB 7: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
8 BAB 8: JAMUAN DI ATAS LUKA
9 BAB 9: HARAPAN YANG TERSISA
10 BAB 10: PERMAINAN DI UJUNG TANDUK
11 BAB 11: KEMBALI KE SANGKAR BERDARAH
12 BAB 12: SOSOK DI BALIK BAYANG-BAYANG
13 BAB 13: SUDUT SEMPIT DI UJUNG BELATI
14 BAB:14 JEBAKAN DALAM KEPANIKAN
15 BAB 15: NYAWA DI UJUNG DUSTA
16 BAB 16: TARUHAN NYAWA DI ATAS MARMER
17 BAB 17: DETAK DARI KEGELAPAN
18 BAB 18: IBLIS DI BALIK LAYAR
19 Draft
20 BAB 20: DI ANTARA DUA MAUT
21 BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH
22 BAB 22: RAHIM DI ATAS BELATI
23 BAB 23: CERMIN DUA WAJAH
24 BAB 24: TEBING KEMATIAN
25 BAB 25: TAMU DARI MASA LALU
26 BAB 26: DARAH DINGIN DI BALIK KACA
27 BAB 27: JATUH KE DALAM RAHIM BUMI
28 PARADOKS DARAH DAN BAJA
29 RAHASIA DI DASAR SAMUDRA
30 SUAMI YANG SEBENARNYA
31 BAB 31: YATIM DI TENGAH DARAH
32 BAB 32: PROTOKOL KELAHIRAN GELAP
33 BAB 33: RAHIM YANG MENGAMUK
34 BAB 34: PILIHAN SANG ALGOJO RAHIM
35 BAB 35: TANGISAN DI LORONG WAKTU
36 BAB 36: KUTUKAN YANG TERULANG
37 BAB 37: PERTARUHAN SANG SEKUTU
38 BAB 38: RAHIM KODE BINER
39 BAB 39: PERANG DI TENGAH PINUS
40 BAB 40: PINTU MENUJU NOL
41 BAB 41: TAWA IBLIS DI MANHATTAN
42 BAB 42: PENGKHIANAT DI BALIK SALJU
43 BAB 43: ANTARA CINTA DAN KEHANCURAN
44 BAB 44: TANGISAN PERAK DI TENGAH BADAI
45 BAB 45: TERJUN KE DALAM KEGELAPAN
46 BAB 46: DETAK KIAMAT DI BAWAH MANHATTAN
47 BAB 47: GERBANG CAHAYA DI TITIK NOL
48 BAB 48: MELAYAT DIRI SENDIRI
49 BAB 49: ASIMILASI DUA JIWA
50 BAB 50: PILIHAN DI ATAS ABU
51 BAB 51: CERMIN KEGELAPAN
52 BAB 52: PENEBUSAN DI ATAS GELOMBANG
53 BAB 53: GERIMIS DARAH DI BORNEO
54 BAB 54: ANAK YANG BUKAN MANUSIA
55 BAB 55: GERBANG 1975
56 BAB 56: PERJAMUAN MAUT 1975
57 BAB 57: PERISAI RAHIM TERAKHIR
58 BAB 58: NYAWA DI UJUNG PARADOKS
59 BAB 59: BERBURU BAYANGAN SENDIRI
60 BAB 60: PENGORBANAN DI TITIK NOL
61 BAB 61: IDENTITAS YANG TERBELAH
62 BAB 62: KEMATIAN SANG PION
63 BAB 63: BENIH DI BALIK CERMIN
64 BAB 64: DERMAGA KEMATIAN DAN JANJI PERAK
65 BAB 65: RAHASIA DARAH SANG PEMBANTU
66 BAB 66: AMARAH SANG PENAWAR
67 BAB 67: PERJAMUAN SANG PENGKHIANAT
68 BAB 68: DETIK YANG MEMBEKU
69 BAB 69: PENGKHIANATAN RAHIM
70 BAB 70: LABIRIN DI BAWAH AKAR
71 BAB 71: CAHAYA DI ATAS PENDERITAAN
72 BAB 72: HUJAN YANG MENGHAPUS DOSA
73 BAB 73: AWAL DARI AKHIR
74 BAB 74: SANG RATU KECIL DI ZURICH
75 BAB 75
76 BAB 76: SISA DEBU DI ATAS SALJU
77 BAB 77: WARISAN YANG TERSISA
78 BAB 78: DARAH YANG TERSEMBUNYI
79 BAB 79: FREKUENSI TERAKHIR ANWAR
80 BAB 80: KEMBALI KE TITIK NOL
81 BAB 81: GEMA YANG TAK TERHAPUS
82 BAB 82: PERANG DI DALAM PIKIRAN
83 BAB 83: GUA BAYANGAN DAN PARADOKS CAHAYA
84 BAB 84: JEJAK MELATI DI DIMENSI ANTARA
85 BAB 85: JANGKAR HARAPAN
86 BAB 86: STASIUN BIRU DI DASAR SAMUDERA
87 BAB 87: PELUKAN MAUT SANG PENCIPTA
88 BAB 88: TITIK NADIR DI KEDALAMAN
89 BAB 89: BISIKAN DARI KEDALAMAN ABADI
90 BAB 90: REUNI DI AMBANG REALITAS
91 BAB 91: BENIH BARU DI DUNIA YANG PULIH
92 BAB 92: LABIRIN KEHENINGAN
93 BAB 93: MEMORI YANG BERACUN
Episodes

Updated 93 Episodes

1
BAB 1: GAUN PUTIH YANG TERNODA
2
BAB 2
3
BAB 3
4
BAB 4: KABAR GEMBIRA DI WAKTU YANG SALAH
5
BAB 5: NERAKA DI RUMAH SENDIRI
6
BAB 6: NAFAS DI BALIK KEMATIAN
7
BAB 7: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
8
BAB 8: JAMUAN DI ATAS LUKA
9
BAB 9: HARAPAN YANG TERSISA
10
BAB 10: PERMAINAN DI UJUNG TANDUK
11
BAB 11: KEMBALI KE SANGKAR BERDARAH
12
BAB 12: SOSOK DI BALIK BAYANG-BAYANG
13
BAB 13: SUDUT SEMPIT DI UJUNG BELATI
14
BAB:14 JEBAKAN DALAM KEPANIKAN
15
BAB 15: NYAWA DI UJUNG DUSTA
16
BAB 16: TARUHAN NYAWA DI ATAS MARMER
17
BAB 17: DETAK DARI KEGELAPAN
18
BAB 18: IBLIS DI BALIK LAYAR
19
Draft
20
BAB 20: DI ANTARA DUA MAUT
21
BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH
22
BAB 22: RAHIM DI ATAS BELATI
23
BAB 23: CERMIN DUA WAJAH
24
BAB 24: TEBING KEMATIAN
25
BAB 25: TAMU DARI MASA LALU
26
BAB 26: DARAH DINGIN DI BALIK KACA
27
BAB 27: JATUH KE DALAM RAHIM BUMI
28
PARADOKS DARAH DAN BAJA
29
RAHASIA DI DASAR SAMUDRA
30
SUAMI YANG SEBENARNYA
31
BAB 31: YATIM DI TENGAH DARAH
32
BAB 32: PROTOKOL KELAHIRAN GELAP
33
BAB 33: RAHIM YANG MENGAMUK
34
BAB 34: PILIHAN SANG ALGOJO RAHIM
35
BAB 35: TANGISAN DI LORONG WAKTU
36
BAB 36: KUTUKAN YANG TERULANG
37
BAB 37: PERTARUHAN SANG SEKUTU
38
BAB 38: RAHIM KODE BINER
39
BAB 39: PERANG DI TENGAH PINUS
40
BAB 40: PINTU MENUJU NOL
41
BAB 41: TAWA IBLIS DI MANHATTAN
42
BAB 42: PENGKHIANAT DI BALIK SALJU
43
BAB 43: ANTARA CINTA DAN KEHANCURAN
44
BAB 44: TANGISAN PERAK DI TENGAH BADAI
45
BAB 45: TERJUN KE DALAM KEGELAPAN
46
BAB 46: DETAK KIAMAT DI BAWAH MANHATTAN
47
BAB 47: GERBANG CAHAYA DI TITIK NOL
48
BAB 48: MELAYAT DIRI SENDIRI
49
BAB 49: ASIMILASI DUA JIWA
50
BAB 50: PILIHAN DI ATAS ABU
51
BAB 51: CERMIN KEGELAPAN
52
BAB 52: PENEBUSAN DI ATAS GELOMBANG
53
BAB 53: GERIMIS DARAH DI BORNEO
54
BAB 54: ANAK YANG BUKAN MANUSIA
55
BAB 55: GERBANG 1975
56
BAB 56: PERJAMUAN MAUT 1975
57
BAB 57: PERISAI RAHIM TERAKHIR
58
BAB 58: NYAWA DI UJUNG PARADOKS
59
BAB 59: BERBURU BAYANGAN SENDIRI
60
BAB 60: PENGORBANAN DI TITIK NOL
61
BAB 61: IDENTITAS YANG TERBELAH
62
BAB 62: KEMATIAN SANG PION
63
BAB 63: BENIH DI BALIK CERMIN
64
BAB 64: DERMAGA KEMATIAN DAN JANJI PERAK
65
BAB 65: RAHASIA DARAH SANG PEMBANTU
66
BAB 66: AMARAH SANG PENAWAR
67
BAB 67: PERJAMUAN SANG PENGKHIANAT
68
BAB 68: DETIK YANG MEMBEKU
69
BAB 69: PENGKHIANATAN RAHIM
70
BAB 70: LABIRIN DI BAWAH AKAR
71
BAB 71: CAHAYA DI ATAS PENDERITAAN
72
BAB 72: HUJAN YANG MENGHAPUS DOSA
73
BAB 73: AWAL DARI AKHIR
74
BAB 74: SANG RATU KECIL DI ZURICH
75
BAB 75
76
BAB 76: SISA DEBU DI ATAS SALJU
77
BAB 77: WARISAN YANG TERSISA
78
BAB 78: DARAH YANG TERSEMBUNYI
79
BAB 79: FREKUENSI TERAKHIR ANWAR
80
BAB 80: KEMBALI KE TITIK NOL
81
BAB 81: GEMA YANG TAK TERHAPUS
82
BAB 82: PERANG DI DALAM PIKIRAN
83
BAB 83: GUA BAYANGAN DAN PARADOKS CAHAYA
84
BAB 84: JEJAK MELATI DI DIMENSI ANTARA
85
BAB 85: JANGKAR HARAPAN
86
BAB 86: STASIUN BIRU DI DASAR SAMUDERA
87
BAB 87: PELUKAN MAUT SANG PENCIPTA
88
BAB 88: TITIK NADIR DI KEDALAMAN
89
BAB 89: BISIKAN DARI KEDALAMAN ABADI
90
BAB 90: REUNI DI AMBANG REALITAS
91
BAB 91: BENIH BARU DI DUNIA YANG PULIH
92
BAB 92: LABIRIN KEHENINGAN
93
BAB 93: MEMORI YANG BERACUN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!