BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK

"Detektif Ghea Zanna"

Nama yang keluar dari bibir manis Adrian dengan nada yang begitu tenang, hampir terdengar seperti sebuah pujian. Namun bagi seorang Ghea terdengar seperti bukan pujian melainkan sebuah ancaman kematian.

Ghea mencoba untuk menenangkan diri, mengatur napasnya agar tidak terlihat panik di depan Adrian. Meski mencoba tenang, Ghea tidak bisa membohongi jantung terus berdetak seolah kematian akan menjemputnya. Ia memandangi Adrian, mencoba untuk mencari sisa-sisa kebohongan yang ada di mata pria itu. Namun Ghea justru teka menemukan apapun. Dia mengutuk dirinya yang tidak mengingat apapun yang telah terjadi sebelumnya.

"Apa maksudmu, Adrian?" tanya Ghea mencoba tertawa kecil meski terdengar sumbang oleh telinga sendiri. "Detektif? Aku... aku bahkan nggak mengingat apapun. Bahkan untuk sekedar mengingat cara untuk mengikat tali sepatu saja akupun nggak tahu. Bagaimana mungkin kalau aku ini seorang detektif?"

Pertanyaan itu justru tidak di jawab oleh Adrian. Pria itu sibuk memutar tuas kotak musik perak itu. Alunan musik yang melankolis memenuhi ruangan. Adrian bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan mengitari ranjang Ghea seperti seekor predator yang tengah mengamati mangsanya yang sedang terbaring lemah.

" Kau selalu bisa menjadi pembohong yang hebat, Ghea Zanna. Itulah mengapa kau membuatku jatuh cinta padamu, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu di markas kepolisian pusat tiga tahun lalu." ujar Adrian santai.

Adrian berhenti tepat di dekat nakas. Bergerak cepat mengambil bantal yang berada di belakang kepala Ghea.

" Adrian! Apa yang kamu...."

Ghea tersentak ketika melihat Adrian mengangkat lencana polisi yang sudah retak tersebut tinggi-tinggi di hadapannya. Lencana yang terbuat dari logam tersebut justru berkilau di depan cahaya lampu di kamar itu.

"Kamu mencari ini, kan sayang?" tanya Adrian sedikit lebih mendekatkan wajahnya. Tatapan tajam yang terlihat begitu menyeramkan.

" Aku sengaja meninggalkannya di atas kasur agar kamu bisa menemukannya. Aku cuma ingin tahu, apakah insting mu sebagai anjing pelacak masih berfungsi meski otak mu itu sudah rusak."

Ghea terdiam, tatapan matanya mengarah kepada lencana tersebut. Namun seketika ia beralih menatap Adrian dengan tatapan penuh kebencian. Ghea seolah lupa akan jantung yang berdetak hebat karena takut jika hidupnya akan mati sebentar lagi.

"Kenapa? Kalau kamu sudah tahu itu adalah aku, kenapa kamu nggak bunuh saja aku!?"

Suara tawa Adrian menggelegar di seluruh ruangan kamar itu. Ia membungkuk, mencengkram kedua bahu Ghea menarik tubuh Ghea yang lemah itu untuk lebih mendekat. Sakit terlalu dekat, Ghea bahkan bisa mencium aroma parfum sandalwood dan sedikit baru besi dari tubuh pria itu.

"Membunuhmu? Itu terlalu bosan kalau dilakukannya dengan cepat, sayang." bisik Adrian tepat didepan bibir Ghea.

"Aku sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bisa membawa mu ke sini. Menjadikan mu milik ku sepenuhnya, tanpa ada lencana, hukum, dan tanpa ada orang lain yang menyentuhmu."

Tangan Adrian mulai menjalar ke leher Ghea. Bahkan Ghea merasakan bertapa dingin kulit tangan pria itu menyentuh lehernya. Tangan kekar itu justru tidak mencekik leher Ghea melainkan membelainya dengan lembut.

"Kamu perlu tahu, aku begitu senang. Karena kecelakaan ini adalah anugerah. Kamu lupa siapa dirimu dan itu artinya kamu bisa menjadi siapa pun yang aku inginkan."

"Kamu udah gila!!" pekik Ghea mencoba untuk mendorong tubuh kekar Adrian. Entah mengapa tubuhnya yang lemah itu tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk melawan. Padahal sebelumnya dia sudah berpikir untuk menyerahkan dirinya pada kematian yang mungkin saja datang dari tangan Adrian.

"Aku gila karena mencintaimu mu, Ghea. Kamu yang memulainya. Kamu yang terus mengejar ku, menyelidiki ku hingga akhirnya kamu masuk ke dalam sarang ku dengan sukarela." ucap Adrian sedikit menjauh, dengan melemparkan lencana bintang milik Ghea itu ke lantai.

"Mulai hari ini! Nggak ada lagi Detektif Ghea! Hanya ada Ghea, calon istri Adrian Dirgantara. Kalau kamu mencoba untuk berakting atau mencari jalan keluar lagi.." Adrian meraih pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah tadi, dengan gerakan cepat ia menyayat punggung tangannya sendiri hingga segar mengucur.

Ghea membelalak. " Adrian! Apa yang kamu lakukan!?" teriak Ghea terkejut melihat aksi nekat Adrian.

Adrian menatap luka di tangannya sambil tersenyum miring. Ia lalu mengusap kemudian darah yang di punggung tangannya itu ke pipi Ghea, ingin meninggalkan jejak merah yang hangat dan amis.

"Rasa sakit ini nggak seberapa dibandingkan rasa sakit jika aku harus kehilanganmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat emosional. "Setiap kali kamu mencoba melarikan diri, aku akan menyakiti diriku sendiri. Dan jika kamu berhasil keluar dari pintu itu... aku akan memastikan Bi Inah nggak akan pernah melihat matahari besok pagi."

Ghea membeku. Pria ini bukan hanya psikopat yang cerdas, dia adalah manipulator emosi yang ulung. Dia tahu kelemahan Ghea adalah rasa empati terhadap orang yang tidak bersalah.

"Sekarang, bersihkan wajahmu," ucap Adrian kembali lembut, seolah ledakan amarah tadi tidak pernah terjadi. Ia mengambil tisu dan mengusap darah di pipi Ghea dengan sangat hati-hati. "Kita akan makan malam bersama di bawah. Aku sudah menyiapkan gaun yang indah untukmu. Jangan buat aku menunggu lama, Sayang."

Adrian berjalan keluar, mengunci pintu kembali, meninggalkan Ghea yang terduduk lemas di atas kasur. Tatapan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.

Ghea menatap lencana polisi yang tergeletak di lantai. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Adrian tahu segalanya. Setiap gerakannya, setiap pikirannya, sudah diantisipasi oleh pria itu. Ia sedang berdansa di telapak tangan seorang iblis yang menggunakan cinta sebagai rantai.

Namun, di tengah keputusasaan itu, ingatan singkat kembali menghantam kepala Ghea. Sebuah bayangan tentang sebuah kunci kecil yang ia sembunyikan di dalam jahitan sepatunya sebelum kecelakaan itu terjadi.

Kunci gudang bukti.

Ghea segera merangkak menuju lemari pakaian. Ia harus menemukan sepatu yang ia kenakan saat kecelakaan. Jika kunci itu masih ada, mungkin ia memiliki satu kesempatan terakhir untuk melawan balik.

Episodes
1 BAB 1: SANGKAR EMAS YANG DINGIN
2 Bab 2: BERDANSA DENGAN IBLIS
3 BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK
4 BAB 4: SENTUHAN SANG PREDATOR
5 BAB 5: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA
6 BAB 6: LABIRIN TANPA CELAH
7 BAB 7: DETAK JANTUNG YANG BERKHIANAT
8 BAB 8: PATUH YANG MENIPU
9 BAB 9: BISIKAN DI BALIK UAP TEH
10 BAB 10: JEBAKAN DI RUANG TENGAH
11 BAB 11: SISA AMIS DI BALIK KELEMBUTAN
12 BAB 12: RAHASIA DI TUMIT SEPATU
13 BAB 13: PELURU KOSONG DAN BENIH PENGKHIANATAN
14 BAB 14: LABIRIN KEBOHONGAN YANG MANIS
15 BAB 15: DINDING PARA PENDOSA
16 BAB 16: PENGAKUAN SANG EKSEKUTOR
17 BAB 17: IGAUAN YANG MEMANCING IBLIS
18 BAB 18: ASAH DI BALIK KESUNYIAN
19 BAB 19: PERNIKAHAN DI ATAS DARAH
20 BAB 20: DANSA DI ATAS JURANG
21 BAB 21: HARGA SEBUAH KEBEBASAN
22 BAB 22: RANTAI EMAS SANG PREDIKAT
23 BAB 23: BELENGGU EMAS SANG PENGUASA
24 BAB 24: SENYUMAN DI BALIK DURJA
25 BAB 25: WAJAH BARU SANG TAWANAN
26 BAB 26: HADIAH UNTUK KEPATUHAN
27 BAB 27: MAWAR DI BALIK DURI
28 BAB 28: SINYAL YANG TERPUTUS
29 BAB 29: PERHIASAN BERMATA SATU
30 BAB 30: PESAN DALAM KEGELAPAN
31 BAB 31: PERLINDUNGAN SANG MONSTER
32 BAB 32: TANGAN YANG TERKONTAMINASI
33 BAB 33: RACUN DALAM PERAYAAN
34 BAB 34: KUNCI YANG TERSEMBUNYI
35 BAB 35: JEJAK DARAH DI BALIK SERAGAM
36 BAB 36: MALAIKAT MAUT UNTUK SANG PENGKHIANATAN
37 Bab 37: LUKA YANG BERBICARA
38 BAB 38: SIMPATI YANG BERBAHAYA
39 BAB 39: MATINYA SANG DETEKTIF
40 BAB 40: PESAN DARI ALAM KUBUR
41 BAB 41: MEMBAKAR JEMBATAN
42 BAB 42: DEBUT SANG MAYAT
43 BAB 43: PESTA DI ATAS DARAH
44 BAB 44: KEMBALI KE KM 92
45 BAB 45: BUNKER DI BALIK NISAN
46 BAB 46: PENYERBUAN MENARA PRATAMA
47 BAB 47: DARAH DI DERMAGA 7
48 BAB 48: AKHIR DARI SEBUAH AWAL
49 BAB 49: IDENTITAS YANG TERBAKAR
50 BAB 50: REUNI DI BALIK BIDIKAN
51 BAB 51: PERMAINAN DI ATAS GELOMBANG
52 BAB 52: SISI GELAP SANG PAHLAWAN
53 BAB 53: WARISAN BERDARAH
54 BAB 54: DURJA DI DALAM SELIMUT
55 BAB 55: GERBANG NERAKA DI PELABUHAN KERING
56 BAB 56: PERJAMUAN SANG IBLIS
57 BAB 57: MAHKOTA DI ATAS LUKA
58 BAB 58: PESTA PERPISAHAN SANG RATU
59 BAB 59: DARAH DI ATAS SALJU
60 BAB 60: JEJAK DI BALIK BADAI
61 BAB 61: UNDANGAN DARI KUBUR
62 BAB 62: DUSTA DI BALIK TOPENG EMAS
63 BAB 63:KEADILAN YANG TERLUKA
64 BAB 64: TRINITAS MAUT
65 BAB 65: TARUHAN DI KOTA JUDI
66 BAB 66: DARAH YANG TERBELAH DI SHINJUKU
67 BAB 67: DUEL DUA PREDATOR
68 BAB 68: RAHASIA DI BALIK BENTENG BELGICA
69 BAB 69: PELARIAN SANG PENGKHIANAT NEGARA
70 BAB 70: KEBENARAN DI BAWAH LANGIT MONAS
71 BAB 71: NYALA API DI TENGAH LAUT
72 BAB 72: KONTRAK DARI BALIK BAYANGAN
73 BAB 73: DARAH DI ARENA BANGKOK
74 BAB 74: PILIHAN DI AMBANG MAUT
75 BAB 75: PENGKHIANATAN SANG ARSITEK
76 BAB 76: SURAT DARI NEGERI ES
77 BAB 77: NERAKA PUTIH DI JALAN TENGKORAK
78 BAB 78: LABIRIN MEMORI YANG BEKU
79 BAB 79: MAWAR DI ATAS BETON
Episodes

Updated 79 Episodes

1
BAB 1: SANGKAR EMAS YANG DINGIN
2
Bab 2: BERDANSA DENGAN IBLIS
3
BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK
4
BAB 4: SENTUHAN SANG PREDATOR
5
BAB 5: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA
6
BAB 6: LABIRIN TANPA CELAH
7
BAB 7: DETAK JANTUNG YANG BERKHIANAT
8
BAB 8: PATUH YANG MENIPU
9
BAB 9: BISIKAN DI BALIK UAP TEH
10
BAB 10: JEBAKAN DI RUANG TENGAH
11
BAB 11: SISA AMIS DI BALIK KELEMBUTAN
12
BAB 12: RAHASIA DI TUMIT SEPATU
13
BAB 13: PELURU KOSONG DAN BENIH PENGKHIANATAN
14
BAB 14: LABIRIN KEBOHONGAN YANG MANIS
15
BAB 15: DINDING PARA PENDOSA
16
BAB 16: PENGAKUAN SANG EKSEKUTOR
17
BAB 17: IGAUAN YANG MEMANCING IBLIS
18
BAB 18: ASAH DI BALIK KESUNYIAN
19
BAB 19: PERNIKAHAN DI ATAS DARAH
20
BAB 20: DANSA DI ATAS JURANG
21
BAB 21: HARGA SEBUAH KEBEBASAN
22
BAB 22: RANTAI EMAS SANG PREDIKAT
23
BAB 23: BELENGGU EMAS SANG PENGUASA
24
BAB 24: SENYUMAN DI BALIK DURJA
25
BAB 25: WAJAH BARU SANG TAWANAN
26
BAB 26: HADIAH UNTUK KEPATUHAN
27
BAB 27: MAWAR DI BALIK DURI
28
BAB 28: SINYAL YANG TERPUTUS
29
BAB 29: PERHIASAN BERMATA SATU
30
BAB 30: PESAN DALAM KEGELAPAN
31
BAB 31: PERLINDUNGAN SANG MONSTER
32
BAB 32: TANGAN YANG TERKONTAMINASI
33
BAB 33: RACUN DALAM PERAYAAN
34
BAB 34: KUNCI YANG TERSEMBUNYI
35
BAB 35: JEJAK DARAH DI BALIK SERAGAM
36
BAB 36: MALAIKAT MAUT UNTUK SANG PENGKHIANATAN
37
Bab 37: LUKA YANG BERBICARA
38
BAB 38: SIMPATI YANG BERBAHAYA
39
BAB 39: MATINYA SANG DETEKTIF
40
BAB 40: PESAN DARI ALAM KUBUR
41
BAB 41: MEMBAKAR JEMBATAN
42
BAB 42: DEBUT SANG MAYAT
43
BAB 43: PESTA DI ATAS DARAH
44
BAB 44: KEMBALI KE KM 92
45
BAB 45: BUNKER DI BALIK NISAN
46
BAB 46: PENYERBUAN MENARA PRATAMA
47
BAB 47: DARAH DI DERMAGA 7
48
BAB 48: AKHIR DARI SEBUAH AWAL
49
BAB 49: IDENTITAS YANG TERBAKAR
50
BAB 50: REUNI DI BALIK BIDIKAN
51
BAB 51: PERMAINAN DI ATAS GELOMBANG
52
BAB 52: SISI GELAP SANG PAHLAWAN
53
BAB 53: WARISAN BERDARAH
54
BAB 54: DURJA DI DALAM SELIMUT
55
BAB 55: GERBANG NERAKA DI PELABUHAN KERING
56
BAB 56: PERJAMUAN SANG IBLIS
57
BAB 57: MAHKOTA DI ATAS LUKA
58
BAB 58: PESTA PERPISAHAN SANG RATU
59
BAB 59: DARAH DI ATAS SALJU
60
BAB 60: JEJAK DI BALIK BADAI
61
BAB 61: UNDANGAN DARI KUBUR
62
BAB 62: DUSTA DI BALIK TOPENG EMAS
63
BAB 63:KEADILAN YANG TERLUKA
64
BAB 64: TRINITAS MAUT
65
BAB 65: TARUHAN DI KOTA JUDI
66
BAB 66: DARAH YANG TERBELAH DI SHINJUKU
67
BAB 67: DUEL DUA PREDATOR
68
BAB 68: RAHASIA DI BALIK BENTENG BELGICA
69
BAB 69: PELARIAN SANG PENGKHIANAT NEGARA
70
BAB 70: KEBENARAN DI BAWAH LANGIT MONAS
71
BAB 71: NYALA API DI TENGAH LAUT
72
BAB 72: KONTRAK DARI BALIK BAYANGAN
73
BAB 73: DARAH DI ARENA BANGKOK
74
BAB 74: PILIHAN DI AMBANG MAUT
75
BAB 75: PENGKHIANATAN SANG ARSITEK
76
BAB 76: SURAT DARI NEGERI ES
77
BAB 77: NERAKA PUTIH DI JALAN TENGKORAK
78
BAB 78: LABIRIN MEMORI YANG BEKU
79
BAB 79: MAWAR DI ATAS BETON

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!