BAB 4: SENTUHAN SANG PREDATOR

Ghea berusaha bangkit, jemarinya mencengkeram pinggiran sprei dengan sisa tenaga yang ia miliki. Rasa nyeri menyengat dari kakinya, mengingatkannya pada trauma benturan keras yang menghancurkan dunianya. Ia harus mencari sepatunya. Sepatu itu bukan sekadar alas kaki; di sana tersimpan kunci yang bisa membawanya pulang pada jati dirinya yang hilang.

Meskipun Adrian sudah dengan lantang menyebutnya sebagai seorang detektif, memori di otak Ghea seperti ruangan kosong yang gelap gulita. Tak ada setitik cahaya pun yang menuntunnya pada kilasan masa lalu. Siapa dia sebenarnya? Siapa orang tuanya? Dan yang paling penting, dosa apa yang pernah ia lakukan hingga terperangkap dalam sangkar pria bernama Adrian ini?

Ghea menatap kedua kakinya yang terbalut perban tipis. Luka itu seolah mengolok-oloknya, melumpuhkan insting bertahan hidup yang seharusnya ia miliki sebagai seorang penegak hukum. Karena tak sanggup berdiri, Ghea memutuskan untuk turun dari kasur dengan merangkak. Napasnya memburu, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya saat ia menyeret tubuhnya di atas lantai kayu yang dingin.

Cklek.

Suara pintu yang terbuka membuat jantung Ghea seolah berhenti berdetak. Ia membeku di lantai, mendongak dengan posisi yang sangat rendah dan hina di depan pria yang kini berdiri di ambang pintu.

"Kau mau ngapain?"

Pertanyaan itu keluar dari bibir tipis Adrian dengan nada yang sangat tenang, namun memiliki vibrasi yang menekan. Adrian tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan cahaya lampu koridor menciptakan bayangan panjang yang menelan tubuh Ghea.

Ghea terdiam. Jantungnya berpacu hebat, menciptakan dentuman di telinganya sendiri. Ia menatap wajah Adrian. Pria itu memang tampan—terlalu tampan untuk ukuran seorang monster. Hidungnya mancung sempurna, rahangnya tegas seolah dipahat dari batu pualam. Namun, di balik ketampanan itu, Ghea bisa membaca kilat ancaman yang nyata.

"Kau mau ke mana, Sayang?" Adrian akhirnya melangkah masuk. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai kayu terdengar seperti hitungan mundur kematian. Ia berjongkok di depan Ghea, menyamakan tingginya, memaksa Ghea menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedalam palung.

"Aku... aku ingin mandi dan berganti baju. Tubuhku terasa gerah," ucap Ghea, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar.

Adrian tersenyum. Sebuah senyuman manis yang sanggup meluluhkan hati wanita mana pun yang tidak tahu siapa pria ini sebenarnya. Namun bagi Ghea, lengkungan bibir itu terasa lebih mengerikan daripada todongan senjata.

"Baiklah. Aku akan memandikan mu," jawab Adrian pelan, namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah.

Mata Ghea membelalak. Dunia seolah berputar lebih cepat. "Memandikanku?! Tapi... bisakah kamu meminta Bi Inah saja yang melakukannya?"

Adrian menggeleng pelan, tangannya terulur mengusap pipi Ghea yang pucat. "Ada aku di sini. Kenapa harus Bi Inah? Bukankah aku tunanganmu?"

Ghea merasakan mual di perutnya mendengar kebohongan itu diulang kembali. Padahal baru saja kemarin pria ini mengungkap identitas aslinya. Mengapa sekarang dia kembali bermain peran sebagai tunangan yang penuh kasih?

"Aku bukan tunanganmu!" seru Ghea, keberaniannya mencuat sesaat.

Tawa Adrian pecah, menggelegar memenuhi ruangan kamar yang kedap suara itu. "Meski kau menolak sampai napas terakhirmu, kenyataannya tetap sama. Di mata dunia, kau adalah tunanganku. Milikku."

Tanpa peringatan, Adrian meraup tubuh Ghea, menggendongnya dalam posisi bridal style. Ghea yang terkejut segera memberontak, tangannya memukul-mukul dada bidang Adrian yang keras seperti baja. "Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku!"

Adrian tak bergeming. Ia membawa Ghea ke dalam kamar mandi mewah yang sudah dipenuhi uap air hangat. Tanpa basa-basi, ia menurunkan tubuh Ghea ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh. Air hangat itu segera meresap ke pakaian rumah sakit yang dikenakan Ghea, membuatnya menempel ketat di tubuhnya.

"Aku bisa melakukannya sendiri!" pekik Ghea, mencoba berpegangan pada pinggiran porselen bathtub.

"Yakin, bisa sendiri?" Adrian menaikkan satu alisnya, menatap kaki Ghea yang malang.

Pertanyaan itu seketika membungkam mulut Ghea. Keheningan yang memalukan menyelimuti mereka. Ia sadar, ia tidak punya pilihan. Luka di kakinya masih terlalu basah, dan tubuhnya masih terlalu ringkih untuk sekadar duduk tegak tanpa bantuan.

Dengan gerakan yang sangat telaten, Adrian mulai menuangkan sabun ke spons lembut. Ia mulai menggosok bahu Ghea, turun ke lengan, lalu ke punggungnya. Ghea hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu sekaligus murka. Ia mengutuk kelemahannya sendiri. Detektif macam apa dia, yang membiarkan musuhnya menyentuh setiap inci kulitnya dengan cara yang begitu intim.

Selesai dengan ritual yang menyiksa batin itu, Adrian mengangkat Ghea kembali ke atas ranjang. Ia mengeringkan tubuh Ghea dengan handuk lembut seolah Ghea adalah porselen mahal yang mudah pecah. Ghea hanya bisa pasrah, matanya terus mengikuti setiap pergerakan Adrian yang begitu rapi dan terorganisir. Ada sesuatu yang salah dengan pria ini—ketenangannya adalah sesuatu yang tidak wajar.

Adrian kemudian berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan. Lemari itu tampak kosong, hanya ada dua stel pakaian tidur sederhana di sana. Namun, Adrian berbalik dan menatap Ghea dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Kamu tunggu di sini. Aku akan ambilkan gaun yang cocok untukmu. Aku sudah memesannya sejak lama, dan hari ini adalah waktu yang sempurna bagi kamu untuk memakainya."

Adrian mendekat kembali, menumpukan tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Ghea, lalu berbisik tepat di telinganya. "Gaun ini yang akan membuatmu terlihat lebih seksi, mantan detektif Ghea Zanna."

Bulu kuduk Ghea meremang. Suara napas Adrian di lehernya terasa seperti hembusan angin dari neraka. Sebenarnya siapa pria ini? Jika dia mengenalnya sejak tiga tahun lalu, apakah Adrian adalah salah satu target yang gagal ia ringkus? Ataukah ia adalah monster yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kasus yang ia tangani?

Setiap pertanyaan yang muncul di kepala Ghea hanya berakhir di jalan buntu. Memorinya benar-benar kosong, menyisakan ruang luas bagi Adrian untuk mengisi kepala Ghea dengan kebohongan apa pun yang ia inginkan.

Tak lama kemudian, Adrian kembali membawa sebuah gaun satin berwarna putih polos yang berkilau di bawah cahaya lampu. "Pakailah ini. Setelah itu, aku akan mengobati luka di kakimu. Jangan mencoba untuk bergerak sendirian lagi, Ghea. Aku tidak suka melihat milikku menyakiti dirinya sendiri di atas lantai yang kotor."

Ghea menatap gaun putih itu dengan perasaan ngeri. Putih melambangkan kesucian, namun di tangan Adrian, gaun itu terasa seperti kafan yang akan mengubur kebebasannya selamanya.

Episodes
1 BAB 1: SANGKAR EMAS YANG DINGIN
2 Bab 2: BERDANSA DENGAN IBLIS
3 BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK
4 BAB 4: SENTUHAN SANG PREDATOR
5 BAB 5: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA
6 BAB 6: LABIRIN TANPA CELAH
7 BAB 7: DETAK JANTUNG YANG BERKHIANAT
8 BAB 8: PATUH YANG MENIPU
9 BAB 9: BISIKAN DI BALIK UAP TEH
10 BAB 10: JEBAKAN DI RUANG TENGAH
11 BAB 11: SISA AMIS DI BALIK KELEMBUTAN
12 BAB 12: RAHASIA DI TUMIT SEPATU
13 BAB 13: PELURU KOSONG DAN BENIH PENGKHIANATAN
14 BAB 14: LABIRIN KEBOHONGAN YANG MANIS
15 BAB 15: DINDING PARA PENDOSA
16 BAB 16: PENGAKUAN SANG EKSEKUTOR
17 BAB 17: IGAUAN YANG MEMANCING IBLIS
18 BAB 18: ASAH DI BALIK KESUNYIAN
19 BAB 19: PERNIKAHAN DI ATAS DARAH
20 BAB 20: DANSA DI ATAS JURANG
21 BAB 21: HARGA SEBUAH KEBEBASAN
22 BAB 22: RANTAI EMAS SANG PREDIKAT
23 BAB 23: BELENGGU EMAS SANG PENGUASA
24 BAB 24: SENYUMAN DI BALIK DURJA
25 BAB 25: WAJAH BARU SANG TAWANAN
26 BAB 26: HADIAH UNTUK KEPATUHAN
27 BAB 27: MAWAR DI BALIK DURI
28 BAB 28: SINYAL YANG TERPUTUS
29 BAB 29: PERHIASAN BERMATA SATU
30 BAB 30: PESAN DALAM KEGELAPAN
31 BAB 31: PERLINDUNGAN SANG MONSTER
32 BAB 32: TANGAN YANG TERKONTAMINASI
33 BAB 33: RACUN DALAM PERAYAAN
34 BAB 34: KUNCI YANG TERSEMBUNYI
35 BAB 35: JEJAK DARAH DI BALIK SERAGAM
36 BAB 36: MALAIKAT MAUT UNTUK SANG PENGKHIANATAN
37 Bab 37: LUKA YANG BERBICARA
38 BAB 38: SIMPATI YANG BERBAHAYA
39 BAB 39: MATINYA SANG DETEKTIF
40 BAB 40: PESAN DARI ALAM KUBUR
41 BAB 41: MEMBAKAR JEMBATAN
42 BAB 42: DEBUT SANG MAYAT
43 BAB 43: PESTA DI ATAS DARAH
44 BAB 44: KEMBALI KE KM 92
45 BAB 45: BUNKER DI BALIK NISAN
46 BAB 46: PENYERBUAN MENARA PRATAMA
47 BAB 47: DARAH DI DERMAGA 7
48 BAB 48: AKHIR DARI SEBUAH AWAL
49 BAB 49: IDENTITAS YANG TERBAKAR
50 BAB 50: REUNI DI BALIK BIDIKAN
51 BAB 51: PERMAINAN DI ATAS GELOMBANG
52 BAB 52: SISI GELAP SANG PAHLAWAN
53 BAB 53: WARISAN BERDARAH
54 BAB 54: DURJA DI DALAM SELIMUT
55 BAB 55: GERBANG NERAKA DI PELABUHAN KERING
56 BAB 56: PERJAMUAN SANG IBLIS
57 BAB 57: MAHKOTA DI ATAS LUKA
58 BAB 58: PESTA PERPISAHAN SANG RATU
59 BAB 59: DARAH DI ATAS SALJU
60 BAB 60: JEJAK DI BALIK BADAI
61 BAB 61: UNDANGAN DARI KUBUR
62 BAB 62: DUSTA DI BALIK TOPENG EMAS
63 BAB 63:KEADILAN YANG TERLUKA
64 BAB 64: TRINITAS MAUT
65 BAB 65: TARUHAN DI KOTA JUDI
66 BAB 66: DARAH YANG TERBELAH DI SHINJUKU
67 BAB 67: DUEL DUA PREDATOR
68 BAB 68: RAHASIA DI BALIK BENTENG BELGICA
69 BAB 69: PELARIAN SANG PENGKHIANAT NEGARA
70 BAB 70: KEBENARAN DI BAWAH LANGIT MONAS
71 BAB 71: NYALA API DI TENGAH LAUT
72 BAB 72: KONTRAK DARI BALIK BAYANGAN
73 BAB 73: DARAH DI ARENA BANGKOK
74 BAB 74: PILIHAN DI AMBANG MAUT
75 BAB 75: PENGKHIANATAN SANG ARSITEK
76 BAB 76: SURAT DARI NEGERI ES
77 BAB 77: NERAKA PUTIH DI JALAN TENGKORAK
78 BAB 78: LABIRIN MEMORI YANG BEKU
79 BAB 79: MAWAR DI ATAS BETON
Episodes

Updated 79 Episodes

1
BAB 1: SANGKAR EMAS YANG DINGIN
2
Bab 2: BERDANSA DENGAN IBLIS
3
BAB 3 IDENTITAS YANG TERKOYAK
4
BAB 4: SENTUHAN SANG PREDATOR
5
BAB 5: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA
6
BAB 6: LABIRIN TANPA CELAH
7
BAB 7: DETAK JANTUNG YANG BERKHIANAT
8
BAB 8: PATUH YANG MENIPU
9
BAB 9: BISIKAN DI BALIK UAP TEH
10
BAB 10: JEBAKAN DI RUANG TENGAH
11
BAB 11: SISA AMIS DI BALIK KELEMBUTAN
12
BAB 12: RAHASIA DI TUMIT SEPATU
13
BAB 13: PELURU KOSONG DAN BENIH PENGKHIANATAN
14
BAB 14: LABIRIN KEBOHONGAN YANG MANIS
15
BAB 15: DINDING PARA PENDOSA
16
BAB 16: PENGAKUAN SANG EKSEKUTOR
17
BAB 17: IGAUAN YANG MEMANCING IBLIS
18
BAB 18: ASAH DI BALIK KESUNYIAN
19
BAB 19: PERNIKAHAN DI ATAS DARAH
20
BAB 20: DANSA DI ATAS JURANG
21
BAB 21: HARGA SEBUAH KEBEBASAN
22
BAB 22: RANTAI EMAS SANG PREDIKAT
23
BAB 23: BELENGGU EMAS SANG PENGUASA
24
BAB 24: SENYUMAN DI BALIK DURJA
25
BAB 25: WAJAH BARU SANG TAWANAN
26
BAB 26: HADIAH UNTUK KEPATUHAN
27
BAB 27: MAWAR DI BALIK DURI
28
BAB 28: SINYAL YANG TERPUTUS
29
BAB 29: PERHIASAN BERMATA SATU
30
BAB 30: PESAN DALAM KEGELAPAN
31
BAB 31: PERLINDUNGAN SANG MONSTER
32
BAB 32: TANGAN YANG TERKONTAMINASI
33
BAB 33: RACUN DALAM PERAYAAN
34
BAB 34: KUNCI YANG TERSEMBUNYI
35
BAB 35: JEJAK DARAH DI BALIK SERAGAM
36
BAB 36: MALAIKAT MAUT UNTUK SANG PENGKHIANATAN
37
Bab 37: LUKA YANG BERBICARA
38
BAB 38: SIMPATI YANG BERBAHAYA
39
BAB 39: MATINYA SANG DETEKTIF
40
BAB 40: PESAN DARI ALAM KUBUR
41
BAB 41: MEMBAKAR JEMBATAN
42
BAB 42: DEBUT SANG MAYAT
43
BAB 43: PESTA DI ATAS DARAH
44
BAB 44: KEMBALI KE KM 92
45
BAB 45: BUNKER DI BALIK NISAN
46
BAB 46: PENYERBUAN MENARA PRATAMA
47
BAB 47: DARAH DI DERMAGA 7
48
BAB 48: AKHIR DARI SEBUAH AWAL
49
BAB 49: IDENTITAS YANG TERBAKAR
50
BAB 50: REUNI DI BALIK BIDIKAN
51
BAB 51: PERMAINAN DI ATAS GELOMBANG
52
BAB 52: SISI GELAP SANG PAHLAWAN
53
BAB 53: WARISAN BERDARAH
54
BAB 54: DURJA DI DALAM SELIMUT
55
BAB 55: GERBANG NERAKA DI PELABUHAN KERING
56
BAB 56: PERJAMUAN SANG IBLIS
57
BAB 57: MAHKOTA DI ATAS LUKA
58
BAB 58: PESTA PERPISAHAN SANG RATU
59
BAB 59: DARAH DI ATAS SALJU
60
BAB 60: JEJAK DI BALIK BADAI
61
BAB 61: UNDANGAN DARI KUBUR
62
BAB 62: DUSTA DI BALIK TOPENG EMAS
63
BAB 63:KEADILAN YANG TERLUKA
64
BAB 64: TRINITAS MAUT
65
BAB 65: TARUHAN DI KOTA JUDI
66
BAB 66: DARAH YANG TERBELAH DI SHINJUKU
67
BAB 67: DUEL DUA PREDATOR
68
BAB 68: RAHASIA DI BALIK BENTENG BELGICA
69
BAB 69: PELARIAN SANG PENGKHIANAT NEGARA
70
BAB 70: KEBENARAN DI BAWAH LANGIT MONAS
71
BAB 71: NYALA API DI TENGAH LAUT
72
BAB 72: KONTRAK DARI BALIK BAYANGAN
73
BAB 73: DARAH DI ARENA BANGKOK
74
BAB 74: PILIHAN DI AMBANG MAUT
75
BAB 75: PENGKHIANATAN SANG ARSITEK
76
BAB 76: SURAT DARI NEGERI ES
77
BAB 77: NERAKA PUTIH DI JALAN TENGKORAK
78
BAB 78: LABIRIN MEMORI YANG BEKU
79
BAB 79: MAWAR DI ATAS BETON

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!