Langit yang beda bagian 2

Asap hitam membumbung tinggi di antara celah gedung. Bau sampah yang terbakar dan aroma menyengat dari sesuatu yang mirip bahan kimia memenuhi udara. Di pusat kerumunan, para pahlawan profesional tertahan oleh kobaran api yang memblokir jalan.

Mitsuki bertengger di tepi papan reklame, kakinya bergelantungan santai di udara. Matanya yang tajam mengamati sosok besar berbentuk lumpur hijau pekat yang tengah menggeliat di tengah jalan. Di dalam tubuh lumpur itu, seorang remaja berambut pirang Bakugo sedang meronta hebat. Ledakan-ledakan kecil keluar dari telapak tangannya, namun justru ledakan itu yang memicu api di sekitar mereka semakin besar.

"Menarik," bisik Mitsuki. "Dia mencoba melawan dari dalam, tapi justru memperburuk situasinya sendiri. Kurangnya ketenangan adalah kelemahan yang fatal."

Di bawah sana, para Pro-Hero berteriak memberikan instruksi. "Tunggu pahlawan dengan Quirk air!" "Apinya terlalu panas, aku tidak bisa mendekat!"

Mitsuki menyipitkan mata. Di dunianya, membiarkan target menderita sementara menunggu bantuan adalah hal yang tidak efisien. Namun, perhatiannya teralih saat melihat sosok berambut hijau yang tadi ia temui. Izuku Midoriya berdiri di barisan depan penonton, tubuhnya gemetar hebat, namun matanya tidak lepas dari sosok Bakugo yang tercekik.

Lalu, sesuatu yang tidak logis terjadi.

Izuku berlari. Ia menerobos garis polisi, kakinya yang gemetar dipaksa melangkah secepat mungkin menuju monster lumpur itu.

"Bodoh sekali," gumam Mitsuki, namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Tapi... sangat berani."

Izuku melempar tas sekolahnya, mencoba melakukan apa saja untuk membebaskan temannya. Namun, monster lumpur itu tertawa remeh dan bersiap menghantam Izuku dengan tangan cairnya yang raksasa.

"Mati kau, bocah sialan!" seru monster itu.

Sret.

Dalam satu kedipan mata, sebelum tangan lumpur itu menyentuh Izuku, sebuah bayangan biru pucat melesat melewati kepala para penonton.

Mitsuki mendarat tepat di antara Izuku dan monster itu. Punggungnya menghadap Izuku, sementara tangannya sudah membentuk segel yang tidak dikenal oleh siapa pun di dunia itu.

"Siapa kau—?!" Monster lumpur itu berteriak, namun kalimatnya terputus.

"Fūton: Toppa (Elemen Angin: Terobosan)," ucap Mitsuki dengan suara yang sangat tenang, nyaris seperti sedang berbisik di perpustakaan.

Bukan sekadar angin biasa. Tekanan udara yang sangat padat terpancar dari mulut Mitsuki, menghantam inti monster lumpur itu dengan kekuatan yang presisi. Ledakan udara itu begitu kuat hingga api yang mengepung mereka seketika padam, dan tubuh cair monster itu terpental, tercerai-berai menjadi tetesan-tetesan kecil yang tak berdaya.

Bakugo terlepas, jatuh berlutut sambil terbatuk-batuk. Izuku membeku, menatap punggung Mitsuki dengan mulut ternganga.

Keheningan menyelimuti tempat kejadian. Para Pro-Hero terpaku. Mereka mengharapkan All Might atau bantuan besar, bukan seorang remaja asing dengan pakaian aneh yang mengalahkan penjahat hanya dengan satu hembusan napas.

Mitsuki menoleh sedikit ke arah Izuku, matanya kuning keemasannya berkilau di balik poni rambutnya. "Kau bergerak sebelum berpikir. Itu insting yang bagus, tapi tubuhmu tidak mendukung niatmu."

"K-kamu... yang tadi di tiang listrik?" Izuku terbata.

"Oi! Siapa kau, hah?!" Bakugo berdiri dengan sisa tenaga, wajahnya merah padam karena malu sekaligus marah. "Aku tidak butuh bantuan bocah sepertimu!"

Mitsuki tidak menanggapi amarah Bakugo. Ia justru menatap tangannya sendiri yang sedikit berasap karena sisa energi Chakra. Di dunia ini, Chakra terasa lebih tajam, lebih sulit dikendalikan karena tidak ada resonansi dari alam sekitarnya.

"Kau..." Seorang pahlawan besar, Death Arms, mendekat dengan wajah gusar. "Apa yang kau lakukan? Kau menggunakan Quirk tanpa izin! Dan teknik itu... kau bisa saja membunuh anak yang disandera itu kalau meleset sedikit saja!"

Mitsuki memiringkan kepalanya, ekspresinya polos namun dingin. "Meleset? Aku tidak pernah meleset dalam menyerang titik vital."

"Itu bukan poinnya!" Death Arms membentak. "Siapa namamu? Di mana lisensi pahlawanmu?"

Mitsuki terdiam. Lisensi? Di dunianya, seorang ninja diakui karena kemampuannya, bukan karena selembar kartu. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kekuatan diatur oleh birokrasi yang ketat.

Sebelum situasi semakin memanas, seorang pria kurus dengan rambut pirang kusut yang berdiri di belakang kerumunan All Might dalam bentuk aslinya menatap Mitsuki dengan tajam. Ia melihat sesuatu yang berbeda pada anak itu. Bukan hanya kekuatannya, tapi ketenangan yang tidak alami bagi seorang remaja.

"Aku tidak punya hal seperti itu," jawab Mitsuki santai pada Death Arms.

Tiba-tiba, Mitsuki merasakan kehadiran yang sangat kuat mendekat. Ia menatap ke langit. Jauh di sana, ia bisa merasakan seseorang yang memancarkan energi yang luar biasa besar, meski tidak terasa seperti Chakra.

Ini adalah dunia yang merepotkan, pikir Mitsuki.

Ia melirik ke arah Izuku satu kali lagi. "Midoriya Izuku, kan? Sepertinya aku akan berada di sini untuk waktu yang cukup lama. Aku harap kau segera menemukan 'kekuatan' yang kau cari."

Tanpa menunggu balasan, Mitsuki melemparkan sebuah bom asap kecil ke tanah—sebuah trik ninja dasar. Puff! Asap putih pebal menutupi pandangan semua orang. Saat asap itu menghilang, Mitsuki sudah tidak ada di sana. Ia lenyap, bahkan para pahlawan profesional tidak bisa melacak ke arah mana ia pergi.

Di tengah kebingungan itu, Izuku hanya berdiri mematung, meremas dadanya yang masih berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang seumuran dengannya, namun memiliki aura yang begitu dominan dan bebas.

"Bukan Quirk..." bisik Izuku pada diri sendiri. "Gerakannya... itu bukan seperti pahlawan. Itu seperti... bayangan."

Di atas atap gedung yang cukup jauh, Mitsuki duduk sambil mengamati tangannya. Ular kecil keluar dari lengannya, berdesis pelan.

"Ayah... tempat ini sangat unik," ucap Mitsuki pada angin, seolah berharap Orochimaru bisa mendengarnya melintasi dimensi. "Mereka memiliki aturan untuk menjadi orang baik. Tapi mereka lupa, bahwa di dalam kegelapan, aturan hanyalah beban."

Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Di kejauhan, ia melihat All Might dalam bentuk pahlawannya sedang dikerumuni media.

Episodes
1 Langit yang beda
2 Langit yang beda bagian 2
3 Sepuluh bulan dalam bayang bayang
4 Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
5 Logika sang bayangan
6 Ambisi dan Insting
7 Defisini Normal
8 Frekuensi yang berbeda
9 Tekanan di balik kabut
10 Simbol dan Bayangan
11 Yang Tersisa
12 Sirkulasi Dua Dunia
13 Spektrum dan Bayangan
14 Arus yang tak terbendung (Revisi)
15 Gravitasi Seepuluh Juta
16 Kekosongan Di Balik Suara
17 Flashback
18 Mencairkan Belenggu
19 Badai Melawan Hening
20 Setelah Selesai
21 Tamu yang tak di undang
22 Bab 22 : Keberangkatan Menuju sisi terang
23 Bab 23 : Racun Di kota Hosu
24 Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu
25 Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
26 Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
27 Bab 27 : Ujian
28 Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
29 Bab 29 : Tomura
30 Bab 30 : Latihan
31 Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
32 Bab 32 : Luka yang tertinggal
33 Bab 33 : Puncak Kekuatan
34 Bab 34 : Akhir dari sebuah era
35 Bab 35 : Arc Sekolah End
36 Bab 36: Latihan
37 Bab 37: Tahap Pertama
38 Bab 38: Misi Penyelamatan
39 Bab 39: Eri
40 Bab 40
41 Bab 41: Kematian
42 Bab 42: Masa depan tidak bisa dibaca
43 Bab 43: Penjarahan
44 Bab 44: Tamu tak diundang
45 Bab 45: Senyum
46 Bab 46: Evolusi yang menyimpang
47 Bab 47 : Frekuensi
48 Bab 48: Suhu kritis
49 Bab 49: Petempuran sejarah
50 Bab 50: 75%
51 Bab 51: Semuanya mempunyai tujuan
52 Bab 52: ...
53 Bab 53: ...
54 Bab 54: Matahari yang terbenam dibalik Bayangan
55 PENGUMUMAN: STATUS FINAL PROYEK NOVEL "MITSUKI"
56 Bab 55: Rekonstruksi dan Heningnya Logika
57 Bab 56: Hak Hidup (Revisi)
58 Bab 58: Penjelasan
59 Bab 59: Sinkronisasi Taktis dan Observasi Unit Tahun Pertama
60 Bab 60: Pusat Penahanan
61 Bab 61: Tidak ada logika
62 Bab 62: Fragment Memori
63 Bab 63: Logika yang tidak ada
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Langit yang beda
2
Langit yang beda bagian 2
3
Sepuluh bulan dalam bayang bayang
4
Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
5
Logika sang bayangan
6
Ambisi dan Insting
7
Defisini Normal
8
Frekuensi yang berbeda
9
Tekanan di balik kabut
10
Simbol dan Bayangan
11
Yang Tersisa
12
Sirkulasi Dua Dunia
13
Spektrum dan Bayangan
14
Arus yang tak terbendung (Revisi)
15
Gravitasi Seepuluh Juta
16
Kekosongan Di Balik Suara
17
Flashback
18
Mencairkan Belenggu
19
Badai Melawan Hening
20
Setelah Selesai
21
Tamu yang tak di undang
22
Bab 22 : Keberangkatan Menuju sisi terang
23
Bab 23 : Racun Di kota Hosu
24
Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu
25
Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
26
Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
27
Bab 27 : Ujian
28
Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
29
Bab 29 : Tomura
30
Bab 30 : Latihan
31
Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
32
Bab 32 : Luka yang tertinggal
33
Bab 33 : Puncak Kekuatan
34
Bab 34 : Akhir dari sebuah era
35
Bab 35 : Arc Sekolah End
36
Bab 36: Latihan
37
Bab 37: Tahap Pertama
38
Bab 38: Misi Penyelamatan
39
Bab 39: Eri
40
Bab 40
41
Bab 41: Kematian
42
Bab 42: Masa depan tidak bisa dibaca
43
Bab 43: Penjarahan
44
Bab 44: Tamu tak diundang
45
Bab 45: Senyum
46
Bab 46: Evolusi yang menyimpang
47
Bab 47 : Frekuensi
48
Bab 48: Suhu kritis
49
Bab 49: Petempuran sejarah
50
Bab 50: 75%
51
Bab 51: Semuanya mempunyai tujuan
52
Bab 52: ...
53
Bab 53: ...
54
Bab 54: Matahari yang terbenam dibalik Bayangan
55
PENGUMUMAN: STATUS FINAL PROYEK NOVEL "MITSUKI"
56
Bab 55: Rekonstruksi dan Heningnya Logika
57
Bab 56: Hak Hidup (Revisi)
58
Bab 58: Penjelasan
59
Bab 59: Sinkronisasi Taktis dan Observasi Unit Tahun Pertama
60
Bab 60: Pusat Penahanan
61
Bab 61: Tidak ada logika
62
Bab 62: Fragment Memori
63
Bab 63: Logika yang tidak ada

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!