Logika sang bayangan

Hari pertama di UA High School tidak diawali dengan upacara penyambutan yang meriah. Bagi kelas 1-A, hari itu diawali dengan aroma kecemasan.

Mitsuki duduk di bangku barisan belakang, tepat di samping jendela. Ia mengenakan seragam UA dengan rapi, namun tetap memberikan kesan yang berbeda—seragam itu tampak terlalu kaku untuk tubuhnya yang bergerak dengan kelenturan ular. Di depannya, Izuku sedang duduk dengan tegang, sementara Bakugo sudah menyandarkan kakinya di atas meja dengan ekspresi dongkol.

"Singkirkan kakimu dari meja!" seru Iida sambil mengayunkan tangannya seperti robot. "Itu menghina para senior kita dan pengrajin yang membuat meja ini!"

"Berisik, pecundang!" sahut Bakugo. Matanya kemudian melirik ke arah Mitsuki. "Oi, wajah pucat. Aku belum selesai denganmu sejak hari ujian itu. Jangan pikir karena kau menyelamatkan si Deku sialan itu, kau bisa bersantai di sini."

Mitsuki menoleh pelan, menatap Bakugo dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Aku tidak bersantai. Aku sedang menghitung detak jantungmu. Kau sangat marah, ya? Itu tidak sehat untuk aliran energimu."

Bakugo mengerutkan kening, baru saja akan meledak, ketika sebuah suara serak terdengar dari arah pintu.

"Jika kalian di sini hanya untuk berteman, sebaiknya kalian pergi sekarang."

Shota Aizawa, dalam kantong tidurnya yang berwarna kuning, merangkak masuk seperti ulat bulu raksasa. Seluruh kelas seketika sunyi. Mitsuki menyipitkan mata. Pria ini... dia menyembunyikan kehadirannya dengan sangat baik. Seorang ahli infiltrasi, pikirnya.

Aizawa keluar dari kantong tidurnya dan menatap murid-muridnya dengan mata lelah. "Aku wali kelas kalian, Shota Aizawa. Pakai baju olahraga kalian dan segera ke lapangan."

Tes Penilaian Quirk

Di lapangan, Aizawa menjelaskan bahwa mereka akan melakukan tes kebugaran fisik, namun kali ini dengan izin menggunakan Quirk mereka.

"Siapa yang menempati peringkat pertama di ujian praktik?" tanya Aizawa.

"Bakugo," jawab seseorang.

"Bakugo, coba lempar bola ini menggunakan Quirk-mu. Berapa rekor lemparanmu saat SMP?"

"67 meter," jawab Bakugo. Ia melangkah ke dalam lingkaran, menarik napas dalam, dan meledakkan bola itu dengan teriakan, "SHINEEEEE!" (Mati!).

Hasilnya: 705.2 meter.

Seluruh kelas bersorak kagum, namun Aizawa memberikan peringatan dingin. "Ini adalah pendidikan pahlawan. Siapa pun yang berada di peringkat terakhir dalam akumulasi nilai delapan tes ini akan dianggap tidak memiliki potensi dan... akan langsung dikeluarkan."

Suasana seketika mencekam. Izuku berkeringat dingin. Ia tahu One For All masih sulit dikendalikan. Namun, ia merasakan tepukan ringan di bahunya.

"Tenang, Izuku," bisik Mitsuki. "Gunakan teknik pernapasan yang aku ajarkan. Jangan biarkan emosimu mengonsumsi energimu."

Tes 1: Lari 50 Meter

Saat giliran Mitsuki, ia berdiri berhadapan dengan Iida Tenya yang memiliki mesin di betisnya.

"Mulai!"

Iida melesat dengan kecepatan tinggi. Mitsuki tidak meledakkan kekuatannya. Ia hanya mencondongkan tubuhnya ke depan, menggunakan Chakra di telapak kakinya untuk memicu akselerasi instan teknik Body Flicker (Shunshin) tingkat dasar.

Hasil: 3.04 detik. Hanya terpaut sedikit di belakang Iida yang mencatat 3.01 detik.

Aizawa mencatat hasilnya dengan alis berkerut. Dia tidak terlihat seperti menggunakan Quirk motorik. Itu lebih seperti peningkatan fisik yang dipicu secara internal.

Tes 2: Kekuatan Genggaman

Seorang murid bertubuh besar (Shoji) mencatat angka 540 kg. Mitsuki melangkah maju. Ia tidak memiliki otot besar, namun ia tahu cara mengunci persendian tangan untuk memberikan tekanan maksimal. Ia memanjangkan sedikit otot di lengannya, memperkuat lilitannya pada alat pengukur.

Hasil: 480 kg.

"Wah, anak pucat itu luar biasa!" bisik Kirishima. "Dia tidak terlihat sekuat itu!"

Tes Terakhir: Lempar Bola

Kini giliran Mitsuki. Ia melangkah ke lingkaran lempar dengan santai. Ia tidak berteriak. Ia hanya memegang bola itu, lalu tiba-tiba lengannya memanjang dan meliuk seperti cambuk.

Whusss!

Bola itu terlempar dengan momentum sentrifugal yang luar biasa. Namun, di tengah udara, Mitsuki membentuk segel tangan tersembunyi di balik lengan bajunya. Fūton: Reppūshō (Elemen Angin: Telapak Angin Puyuh).

Tekanan udara mendorong bola itu lebih jauh lagi.

Hasil: 910 meter.

"Curang! Itu tadi seperti ada ledakan udara!" teriak beberapa murid.

Aizawa berjalan mendekati Mitsuki. Matanya tiba-tiba menyala merah, dan rambutnya berdiri. Ia menggunakan Quirk-nya, Erasure, untuk menghapus kekuatan Mitsuki.

"Coba lakukan lagi," perintah Aizawa dingin.

Mitsuki memiringkan kepalanya. "Lakukan apa?"

"Aku sudah menghapus Quirk-mu. Kenapa kau tidak terlihat terganggu?"

Mitsuki tersenyum datar. "Sensei, Anda mungkin bisa menghapus 'sakelar' di dalam tubuh orang-orang ini. Tapi Anda tidak bisa menghapus apa yang sudah menjadi bagian dari anatomi dan latihan keras saya. Kekuatan saya bukan sekadar bakat yang bisa Anda matikan."

Aizawa tertegun. Quirk-nya biasanya membuat pengguna Quirk tipe emisi atau transformasi kehilangan kendali seketika. Tapi Mitsuki tetap berdiri di sana, dengan aliran energi yang tetap stabil. Anak ini... dia bukan pengguna Quirk biasa. Strukturnya berbeda.

Momen Kebenaran Izuku

Kini giliran Izuku. Ia berdiri di lingkaran, tertekan oleh ancaman pengusiran. Ia mencoba menggunakan One For All di seluruh tubuhnya, namun Aizawa menghentikannya.

"Kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu, Midoriya," kata Aizawa. "Kau hanya akan menjadi beban jika kau menghancurkan tubuhmu sendiri di medan perang."

Izuku menunduk. Ia teringat latihan malamnya bersama Mitsuki di pantai.

“Izuku, jangan pikirkan seluruh tubuhmu. Pikirkan satu titik. Seperti ular yang memusatkan seluruh racunnya hanya pada sepasang taring.”

Izuku mengambil posisi. Ia tidak lagi mencoba meledakkan seluruh lengannya. Saat bola akan terlepas dari ujung jarinya, ia memusatkan One For All hanya pada ujung jari telunjuknya.

"SMASH!"

Bola itu melesat, membelah udara dengan suara yang memekakkan telinga.

Hasil: 705.3 meter. Hanya unggul 0.1 meter dari Bakugo.

Izuku berbalik ke arah Aizawa, jarinya bengkak dan ungu, tapi wajahnya menunjukkan ketenangan yang ia pelajari dari Mitsuki. "Sensei... aku masih bisa bergerak."

Aizawa terdiam sebentar, lalu senyum tipis yang menyeramkan muncul di wajahnya. "Menarik."

Di akhir tes, Aizawa mengumumkan bahwa ancaman pengusiran itu hanyalah "tipuan logis" untuk memicu potensi maksimal mereka (meskipun Mitsuki tahu bahwa Aizawa sebenarnya serius dan hanya berubah pikiran setelah melihat hasil mereka).

Saat mereka berjalan kembali ke ruang ganti, Mitsuki berjalan di samping Izuku.

"Kau melakukannya dengan baik, Matahari," ucap Mitsuki.

"Itu berkat teknik fokus yang kau ajarkan, Mitsuki-kun. Kalau tidak, mungkin tanganku sudah hancur total sekarang," jawab Izuku sambil tersenyum lebar.

"Tetaplah waspada," kata Mitsuki sambil menatap ke arah koridor yang gelap. "Aku merasakan ada banyak mata yang mulai memperhatikan kita. Di sekolah ini, menjadi luar biasa berarti menjadi sasaran."

Di sudut koridor, Shoto Todoroki berdiri bersandar di dinding, matanya yang berbeda warna menatap tajam ke arah Mitsuki. Ia merasakan sesuatu yang sangat dingin dan akrab dari remaja berambut pucat itu sesuatu yang mengingatkannya pada "ciptaan" yang sempurna.

Episodes
1 Langit yang beda
2 Langit yang beda bagian 2
3 Sepuluh bulan dalam bayang bayang
4 Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
5 Logika sang bayangan
6 Ambisi dan Insting
7 Defisini Normal
8 Frekuensi yang berbeda
9 Tekanan di balik kabut
10 Simbol dan Bayangan
11 Yang Tersisa
12 Sirkulasi Dua Dunia
13 Spektrum dan Bayangan
14 Arus yang tak terbendung (Revisi)
15 Gravitasi Seepuluh Juta
16 Kekosongan Di Balik Suara
17 Flashback
18 Mencairkan Belenggu
19 Badai Melawan Hening
20 Setelah Selesai
21 Tamu yang tak di undang
22 Bab 22 : Keberangkatan Menuju sisi terang
23 Bab 23 : Racun Di kota Hosu
24 Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu
25 Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
26 Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
27 Bab 27 : Ujian
28 Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
29 Bab 29 : Tomura
30 Bab 30 : Latihan
31 Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
32 Bab 32 : Luka yang tertinggal
33 Bab 33 : Puncak Kekuatan
34 Bab 34 : Akhir dari sebuah era
35 Bab 35 : Arc Sekolah End
36 Bab 36: Latihan
37 Bab 37: Tahap Pertama
38 Bab 38: Misi Penyelamatan
39 Bab 39: Eri
40 Bab 40
41 Bab 41: Kematian
42 Bab 42: Masa depan tidak bisa dibaca
43 Bab 43: Penjarahan
44 Bab 44: Tamu tak diundang
45 Bab 45: Senyum
46 Bab 46: Evolusi yang menyimpang
47 Bab 47 : Frekuensi
48 Bab 48: Suhu kritis
49 Bab 49: Petempuran sejarah
50 Bab 50: 75%
51 Bab 51: Semuanya mempunyai tujuan
52 Bab 52: ...
53 Bab 53: ...
54 Bab 54: Matahari yang terbenam dibalik Bayangan
55 PENGUMUMAN: STATUS FINAL PROYEK NOVEL "MITSUKI"
56 Bab 55: Rekonstruksi dan Heningnya Logika
57 Bab 56: Hak Hidup (Revisi)
58 Bab 58: Penjelasan
59 Bab 59: Sinkronisasi Taktis dan Observasi Unit Tahun Pertama
60 Bab 60: Pusat Penahanan
61 Bab 61: Tidak ada logika
62 Bab 62: Fragment Memori
63 Bab 63: Logika yang tidak ada
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Langit yang beda
2
Langit yang beda bagian 2
3
Sepuluh bulan dalam bayang bayang
4
Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
5
Logika sang bayangan
6
Ambisi dan Insting
7
Defisini Normal
8
Frekuensi yang berbeda
9
Tekanan di balik kabut
10
Simbol dan Bayangan
11
Yang Tersisa
12
Sirkulasi Dua Dunia
13
Spektrum dan Bayangan
14
Arus yang tak terbendung (Revisi)
15
Gravitasi Seepuluh Juta
16
Kekosongan Di Balik Suara
17
Flashback
18
Mencairkan Belenggu
19
Badai Melawan Hening
20
Setelah Selesai
21
Tamu yang tak di undang
22
Bab 22 : Keberangkatan Menuju sisi terang
23
Bab 23 : Racun Di kota Hosu
24
Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu
25
Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
26
Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
27
Bab 27 : Ujian
28
Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
29
Bab 29 : Tomura
30
Bab 30 : Latihan
31
Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
32
Bab 32 : Luka yang tertinggal
33
Bab 33 : Puncak Kekuatan
34
Bab 34 : Akhir dari sebuah era
35
Bab 35 : Arc Sekolah End
36
Bab 36: Latihan
37
Bab 37: Tahap Pertama
38
Bab 38: Misi Penyelamatan
39
Bab 39: Eri
40
Bab 40
41
Bab 41: Kematian
42
Bab 42: Masa depan tidak bisa dibaca
43
Bab 43: Penjarahan
44
Bab 44: Tamu tak diundang
45
Bab 45: Senyum
46
Bab 46: Evolusi yang menyimpang
47
Bab 47 : Frekuensi
48
Bab 48: Suhu kritis
49
Bab 49: Petempuran sejarah
50
Bab 50: 75%
51
Bab 51: Semuanya mempunyai tujuan
52
Bab 52: ...
53
Bab 53: ...
54
Bab 54: Matahari yang terbenam dibalik Bayangan
55
PENGUMUMAN: STATUS FINAL PROYEK NOVEL "MITSUKI"
56
Bab 55: Rekonstruksi dan Heningnya Logika
57
Bab 56: Hak Hidup (Revisi)
58
Bab 58: Penjelasan
59
Bab 59: Sinkronisasi Taktis dan Observasi Unit Tahun Pertama
60
Bab 60: Pusat Penahanan
61
Bab 61: Tidak ada logika
62
Bab 62: Fragment Memori
63
Bab 63: Logika yang tidak ada

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!