Sepuluh bulan dalam bayang bayang

Malam di Musutafu terasa lebih cerah daripada malam di Konoha. Lampu-lampu neon tidak pernah padam, menciptakan polusi cahaya yang menyembunyikan bintang-bintang. Bagi Mitsuki, ini adalah lingkungan yang aneh. Di dunia ninja, kegelapan adalah teman; di sini, kegelapan adalah sesuatu yang dianggap sebagai ancaman oleh masyarakat.

Mitsuki tidak butuh hotel. Ia menemukan tempat bernaung di sebuah atap gedung apartemen tua yang terbengkalai. Menggunakan teknik elemen tanah sederhana, ia memodifikasi struktur beton di sudut atap menjadi celah sempit yang nyaman untuk bermeditasi.

Selama beberapa hari pertama, ia melakukan apa yang paling dikuasainya, Infiltrasi.

Ia mencuri pakaian biasa dari jemuran, mengamati cara orang menggunakan kartu elektronik untuk naik kereta, dan mendengarkan percakapan di kafe-kafe. Ia belajar bahwa di dunia ini, anak seusianya seharusnya berada di sekolah. Ia juga belajar bahwa peristiwa di gang tempo hari telah menjadi viral di internet sebagai "Insiden Remaja Misterius".

"Mereka menyebutku anomali," gumam Mitsuki sambil melihat layar ponsel yang ia 'pinjam' dari seorang berandalan pasar gelap. "Sistem yang sangat kaku. Jika kau tidak terdaftar, kau dianggap tidak ada."

Dua minggu kemudian, Mitsuki menemukan apa yang ia cari.

Pantai Dagobah.

Tempat itu dulunya adalah tumpukan sampah raksasa. Namun, setiap pagi, ada suara besi beradu dan teriakan semangat. Dari balik bayangan sebuah pilar jembatan, Mitsuki mengamati Izuku Midoriya yang sedang menarik ban truk raksasa di atas pasir.

Dan di sana, berdiri pria kurus berambut pirang yang tempo hari ia lihat All Might dalam wujud aslinya.

Mitsuki tidak mendekat. Ia hanya memperhatikan. Ia melihat bagaimana All Might melatih Midoriya dengan metode yang sangat... manusiawi. Lari, angkat beban, diet ketat.

Terlalu lambat, pikir Mitsuki. Dia melatih ototnya, tapi dia tidak melatih instingnya untuk membunuh atau bertahan hidup.

Setelah tiga jam pengamatan, Mitsuki memutuskan untuk menampakkan diri. Bukan dengan ledakan, tapi dengan berjalan perlahan keluar dari bayangan pilar, tepat saat Midoriya jatuh tersungkur karena kelelahan.

"Latihanmu tidak efisien, Midoriya Izuku."

Suara itu membuat All Might tersentak. Pria kurus itu segera memasang posisi waspada, matanya yang cekung menatap tajam ke arah remaja berkulit pucat itu.

"Kau... anak dari insiden tempo hari," ucap All Might dengan suara serak. "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"

Mitsuki mengabaikan pertanyaan itu. Ia berjalan mendekati Midoriya yang masih terengah-engah di atas pasir. "Kau membangun wadah yang besar, tapi kau tidak belajar cara mengalirkan isinya. Jika kau terus begini, saat kau mendapatkan 'kekuatan' itu, tubuhmu akan hancur dari dalam sebelum kau sempat menggunakannya."

Midoriya mendongak, matanya membelalak. "M-Mitsuki-kun? Bagaimana kau tahu aku akan mendapatkan kekuatan?"

All Might segera melangkah di antara mereka, mencoba melindungi rahasia One For All. "Dengarkan, Nak. Aku tidak tahu siapa kau atau apa tujuanmu, tapi ini adalah latihan privat—"

"Aku tidak tertarik pada rahasia kalian," potong Mitsuki tenang. Ia menatap All Might, dan untuk sesaat, All Might merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan tatapan seorang anak kecil; itu adalah tatapan predator yang sudah terbiasa melihat kematian. "Aku tertarik pada dia. Dia memiliki cahaya yang sama dengan seseorang yang aku kenal. Aku ingin melihat sejauh mana cahaya itu bisa bertahan di dunia yang penuh aturan ini."

Mitsuki kemudian menoleh ke arah tumpukan sampah di sebelah kanan. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, ia melemparkan sebuah kunai kecil yang ia buat dari sisa besi tua. Wush! Kunai itu membelah udara dan menancap tepat di seekor tikus yang sedang mengincar sisa makanan Midoriya di kejauhan.

"Pahlawan menyelamatkan orang," ucap Mitsuki. "Tapi ninja memastikan ancaman tidak pernah sampai ke orang tersebut. Jika kalian mengizinkan, aku akan mengawasinya. Sebagai imbalan, aku tidak akan mengganggu 'sistem' kalian."

All Might terdiam. Ia adalah simbol perdamaian, namun ia tahu bahwa dunia tidak selamanya putih. Keberadaan Mitsuki adalah warna abu-abu yang tidak ia pahami.

"Kenapa kau ingin membantunya?" tanya All Might akhirnya.

Mitsuki tersenyum tipis, menatap langit pagi yang mulai membiru. "Karena di dunia ini, aku adalah bulan yang kehilangan orbitnya. Dan anak itu... mungkin bisa menjadi matahari yang memberiku arah."

Bulan keempat pelatihan di Pantai Dagobah membawa perubahan yang tidak terduga bagi Izuku Midoriya. Jika All Might adalah pelatih yang membentuk tubuhnya menjadi "wadah", maka Mitsuki adalah guru bayangan yang mengajarinya cara bernapas di tengah tekanan.

Malam itu, pasir pantai terasa dingin. All Might baru saja pergi setelah sesi latihan angkat beban yang melelahkan. Izuku terduduk lemas, paru-parunya terasa terbakar.

"Kau terlalu banyak membuang gerakan," suara Mitsuki muncul dari kegelapan di bawah jembatan. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tidak meninggalkan jejak di pasir.

"Ah, Mitsuki-kun... kau datang lagi," ucap Izuku sambil berusaha mengatur napas. "Maksudmu... gerakanku tidak efisien?"

Mitsuki berhenti tepat di depan Izuku. Ia memberikan sebuah botol air yang isinya terasa sangat segar—ramuan herbal ringan yang biasa diminum ninja untuk memulihkan stamina. "Di duniamu, pahlawan bertarung untuk dilihat. Kalian berteriak saat menyerang, kalian menggunakan kostum yang mencolok, dan kalian membiarkan lawan tahu apa yang akan kalian lakukan."

Mitsuki melepas jubah birunya, hanya menyisakan pakaian hitam ketat di dalamnya. "Coba serang aku, Izuku. Gunakan apa pun yang kau pelajari dari All Might."

Izuku terkejut. "Tapi... aku belum punya kekuatan! Aku hanya punya otot sekarang."

"Itu cukup," jawab Mitsuki datar. "Serang aku dengan niat untuk menjatuhkanku."

Izuku berdiri, memasang kuda-kuda tinju yang sering ia lihat di televisi. Ia berlari ke arah Mitsuki dan melayangkan pukulan lurus. Namun, sebelum tinjunya mendekat, Mitsuki sedikit memiringkan tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menangkap pergelangan tangan Izuku dan menggunakan momentum anak itu untuk menjatuhkannya ke pasir.

Brukh!

"Terlalu lambat," bisik Mitsuki. "Matamu memberitahuku ke mana kau akan memukul. Nafasmu memberitahuku kapan kau akan bergerak."

Izuku bangkit lagi, mencoba lagi. Kali ini ia mencoba menendang. Mitsuki melompat mundur dengan anggun, tubuhnya seolah seringan kapas.

"Seorang pahlawan ingin menghentikan kejahatan dengan adil," ucap Mitsuki sambil menepis pukulan ketiga Izuku. "Tapi seorang ninja hanya peduli pada satu hal: Hasil. Jika kau ingin menyelamatkan orang, kau tidak boleh hanya menjadi kuat. Kau harus menjadi tidak terduga."

Mitsuki tiba-tiba menghilang. Izuku berputar, mencari keberadaan temannya itu.

"Di sini," suara itu terdengar tepat di telinga Izuku.

Izuku tersentak, namun sebelum ia bisa bereaksi, Mitsuki sudah menyentuhkan dua jarinya ke leher Izuku—titik nadi yang fatal. "Jika aku musuhmu, kau sudah mati tiga kali sejak tadi."

Izuku terdiam, keringat dingin mengucur. Ia menyadari sesuatu yang sangat kontras. All Might mengajarinya cara menjadi simbol yang gagah, tapi Mitsuki mengajarinya realitas bertarung yang mengerikan.

"Bagaimana... bagaimana cara melakukannya?" tanya Izuku dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

Mitsuki menatap tangannya. "Matikan kehadiranmu. Jangan menjadi matahari yang membakar, jadilah bulan yang memantulkan cahaya. Saat musuhmu mengira mereka melihatmu, sebenarnya mereka hanya melihat bayanganmu."

Selama bulan-bulan berikutnya, rutinitas Izuku berubah drastis. Pagi hari ia menghabiskan waktu bersama All Might, memindahkan sampah dan membangun otot. Namun saat matahari terbenam, ia berlatih bersama Mitsuki.

Mitsuki mengajarinya cara berlari tanpa suara, cara menggunakan indra pendengaran untuk mendeteksi lawan di belakangnya, dan yang paling penting: Taktik Manipulasi.

"Jika kau tidak punya Quirk, gunakan lingkunganmu," kata Mitsuki suatu malam. Ia menunjukkan cara menggunakan pasir pantai untuk membutakan lawan sejenak, atau menggunakan pantulan cahaya pada air untuk menciptakan celah serangan.

All Might, yang sering mengawasi dari kejauhan, merasa cemas sekaligus kagum.

"Anak itu... dia mengajari Young Midoriya hal-hal yang biasanya hanya dipelajari oleh agen intelijen bawah tanah," gumam All Might pada dirinya sendiri. "Metodenya dingin, tapi efektif. Midoriya tidak lagi sekadar berlari lurus dia mulai bergerak seperti... predator."

Hari Ujian Masuk UA

Sepuluh bulan telah berlalu. Pantai Dagobah kini bersih total. Izuku berdiri di atas tumpukan sampah terakhir yang telah ia rapikan, berteriak ke arah laut untuk meluapkan segalanya.

Mitsuki berdiri di dekatnya, mengenakan pakaian baru yang lebih modern sebuah hoodie gelap dan celana kargo, meskipun ia tetap menyimpan kunai tersembunyi di balik lengan bajunya. Ia telah berhasil mendapatkan "identitas" sementara melalui bantuan misterius.

"Kau siap, Izuku?" tanya Mitsuki.

Izuku menoleh. Tubuhnya kini tegap, otot-ototnya kencang, dan yang paling berbeda adalah tatapannya. Ada ketenangan yang ia dapatkan dari Mitsuki yang bercampur dengan semangat dari All Might.

"Ya," jawab Izuku mantap. "Terima kasih, Mitsuki-kun. Tanpa latihan darimu, aku mungkin hanya akan menjadi samsak tinju yang kuat."

"Jangan berterima kasih padaku sampai kau lulus," ucap Mitsuki sambil berjalan mendahuluinya. "Aku juga akan ikut ujian itu. Nezu, kepala sekolah mereka, sepertinya tertarik padaku setelah aku mengirimkan 'pesan' kecil padanya."

Izuku terbelalak. "Hah? Kau ikut ujian juga?!"

"Tentu," Mitsuki menoleh sedikit dan memberikan senyum tipisnya yang misterius. "Aku ingin melihat secara langsung, apakah sekolah yang mereka banggakan ini bisa menangani seorang ninja."

Mereka berdua berjalan menuju gerbang UA High School. Di sana, ratusan peserta didik dengan Quirk yang luar biasa sedang berkumpul. Di tengah kerumunan itu, sosok Mitsuki yang tenang dan Izuku yang kini lebih waspada menjadi pusat perhatian yang sunyi.

Episodes
1 Langit yang beda
2 Langit yang beda bagian 2
3 Sepuluh bulan dalam bayang bayang
4 Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
5 Logika sang bayangan
6 Ambisi dan Insting
7 Defisini Normal
8 Frekuensi yang berbeda
9 Tekanan di balik kabut
10 Simbol dan Bayangan
11 Yang Tersisa
12 Sirkulasi Dua Dunia
13 Spektrum dan Bayangan
14 Arus yang tak terbendung (Revisi)
15 Gravitasi Seepuluh Juta
16 Kekosongan Di Balik Suara
17 Flashback
18 Mencairkan Belenggu
19 Badai Melawan Hening
20 Setelah Selesai
21 Tamu yang tak di undang
22 Bab 22 : Keberangkatan Menuju sisi terang
23 Bab 23 : Racun Di kota Hosu
24 Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu
25 Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
26 Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
27 Bab 27 : Ujian
28 Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
29 Bab 29 : Tomura
30 Bab 30 : Latihan
31 Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
32 Bab 32 : Luka yang tertinggal
33 Bab 33 : Puncak Kekuatan
34 Bab 34 : Akhir dari sebuah era
35 Bab 35 : Arc Sekolah End
36 Bab 36: Latihan
37 Bab 37: Tahap Pertama
38 Bab 38: Misi Penyelamatan
39 Bab 39: Eri
40 Bab 40
41 Bab 41: Kematian
42 Bab 42: Masa depan tidak bisa dibaca
43 Bab 43: Penjarahan
44 Bab 44: Tamu tak diundang
45 Bab 45: Senyum
46 Bab 46: Evolusi yang menyimpang
47 Bab 47 : Frekuensi
48 Bab 48: Suhu kritis
49 Bab 49: Petempuran sejarah
50 Bab 50: 75%
51 Bab 51: Semuanya mempunyai tujuan
52 Bab 52: ...
53 Bab 53: ...
54 Bab 54: Matahari yang terbenam dibalik Bayangan
55 PENGUMUMAN: STATUS FINAL PROYEK NOVEL "MITSUKI"
56 Bab 55: Rekonstruksi dan Heningnya Logika
57 Bab 56: Hak Hidup (Revisi)
58 Bab 58: Penjelasan
59 Bab 59: Sinkronisasi Taktis dan Observasi Unit Tahun Pertama
60 Bab 60: Pusat Penahanan
61 Bab 61: Tidak ada logika
62 Bab 62: Fragment Memori
63 Bab 63: Logika yang tidak ada
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Langit yang beda
2
Langit yang beda bagian 2
3
Sepuluh bulan dalam bayang bayang
4
Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
5
Logika sang bayangan
6
Ambisi dan Insting
7
Defisini Normal
8
Frekuensi yang berbeda
9
Tekanan di balik kabut
10
Simbol dan Bayangan
11
Yang Tersisa
12
Sirkulasi Dua Dunia
13
Spektrum dan Bayangan
14
Arus yang tak terbendung (Revisi)
15
Gravitasi Seepuluh Juta
16
Kekosongan Di Balik Suara
17
Flashback
18
Mencairkan Belenggu
19
Badai Melawan Hening
20
Setelah Selesai
21
Tamu yang tak di undang
22
Bab 22 : Keberangkatan Menuju sisi terang
23
Bab 23 : Racun Di kota Hosu
24
Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu
25
Bab 25: Bayang bayang keadilan dan sanksi
26
Bab 26 : Labirin Ular dan Delapan Sumbu
27
Bab 27 : Ujian
28
Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
29
Bab 29 : Tomura
30
Bab 30 : Latihan
31
Bab 31 : Kekerasan Vs Kelincahan
32
Bab 32 : Luka yang tertinggal
33
Bab 33 : Puncak Kekuatan
34
Bab 34 : Akhir dari sebuah era
35
Bab 35 : Arc Sekolah End
36
Bab 36: Latihan
37
Bab 37: Tahap Pertama
38
Bab 38: Misi Penyelamatan
39
Bab 39: Eri
40
Bab 40
41
Bab 41: Kematian
42
Bab 42: Masa depan tidak bisa dibaca
43
Bab 43: Penjarahan
44
Bab 44: Tamu tak diundang
45
Bab 45: Senyum
46
Bab 46: Evolusi yang menyimpang
47
Bab 47 : Frekuensi
48
Bab 48: Suhu kritis
49
Bab 49: Petempuran sejarah
50
Bab 50: 75%
51
Bab 51: Semuanya mempunyai tujuan
52
Bab 52: ...
53
Bab 53: ...
54
Bab 54: Matahari yang terbenam dibalik Bayangan
55
PENGUMUMAN: STATUS FINAL PROYEK NOVEL "MITSUKI"
56
Bab 55: Rekonstruksi dan Heningnya Logika
57
Bab 56: Hak Hidup (Revisi)
58
Bab 58: Penjelasan
59
Bab 59: Sinkronisasi Taktis dan Observasi Unit Tahun Pertama
60
Bab 60: Pusat Penahanan
61
Bab 61: Tidak ada logika
62
Bab 62: Fragment Memori
63
Bab 63: Logika yang tidak ada

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!