Menuntut Keadilan

Di ruang tengah rumah panggung yang sederhana itu, Mak Sari menahan pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.

Vertigo lamanya kambuh, tapi melihat putrinya, Kinar Hidayat, bersimpuh di lantai sambil terisak, rasa sakit itu ia telan bulat-bulat. Tangan keriputnya yang hangat mengusap punggung Kinar yang bergetar.

"Mak, Kinar nggak berguna... Maafin Kinar, Mak," suara Kinar parau, timbul tenggelam dalam tangis.

"Begitu Mas Suryo jadi pejabat teras, begitu uangnya jutaan, dia bilang Kinar cuma beban. Dia kasih surat cerai, dia usir kami... bahkan Lastri, darah dagingnya sendiri, nggak dia anggap."

Kinar merasa dadanya sesak. Bertahun-tahun ia mendampingi Suryo Wibowo merintis usaha dari nol, dari jualan di lapak kaki lima sampai jadi Juragan Besar yang disegani di kota.

Tapi apa balasannya? Saat sukses, Kinar dibuang seperti ampas tebu. Ia pulang ke rumah orang tuanya membawa aib janda, merasa gagal membalas budi, malah menambah beban pikiran orang tua.

Mata Mak Sari memerah. Hatinya seperti diiris sembilu. "Nduk, bangun. Jangan ngomong begitu," bisiknya tegas meski suaranya bergetar menahan amarah.

"Bapakmu memang cuma pensiunan guru SD, kita orang kampung, tapi kita bukan orang yang bisa diinjak-injak."

"Bapak, Ibu, Kinar... ayo makan dulu. Nasi sudah matang. Kasihan Lastri sama Kinar pasti lapar dari perjalanan jauh," suara lembut Mira Utami, istri Kang Jaka, memecah ketegangan.

Ia muncul dari dapur membawa nampan berisi nasi hangat yang mengepul.

Abah Kosasih Hidayat, yang sedari tadi duduk diam di kursi rotan tua dengan rahang mengeras, akhirnya berdiri. Ia memandang putri dan cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang mendalam dan kemurkaan yang tertahan.

"Makan dulu," titah Abah singkat. "Perut nggak boleh kosong kalau mau perang. Urusan harga diri, biar Abah yang pikirkan nanti."

Di meja makan kayu jati yang sudah kusam itu, hidangan yang tersaji jauh dari kata mewah. Hanya sayur lodeh terong, ikan asin, dan sambal terasi.

Tapi aromanya, aroma rumah, membuat air mata Kinar kembali menetes, kali ini karena haru.

Sulastri kecil, atau Lastri, duduk tenang di samping Kang Jaka. Matanya yang bulat dan bening mengamati sekeliling.

Rumah kakeknya ini tidak semegah "rumah gedong" milik ayahnya yang lantainya marmer dingin. Di sini lantainya masih ubin jadul, dindingnya batako ekspos, tapi Lastri bisa merasakan sesuatu yang tidak dimiliki rumah ayahnya: Kehidupan.

Tak ada yang tahu bahwa ada sukma Dewi Sri yang berdenyut samar dalam nadi Sulastri, yang membuatnya peka pada apa yang tak kasat mata.

Ia tahu kenapa di rumah gedongan ayahnya, tanaman tak pernah berumur panjang. Sekuat apa pun pupuk ditabur, daun-daun akan tetap layu dan meranggas.

Tanah di sana seolah menjerit kepanasan, 'tak sudi' memberi hidup pada pemilik rumah yang hatinya hangus oleh ambisi duniawi.

Tapi di sini? Meski perabotnya tua, udaranya sejuk. Energinya bersih.

Selama Kakek, Nenek, Pakdhe dan Budhe baik sama Ibu, aku akan pastikan lumbung padi mereka nggak akan pernah kosong, batin Lastri.

Ia menyentuh pinggiran meja makan. Tanpa ada yang menyadari, serat kayu tua di meja itu tampak sedikit lebih mengkilap, seolah baru saja dipoles minyak terbaik.

"Lastri sayang, mau Budhe suapin?" tawar Mira lembut. Ia menatap iba pada keponakannya yang kurus itu. "Kamu pasti capek."

Lastri menggeleng pelan, tersenyum manis hingga matanya menyipit. "Nggak usah, Bi. Lastri sudah besar, bisa makan sendiri."

"Kita makan bareng-bareng ya, biar berkah."

Mira dan Mak Sari saling pandang, terenyuh. Anak sekecil ini bicaranya sudah seperti orang tua, mandiri dan sopan.

Sangat kontras dengan sepupu-sepupunya di keluarga kaya sana, anak-anak Bagyo dan Darso, yang manja, sering melempar makanan, dan tantrum kalau keinginannya tidak dituruti.

Setelah makan malam selesai, piring-piring kotor diangkut ke belakang. Abah Kosasih memanggil Kang Jaka ke ruang tengah. Suasana berubah serius.

"Jaka," suara Abah berat, "Adikmu diinjak-injak. Kita tidak bisa diam saja. Mentang-mentang Suryo sekarang punya kuasa, dia pikir bisa buang anak orang sembarangan."

"Siap, Bah. Nggak usah disuruh, tangan Jaka sudah gatal," jawab Jaka, matanya menyala. "Apa perlu Jaka kumpulin anak-anak karang taruna buat datengin rumahnya malam ini?"

"Jangan malam ini. Besok pagi," potong Abah. Ia menatap tajam ke arah kalender dinding.

"Kita main cantik tapi sakit. Pertama, siapkan mobil pick-up. Bawa speaker masjid atau toa. Kita arak keliling kampung tempat dia tinggal."

"Kita umumkan ke tetangga-tetangga elitnya kalau Juragan Suryo Wibowo itu orang kaya baru yang lupa kulit."

Abah menarik napas panjang. "Kedua, urusan harta. Suryo kaya karena usaha bareng Kinar. Abah akan tuntut harta gono-gini."

"Kalau dia nggak mau bagi adil, kita bawa ke pengadilan. Dia pikir pensiunan guru kayak Abah buta hukum? Tinta pulpen itu lebih tajam dari golok kalau dipakai dengan benar."

Malam semakin larut. Kinar sudah masuk kamar untuk menidurkan Lastri, tapi bocah itu diam-diam menyelinap keluar menuju halaman belakang.

Di dekat sumur, Mira sedang sibuk membersihkan ikan gurame hasil pancingan Jaka di sungai sore tadi. Baunya amis, tapi Mira telaten mengerjakannya.

"Budhe..." panggil Lastri pelan.

Mira menoleh, tersenyum kaget. "Lho, Nduk? Kok belum tidur? Di sini bau amis, sayang. Masuk gih."

Lastri tidak beranjak. Ia malah jongkok di sebelah Mira, menatap wajah Budhenya yang lelah namun tetap cantik itu. "Budhe Mira, apa yang paling Budhe pengen sekarang?"

Mira tertawa kecil, mengusap keringat di dahi dengan lengan bajunya. "Budhe? Budhe cuma pengen punya anak yang pintar, cantik, dan penurut kayak kamu, Lastri."

Lastri memiringkan kepala. "Cuma itu? Budhe nggak mau uang banyak? Bapak aja ninggalin Ibu karena pengen uang banyak lho."

"Uang bisa dicari, Nduk. Rezeki itu sudah ada yang atur. Tapi kehadiran anak... itu anugerah yang nggak bisa dibeli," desah Mira, ada nada getir dalam suaranya.

Sudah lima tahun ia menikah dengan Jaka, tapi rumah mereka masih sepi dari tangis bayi.

Lastri tersenyum misterius. Ia mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh tangan Mira seolah sedang membersihkan debu.

"Budhe orang baik. Jangan sedih ya," ucap Lastri. "Sebentar lagi bakal ada dedek bayi di perut Budhe."

Saat jari Lastri menyentuh kulit Mira, tidak ada kilatan cahaya, tidak ada suara guntur. Hanya rasa hangat yang menjalar cepat, membuat rasa lelah di tubuh Mira mendadak sirna.

Dan di bawah kaki Lastri, di sela-sela semen sumur yang retak, tunas rumput liar yang tadinya kering kerontang mendadak tegak, hijau segar, dan berbunga kecil dalam hitungan detik.

Mira tentu saja tidak melihat rumput itu. Ia hanya menganggap ucapan Lastri sebagai doa tulus seorang anak kecil. "Aamiin... Makasih ya, peri kecil Budhe."

"Sekarang Lastri bobo gih, besok bakal jadi hari yang panjang."

Keesokan paginya, matahari belum tinggi ketika halaman rumah Abah Kosasih sudah ramai. Keluarga besar Hidayat berkumpul.

Bukan untuk pesta, tapi untuk menuntut keadilan.

Solidaritas orang kampung itu nyata. Mendengar Kinar dicerai sepihak dan diusir tanpa harta gono-gini yang layak, Pakdhe, Budhe, dan sepupu jauh semua datang.

Mereka tidak terima "Mantan Bunga Desa" mereka diperlakukan bak sampah.

Sebuah mobil pick-up bak terbuka sudah siap. Spanduk kain sederhana dibentangkan di sisi mobil, bertuliskan cat pilox: "ORANG KAYA LUPA DARATAN - KEMBALIKAN HAK ISTRIMU!"

Abah Kosasih mengenakan batik lengan panjang terbaiknya dan peci hitam, memegang tongkat komando imajiner. Wajahnya tenang tapi mematikan.

"Semuanya dengar," Abah memberi arahan. "Kita ke sana bukan untuk anarkis. Kita ke sana untuk memberi pelajaran moral."

"Kalau satpamnya halangi, jangan dipukul, tapi diteriaki saja. Biar tetangga elitnya pada keluar dan nonton."

Kinar menggendong Lastri naik ke kabin depan mobil. Jantungnya berdegup kencang, tapi melihat wajah tegar ayahnya dan sorot mata berani kakaknya, rasa takutnya lenyap.

Rombongan pun bergerak.

Saat mobil keluar dari jalan desa menuju jalan raya kota, Jaka menyalakan toa. Suaranya menggema, memecah keheningan pagi.

"KEPADA YANG TERHORMAT JURAGAN SURYO WIBOWO! YANG RUMAHNYA GEDONG TAPI HATINYA KOSONG! KAMI DATANG MENJEMPUT KEADILAN!"

Lastri melihat keluar jendela kaca mobil. Ia melihat langit cerah di atas mereka, seolah semesta merestui "serangan fajar" ini.

Di pangkuan ibunya, Lastri menggenggam tangan Kinar erat-erat.

Tenang saja, Bu, batin Lastri. Hari ini tanaman keberuntungan Ayah akan mulai layu satu per satu.

Terpopuler

Comments

░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░

░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░

JANDA bukanlah AIB , kalo ngambil pasangan orang lain baru itu AIB🙄

2026-02-18

0

Dandelion

Dandelion

aku mendukungmu abah kosasih 💪😁

2026-08-21

0

░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░

░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░

pakai Toa GK tuh tuman/Grin/

2026-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Dibuang Seperti Sampah
2 Menuntut Keadilan
3 Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan
4 Lastri nggak Butuh Bapak
5 Anak Itu Bawa Hoki
6 Karma Instan
7 Mereka Menumbalkan Anakku
8 Nanti Rumah Ini Jadi Gelap
9 Kepepet Aib Sosial
10 Peka Terhadap Hal-hal Ghaib
11 Berani Mengambil Sikap
12 Target Cuci Piring Kotor
13 Kena Batunya
14 Nasi sudah jadi arang
15 Dia Bukan Nyumpahin
16 Anak yang Membawa Berkah
17 Hari Penuh Berkah
18 Dia Benci Laki-laki Itu
19 Sri Lestari
20 Tumbal Keberuntungan
21 Harapan Itu Ada
22 Bukan Sihir, tapi Restu Alam
23 Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
24 Percaya Sama Saya
25 Tangan Kita Nggak Nyampe
26 Marketing Tingkat Dewa
27 Tuan membuangku?
28 Cara Biar Kuat
29 Bekerja Dua Arah
30 Beneran di Situ
31 Anak Lumbung
32 Abah Punya Ide
33 Untuk Masa Depan
34 Berhadapan dengan Kekuasaan
35 Aduh, Ada Musibah Lagi
36 Mereka Pikir Kita Lemah
37 Cuma Telur yang Mau Menghantam Batu Karang
38 Kuda Ini Namanya Jantur
39 Uang Itu Berputar
40 Wanita Bahu Laweyan
41 Sarang Ular yang Saling Membelit
42 Keberanian Seperti Kinar
43 Masih Aja Ada yang Nekat
44 Lagu Ngawur
45 Bikin Pendek Umur
46 Kamu Orang Baik
47 Kamu Jual Harga Dirimu
48 Nggak Bisa Bantu
49 Dipaksa Menjadi Laki-laki Sejati
50 Jurang Keputusasaan
51 Bapak Laki-laki
52 Hadiahkan Dia Nasib Burukmu
53 Sudah Keluar Racunnya
54 Dia Pikir Dia Bisa Beli Langit?
55 Ambil Balik Pelan-pelan
56 Bicara Soal Tari
57 Jangan Kasih Mereka Napas
58 Dimas Satya
59 Anak Ini Tambang Emas
60 Rapat Strategi Pemanfaatan Tari
61 Menyerap Kembali Berkah yang Ia Pinjamkan
62 Cari Info Siapa Musuhnya
63 Berteman dengan Rasa Sakit
64 Berubah 180 Derajat Dalam Hitungan Detik
65 Keserakahan Telah Membutakan Logika Mereka
66 Hartanya Banyak, tapi Tingkahnya Naudzubillah
67 Demi Keselamatan Nyawaku
68 Menjerat Lele Dumbo
69 Terdengar Seperti Vonis Hakim
70 Tidak Perlu Main Kotor
71 Kemampuan Tari Bukan Omong Kosong
72 Dia Cuma Peduli Uangnya
73 Harga Keserakahan
74 Alam Punya Cara Sendiri
75 Kalian Harus Selamat Dulu
76 Mereka Sedang Saling Menggigit
77 Kita Punya Musuh yang Sama
78 Kita Tidak Bisa Berjuang Sendirian
79 Waktu Untuk Drama Melankolis
80 Pohon Racunnya Dekat Sekali
81 Memberi Restu Pada Panglima Perang Mereka
82 Misi Kemanusiaan Selesai
83 Benih Yang Harus Dijaga
84 Kalah Telak Oleh Seorang Kuli Tani
85 Suryo Dikerjain Habis-habisan
86 Bagian Dari Hukuman Alam
87 Hanya Akan Mati Konyol
88 Bentar Lagi Puncaknya
89 Mereka yang Berbuat Ulah
90 Keserakahannya Menuntunnya Ke Lubang Buaya
91 Lebih Mencintai Status Sosialnya
92 Rela Melakukan Apa Saja
93 Tak Mampu Menelan Sebutir Nasi Pun
94 Dia Hanya Ingin Perutnya Berhenti Melilit
95 Harus Pintar-pintar Cari Muka
96 Bapak Ini Ngelindur?
97 Aktingnya Bagus, Sayang Hatinya Hitam
98 Dia Melepaskan Sumber Kekayaannya
99 Terbang Menjauh dari Pohon Besar
100 Benar-benar Tidak Berguna
101 Buang Kuncinya, Ya Pintunya Nutup
102 Pulangkan Dia ke Ibunya
103 Ini Rumah Kita
104 Tari Punya Mainan Baru
105 Seolah Dia Adalah Pahlawan
106 Untung Bukan Sakit Parah
107 Koneksi Batin
108 Menjadi Payung Bagi Anak-anaknya
109 Bentuk Bakti Anaknya
110 Nama Itu Kini Menjadi Mantra
111 Merebut Perhatian Sang Tuan Rumah
112 Belum Mikir Cari Bapak Baru
113 Ucapan Itu Sederhana
114 Ini Memang Harus Terjadi
115 Benar-benar Aneh
116 Diemong Oleh Alam
117 Saya yang Nyulik
118 Kancil Nyolong Timun Tapi Versi Thriller
119 Kalau Dipenjara, Nanti Jadi Jahat Beneran
120 Jaka, Anakmu Lanang
121 Menertawakan Karma yang Menimpa
122 Sepasang Lintah Darat yang Jauh Lebih Licik
123 Sial Bener Nasibmu
124 Ia tak Peduli Betapa Hancurnya Keluarganya
125 Habislah Kau, Mas Suryo
126 Itik Buruk Rupa
127 Mau Jebak Orang Kok Otaknya Nggak Dipakai
128 Akhir Tragis Mantan Adik Ipar
129 Berpegang Pada Sisa-sisa Ilusi Kekuasaan
130 Habis Sudah... Ludes Semua
131 Dunia Suryo Benar-benar Kiamat
132 Hidup Bebas dan Mandiri
133 Setiap Benih Akan Menuai Takdirnya - TAMAT
134 NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
135 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
136 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
137 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
138 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
139 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
140 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
141 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Dibuang Seperti Sampah
2
Menuntut Keadilan
3
Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan
4
Lastri nggak Butuh Bapak
5
Anak Itu Bawa Hoki
6
Karma Instan
7
Mereka Menumbalkan Anakku
8
Nanti Rumah Ini Jadi Gelap
9
Kepepet Aib Sosial
10
Peka Terhadap Hal-hal Ghaib
11
Berani Mengambil Sikap
12
Target Cuci Piring Kotor
13
Kena Batunya
14
Nasi sudah jadi arang
15
Dia Bukan Nyumpahin
16
Anak yang Membawa Berkah
17
Hari Penuh Berkah
18
Dia Benci Laki-laki Itu
19
Sri Lestari
20
Tumbal Keberuntungan
21
Harapan Itu Ada
22
Bukan Sihir, tapi Restu Alam
23
Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
24
Percaya Sama Saya
25
Tangan Kita Nggak Nyampe
26
Marketing Tingkat Dewa
27
Tuan membuangku?
28
Cara Biar Kuat
29
Bekerja Dua Arah
30
Beneran di Situ
31
Anak Lumbung
32
Abah Punya Ide
33
Untuk Masa Depan
34
Berhadapan dengan Kekuasaan
35
Aduh, Ada Musibah Lagi
36
Mereka Pikir Kita Lemah
37
Cuma Telur yang Mau Menghantam Batu Karang
38
Kuda Ini Namanya Jantur
39
Uang Itu Berputar
40
Wanita Bahu Laweyan
41
Sarang Ular yang Saling Membelit
42
Keberanian Seperti Kinar
43
Masih Aja Ada yang Nekat
44
Lagu Ngawur
45
Bikin Pendek Umur
46
Kamu Orang Baik
47
Kamu Jual Harga Dirimu
48
Nggak Bisa Bantu
49
Dipaksa Menjadi Laki-laki Sejati
50
Jurang Keputusasaan
51
Bapak Laki-laki
52
Hadiahkan Dia Nasib Burukmu
53
Sudah Keluar Racunnya
54
Dia Pikir Dia Bisa Beli Langit?
55
Ambil Balik Pelan-pelan
56
Bicara Soal Tari
57
Jangan Kasih Mereka Napas
58
Dimas Satya
59
Anak Ini Tambang Emas
60
Rapat Strategi Pemanfaatan Tari
61
Menyerap Kembali Berkah yang Ia Pinjamkan
62
Cari Info Siapa Musuhnya
63
Berteman dengan Rasa Sakit
64
Berubah 180 Derajat Dalam Hitungan Detik
65
Keserakahan Telah Membutakan Logika Mereka
66
Hartanya Banyak, tapi Tingkahnya Naudzubillah
67
Demi Keselamatan Nyawaku
68
Menjerat Lele Dumbo
69
Terdengar Seperti Vonis Hakim
70
Tidak Perlu Main Kotor
71
Kemampuan Tari Bukan Omong Kosong
72
Dia Cuma Peduli Uangnya
73
Harga Keserakahan
74
Alam Punya Cara Sendiri
75
Kalian Harus Selamat Dulu
76
Mereka Sedang Saling Menggigit
77
Kita Punya Musuh yang Sama
78
Kita Tidak Bisa Berjuang Sendirian
79
Waktu Untuk Drama Melankolis
80
Pohon Racunnya Dekat Sekali
81
Memberi Restu Pada Panglima Perang Mereka
82
Misi Kemanusiaan Selesai
83
Benih Yang Harus Dijaga
84
Kalah Telak Oleh Seorang Kuli Tani
85
Suryo Dikerjain Habis-habisan
86
Bagian Dari Hukuman Alam
87
Hanya Akan Mati Konyol
88
Bentar Lagi Puncaknya
89
Mereka yang Berbuat Ulah
90
Keserakahannya Menuntunnya Ke Lubang Buaya
91
Lebih Mencintai Status Sosialnya
92
Rela Melakukan Apa Saja
93
Tak Mampu Menelan Sebutir Nasi Pun
94
Dia Hanya Ingin Perutnya Berhenti Melilit
95
Harus Pintar-pintar Cari Muka
96
Bapak Ini Ngelindur?
97
Aktingnya Bagus, Sayang Hatinya Hitam
98
Dia Melepaskan Sumber Kekayaannya
99
Terbang Menjauh dari Pohon Besar
100
Benar-benar Tidak Berguna
101
Buang Kuncinya, Ya Pintunya Nutup
102
Pulangkan Dia ke Ibunya
103
Ini Rumah Kita
104
Tari Punya Mainan Baru
105
Seolah Dia Adalah Pahlawan
106
Untung Bukan Sakit Parah
107
Koneksi Batin
108
Menjadi Payung Bagi Anak-anaknya
109
Bentuk Bakti Anaknya
110
Nama Itu Kini Menjadi Mantra
111
Merebut Perhatian Sang Tuan Rumah
112
Belum Mikir Cari Bapak Baru
113
Ucapan Itu Sederhana
114
Ini Memang Harus Terjadi
115
Benar-benar Aneh
116
Diemong Oleh Alam
117
Saya yang Nyulik
118
Kancil Nyolong Timun Tapi Versi Thriller
119
Kalau Dipenjara, Nanti Jadi Jahat Beneran
120
Jaka, Anakmu Lanang
121
Menertawakan Karma yang Menimpa
122
Sepasang Lintah Darat yang Jauh Lebih Licik
123
Sial Bener Nasibmu
124
Ia tak Peduli Betapa Hancurnya Keluarganya
125
Habislah Kau, Mas Suryo
126
Itik Buruk Rupa
127
Mau Jebak Orang Kok Otaknya Nggak Dipakai
128
Akhir Tragis Mantan Adik Ipar
129
Berpegang Pada Sisa-sisa Ilusi Kekuasaan
130
Habis Sudah... Ludes Semua
131
Dunia Suryo Benar-benar Kiamat
132
Hidup Bebas dan Mandiri
133
Setiap Benih Akan Menuai Takdirnya - TAMAT
134
NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
135
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
136
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
137
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
138
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
139
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
140
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
141
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!