Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan

Pagi itu, ketenangan komplek elit di bilangan Jakarta Selatan terusik hebat. Bukan oleh sirine polisi, melainkan suara tabuhan rebana yang bertalu-talu di depan gerbang besi setinggi tiga meter milik keluarga Wibowo.

Warga sekitar yang biasanya cuek, mulai mengintip dari balik tirai jendela atau berpura-pura menyiram tanaman. Pasalnya, Suryo Wibowo bukan orang sembarangan.

Dia pengusaha yang sedang naik daun, calon pejabat teras yang sering wara-wiri di televisi.

Namun hari ini, di depan istananya yang megah, berdiri barisan keluarga sederhana dari kampung. Abah Kosasih Hidayat, pensiunan guru SD yang rambutnya sudah memutih semua, berdiri paling depan.

Wajahnya tenang tapi sorot matanya tajam, setajam arit yang biasa dipakainya untuk menyiangi rumput.

Di sebelahnya, Kinar berdiri memeluk putrinya, Sulastri. Bocah lima tahun itu tampak ringkih, kulitnya pucat pasi seolah tak punya darah.

Anehnya, setiap kali Lastri merengek lirih menahan sakit, tanaman monstera mahal yang berjejer di pagar rumah itu mendadak menunduk, daunnya menguning layu dalam hitungan detik.

Seolah-olah nyawa tanaman itu tersedot habis oleh penderitaan si bocah.

"Suryo Wibowo!" suara Abah Kosasih lantang, membelah udara pagi. "Keluar kau! Jangan cuma berani sama anakku!"

Di dalam rumah mewah yang dingin oleh AC sentral itu, kepanikan melanda.

"Bu! Itu si tua Kosasih bawa rombongan sirkus apa gimana sih? Malu-maluin banget!" Lilis, kakak ipar Suryo, mengintip ngeri dari balik gorden sutra.

"Kalau sampai masuk akun gosip Lambe, bisa hancur citra kita sebagai sosialita!"

Bu Darmi, ibunda Suryo, membanting cangkir tehnya ke tatakan. Wajah tuanya merah padam menahan amarah.

Dia merasa harga dirinya sebagai nyonya besar terinjak-injak oleh besan kampungnya itu.

"Dasar orang miskin nggak tahu diuntung! Sudah bagus anakku kasih pesangon, malah mau meras lebih!" Bu Darmi bangkit berdiri, menyibakkan kebaya mahalnya.

"Minggir! Biar Ibu yang usir gembel-gembel itu. Suryo nggak usah turun tangan, nanti wibawanya jatuh kalau meladeni orang rendahan."

Suryo yang duduk di sofa kulit Italia hanya memijat pelipisnya. Pikirannya kalut. Proyek besar sedang menantinya, tapi gangguan domestik ini bisa merusak segalanya.

"Bu, jangan kasar-kasar. Ingat, sekarang zamannya viral," pesan Suryo dingin. Tidak ada kekhawatiran soal anak istrinya di sana, hanya kekhawatiran soal reputasinya.

Bu Darmi mendengus, lalu melangkah lebar keluar diikuti menantu-menantunya yang berwajah jutek. Gerbang otomatis terbuka perlahan.

"Heh! Nggak punya otak ya kalian?!" Bu Darmi langsung menyalak begitu kakinya menginjak aspal. "Pagi buta bikin onar di rumah orang! Satpam mana satpam?!"

Suara rebana berhenti. Abah Kosasih mengangkat tangan, memberi isyarat rombongannya untuk diam.

"Bu Darmi," suara Abah berat dan berwibawa, membuat nyali Bu Darmi sedikit ciut. "Saya tidak butuh satpam. Saya butuh keadilan."

"Halah! Keadilan apa? Bilang saja mau duit!" cibir Bu Darmi. "Anakmu itu mandul! Enam tahun nikah nggak bisa kasih cucu laki-laki buat penerus marga Wibowo."

"Panteslah Suryo cari yang lain!"

Deg.

Hati Kinar mencelos. Ia makin erat memeluk Lastri.

Saat air mata Kinar menetes mengenai pipi Lastri, sebuah kejadian ganjil terjadi lagi. Rumput gajah mini yang diinjak Kinar, yang tadinya agak kering karena kemarau, mendadak menghijau segar.

Tunas-tunas baru menyeruak naik seolah memberi kekuatan pada sang ibu. Tapi tak ada yang sadar, semua mata tertuju pada drama manusia di sana.

"Dengar, Bu Darmi," Abah Kosasih maju selangkah. "Hari ini saya punya Tiga Pertanyaan."

"Kalau keluarga Wibowo bisa menjawabnya dengan hati nurani bersih di hadapan Tuhan, kami akan pulang dan sujud minta maaf."

Warga yang menonton mulai menahan napas. Suasana hening mencekam.

Abah mengacungkan satu jari.

"Pertanyaan Pertama: Selama menjadi istri dan menantu, pernahkah Kinar membantah kalian? Pernahkah dia melalaikan tugasnya mengurus rumah ini saat kalian sibuk pamer harta?"

Bu Darmi terdiam. Mulutnya terkunci. Mau berbohong pun susah, karena faktanya Kinarlah yang merawatnya saat sakit stroke ringan tahun lalu.

Sementara menantu lainnya sibuk liburan ke Singapura.

"Dia... ya, kalau ngelawan sih nggak. Tapi..." gumam Bu Darmi gelagapan.

"Tapi apa?!" potong Abah tegas, lalu mengangkat jari kedua.

"Pertanyaan Kedua: Kalian buang anak saya dengan alasan tidak memberi keturunan laki-laki. Sekarang saya tanya, tiga tahun ini Suryo ada di mana?"

"Dia sibuk keliling proyek, pulang ke rumah setahun paling cuma dua kali kayak Bang Toyib! Kalian menuntut cucu, tapi pernah kalian bawa Kinar ke Dokter Spesialis?"

"Pernah kalian peduli kesehatan rahimnya? Atau kalian cuma peduli untung rugi bisnis?"

Skakmat.

Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. "Iya juga ya, Pak Suryo kan jarang pulang." "Jahat banget sih mertuanya."

Bu Darmi wajahnya pucat. Ambar dan Lilis saling sikut, tak berani membela.

Abah Kosasih menarik napas panjang, menatap lurus ke arah balkon lantai dua di mana dia yakin Suryo sedang mengintip.

"Pertanyaan Ketiga: Ada pepatah, Habis manis sepah dibuang. Kinar menemani Suryo dari nol, dari dia cuma kontraktor kecil sampai jadi juragan besar."

"Kenapa saat dia sudah di puncak, balasannya adalah surat talak? Di mana hati nurani kalian sebagai manusia?!"

Suara Abah bergetar menahan emosi. "Kalau pertanyaan ini tidak bisa dijawab, demi Tuhan, saya akan tuntut Suryo ke Pengadilan!"

"Saya akan bongkar kebobrokan moral pejabat ini ke media massa!"

"Lancang kamu!" pekik Bu Darmi histeris, nyaris maju menjambak kalau tidak ditahan satpam. "Anakku itu pejabat terhormat! Berani-beraninya kamu ngancam!"

Tiba-tiba, pintu utama terbuka lagi.

Suryo Wibowo akhirnya keluar. Penampilannya necis dengan batik sutra licin. Ia berjalan angkuh, tapi matanya tak berani menatap Kinar.

"Cukup, Pak Kosasih," ujar Suryo datar. "Nggak usah bawa-bawa media. Kita selesaikan secara kekeluargaan."

"Kekeluargaan?" Abah tertawa getir. "Kamu sebut surat cerai sepihak yang memfitnah anakku pembawa sial itu 'kekeluargaan'?"

Suryo melirik Lastri. Anak itu menatapnya dengan mata bulat yang bening namun kosong. Entah kenapa, Suryo merinding.

Bunga melati di saku batiknya mendadak layu, kelopaknya rontok jatuh ke tanah. Energi di sekitar Suryo terasa berat, seolah keberuntungannya mulai menguap saat dia berniat jahat pada anak itu.

Suryo tahu, Abah Kosasih orangnya keras kepala dan jujur. Kalau skandal penelantaran istri ini meledak, karir politiknya tamat.

"Oke, saya salah," kata Suryo cepat, tanpa nada penyesalan yang tulus. "Saya akan tarik surat talak itu. Kita ganti jadi kesepakatan pisah baik-baik."

"Saya akan ubah statusnya jadi 'Cerai Gugat', biar Kinar yang menggugat saya, bukan saya membuang dia. Puas?"

Abah menatap mantan menantunya itu dengan tatapan jijik. "Camkan ini, Suryo. Harta dan jabatanmu itu titipan."

"Jangan sampai titipan itu diambil paksa karena kamu menzalimi anak istrimu."

Abah Kosasih menyipitkan matanya. Orang tua itu tak menyangka Suryo Wibowo akan berubah sikap secepat ini. Ia pikir mantan menantunya itu masih sama seperti dulu—seorang pemuda kampung yang lugu dan tak tahu apa-apa.

Ternyata, dia bukan tidak tahu, melainkan pura-pura bodoh.

Jika Abah memilih damai, keluarga Wibowo tentu akan tertawa lebar. Namun, jika ia memilih melawan demi harga diri anaknya, keluarga Wibowo hanya perlu menyerahkan apa yang memang menjadi hak Kinar.

Bagi mereka yang kini sudah jadi Orang Kaya Baru (OKB), kerugian itu tak seberapa.

"Karena Juragan Suryo sudah begitu 'bijaksana', keluarga Hidayat tak perlu banyak bicara lagi," Abah Kosasih membuka suara, nadanya tenang namun berwibawa.

"Tapi, putriku yang suci kau nikahi baik-baik, kini kau kembalikan dengan status janda cerai. Sakit hati ini mungkin bisa kutahan, tapi abangnya tidak."

Terpopuler

Comments

Nia Risma

Nia Risma

loh matanya itu Ndak di buka,,
di kata mandul tapi bisa lahir si Lastri itu
mandul itu g bisa punya anak Bu,,,dasar ni ibu" sosialita awam g bisa bedain

2026-03-26

0

fredai

fredai

Laki laknat kesel banget w

2026-01-26

0

Serigala Kecil

Serigala Kecil

siap siap aja misqueen lg

2026-01-28

0

lihat semua
Episodes
1 Dibuang Seperti Sampah
2 Menuntut Keadilan
3 Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan
4 Lastri nggak Butuh Bapak
5 Anak Itu Bawa Hoki
6 Karma Instan
7 Mereka Menumbalkan Anakku
8 Nanti Rumah Ini Jadi Gelap
9 Kepepet Aib Sosial
10 Peka Terhadap Hal-hal Ghaib
11 Berani Mengambil Sikap
12 Target Cuci Piring Kotor
13 Kena Batunya
14 Nasi sudah jadi arang
15 Dia Bukan Nyumpahin
16 Anak yang Membawa Berkah
17 Hari Penuh Berkah
18 Dia Benci Laki-laki Itu
19 Sri Lestari
20 Tumbal Keberuntungan
21 Harapan Itu Ada
22 Bukan Sihir, tapi Restu Alam
23 Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
24 Percaya Sama Saya
25 Tangan Kita Nggak Nyampe
26 Marketing Tingkat Dewa
27 Tuan membuangku?
28 Cara Biar Kuat
29 Bekerja Dua Arah
30 Beneran di Situ
31 Anak Lumbung
32 Abah Punya Ide
33 Untuk Masa Depan
34 Berhadapan dengan Kekuasaan
35 Aduh, Ada Musibah Lagi
36 Mereka Pikir Kita Lemah
37 Cuma Telur yang Mau Menghantam Batu Karang
38 Kuda Ini Namanya Jantur
39 Uang Itu Berputar
40 Wanita Bahu Laweyan
41 Sarang Ular yang Saling Membelit
42 Keberanian Seperti Kinar
43 Masih Aja Ada yang Nekat
44 Lagu Ngawur
45 Bikin Pendek Umur
46 Kamu Orang Baik
47 Kamu Jual Harga Dirimu
48 Nggak Bisa Bantu
49 Dipaksa Menjadi Laki-laki Sejati
50 Jurang Keputusasaan
51 Bapak Laki-laki
52 Hadiahkan Dia Nasib Burukmu
53 Sudah Keluar Racunnya
54 Dia Pikir Dia Bisa Beli Langit?
55 Ambil Balik Pelan-pelan
56 Bicara Soal Tari
57 Jangan Kasih Mereka Napas
58 Dimas Satya
59 Anak Ini Tambang Emas
60 Rapat Strategi Pemanfaatan Tari
61 Menyerap Kembali Berkah yang Ia Pinjamkan
62 Cari Info Siapa Musuhnya
63 Berteman dengan Rasa Sakit
64 Berubah 180 Derajat Dalam Hitungan Detik
65 Keserakahan Telah Membutakan Logika Mereka
66 Hartanya Banyak, tapi Tingkahnya Naudzubillah
67 Demi Keselamatan Nyawaku
68 Menjerat Lele Dumbo
69 Terdengar Seperti Vonis Hakim
70 Tidak Perlu Main Kotor
71 Kemampuan Tari Bukan Omong Kosong
72 Dia Cuma Peduli Uangnya
73 Harga Keserakahan
74 Alam Punya Cara Sendiri
75 Kalian Harus Selamat Dulu
76 Mereka Sedang Saling Menggigit
77 Kita Punya Musuh yang Sama
78 Kita Tidak Bisa Berjuang Sendirian
79 Waktu Untuk Drama Melankolis
80 Pohon Racunnya Dekat Sekali
81 Memberi Restu Pada Panglima Perang Mereka
82 Misi Kemanusiaan Selesai
83 Benih Yang Harus Dijaga
84 Kalah Telak Oleh Seorang Kuli Tani
85 Suryo Dikerjain Habis-habisan
86 Bagian Dari Hukuman Alam
87 Hanya Akan Mati Konyol
88 Bentar Lagi Puncaknya
89 Mereka yang Berbuat Ulah
90 Keserakahannya Menuntunnya Ke Lubang Buaya
91 Lebih Mencintai Status Sosialnya
92 Rela Melakukan Apa Saja
93 Tak Mampu Menelan Sebutir Nasi Pun
94 Dia Hanya Ingin Perutnya Berhenti Melilit
95 Harus Pintar-pintar Cari Muka
96 Bapak Ini Ngelindur?
97 Aktingnya Bagus, Sayang Hatinya Hitam
98 Dia Melepaskan Sumber Kekayaannya
99 Terbang Menjauh dari Pohon Besar
100 Benar-benar Tidak Berguna
101 Buang Kuncinya, Ya Pintunya Nutup
102 Pulangkan Dia ke Ibunya
103 Ini Rumah Kita
104 Tari Punya Mainan Baru
105 Seolah Dia Adalah Pahlawan
106 Untung Bukan Sakit Parah
107 Koneksi Batin
108 Menjadi Payung Bagi Anak-anaknya
109 Bentuk Bakti Anaknya
110 Nama Itu Kini Menjadi Mantra
111 Merebut Perhatian Sang Tuan Rumah
112 Belum Mikir Cari Bapak Baru
113 Ucapan Itu Sederhana
114 Ini Memang Harus Terjadi
115 Benar-benar Aneh
116 Diemong Oleh Alam
117 Saya yang Nyulik
118 Kancil Nyolong Timun Tapi Versi Thriller
119 Kalau Dipenjara, Nanti Jadi Jahat Beneran
120 Jaka, Anakmu Lanang
121 Menertawakan Karma yang Menimpa
122 Sepasang Lintah Darat yang Jauh Lebih Licik
123 Sial Bener Nasibmu
124 Ia tak Peduli Betapa Hancurnya Keluarganya
125 Habislah Kau, Mas Suryo
126 Itik Buruk Rupa
127 Mau Jebak Orang Kok Otaknya Nggak Dipakai
128 Akhir Tragis Mantan Adik Ipar
129 Berpegang Pada Sisa-sisa Ilusi Kekuasaan
130 Habis Sudah... Ludes Semua
131 Dunia Suryo Benar-benar Kiamat
132 Hidup Bebas dan Mandiri
133 Setiap Benih Akan Menuai Takdirnya - TAMAT
134 NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
135 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
136 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
137 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
138 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
139 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
140 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
141 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Dibuang Seperti Sampah
2
Menuntut Keadilan
3
Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan
4
Lastri nggak Butuh Bapak
5
Anak Itu Bawa Hoki
6
Karma Instan
7
Mereka Menumbalkan Anakku
8
Nanti Rumah Ini Jadi Gelap
9
Kepepet Aib Sosial
10
Peka Terhadap Hal-hal Ghaib
11
Berani Mengambil Sikap
12
Target Cuci Piring Kotor
13
Kena Batunya
14
Nasi sudah jadi arang
15
Dia Bukan Nyumpahin
16
Anak yang Membawa Berkah
17
Hari Penuh Berkah
18
Dia Benci Laki-laki Itu
19
Sri Lestari
20
Tumbal Keberuntungan
21
Harapan Itu Ada
22
Bukan Sihir, tapi Restu Alam
23
Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
24
Percaya Sama Saya
25
Tangan Kita Nggak Nyampe
26
Marketing Tingkat Dewa
27
Tuan membuangku?
28
Cara Biar Kuat
29
Bekerja Dua Arah
30
Beneran di Situ
31
Anak Lumbung
32
Abah Punya Ide
33
Untuk Masa Depan
34
Berhadapan dengan Kekuasaan
35
Aduh, Ada Musibah Lagi
36
Mereka Pikir Kita Lemah
37
Cuma Telur yang Mau Menghantam Batu Karang
38
Kuda Ini Namanya Jantur
39
Uang Itu Berputar
40
Wanita Bahu Laweyan
41
Sarang Ular yang Saling Membelit
42
Keberanian Seperti Kinar
43
Masih Aja Ada yang Nekat
44
Lagu Ngawur
45
Bikin Pendek Umur
46
Kamu Orang Baik
47
Kamu Jual Harga Dirimu
48
Nggak Bisa Bantu
49
Dipaksa Menjadi Laki-laki Sejati
50
Jurang Keputusasaan
51
Bapak Laki-laki
52
Hadiahkan Dia Nasib Burukmu
53
Sudah Keluar Racunnya
54
Dia Pikir Dia Bisa Beli Langit?
55
Ambil Balik Pelan-pelan
56
Bicara Soal Tari
57
Jangan Kasih Mereka Napas
58
Dimas Satya
59
Anak Ini Tambang Emas
60
Rapat Strategi Pemanfaatan Tari
61
Menyerap Kembali Berkah yang Ia Pinjamkan
62
Cari Info Siapa Musuhnya
63
Berteman dengan Rasa Sakit
64
Berubah 180 Derajat Dalam Hitungan Detik
65
Keserakahan Telah Membutakan Logika Mereka
66
Hartanya Banyak, tapi Tingkahnya Naudzubillah
67
Demi Keselamatan Nyawaku
68
Menjerat Lele Dumbo
69
Terdengar Seperti Vonis Hakim
70
Tidak Perlu Main Kotor
71
Kemampuan Tari Bukan Omong Kosong
72
Dia Cuma Peduli Uangnya
73
Harga Keserakahan
74
Alam Punya Cara Sendiri
75
Kalian Harus Selamat Dulu
76
Mereka Sedang Saling Menggigit
77
Kita Punya Musuh yang Sama
78
Kita Tidak Bisa Berjuang Sendirian
79
Waktu Untuk Drama Melankolis
80
Pohon Racunnya Dekat Sekali
81
Memberi Restu Pada Panglima Perang Mereka
82
Misi Kemanusiaan Selesai
83
Benih Yang Harus Dijaga
84
Kalah Telak Oleh Seorang Kuli Tani
85
Suryo Dikerjain Habis-habisan
86
Bagian Dari Hukuman Alam
87
Hanya Akan Mati Konyol
88
Bentar Lagi Puncaknya
89
Mereka yang Berbuat Ulah
90
Keserakahannya Menuntunnya Ke Lubang Buaya
91
Lebih Mencintai Status Sosialnya
92
Rela Melakukan Apa Saja
93
Tak Mampu Menelan Sebutir Nasi Pun
94
Dia Hanya Ingin Perutnya Berhenti Melilit
95
Harus Pintar-pintar Cari Muka
96
Bapak Ini Ngelindur?
97
Aktingnya Bagus, Sayang Hatinya Hitam
98
Dia Melepaskan Sumber Kekayaannya
99
Terbang Menjauh dari Pohon Besar
100
Benar-benar Tidak Berguna
101
Buang Kuncinya, Ya Pintunya Nutup
102
Pulangkan Dia ke Ibunya
103
Ini Rumah Kita
104
Tari Punya Mainan Baru
105
Seolah Dia Adalah Pahlawan
106
Untung Bukan Sakit Parah
107
Koneksi Batin
108
Menjadi Payung Bagi Anak-anaknya
109
Bentuk Bakti Anaknya
110
Nama Itu Kini Menjadi Mantra
111
Merebut Perhatian Sang Tuan Rumah
112
Belum Mikir Cari Bapak Baru
113
Ucapan Itu Sederhana
114
Ini Memang Harus Terjadi
115
Benar-benar Aneh
116
Diemong Oleh Alam
117
Saya yang Nyulik
118
Kancil Nyolong Timun Tapi Versi Thriller
119
Kalau Dipenjara, Nanti Jadi Jahat Beneran
120
Jaka, Anakmu Lanang
121
Menertawakan Karma yang Menimpa
122
Sepasang Lintah Darat yang Jauh Lebih Licik
123
Sial Bener Nasibmu
124
Ia tak Peduli Betapa Hancurnya Keluarganya
125
Habislah Kau, Mas Suryo
126
Itik Buruk Rupa
127
Mau Jebak Orang Kok Otaknya Nggak Dipakai
128
Akhir Tragis Mantan Adik Ipar
129
Berpegang Pada Sisa-sisa Ilusi Kekuasaan
130
Habis Sudah... Ludes Semua
131
Dunia Suryo Benar-benar Kiamat
132
Hidup Bebas dan Mandiri
133
Setiap Benih Akan Menuai Takdirnya - TAMAT
134
NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
135
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
136
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
137
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
138
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
139
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
140
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
141
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!