Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Dibuang Seperti Sampah

"Ini surat cerainya. Ambil, bawa anakmu, dan segera angkat kaki. Jangan pernah muncul lagi di depan saya. Kamu cuma bikin saya malu."

Suryo Wibowo melemparkan selembar kertas ke atas meja. Tatapannya dingin, setajam silet, tak menyisakan sisa kasih sayang yang pernah ada sepuluh tahun lalu. Bagi Suryo, Kinar Hidayat kini hanyalah noda di tengah karier politik dan bisnisnya yang sedang meroket.

"Sekarang saya ini pejabat, Kinar. Teman-teman saya orang terpandang. Sedangkan kamu? Cuma anak guru honorer desa yang nggak tahu cara dandan," lanjut Suryo dengan nada jijik.

"Kalian berdua cuma jadi beban. Sadar diri, pergi sekarang. Jangan kotori rumah ini atau menghalangi jalan saya jadi anggota dewan."

Kinar memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis alasan yang terasa seperti hantaman godam: Istri pembawa sial dan gagal memberikan keturunan laki-laki.

"Bapak jahat! Bapak jahat! Lastri nggak mau sayang Bapak lagi! Lastri nggak mau jagain Bapak lagi!"

Sulastri, bocah kecil di dekapan Kinar, berteriak kencang dengan wajah memerah. Ia menangis sesenggukan sampai napasnya tersengal. Lastri memang lahir dengan fisik yang lemah, namun sorot matanya saat ini berkilat penuh kemarahan yang tidak biasa bagi anak seusianya.

Di sudut ruang tamu, Pak Wibowo hanya diam membisu, terus menghisap rokoknya tanpa berani menatap menantunya.

"Anak pembawa sial! Kalau mau mati, jangan di rumah ini!" Bu Darmi, ibu Suryo, menimpali dengan sinis.

"Dasar perempuan mandul! Lima tahun cuma bisa kasih satu anak perempuan pesakitan. Sudah penyakitan, sering pingsan pula. Paling juga nggak bakal umur panjang. Cepat angkat kaki!"

Bu Darmi merasa keberuntungan keluarganya selama ini adalah murni karena kerja keras Suryo. Ia tak sadar bahwa setiap kali Lastri membisikkan doa kecil atau sekadar memeluk ayahnya, energi kehidupan bocah itu tersedot demi kelancaran proyek-proyek Suryo.

"Jadi... Mas sudah merencanakan ini semua?" tanya Kinar lirih.

"Nggak perlu banyak tanya. Kenyataannya kamu nggak bisa kasih saya anak laki-laki. Saya nggak mau garis keturunan saya putus di kamu."

"Abahmu di desa juga pasti paham kalau istri nggak bisa kasih keturunan itu sudah sepantasnya dikembalikan," jawab Suryo angkuh.

Kinar tak takut miskin, tapi hatinya hancur melihat kondisi Lastri. "Saya akan pergi. Tapi tolong, Mas... biarkan Lastri di sini sementara."

"Dia butuh pengobatan rutin di kota. Kalau ikut saya ke desa, dia bakal menderita."

Suryo sempat ragu, namun Bu Darmi langsung menyambar, "Enak saja! Mau nitip beban di sini? Biar dia jadi penghalang buat cucu laki-lakiku dari calon istri baru Suryo nanti?"

"Tidak! Bawa pergi anak ini. Mau jadi pengemis atau mati kedinginan, bukan urusan kami!"

"Ibu... Lastri mau ikut Ibu. Lastri nggak takut lapar, Lastri mau sama Ibu saja," bisik Lastri lemah, memeluk leher ibunya erat-erat.

Ia membenci aroma rumah ini. Ia bisa merasakan kegelapan yang mulai menyelimuti ayahnya.

"Sudahlah, Mbak Kinar. Terima saja nasibnya. Mas Suryo sudah baik kasih pesangon sepuluh juta."

"Dulu waktu Mas Suryo nikahin Mbak, maharnya nggak seberapa kan? Jangan serakah jadi orang," celetuk Lilis, istri Bagyo, sambil memutar bola mata.

Ambar, istri Darso, ikut memanaskan suasana. "Iya, Mbak. Kalau ribut terus, Mas Suryo bisa berubah pikiran dan nggak kasih uang sepeser pun lho."

Ajeng, adik bungsu Suryo yang selama ini hidup dari uang saku yang sering disisihkan Kinar, malah sibuk bermain ponsel.

"Cepatlah pergi, Kak. Bikin pusing saja lihat orang nangis-nangis. Aku sudah lapar mau makan siang."

Kinar menggendong Lastri yang badannya terasa makin ringan setiap harinya. Ia tahu, uang sepuluh juta itu mungkin hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan mengingat mahalnya obat-obat Lastri.

Tapi ia tidak sudi bertahan sedetik pun lagi di rumah yang penuh racun ini.

Suryo memesankan sebuah mobil pick-up tua untuk membawa barang-barang Kinar. "Cuma sampai terminal ya, Bu. Saya nggak mau masuk ke pelosok desa, jalannya rusak," ujar sopir pick-up itu ketus.

Saat Kinar melangkah melewati gerbang, Lastri menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Matanya yang sayu menatap tanaman hias Anthurium seharga jutaan di halaman rumah Suryo.

Seketika, daun-daun yang hijau royo-royo itu berubah kecokelatan dan layu, seolah nyawanya ditarik paksa.

Tak lama kemudian.

"Neng, sudah sampai. Ini pertigaan Desa Sukamaju," ujar tukang ojek yang membawa mereka dari terminal kota.

Kinar turun dengan sisa tenaga yang ada. Ia berdiri di depan pagar bambu rumah kayu yang sangat ia rindukan, namun sekaligus ia takuti.

Ia pulang sebagai janda yang dibuang. Malu rasanya menginjakkan kaki di tanah kelahiran dengan kegagalan.

Lastri yang sempat tertidur di pangkuan Kinar sepanjang jalan, kini mengerjap-ngerjap. "Ibu jangan sedih... Ibu jangan takut. Semoga Abah sama Pakdhe dapat kejutan hari ini."

Kinar hanya tersenyum getir, menganggap itu hanya hiburan dari anaknya. Namun, dari arah jalan setapak menuju hutan, terdengar suara langkah terburu-buru dan tawa yang pecah.

"Abah! Lihat ini, Bah! Rezeki nomplok!" Kang Jaka berteriak kegirangan sambil memikul jaring yang tampak sangat berat.

Di dalamnya, beberapa ekor ikan gurame raksasa masih menggelepar segar, sisiknya berkilat tertimpa cahaya sore.

Abah Kosasih yang berjalan di belakangnya nampak terengah-engah, namun wajahnya berseri-seri.

"Aneh sekali, Bah. Ikan-ikan ini tiba-tiba saja melompat naik ke tepian sungai, seolah-olah menyerahkan diri tepat di depan kaki kita!" lanjut Kang Jaka dengan nada takjub yang masih tersisa.

"Alhamdulillah... ini kalau dibawa ke pasar kota harganya mahal sekali, Jaka. Bisa buat bayar tunggakan pajak sawah dan beli obat buat Ibumu," sahut Abah Kosasih sambil menyeka keringat di dahinya.

Langkah mereka terhenti tepat di depan pagar rumah.

Langkah mereka terhenti tepat di depan pagar rumah.

Kegembiraan itu mendadak sunyi saat mereka melihat sosok wanita dengan koper-koper di pinggir jalan.

"Kinar? Nduk?" Abah Kosasih mendekat. Ia melihat mata putrinya yang sembab dan wajah cucunya yang pucat pasi.

Hati seorang ayah tak mungkin bisa dibohongi.

"Abah... Jaka..." Kinar langsung jatuh bersimpuh, air matanya tumpah tak terbendung lagi.

"Bapak jahat, Bah. Dia usir Ibu. Dia nggak mau Lastri lagi," adu bocah kecil itu dengan suara serak.

Rahang Kang Jaka mengeras seketika. "Kurang ajar! Jadi itu alasannya dia jarang balas telepon kita?"

"Dia pikir kita sampah? Aku samperin dia ke kota sekarang juga!"

"Sudah, Jaka! Tahan dirimu!" potong Abah Kosasih tegas namun lembut. Ia berlutut di depan Kinar, mengelus rambut putrinya yang mulai nampak kusam.

"Nduk... tidak apa-apa. Kamu sudah pulang. Rumah ini masih milikmu, kamarmu masih seperti dulu."

"Biarkan mereka yang membuangmu merugi. Di sini, kamu tetap permata Abah."

Kang Jaka yang tadinya meledak, langsung luluh melihat keponakannya yang kurus kering. "Sini, Lastri sayang... Pakdhe gendong."

"Jangan takut, ya? Di sini ada Pakdhe, ada Budhe Mira. Kita makan enak malam ini. Pakdhe punya ikan banyak!"

Saat Kang Jaka mengangkat Lastri ke dalam gendongannya, sesuatu yang ajaib terjadi. Rumput-rumput liar di halaman rumah yang tadinya menguning akibat musim kemarau panjang.

Perlahan mulai menampakkan pucuk-pucuk hijau segar di setiap tempat yang dilewati bayangan Lastri. Hanya saja tidak ada yang menyadari hal itu.

Kinar merasa bebannya sedikit terangkat. Meski ia pulang tanpa harta melimpah, ia merasakan hangatnya ketulusan yang tak pernah ia dapatkan di rumah megah Suryo.

"Mbak Kinar!" Mira, istri Jaka, keluar dari pintu rumah dengan wajah cemas yang langsung berubah jadi pelukan hangat.

"Ya Allah, Mbak... sudah, jangan nangis. Yang penting selamat sampai rumah. Ayo masuk, Ibu sudah kangen sekali."

Terpopuler

Comments

brina

brina

barang"nya kemna ini katnya bawa barang di mobil pickup

2026-08-15

0

Nia Risma

Nia Risma

mampir ninggal jejak thor,,
seru ni kayaknya ceritanya,,,,

2026-03-26

0

only siskaa

only siskaa

cmngtt KK jngn lupa mampir di karya aku jg

2026-02-03

0

lihat semua
Episodes
1 Dibuang Seperti Sampah
2 Menuntut Keadilan
3 Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan
4 Lastri nggak Butuh Bapak
5 Anak Itu Bawa Hoki
6 Karma Instan
7 Mereka Menumbalkan Anakku
8 Nanti Rumah Ini Jadi Gelap
9 Kepepet Aib Sosial
10 Peka Terhadap Hal-hal Ghaib
11 Berani Mengambil Sikap
12 Target Cuci Piring Kotor
13 Kena Batunya
14 Nasi sudah jadi arang
15 Dia Bukan Nyumpahin
16 Anak yang Membawa Berkah
17 Hari Penuh Berkah
18 Dia Benci Laki-laki Itu
19 Sri Lestari
20 Tumbal Keberuntungan
21 Harapan Itu Ada
22 Bukan Sihir, tapi Restu Alam
23 Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
24 Percaya Sama Saya
25 Tangan Kita Nggak Nyampe
26 Marketing Tingkat Dewa
27 Tuan membuangku?
28 Cara Biar Kuat
29 Bekerja Dua Arah
30 Beneran di Situ
31 Anak Lumbung
32 Abah Punya Ide
33 Untuk Masa Depan
34 Berhadapan dengan Kekuasaan
35 Aduh, Ada Musibah Lagi
36 Mereka Pikir Kita Lemah
37 Cuma Telur yang Mau Menghantam Batu Karang
38 Kuda Ini Namanya Jantur
39 Uang Itu Berputar
40 Wanita Bahu Laweyan
41 Sarang Ular yang Saling Membelit
42 Keberanian Seperti Kinar
43 Masih Aja Ada yang Nekat
44 Lagu Ngawur
45 Bikin Pendek Umur
46 Kamu Orang Baik
47 Kamu Jual Harga Dirimu
48 Nggak Bisa Bantu
49 Dipaksa Menjadi Laki-laki Sejati
50 Jurang Keputusasaan
51 Bapak Laki-laki
52 Hadiahkan Dia Nasib Burukmu
53 Sudah Keluar Racunnya
54 Dia Pikir Dia Bisa Beli Langit?
55 Ambil Balik Pelan-pelan
56 Bicara Soal Tari
57 Jangan Kasih Mereka Napas
58 Dimas Satya
59 Anak Ini Tambang Emas
60 Rapat Strategi Pemanfaatan Tari
61 Menyerap Kembali Berkah yang Ia Pinjamkan
62 Cari Info Siapa Musuhnya
63 Berteman dengan Rasa Sakit
64 Berubah 180 Derajat Dalam Hitungan Detik
65 Keserakahan Telah Membutakan Logika Mereka
66 Hartanya Banyak, tapi Tingkahnya Naudzubillah
67 Demi Keselamatan Nyawaku
68 Menjerat Lele Dumbo
69 Terdengar Seperti Vonis Hakim
70 Tidak Perlu Main Kotor
71 Kemampuan Tari Bukan Omong Kosong
72 Dia Cuma Peduli Uangnya
73 Harga Keserakahan
74 Alam Punya Cara Sendiri
75 Kalian Harus Selamat Dulu
76 Mereka Sedang Saling Menggigit
77 Kita Punya Musuh yang Sama
78 Kita Tidak Bisa Berjuang Sendirian
79 Waktu Untuk Drama Melankolis
80 Pohon Racunnya Dekat Sekali
81 Memberi Restu Pada Panglima Perang Mereka
82 Misi Kemanusiaan Selesai
83 Benih Yang Harus Dijaga
84 Kalah Telak Oleh Seorang Kuli Tani
85 Suryo Dikerjain Habis-habisan
86 Bagian Dari Hukuman Alam
87 Hanya Akan Mati Konyol
88 Bentar Lagi Puncaknya
89 Mereka yang Berbuat Ulah
90 Keserakahannya Menuntunnya Ke Lubang Buaya
91 Lebih Mencintai Status Sosialnya
92 Rela Melakukan Apa Saja
93 Tak Mampu Menelan Sebutir Nasi Pun
94 Dia Hanya Ingin Perutnya Berhenti Melilit
95 Harus Pintar-pintar Cari Muka
96 Bapak Ini Ngelindur?
97 Aktingnya Bagus, Sayang Hatinya Hitam
98 Dia Melepaskan Sumber Kekayaannya
99 Terbang Menjauh dari Pohon Besar
100 Benar-benar Tidak Berguna
101 Buang Kuncinya, Ya Pintunya Nutup
102 Pulangkan Dia ke Ibunya
103 Ini Rumah Kita
104 Tari Punya Mainan Baru
105 Seolah Dia Adalah Pahlawan
106 Untung Bukan Sakit Parah
107 Koneksi Batin
108 Menjadi Payung Bagi Anak-anaknya
109 Bentuk Bakti Anaknya
110 Nama Itu Kini Menjadi Mantra
111 Merebut Perhatian Sang Tuan Rumah
112 Belum Mikir Cari Bapak Baru
113 Ucapan Itu Sederhana
114 Ini Memang Harus Terjadi
115 Benar-benar Aneh
116 Diemong Oleh Alam
117 Saya yang Nyulik
118 Kancil Nyolong Timun Tapi Versi Thriller
119 Kalau Dipenjara, Nanti Jadi Jahat Beneran
120 Jaka, Anakmu Lanang
121 Menertawakan Karma yang Menimpa
122 Sepasang Lintah Darat yang Jauh Lebih Licik
123 Sial Bener Nasibmu
124 Ia tak Peduli Betapa Hancurnya Keluarganya
125 Habislah Kau, Mas Suryo
126 Itik Buruk Rupa
127 Mau Jebak Orang Kok Otaknya Nggak Dipakai
128 Akhir Tragis Mantan Adik Ipar
129 Berpegang Pada Sisa-sisa Ilusi Kekuasaan
130 Habis Sudah... Ludes Semua
131 Dunia Suryo Benar-benar Kiamat
132 Hidup Bebas dan Mandiri
133 Setiap Benih Akan Menuai Takdirnya - TAMAT
134 NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
135 BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
136 BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
137 BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
138 BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
139 BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
140 Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
141 Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu
Episodes

Updated 141 Episodes

1
Dibuang Seperti Sampah
2
Menuntut Keadilan
3
Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan
4
Lastri nggak Butuh Bapak
5
Anak Itu Bawa Hoki
6
Karma Instan
7
Mereka Menumbalkan Anakku
8
Nanti Rumah Ini Jadi Gelap
9
Kepepet Aib Sosial
10
Peka Terhadap Hal-hal Ghaib
11
Berani Mengambil Sikap
12
Target Cuci Piring Kotor
13
Kena Batunya
14
Nasi sudah jadi arang
15
Dia Bukan Nyumpahin
16
Anak yang Membawa Berkah
17
Hari Penuh Berkah
18
Dia Benci Laki-laki Itu
19
Sri Lestari
20
Tumbal Keberuntungan
21
Harapan Itu Ada
22
Bukan Sihir, tapi Restu Alam
23
Nikmat Mana Lagi yang Abah Dustakan
24
Percaya Sama Saya
25
Tangan Kita Nggak Nyampe
26
Marketing Tingkat Dewa
27
Tuan membuangku?
28
Cara Biar Kuat
29
Bekerja Dua Arah
30
Beneran di Situ
31
Anak Lumbung
32
Abah Punya Ide
33
Untuk Masa Depan
34
Berhadapan dengan Kekuasaan
35
Aduh, Ada Musibah Lagi
36
Mereka Pikir Kita Lemah
37
Cuma Telur yang Mau Menghantam Batu Karang
38
Kuda Ini Namanya Jantur
39
Uang Itu Berputar
40
Wanita Bahu Laweyan
41
Sarang Ular yang Saling Membelit
42
Keberanian Seperti Kinar
43
Masih Aja Ada yang Nekat
44
Lagu Ngawur
45
Bikin Pendek Umur
46
Kamu Orang Baik
47
Kamu Jual Harga Dirimu
48
Nggak Bisa Bantu
49
Dipaksa Menjadi Laki-laki Sejati
50
Jurang Keputusasaan
51
Bapak Laki-laki
52
Hadiahkan Dia Nasib Burukmu
53
Sudah Keluar Racunnya
54
Dia Pikir Dia Bisa Beli Langit?
55
Ambil Balik Pelan-pelan
56
Bicara Soal Tari
57
Jangan Kasih Mereka Napas
58
Dimas Satya
59
Anak Ini Tambang Emas
60
Rapat Strategi Pemanfaatan Tari
61
Menyerap Kembali Berkah yang Ia Pinjamkan
62
Cari Info Siapa Musuhnya
63
Berteman dengan Rasa Sakit
64
Berubah 180 Derajat Dalam Hitungan Detik
65
Keserakahan Telah Membutakan Logika Mereka
66
Hartanya Banyak, tapi Tingkahnya Naudzubillah
67
Demi Keselamatan Nyawaku
68
Menjerat Lele Dumbo
69
Terdengar Seperti Vonis Hakim
70
Tidak Perlu Main Kotor
71
Kemampuan Tari Bukan Omong Kosong
72
Dia Cuma Peduli Uangnya
73
Harga Keserakahan
74
Alam Punya Cara Sendiri
75
Kalian Harus Selamat Dulu
76
Mereka Sedang Saling Menggigit
77
Kita Punya Musuh yang Sama
78
Kita Tidak Bisa Berjuang Sendirian
79
Waktu Untuk Drama Melankolis
80
Pohon Racunnya Dekat Sekali
81
Memberi Restu Pada Panglima Perang Mereka
82
Misi Kemanusiaan Selesai
83
Benih Yang Harus Dijaga
84
Kalah Telak Oleh Seorang Kuli Tani
85
Suryo Dikerjain Habis-habisan
86
Bagian Dari Hukuman Alam
87
Hanya Akan Mati Konyol
88
Bentar Lagi Puncaknya
89
Mereka yang Berbuat Ulah
90
Keserakahannya Menuntunnya Ke Lubang Buaya
91
Lebih Mencintai Status Sosialnya
92
Rela Melakukan Apa Saja
93
Tak Mampu Menelan Sebutir Nasi Pun
94
Dia Hanya Ingin Perutnya Berhenti Melilit
95
Harus Pintar-pintar Cari Muka
96
Bapak Ini Ngelindur?
97
Aktingnya Bagus, Sayang Hatinya Hitam
98
Dia Melepaskan Sumber Kekayaannya
99
Terbang Menjauh dari Pohon Besar
100
Benar-benar Tidak Berguna
101
Buang Kuncinya, Ya Pintunya Nutup
102
Pulangkan Dia ke Ibunya
103
Ini Rumah Kita
104
Tari Punya Mainan Baru
105
Seolah Dia Adalah Pahlawan
106
Untung Bukan Sakit Parah
107
Koneksi Batin
108
Menjadi Payung Bagi Anak-anaknya
109
Bentuk Bakti Anaknya
110
Nama Itu Kini Menjadi Mantra
111
Merebut Perhatian Sang Tuan Rumah
112
Belum Mikir Cari Bapak Baru
113
Ucapan Itu Sederhana
114
Ini Memang Harus Terjadi
115
Benar-benar Aneh
116
Diemong Oleh Alam
117
Saya yang Nyulik
118
Kancil Nyolong Timun Tapi Versi Thriller
119
Kalau Dipenjara, Nanti Jadi Jahat Beneran
120
Jaka, Anakmu Lanang
121
Menertawakan Karma yang Menimpa
122
Sepasang Lintah Darat yang Jauh Lebih Licik
123
Sial Bener Nasibmu
124
Ia tak Peduli Betapa Hancurnya Keluarganya
125
Habislah Kau, Mas Suryo
126
Itik Buruk Rupa
127
Mau Jebak Orang Kok Otaknya Nggak Dipakai
128
Akhir Tragis Mantan Adik Ipar
129
Berpegang Pada Sisa-sisa Ilusi Kekuasaan
130
Habis Sudah... Ludes Semua
131
Dunia Suryo Benar-benar Kiamat
132
Hidup Bebas dan Mandiri
133
Setiap Benih Akan Menuai Takdirnya - TAMAT
134
NOVEL BARU - Reinkarnasi Dokter Forensik sebagai Putri Terbuang di Era Mataram
135
BARU - Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk di Era Orba
136
BARU - Assasin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan
137
BARU - Kehidupan Kedua: Kali Ini Aku yang Mengatur Permainan
138
BARU — Sistem Istri Ideal untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek
139
BARU: Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis dengan Sapi Wagyu
140
Baru — Putri Asli yang Tak Pernah Dipilih
141
Baru — Rebirth, Kali Ini Aku Menikahi Adikmu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!