Bab 2. SAH

Usai menghadiri arisan, dua wanita dengan perbedaan usia itu kini memasuki sebuah mal. Mereka berbelanja banyak barang. Beberapa paper bag ditenteng oleh sopir yang ikut masuk, sebagian lainnya dibawa oleh Mama Kania. Sementara Aulia sama sekali tidak dibiarkan membawa apa pun—takut bumil itu kelelahan.

Kini, mereka duduk di sebuah restoran di dalam mal. Beragam menu terhidang di meja, semuanya sesuai keinginan Aulia.

Di tengah asyiknya menikmati makanan sambil ditemani obrolan ringan, perhatian Aulia sedikit teralihkan oleh getaran ponselnya yang kembali berbunyi setelah beberapa kali ia abaikan.

“Siapa sih, ganggu saja,” gumamnya malas sambil membuka tas.

“Siapa, Sayang?” tanya Mama Kania, ikut melirik ke arah putrinya.

“Jenar, Ma.”

“Jenar… siapa?” tanyanya lagi, berusaha mengingat.

“Jenar, sahabatnya Arumi, Ma. Masa lupa,” tukas Aulia sambil menekan tombol hijau di layar ponselnya.

Mama Kania mengangguk singkat setelah mengingat nama itu, lalu ikut menyimak pembicaraan putrinya.

“Halo,” sapa Aulia dengan suara lembut.

“Halo, Kak Aulia. Maaf mengganggu,” ujar Jenar dari seberang sana. Suaranya terdengar cemas. “Ini… aku mau menyampaikan sesuatu. Arumi sedang kena masalah, Kak.”

“Apa? Masalah apa?” tanya Aulia dengan raut yang seketika berubah. Wajahnya menegang. Di sisi lain, Mama Kania menggeser duduknya, mendekat ke arah putrinya.

“Arumi digerebek penghuni kos lain, Kak. Katanya tengah melakukan hubungan badan seorang pria—”

“Hah?” pekik Aulia lantang. Ia langsung berdiri, sementara ponselnya terlepas dan jatuh begitu saja ke atas meja.

Mama Kania tak kalah terkejut. Namun wanita paruh baya itu berusaha tetap tenang. Ia meraih ponsel putrinya yang masih tersambung, berniat mengetahui lebih jauh.

“Halo, Jenar. Ini Tante Kania. Tadi kamu bilang apa?” tanyanya menahan gemetar.

“Tante… maaf. Jenar memang harus menghubungi Kak Aulia. Arumi digerebek penghuni kos sedang begituan, sekarang mereka sedang digiring ke rumah ibu kos. Katanya… katanya mereka mau dinikahkan, Tante,” jelas Jenar dari seberang, membuat Mama Kania nyaris limbung di kursinya.

“Saya akan datang ke sana,” ujar Mama Kania dengan suara bergetar. “Tolong sampaikan pada mereka jangan bertindak sendiri. Bilang kalau saya segera tiba.”

Ia menutup sambungan telepon dengan napas berat, telinganya masih menangkap samar suara cacian yang bisa ia tebak tertuju pada Arumi.

Tak lama kemudian, Mama Kania, Aulia, dan sang sopir bergegas meninggalkan mal, langsung menuju bandara.

Arumi Mentari, adik tiri Aulia, yang kini berkuliah di Jakarta. Aulia masih sulit mempercayai kenyataan itu. Sosok adiknya yang selama ini ia kenal begitu polos dan lugu terasa tak mungkin terlibat dalam masalah sebesar ini.

“Sayang, kamu tidak usah ikut, ya. Biar Mama saja yang ke sana,” bujuk Mama Kania sepanjang perjalanan menuju bandara. Ia masih berusaha menenangkan putri sulungnya yang bersikeras ingin ikut ke Jakarta demi memastikan keadaan Arumi secara langsung.

“Aku mau ikut, Ma. Aku mau tahu laki-laki brengsek mana yang sudah menodai adikku!” ujar Aulia dengan nada geram.

“Tapi, Sayang, kondisi kamu—”

“Aku akan baik-baik saja, Mam. Percaya sama Lia,” potong Aulia meyakinkan.

Ketegasan itu akhirnya membuat Mama Kania tak mampu lagi membujuk. Dengan berat hati, ia mengalah.

Terpaksa, keduanya berangkat bersama. Beruntung, mereka mendapatkan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan beberapa menit lagi. Setibanya di bandara, mereka langsung masuk ke dalam pesawat, hanya berbekal pakaian baru yang sempat dibeli di mal, karena mereka tidak sempat pulang ke rumah untuk berkemas.

...****************...

Setelah lebih dari satu jam penerbangan, kini mereka berdua berada di Bandara Soekarno Hatta setelah pesawat mendarat dengan selamat.

Aulia langsung memesan taksi daring menuju kos adiknya. Alamat itu sudah di luar kepala, karena ini bukan kali pertama mereka datang ke sana.

Sepanjang perjalanan yang melelahkan, tak satu pun dari mereka bersuara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing yang sejak tadi terasa riuh.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan area kos. Di sana, Jenar masih berdiri dengan raut wajah gelisah. Ia mondar-mandir tak menentu. Beberapa orang lain ikut berdiri di sekitar, jumlahnya tidak banyak, namun mulut mereka masih sibuk berbisik.

Tak jauh dari situ, di depan rumah ibu kos, tampak beberapa warga mengintip ke dalam dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.

Aulia dan ibunya turun dari mobil, lalu menghampiri Jenar.

“Jenar…” panggil Aulia.

Mata Jenar membola saat menyadari Aulia ikut datang ke sana. Wajah gadis berusia sekitar dua puluh dua tahun itu pucat pasi. Ia menyalami kedua tangan Aulia dengan gemetar.

“Kak Aulia datang…” ucapnya lirih.

“Iya. Ayo kita ke rumah ibu kos. Arumi di sana, kan?” tanya Aulia sambil menarik tangan Jenar.

Namun Jenar tak bergerak. Tubuhnya masih kaku di tempat, matanya menatap Aulia dengan ragu.

“Jenar, ayo.”

“Kak Aulia… Kakak tidak boleh ikut,” ucap Jenar dengan suara kecil. “Biar Tante Kania saja yang ke sana. Bagaimana kalau Kak Aulia ikut Jenar saja?”

Di sekitar mereka, bisik-bisik terus terdengar. Beberapa tatapan sinis diarahkan pada Aulia dan Mama Kania, seolah merekalah sumber dari semua kesalahan itu.

“Aku mau lihat Arumi, Jenar. Ayo antarkan kami ke sana,” titah Aulia tegas, tak memberi ruang bantahan.

Terpaksa, Jenar menurut. Ia melangkah mengikuti mereka menuju rumah ibu kos.

Kedatangan Aulia dan Mama Kania langsung disambut suara gaduh. Ada yang memaki, menyalahkan Mama Kania karena dianggap tak mampu mendidik anaknya dengan baik. Namun ada pula tatapan iba yang terselip di antara kerumunan.

Mama Kania dan Aulia memilih menulikan pendengaran. Keduanya menerobos kerumunan di depan rumah ibu kos, lalu masuk begitu saja.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Arumi Mentari binti Bagas Pradipta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”

“Bagaimana para saksi, sah?”

“SAH!!”

“Mas Adrian…”

Suara lantang itu, diucapkan dalam satu tarikan napas oleh mempelai pria, seketika meruntuhkan seorang wanita yang berdiri kaku di ambang pintu rumah ibu kos. Tatapannya kosong. Air mata membanjiri wajahnya.

Di hadapannya, pria itu, suaminya sendiri, duduk berdampingan dengan sang adik sebagai sepasang pengantin.

Deg.

“Aulia…”

“Kakak…”

Tbc...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM

≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM

ih kok ngeselin bnaget thu adekk/Scream//Scream//Scream//Scream/ santet aja udah santet😐

2026-01-29

3

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

nah kan aku bilang juga apa/Sob//Puke/

2026-01-28

1

Lisa

Lisa

ya tuh adik yg tega banget sama kakaknya

2026-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. keluar kota.
2 Bab 2. SAH
3 Bab 3. Pengkhianatan.
4 Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi
5 Bab 5. Emilia Maheswari
6 Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
7 Bab 7. surat cerai
8 Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
9 Bab 9. Nyaman.
10 Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
11 Bab 11. Batas sabar.
12 Bab 12. Usulan.
13 Bab 13. Setuju.
14 Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
15 Bab 15. Segalanya berubah.
16 Bab 16. Membiasakan diri.
17 Bab 17. Familiar.
18 Bab 18. Di Drop out.
19 Bab 19. Rencana
20 Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
21 Bab 21. Terpuruk.
22 Bab 22. Sesuatu yang Istimewa.
23 Kembali ke RUMAH.
24 Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
25 Bab 25. Rumah sesungguhnya...
26 Bab 26. Menarik!
27 Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!
28 Bab 28. Tidak untuk sekarang!
29 Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
30 Bab 30. Khawatir
31 Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
32 Bab 32. waktunya papi menemani mami
33 Bab 33. Berubah?
34 Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
35 Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
36 Bab 36. Negosiasi
37 Bab 37. Di usir lagi?
38 Bab 38. Apa kabar, Lia?
39 Bab 39. Menghadiri makan malam.
40 Bab 40.
41 Bab 41. Apa aku harus membencimu?
42 Bab 42. Ayo, selesai baik-baik, kak...
43 Bab 43. Cemburu?
44 Bab 44. Sleep call
45 Bab 45. Meminta hak.
46 Bab 46. Oliemera Entertainment.
47 Bab 47. Tidak ada yang gratis di dunia!
48 Bab 48. Weekend di taman kota.
49 Bab 49. Sangat Lancang!
50 Bab 50. Jangan tutup pintu rapat-rapat!
51 Bab 51. Kekacauan di lokasi Shooting.
52 Bab 52. Itu kalian berdua?
53 Bab 53. Rutinitas
54 Bab 54. perbaiki semuanya!
55 Bab 55. Luka masa lalu.
56 Bab 56. Deeptalk.
57 Bab 57. Insecure.
58 Bab 58.
59 Bab 59. Nasihat.
60 Bab 60. Batal
61 Bab 61. Bicara berdua.
62 Bab 62.
63 Bab 63.
64 Bab 64.
65 Bab 65. Cara sendiri
66 Bab 66. Di butik.
67 Bab 67.
68 Bab 68
69 Bab 69.Sangat cantik
70 Bab 70. one happy year of Leonel.
71 Bab 71. Spesial di Rooftop.
72 Bab 72.
73 Bab 73
74 Bab 74.
75 Bab 75.
76 Bab. 76
77 Bab 77. Malu
78 Bab 78. Special Moment.
79 Bab 79. Resepsi
80 Bab 80.
81 Bab 81. Uhukk!+
82 Bab 82.
83 Bab 83.
84 Bab 84
85 Bab 85.
86 Bab 86.
87 Bab 87.
88 Bab 88.
89 Bab 89.
90 Bab 90
91 Bab 91.
92 Bab 92.
93 Bab 93.
94 Bab 94. sebaik-baiknya berumahtangga adalah Komunikasi!
95 Bab 95. Nekat
96 Bab 96.
97 Bab 97.
98 Bab 98.Rumah sakit
99 Bab 99. Titip anak kita.
100 Bab 100. Langit abu-abu.
101 Bab 101. Intruksi
102 Bab 102. Arellio Bimantara [Epilog]
103 PROMOSI KARYA BARU.
104 TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN CEO DINGIN
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. keluar kota.
2
Bab 2. SAH
3
Bab 3. Pengkhianatan.
4
Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi
5
Bab 5. Emilia Maheswari
6
Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
7
Bab 7. surat cerai
8
Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
9
Bab 9. Nyaman.
10
Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
11
Bab 11. Batas sabar.
12
Bab 12. Usulan.
13
Bab 13. Setuju.
14
Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
15
Bab 15. Segalanya berubah.
16
Bab 16. Membiasakan diri.
17
Bab 17. Familiar.
18
Bab 18. Di Drop out.
19
Bab 19. Rencana
20
Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
21
Bab 21. Terpuruk.
22
Bab 22. Sesuatu yang Istimewa.
23
Kembali ke RUMAH.
24
Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
25
Bab 25. Rumah sesungguhnya...
26
Bab 26. Menarik!
27
Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!
28
Bab 28. Tidak untuk sekarang!
29
Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
30
Bab 30. Khawatir
31
Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
32
Bab 32. waktunya papi menemani mami
33
Bab 33. Berubah?
34
Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
35
Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
36
Bab 36. Negosiasi
37
Bab 37. Di usir lagi?
38
Bab 38. Apa kabar, Lia?
39
Bab 39. Menghadiri makan malam.
40
Bab 40.
41
Bab 41. Apa aku harus membencimu?
42
Bab 42. Ayo, selesai baik-baik, kak...
43
Bab 43. Cemburu?
44
Bab 44. Sleep call
45
Bab 45. Meminta hak.
46
Bab 46. Oliemera Entertainment.
47
Bab 47. Tidak ada yang gratis di dunia!
48
Bab 48. Weekend di taman kota.
49
Bab 49. Sangat Lancang!
50
Bab 50. Jangan tutup pintu rapat-rapat!
51
Bab 51. Kekacauan di lokasi Shooting.
52
Bab 52. Itu kalian berdua?
53
Bab 53. Rutinitas
54
Bab 54. perbaiki semuanya!
55
Bab 55. Luka masa lalu.
56
Bab 56. Deeptalk.
57
Bab 57. Insecure.
58
Bab 58.
59
Bab 59. Nasihat.
60
Bab 60. Batal
61
Bab 61. Bicara berdua.
62
Bab 62.
63
Bab 63.
64
Bab 64.
65
Bab 65. Cara sendiri
66
Bab 66. Di butik.
67
Bab 67.
68
Bab 68
69
Bab 69.Sangat cantik
70
Bab 70. one happy year of Leonel.
71
Bab 71. Spesial di Rooftop.
72
Bab 72.
73
Bab 73
74
Bab 74.
75
Bab 75.
76
Bab. 76
77
Bab 77. Malu
78
Bab 78. Special Moment.
79
Bab 79. Resepsi
80
Bab 80.
81
Bab 81. Uhukk!+
82
Bab 82.
83
Bab 83.
84
Bab 84
85
Bab 85.
86
Bab 86.
87
Bab 87.
88
Bab 88.
89
Bab 89.
90
Bab 90
91
Bab 91.
92
Bab 92.
93
Bab 93.
94
Bab 94. sebaik-baiknya berumahtangga adalah Komunikasi!
95
Bab 95. Nekat
96
Bab 96.
97
Bab 97.
98
Bab 98.Rumah sakit
99
Bab 99. Titip anak kita.
100
Bab 100. Langit abu-abu.
101
Bab 101. Intruksi
102
Bab 102. Arellio Bimantara [Epilog]
103
PROMOSI KARYA BARU.
104
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN CEO DINGIN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!