Bab 3. Pengkhianatan.

Di depan sana, di hadapan seorang penghulu, dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya duduk berdampingan. Mereka telah sah menjadi sepasang pengantin, mengenakan pakaian sederhana dengan wajah yang masih menyisakan lebam dan luka, mungkin karena sempat di keroyok massal.

Aulia berdiri kaku. Seluruh tubuhnya terasa dingin, kaki itu mendadak kehilangan tenaga. Tangisnya tak bersuara, namun bahunya bergetar hebat, menahan runtuh yang tak sanggup ia lepaskan.

“Mas…”

Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari bibirnya.

Pikirannya menolak menerima apa yang dilihat mata. Ia masih berharap ini sekadar kekeliruan, atau mungkin halusinasi akibat lelah dan cemas. Namun harapan itu runtuh ketika jemarinya mencubit pergelangan tangan sendiri. Rasa perih yang nyata mematahkan semua sangkalan.

“Aulia…”

“Kakak…”

Wajah dua orang di hadapannya pucat pasi. Adrian langsung berdiri, diikuti Arumi yang menunduk dalam, lalu melangkah mendekat ke arah ibunya yang masih berdiri di sisi Aulia dengan tatapan syok yang sama.

Aulia mundur setapak ke belakang, pelan. Kepalanya terus menggeleng, seolah menolak kenyataan yang kini berdiri tepat di hadapannya.

“Kamu… kamu laki-laki brengsek itu, Mas. Kenapa? Kenapa harus kamu, Mas? Arghhh!” pekiknya histeris sambil menjambak rambutnya sendiri.

Aulia berbalik dan berlari keluar, tepat saat jaraknya dengan Adrian nyaris tinggal selangkah.

“Sayang, Lia…”

Mama Kania tersentak, lalu menyusul putri sulungnya setelah beberapa detik terdiam karena syok.

Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.

“Siapa bumil itu?”

“Kayaknya istri mempelai pria deh, lihat tadi histeris banget.”

“Sepertinya iya. Dia kakaknya Arumi.”

“Hah?”

“Jadi suaminya selingkuh sama adik iparnya sendiri?”

“Apa ini yang orang-orang bilang ipar itu maut?”

Tatapan aneh dan penuh penilaian diarahkan pada dua orang yang masih berdiri di dalam rumah ibu kos. Adrian sendiri tampak limbung, bingung antara menyusul istri pertamanya atau tetap bertahan di sana.

“Dasar pelakor!”

“Percuma kuliah tinggi, ujung-ujungnya rebut suami orang!”

“Perempuan nggak punya adab!”

Teriakan dan cacian itu menghantam Arumi tanpa ampun. Gadis itu semakin menunduk, tubuhnya gemetar, sementara dunia di sekelilingnya terasa semakin sempit.

...****************...

Hancur.

Itu satu-satunya kata yang mampu menggambarkan apa yang Aulia rasakan. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa suaminya tega berkhianat dengan cara sekeji itu.

“Apa ini alasannya kamu nggak pernah lagi menyentuhku, Mas?” gumamnya lirih, di sela napas yang tersengal. “Alasan takut menyakiti anak kita? Bulsit!”

Tawanya pecah, getir dan kosong. Tangannya menghantam dada sendiri, kuat, seolah ingin meredakan sesak yang kian menyesakkan napas.

“Nyatanya bukan karena kamu takut. Kamu memang nggak mau. Kamu lebih suka jajan di luar. Tapi kenapa harus Arumi, Mas?”

Pikirannya kacau. Penolakan demi penolakan selama hampir sembilan bulan sejak ia hamil kini membentuk jawaban yang terasa masuk akal, meski menyakitkan. Satu per satu potongan ingatan tentang kedekatan Adrian dan Arumi terangkai. Hal-hal yang dulu ia anggap wajar sebagai hubungan adik ipar dan kakak ipar, kini tampak berlebihan, bahkan memuakkan.

“Bodoh…” lirihnya.

“Bodoh kamu, Aulia…”

Langkahnya terus berlari tanpa arah. Jalanan Jakarta siang menjelang sore itu ramai, kendaraan berlalu-lalang, suara kota tak pernah berhenti. Namun semua itu tak lagi berarti apa-apa baginya.

Aulia berlari, menulikan pendengarannya sendiri, tenggelam dalam suara pikirannya yang terus berkicau, tanpa tahu ke mana kakinya akan membawanya.

Bahkan suara teriakan yang memanggil namanya dari belakang, oleh Jenar dan Mama Kania, tak lagi ia hiraukan. Semua terasa seperti angin lalu, melintas tanpa pernah benar-benar terdengar.

Kakinya yang sedikit membengkak akibat kehamilan tak ia rasakan perihnya, meski langkahnya semakin panjang dan tergesa. Tubuhnya terus bergerak, seolah hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan.

Hanya hatinya yang kian lama kian sakit. Seolah sebilah sembilu menghantam dada berulang kali, memukul Aulia tanpa jeda, tanpa ampun.

“Kenapa, Mas…” tangisnya makin pecah, tak kunjung reda.

Banyak pasang mata menatapnya, sebagian heran, sebagian iba. Namun semua itu seolah tak terlihat oleh Aulia. Wajahnya sembab, pandangannya kosong, dunia di sekitarnya tak lagi memiliki bentuk.

“Sayang… berhenti, Lia. Dengarkan Mama, sayang…” teriak Mama Kania dari belakang.

Wanita paruh baya itu pun hancur. Dadanya sesak menyaksikan putri sulung yang ia besarkan menangis tanpa pegangan, sementara putri kandungnya sendiri justru menjadi penyebab luka sebesar itu. Ia terjebak di posisi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, berdiri di antara rasa sayang dan rasa bersalah yang sama-sama menyesakkan.

“Aulia…”

Panggilan itu kembali meluncur, namun tetap tak digubris. Wanita di depan sana terus melangkah, bahkan tak menoleh sedikit pun.

Tak jauh di belakang mereka, Adrian ikut mengejar. Langkahnya tergesa, wajahnya panik, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk sekadar menyentuh, apalagi menghentikan Aulia.

“Aulia, jangan!” teriak Mama Kania panik saat melihat wanita hamil itu melangkah ke tepi jalan raya yang padat oleh kendaraan.

“Kak Aulia, berhenti di situ! Jangan nyebrang dulu, Kak!” suara Jenar ikut menggema, nyaris tertelan deru mesin.

Aulia sudah berdiri di pinggir aspal. Tangannya terangkat, melambai ke arah kendaraan yang melaju, memberi isyarat agar mereka melambat, dan memberinya sedikit waktu untuk menyeberang.

Beberapa mobil memperlambat laju. Celah kecil itu terbuka. Merasa cukup aman, Aulia berlari ke tengah jalan untuk menyebrang biar sampai di sisi jalan lainnya.

Namun saat kakinya baru mencapai setengah jalan, dari arah kiri sebuah mobil melesat dengan kecepatan di atas rata-rata. Bunyi klakson terlambat, ban mencicit keras, tubuh Aulia membeku sesaat.

BRAKKK!!!

Tabrakan itu tak terhindarkan.

Tubuh Aulia terhempas dan terguling ke depan. Secara refleks, tangannya langsung memeluk perutnya yang membuncit. Kepalanya terbentur keras, darah mengalir, sementara nyeri hebat menghantam sekujur tubuhnya.

Air mata Aulia berderai tanpa suara.

Samar-samar, ia mendengar tangisan ibunya yang semakin mendekat. Ada pula suara seorang laki-laki, suara yang begitu ia kenal, suara yang justru menghancurkannya hari itu.

Dengan sisa kesadaran yang masih bertahan, Aulia menurunkan pandangannya ke arah perutnya. Tangannya bergerak mengelus pelan, seolah ingin menenangkan.

Lalu semuanya gelap.

tbc...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥

🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥

ipar adalah maut, ternyata lebih mengerikan. Adik tiri yang ia sayangi, nyatanya malah menusuk dari belakang😖

2026-01-29

2

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

please dek buat Lia mati dan buat mereka menyesal seumur hidup dan hidup kan kembali ke seorang wanita yang akan membalas dendam pada suami dan adik nya... yakin ini mereka menderita

2026-01-28

1

Evi Lusiana

Evi Lusiana

awal yg menyedihkan thor,smoga kelak aulia menemukan kebahagiaan

2026-02-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. keluar kota.
2 Bab 2. SAH
3 Bab 3. Pengkhianatan.
4 Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi
5 Bab 5. Emilia Maheswari
6 Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
7 Bab 7. surat cerai
8 Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
9 Bab 9. Nyaman.
10 Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
11 Bab 11. Batas sabar.
12 Bab 12. Usulan.
13 Bab 13. Setuju.
14 Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
15 Bab 15. Segalanya berubah.
16 Bab 16. Membiasakan diri.
17 Bab 17. Familiar.
18 Bab 18. Di Drop out.
19 Bab 19. Rencana
20 Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
21 Bab 21. Terpuruk.
22 Bab 22. Sesuatu yang Istimewa.
23 Kembali ke RUMAH.
24 Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
25 Bab 25. Rumah sesungguhnya...
26 Bab 26. Menarik!
27 Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!
28 Bab 28. Tidak untuk sekarang!
29 Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
30 Bab 30. Khawatir
31 Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
32 Bab 32. waktunya papi menemani mami
33 Bab 33. Berubah?
34 Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
35 Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
36 Bab 36. Negosiasi
37 Bab 37. Di usir lagi?
38 Bab 38. Apa kabar, Lia?
39 Bab 39. Menghadiri makan malam.
40 Bab 40.
41 Bab 41. Apa aku harus membencimu?
42 Bab 42. Ayo, selesai baik-baik, kak...
43 Bab 43. Cemburu?
44 Bab 44. Sleep call
45 Bab 45. Meminta hak.
46 Bab 46. Oliemera Entertainment.
47 Bab 47. Tidak ada yang gratis di dunia!
48 Bab 48. Weekend di taman kota.
49 Bab 49. Sangat Lancang!
50 Bab 50. Jangan tutup pintu rapat-rapat!
51 Bab 51. Kekacauan di lokasi Shooting.
52 Bab 52. Itu kalian berdua?
53 Bab 53. Rutinitas
54 Bab 54. perbaiki semuanya!
55 Bab 55. Luka masa lalu.
56 Bab 56. Deeptalk.
57 Bab 57. Insecure.
58 Bab 58.
59 Bab 59. Nasihat.
60 Bab 60. Batal
61 Bab 61. Bicara berdua.
62 Bab 62.
63 Bab 63.
64 Bab 64.
65 Bab 65. Cara sendiri
66 Bab 66. Di butik.
67 Bab 67.
68 Bab 68
69 Bab 69.Sangat cantik
70 Bab 70. one happy year of Leonel.
71 Bab 71. Spesial di Rooftop.
72 Bab 72.
73 Bab 73
74 Bab 74.
75 Bab 75.
76 Bab. 76
77 Bab 77. Malu
78 Bab 78. Special Moment.
79 Bab 79. Resepsi
80 Bab 80.
81 Bab 81. Uhukk!+
82 Bab 82.
83 Bab 83.
84 Bab 84
85 Bab 85.
86 Bab 86.
87 Bab 87.
88 Bab 88.
89 Bab 89.
90 Bab 90
91 Bab 91.
92 Bab 92.
93 Bab 93.
94 Bab 94. sebaik-baiknya berumahtangga adalah Komunikasi!
95 Bab 95. Nekat
96 Bab 96.
97 Bab 97.
98 Bab 98.Rumah sakit
99 Bab 99. Titip anak kita.
100 Bab 100. Langit abu-abu.
101 Bab 101. Intruksi
102 Bab 102. Arellio Bimantara [Epilog]
103 PROMOSI KARYA BARU.
104 TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN CEO DINGIN
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. keluar kota.
2
Bab 2. SAH
3
Bab 3. Pengkhianatan.
4
Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi
5
Bab 5. Emilia Maheswari
6
Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
7
Bab 7. surat cerai
8
Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
9
Bab 9. Nyaman.
10
Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
11
Bab 11. Batas sabar.
12
Bab 12. Usulan.
13
Bab 13. Setuju.
14
Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
15
Bab 15. Segalanya berubah.
16
Bab 16. Membiasakan diri.
17
Bab 17. Familiar.
18
Bab 18. Di Drop out.
19
Bab 19. Rencana
20
Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
21
Bab 21. Terpuruk.
22
Bab 22. Sesuatu yang Istimewa.
23
Kembali ke RUMAH.
24
Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
25
Bab 25. Rumah sesungguhnya...
26
Bab 26. Menarik!
27
Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!
28
Bab 28. Tidak untuk sekarang!
29
Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
30
Bab 30. Khawatir
31
Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
32
Bab 32. waktunya papi menemani mami
33
Bab 33. Berubah?
34
Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
35
Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
36
Bab 36. Negosiasi
37
Bab 37. Di usir lagi?
38
Bab 38. Apa kabar, Lia?
39
Bab 39. Menghadiri makan malam.
40
Bab 40.
41
Bab 41. Apa aku harus membencimu?
42
Bab 42. Ayo, selesai baik-baik, kak...
43
Bab 43. Cemburu?
44
Bab 44. Sleep call
45
Bab 45. Meminta hak.
46
Bab 46. Oliemera Entertainment.
47
Bab 47. Tidak ada yang gratis di dunia!
48
Bab 48. Weekend di taman kota.
49
Bab 49. Sangat Lancang!
50
Bab 50. Jangan tutup pintu rapat-rapat!
51
Bab 51. Kekacauan di lokasi Shooting.
52
Bab 52. Itu kalian berdua?
53
Bab 53. Rutinitas
54
Bab 54. perbaiki semuanya!
55
Bab 55. Luka masa lalu.
56
Bab 56. Deeptalk.
57
Bab 57. Insecure.
58
Bab 58.
59
Bab 59. Nasihat.
60
Bab 60. Batal
61
Bab 61. Bicara berdua.
62
Bab 62.
63
Bab 63.
64
Bab 64.
65
Bab 65. Cara sendiri
66
Bab 66. Di butik.
67
Bab 67.
68
Bab 68
69
Bab 69.Sangat cantik
70
Bab 70. one happy year of Leonel.
71
Bab 71. Spesial di Rooftop.
72
Bab 72.
73
Bab 73
74
Bab 74.
75
Bab 75.
76
Bab. 76
77
Bab 77. Malu
78
Bab 78. Special Moment.
79
Bab 79. Resepsi
80
Bab 80.
81
Bab 81. Uhukk!+
82
Bab 82.
83
Bab 83.
84
Bab 84
85
Bab 85.
86
Bab 86.
87
Bab 87.
88
Bab 88.
89
Bab 89.
90
Bab 90
91
Bab 91.
92
Bab 92.
93
Bab 93.
94
Bab 94. sebaik-baiknya berumahtangga adalah Komunikasi!
95
Bab 95. Nekat
96
Bab 96.
97
Bab 97.
98
Bab 98.Rumah sakit
99
Bab 99. Titip anak kita.
100
Bab 100. Langit abu-abu.
101
Bab 101. Intruksi
102
Bab 102. Arellio Bimantara [Epilog]
103
PROMOSI KARYA BARU.
104
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN CEO DINGIN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!