Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi

“Sayang… bangun! Aulia, bangun, Nak…”

Mama Kania menangis histeris di hadapan tubuh putrinya yang tergeletak bersimbah darah. Bukan hanya dari kepala, darah juga mengalir deras dari pangkal paha wanita itu.

“Tolong… tolong selamatkan putri saya!” pekiknya putus asa.

Beberapa orang yang berada di sekitar segera bergerak. Tubuh Aulia dibopong dengan hati-hati, dimasukkan ke dalam mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit.

Di sisi lain, beberapa warga menghadang pengemudi mobil yang menabrak Aulia, pria itu sempat berniat melarikan diri dari tanggung jawab.

“Cepat, Pak. Tolong selamatkan putri saya dan janinnya. Cepat, lajukan mobilnya!” desak Mama Kania dengan suara gemetar.

Di sampingnya, Jenar menangis sesenggukan. Gadis itu memalingkan wajah, tak sanggup melihat darah yang terus merembes dari tubuh Aulia.

“Iya, Bu. Saya sudah bawa secepat mungkin. Sebentar lagi sampai,” jawab pria itu sambil memegang kemudi erat.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit besar. Pria itu segera turun dan berlari masuk, memanggil dokter dan perawat. Sebuah brankar didorong keluar. Dengan cekatan, mereka memindai kondisi Aulia di dalam mobil, lalu memindahkan tubuhnya ke atas brankar.

“Apa yang terjadi?” tanya seorang dokter.

“Korban kecelakaan, Pak,” jawab pria itu singkat.

Mereka segera bergerak cepat menyusuri lorong. Tubuh Aulia didorong masuk ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan darurat.

Sementara di dalam ruang IGD Aulia masih ditangani, Mama Kania berdiri gelisah di depan pintu. Isaknya belum reda. Langkahnya mondar-mandir di lorong, seolah berharap gerakan itu mampu mengurangi sesak di dadanya.

Semua salahnya.

Andai tadi ia melarang Aulia ikut. Andai ia lebih tegas menahan wanita hamil itu tetap tinggal di rumah. Mungkin semuanya tak akan berakhir seperti ini. Mungkin Aulia sekarang sedang duduk santai, tersenyum kecil sambil mengajak janin di perutnya berbicara.

Jarum jam di dinding terasa bergerak sangat lambat. Mama Kania terus menatap pintu ruang IGD, menunggu, namun tak satu pun dokter keluar. Jenar beberapa kali memintanya duduk, menenangkan diri, tetapi wanita paruh baya itu tak sanggup diam.

...****************...

Langkah kaki tergesa terdengar di lorong.

Mama Kania menoleh. Adrian dan Arumi datang bersamaan. Seketika, jemarinya mengepal kuat.

“Ma, bagaimana Aulia?” tanya Adrian cemas.

“Iya, Kakak gimana, Ma?” sambung Arumi.

Plakkk!

Tamparan itu menggema di lorong rumah sakit. Kepala Arumi terhuyung ke samping, pipinya langsung memerah.

“Kakak?” suara Mama Kania bergetar menahan amarah. “Masih pantaskah kamu memanggilnya kakak, Arumi?”

“Mama…” desis Arumi pelan, matanya berkaca-kaca.

“Kenapa, Arumi?” bentak Mama Kania. “Kenapa kamu menghancurkan kakak kamu sendiri? Kenapa!”

Amarah yang sejak tadi dipendam akhirnya tumpah. Dadanya naik turun, tangannya gemetar. Ia marah, kecewa, dan hancur, menyadari bahwa putri yang ia lahirkan sendiri telah menjadi sumber luka terbesar bagi orang yang ia besarkan dengan kasih.

“Ma—”

“Diam! Kau!”

Mama Kania langsung menunjuk Adrian yang hendak membela Arumi. Tatapannya tajam, penuh amarah yang tak lagi terbendung.

“Kau pria brengsek!” bentaknya. “Kau menghancurkan kedua putriku. Semua karena kau!”

“Mama, bukan salah kami. Semua salah—”

“Semua salah siapa?” potong Mama Kania keras. “Salah Mama, begitu? Malu, Arumi!”

Ia kembali menatap putri bungsunya dengan mata merah dan tubuh gemetar.

“Pernah Mama mengajarkan kamu merebut suami kakakmu? Pernah?” suaranya meninggi. “Tidak! Tidak pernah!”

Dada Mama Kania naik turun. Air mata jatuh, bukan lagi sekadar sedih, melainkan kecewa yang dalam.

“Mama sangat malu, Arumi,” lanjutnya dengan suara bergetar. “Malu melahirkan anak yang tumbuh menjadi orang yang menghancurkan rumah tangga orang lain!”

“Bukan Arumi yang menghancurkan Kak Aulia,” isak Arumi terputus-putus. “Tapi pernikahan Kak Aulia dan Mas Adrian yang menghancurkan Arumi, Ma…”

Mama Kania menegang. “Apa maksudmu?”

“Iya,” lanjut Arumi dengan suara bergetar. “Pernikahan mereka yang menghancurkan Arumi. Karena sejak awal Mas Adrian itu milik Arumi, bukan Kak Aulia, Ma.” Tangannya memukul dadanya sendiri. “Semua salah Papa. Papa yang menikahkan Mas Adrian dengan Kak Aulia, padahal kedatangan Mas Adrian ke sana itu untuk Arumi. Arumi sakit, Ma… sakit hati.”

Ingatan itu seperti ditarik paksa ke permukaan. Hari ketika ayah sambungnya berbicara tentang pernikahan Aulia dengan pria pilihannya. Nama yang disebut adalah Adrian. Pria yang saat itu menjadi kekasih Arumi. Sejak detik itu, hatinya runtuh.

Mama Kania menatap bergantian Adrian dan Arumi. Wajahnya kaku. “Kalau begitu, kenapa kamu tidak bicara dari awal, Arumi? Kenapa kamu pendam sampai berakhir seperti ini?”

“Siapa yang berani membantah Papa, Ma?” balas Arumi cepat. “Siapa?”

Plak!

Plak!

Dua tamparan mendarat berturut-turut di pipi Arumi. Tubuh gadis itu kembali terhuyung, kepalanya menoleh ke samping. Mama Kania mematung, menatap tangannya sendiri yang masih gemetar, napasnya tersengal setelah tamparan keras itu.

“Kamu saja yang memilih diam. Jangan menyalahkan orang lain!” ujar Mama Kania tajam, suaranya dingin dan penuh tekanan.

Tatapannya kemudian beralih pada Adrian. Tangannya terangkat, menunjuk tanpa ragu.

“Kamu, Adrian. Jangan pernah berharap pernikahan kalian mendapat restu dari saya. Sekarang pulang. Pulang kalian berdua!” teriaknya, suaranya menggema di lorong rumah sakit.

“Ma… aku cuma mau tahu kondisi anak aku…” ucap Adrian lirih, setengah memohon.

Cuih!

Mama Kania meludah ke arah lantai di hadapannya. Wajahnya keras, matanya merah menahan amarah.

“Jangan pernah memanggilku Mama dengan mulut kotormu itu!” bentaknya. “Dan satu lagi. Kalau sampai janin dan Aulia kenapa-napa, saya akan menuntut kamu!”

Ia menatap Adrian tanpa berkedip, tak ada lagi sisa toleransi di wajahnya. Pria itu telah melampaui batas. Menghancurkan kepercayaan, menghancurkan keluarga, dan kini berani berdiri di hadapannya seolah masih punya hak.

Lorong itu kembali sunyi. Adrian dan Arumi terpaku, sementara Mama Kania berdiri tegak di depan ruang IGD, seolah menjadi benteng terakhir bagi putri yang tengah berjuang di balik pintu tertutup itu.

☘️

☘️

Sebelum Adrian benar-benar beranjak pergi, pintu ruang IGD terbuka dari dalam. Seorang dokter keluar, wajahnya serius.

“Keluarga pasien?” tanyanya.

“Saya ibunya, Dok. Bagaimana keadaan putri saya?” Mama Kania langsung maju selangkah. Suaranya bergetar, matanya menatap penuh harap ke wajah sang dokter.

Pria berjas putih itu menghela napas panjang, berat. Sebelum bicara, ia menatap satu per satu orang yang berdiri di hadapannya.

“Saya membawa dua kabar sekaligus, Bu,” ujarnya hati-hati. “Ada kabar baik dan ada kabar buruk. Ibu ingin mendengar yang mana lebih dulu?”

Jantung Mama Kania berdetak semakin cepat. Dua kabar. Baik dan buruk. Kenapa tak hanya kabar baik saja, pikirnya. Kenapa harus ada yang buruk. Tangannya dingin, berkeringat. Ia menggigit bibir bawah, mencoba menahan gemetar yang menjalar ke seluruh tubuh. Mulutnya kelu, tak sanggup segera menjawab.

“Katakan saja, Dok!” Adrian memotong cepat. “Saya suaminya!”

Mama Kania menoleh tajam ke arahnya, tetapi sang dokter sudah lebih dulu membuka suara.

“Kondisi pasien saat ini sudah cukup stabil,” ucapnya perlahan. “Nyawanya berhasil kami selamatkan. Dan tentang benturan di kepalanya cukup dalam, tapi sudah kami tangani dengan baik."

Napas Mama Kania terhembus kasar. Lututnya hampir lemas.

“Namun…”

Dokter itu berhenti sejenak.

Kata itu jatuh seperti beban berat di lorong rumah sakit.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

/Sob//Sob//Sob/ aku ngga terima kalau mereka berdua hidup bahagia/Curse//Curse//Curse//Curse/ aku teror author nya

2026-01-29

3

≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM

≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM

miskinkn adrian thor/Curse//Curse//Curse/ buat aulia bahagia/Curse//Curse//Curse//Curse/ gpp kl bayinya mati biar gk ada yg mengikat aulia dengan lelaki bejad itu/Curse//Curse//Curse//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/

2026-01-29

1

Sunaryati

Sunaryati

Syukur jika selamat mungkin bayinya tidak selamat. Setelah ini emak berharap Adrian dipecat dan Arini tidak bisa melanjutkan kuliah lagi serta hidup Adrian dan Arumi sengsara selain tidak direstui juga tidak diakui lagi sebagai anak , Adrian tak punya pekerjaan tetep itu baru adil bagi para pengkhianat

2026-01-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. keluar kota.
2 Bab 2. SAH
3 Bab 3. Pengkhianatan.
4 Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi
5 Bab 5. Emilia Maheswari
6 Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
7 Bab 7. surat cerai
8 Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
9 Bab 9. Nyaman.
10 Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
11 Bab 11. Batas sabar.
12 Bab 12. Usulan.
13 Bab 13. Setuju.
14 Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
15 Bab 15. Segalanya berubah.
16 Bab 16. Membiasakan diri.
17 Bab 17. Familiar.
18 Bab 18. Di Drop out.
19 Bab 19. Rencana
20 Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
21 Bab 21. Terpuruk.
22 Bab 22. Sesuatu yang Istimewa.
23 Kembali ke RUMAH.
24 Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
25 Bab 25. Rumah sesungguhnya...
26 Bab 26. Menarik!
27 Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!
28 Bab 28. Tidak untuk sekarang!
29 Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
30 Bab 30. Khawatir
31 Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
32 Bab 32. waktunya papi menemani mami
33 Bab 33. Berubah?
34 Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
35 Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
36 Bab 36. Negosiasi
37 Bab 37. Di usir lagi?
38 Bab 38. Apa kabar, Lia?
39 Bab 39. Menghadiri makan malam.
40 Bab 40.
41 Bab 41. Apa aku harus membencimu?
42 Bab 42. Ayo, selesai baik-baik, kak...
43 Bab 43. Cemburu?
44 Bab 44. Sleep call
45 Bab 45. Meminta hak.
46 Bab 46. Oliemera Entertainment.
47 Bab 47. Tidak ada yang gratis di dunia!
48 Bab 48. Weekend di taman kota.
49 Bab 49. Sangat Lancang!
50 Bab 50. Jangan tutup pintu rapat-rapat!
51 Bab 51. Kekacauan di lokasi Shooting.
52 Bab 52. Itu kalian berdua?
53 Bab 53. Rutinitas
54 Bab 54. perbaiki semuanya!
55 Bab 55. Luka masa lalu.
56 Bab 56. Deeptalk.
57 Bab 57. Insecure.
58 Bab 58.
59 Bab 59. Nasihat.
60 Bab 60. Batal
61 Bab 61. Bicara berdua.
62 Bab 62.
63 Bab 63.
64 Bab 64.
65 Bab 65. Cara sendiri
66 Bab 66. Di butik.
67 Bab 67.
68 Bab 68
69 Bab 69.Sangat cantik
70 Bab 70. one happy year of Leonel.
71 Bab 71. Spesial di Rooftop.
72 Bab 72.
73 Bab 73
74 Bab 74.
75 Bab 75.
76 Bab. 76
77 Bab 77. Malu
78 Bab 78. Special Moment.
79 Bab 79. Resepsi
80 Bab 80.
81 Bab 81. Uhukk!+
82 Bab 82.
83 Bab 83.
84 Bab 84
85 Bab 85.
86 Bab 86.
87 Bab 87.
88 Bab 88.
89 Bab 89.
90 Bab 90
91 Bab 91.
92 Bab 92.
93 Bab 93.
94 Bab 94. sebaik-baiknya berumahtangga adalah Komunikasi!
95 Bab 95. Nekat
96 Bab 96.
97 Bab 97.
98 Bab 98.Rumah sakit
99 Bab 99. Titip anak kita.
100 Bab 100. Langit abu-abu.
101 Bab 101. Intruksi
102 Bab 102. Arellio Bimantara [Epilog]
103 PROMOSI KARYA BARU.
104 TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN CEO DINGIN
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. keluar kota.
2
Bab 2. SAH
3
Bab 3. Pengkhianatan.
4
Bab 4. Aku yang di hancurkan! ~Arumi
5
Bab 5. Emilia Maheswari
6
Bab 6. Tidak sanggup kehilangan
7
Bab 7. surat cerai
8
Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
9
Bab 9. Nyaman.
10
Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
11
Bab 11. Batas sabar.
12
Bab 12. Usulan.
13
Bab 13. Setuju.
14
Bab 14. Perhatian yang berlebihan.
15
Bab 15. Segalanya berubah.
16
Bab 16. Membiasakan diri.
17
Bab 17. Familiar.
18
Bab 18. Di Drop out.
19
Bab 19. Rencana
20
Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
21
Bab 21. Terpuruk.
22
Bab 22. Sesuatu yang Istimewa.
23
Kembali ke RUMAH.
24
Bab 24. Aku tidak harus terpuruk terus, kan?
25
Bab 25. Rumah sesungguhnya...
26
Bab 26. Menarik!
27
Bab 27. Aku tidak akan pernah lupa!
28
Bab 28. Tidak untuk sekarang!
29
Bab 29. Di berhentikan secara tidak terhormat.
30
Bab 30. Khawatir
31
Bab 31. Kamu sudah menikah lagi?
32
Bab 32. waktunya papi menemani mami
33
Bab 33. Berubah?
34
Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
35
Bab 35. Saya sangat menyukai rumahnya.
36
Bab 36. Negosiasi
37
Bab 37. Di usir lagi?
38
Bab 38. Apa kabar, Lia?
39
Bab 39. Menghadiri makan malam.
40
Bab 40.
41
Bab 41. Apa aku harus membencimu?
42
Bab 42. Ayo, selesai baik-baik, kak...
43
Bab 43. Cemburu?
44
Bab 44. Sleep call
45
Bab 45. Meminta hak.
46
Bab 46. Oliemera Entertainment.
47
Bab 47. Tidak ada yang gratis di dunia!
48
Bab 48. Weekend di taman kota.
49
Bab 49. Sangat Lancang!
50
Bab 50. Jangan tutup pintu rapat-rapat!
51
Bab 51. Kekacauan di lokasi Shooting.
52
Bab 52. Itu kalian berdua?
53
Bab 53. Rutinitas
54
Bab 54. perbaiki semuanya!
55
Bab 55. Luka masa lalu.
56
Bab 56. Deeptalk.
57
Bab 57. Insecure.
58
Bab 58.
59
Bab 59. Nasihat.
60
Bab 60. Batal
61
Bab 61. Bicara berdua.
62
Bab 62.
63
Bab 63.
64
Bab 64.
65
Bab 65. Cara sendiri
66
Bab 66. Di butik.
67
Bab 67.
68
Bab 68
69
Bab 69.Sangat cantik
70
Bab 70. one happy year of Leonel.
71
Bab 71. Spesial di Rooftop.
72
Bab 72.
73
Bab 73
74
Bab 74.
75
Bab 75.
76
Bab. 76
77
Bab 77. Malu
78
Bab 78. Special Moment.
79
Bab 79. Resepsi
80
Bab 80.
81
Bab 81. Uhukk!+
82
Bab 82.
83
Bab 83.
84
Bab 84
85
Bab 85.
86
Bab 86.
87
Bab 87.
88
Bab 88.
89
Bab 89.
90
Bab 90
91
Bab 91.
92
Bab 92.
93
Bab 93.
94
Bab 94. sebaik-baiknya berumahtangga adalah Komunikasi!
95
Bab 95. Nekat
96
Bab 96.
97
Bab 97.
98
Bab 98.Rumah sakit
99
Bab 99. Titip anak kita.
100
Bab 100. Langit abu-abu.
101
Bab 101. Intruksi
102
Bab 102. Arellio Bimantara [Epilog]
103
PROMOSI KARYA BARU.
104
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN CEO DINGIN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!