Arya adalah pacar Mila waktu SMA. Lupakan motor jangkrik bututnya yang terlihat tidak serasi dengan wajahnya yang seperti model Armani. Arya punya kualitas yang membuat gadis-gadis di SMA-nya dulu bahkan rela buka baju untuk jadi teman kencannya.
Dia ganteng, populer, kapten tim basket, dan ketua OSIS. Kalian tidak perlu ragukan selera Mila pada laki-laki.
Yang perlu diragukan adalah kewarasannya waktu itu.
Siapa yang menyatakan cinta pada senior secara frontal di lapangan basket? Di depan umum? Di hari kelima masuk sekolah?
Dia adalah Camila Hapsari yang sedang mabuk kepayang.
Mila ingat betul hari itu. Hari di mana seluruh SMA 15 Jakarta menganggapnya sebagai anomali sosial yang perlu dihindari.
Dia belum seminggu jadi anak baru. Belum seminggu mengenal koridor-koridor gedung. Belum seminggu hafal mana kantin yang enak. Dan belum seminggu tau siapa saja senior yang off-limits.
Dan Aryasthana Pradipta? Oh, dia The Most Off-Limits Guy dari semua senior yang ada.
Tapi entah kenapa, mungkin karena estrogen dan dopamin remaja yang sedang naik-naiknya, Mila menjadi nekat.
Ia tulis surat cinta pakai kertas merah muda dan gel pen dengan warna senada yang baru dibelinya dari Gramedia, lalu ia serahkan benda itu saat Arya sedang latihan basket.
Mila kira itu ide brilian.
But I give you spoiler alert : It was NOT a brilliant idea.
Karena dua minggu setelahnya, hidup Mila berubah jadi mimpi buruk.
Dia jadi bahan gosip dari kelas 10 sampai 12. Nama "Mila Si Norak" jadi legenda sekolah. Gadis-gadis senior memandangnya seperti serangga yang perlu diinjak. Bisik-bisik di koridor tidak pernah berhenti. Mila bahkan sempat melihat tulisan "LONTE" di meja kelasnya.
Yang paling parah? Vanya dan geng-nya.
Vanya adalah siswi kelas 11 yang pernah naksir Arya tapi ditolak. Dan sekarang dia punya misi pribadi untuk membuat hidup Mila jadi sengsara.
Suatu sore, Mila sedang jalan sendirian di koridor sekolah. Menunggu supir papa yang akan menjemputnya. Dia sudah lelah seharian, hanya ingin cepat pulang, tapi langkahnya terhenti saat lima siluet menghalangi jalannya di belakang gedung.
Vanya dan empat temannya.
"Lo pikir lo siapa?" Vanya mendorong bahu Mila dengan keras. "Baru sebulan masuk udah berani ngejar-ngejar senior? Malu-maluin lo!"
Mila mundur selangkah. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetar, tapi dia coba tetep tenang. "A-aku cuma kirim surat..."
"Cuma kirim surat?" Vanya tertawa sinis. "Lo bikin heboh satu sekolah! Yang lo deketin Arya lagi! Ke-PD-an lo! Selera lo ketinggian!"
Mila merasakan punggungnya menyentuh dinding. Matanya mulai panas. Dia tidak ingin menangis. Tidak di depan orang-orang ini.
Tapi air mata itu keras kepala, mereka sudah terjun bebas dari pipinya.
"Maaf..." bisiknya pelan.
"Maaf doang cukup? Besok lo harus--"
"Harus apa?"
Suara itu datang dari belakang Vanya. Dingin. Tegas. Familiar.
Semua kepala menoleh. Seorang laki-laki berdiri di ujung koridor dengan wajah datar, tapi matanya tajam menatap kelima gadis itu.
Mila hampir tidak percaya, tapi yang ia lihat adalah Arya.
"Kak Arya..." suara Vanya langsung berubah jadi manja. "Kami cuma ngingetin dia aja kok. Dia kan--"
"Dia kenapa? Kirim surat ke gue?" Arya melangkah mendekat, posisinya kini menghalangi Mila dari kelima gadis itu. "Terus kenapa? Emang lo punya hak buat ngatur siapa yang boleh atau nggak boleh suka sama gue?"
Hening.
Tidak ada yang berani menjawab.
"Kalau bully anak baru bisa diskors... kalian tau kan?"
Wajah mereka pucat seketika.
"Kak, kok ngomongnya gitu..."
"Pergi sana."
Kelima gadis itu saling pandang, lalu pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Arya dan Mila sendirian.
Mila masih berdiri menempel di dinding, wajahnya merah dan air matanya sudah bercampur dengan ingus yang terus ia seka dengan punggung tangannya.
"Maaf kak... Aku nggak bermaksud bikin masalah..."
Arya melangkah mendekat, lalu memandangi wajah Mila. Satu jari telunjuknya mendarat di kening gadis itu, sedetik kemudian sentilnya menyusul.
"Aw!" Tidak sakit, tapi cukup membuatnya terkejut.
"Lagian lo berani banget nembak gue depan umum. Lo nggak ngerti yang namanya survival ya?"
Bibir Mila bergetar. Dia menahan tangisnya yang siap pecah.
"Udah jangan nangis. Gue harus apa biar lo berhenti nangis?"
Mila menggeleng cepat sambil mengusap pipinya dengan kasar.
Hening sejenak.
Kemudian Arya melakukan sesuatu yang Mila tidak pernah bayangkan akan terjadi, bahkan di delusi paling liarnya sekalipun.
Arya meraih dagu Mila, membuat gadis itu mendongak menatapnya.
"Kalo kita pacaran aja gimana?"
Dunia Mila seakan berhenti berputar.
Angin berhembus pelan. Kepak burung gagak di udara sepertinya ikut terjeda. Waktu seakan berhenti mendadak.
"...apa?"
"Lo bilang suka sama gue kan? Sekarang gue terima. Lo jadi pacar gue. Biar nggak ada yang berani ganggu lo lagi."
Neuron otak Mila mendadak hilang fungsi. Wajahnya merah total. Dari ujung telinga sampai ke leher. Nafasnya sesak. Dia yakin, 100% yakin, ini halusinasi. Atau mimpi. Atau mungkin dia sudah mati karena jantungan dan sekarang sedang di surga. Oke itu berlebihan, tapi sangat menggambarkan keterkejutannya.
"Serius?"
Arya mengangguk. Santai. Seperti baru menawari permen.
Dan kemudian...
"ALHAMDULILLAH YA ALLAH!!!"
Pekikan Mila menggema di koridor. Suaranya begitu kencang, begitu histeris, sampai Arya refleks mundur dua langkah dan menutup telinganya. Beberapa siswa yang kebetulan lewat langsung menoleh dengan ekspresi bingung.
Tapi Mila tidak peduli. Dia meloncat kegirangan seperti bocah. Air matanya berubah dari air mata sedih menjadi air mata bahagia dalam beberapa detik.
"BENERAN KAK?!"
Arya cuma mengangguk lemah. Mungkin menyesal telah menawari manusia primitif ini jadi pacarnya.
Tapi peduli setan, Mila tidak ambil pusing. Yang jelas sejak hari itu, Camila resmi jadi pacar kapten basket sekaligus ketua OSIS yang jadi idola sekolah. Dan hidupnya berubah 180 derajat.
Dari "Mila Si Nekat" jadi "Mila pacarnya Arya". Dari di-bully jadi di-respect (atau setidaknya, tidak ada yang berani mengganggunya lagi). Dari jalan sendiri di koridor jadi jalan berdampingan dengan cowok paling populer se-SMA 15.
Kedengarannya seperti cerita Cinderella, kan?
Spoiler alert lagi : It didn't last.
Karena dua tahun kemudian, mereka putus.
Dan sekarang, sebelas tahun setelah terakhir kali mereka bertemu, takdir mempertemukan mereka. Di lobi hotel. Dengan cara yang super random.
Mila menatap langit-langit kamarnya malam itu, mencoba memproses semua yang terjadi hari ini.
Arya.
Sampai kemarin ia masih menyumpahi kesialan untuk pria itu. Tapi melihatnya baik-baik saja seperti tadi, anehnya... Mila merasa lega. Setidaknya dia masih hidup.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
jadi ke inget sama temen sekolah ku dulu yang kelakuan nya seperti ini.
2026-07-19
0
Aegis
gampangan juga ya si mila🤭
2026-06-30
0
Aegis
di kehidupan nyata terutama di indo jarang banget ada yang ngejar cowok duluan, pada jaim jaim🤣
2026-06-30
0