Bos Baru

Senin Pagi - Kantor HRD

"Jadi.. mulai hari ini kamu dipindah jadi sekretaris General Manager ya, Mil."

Mila terdiam, memproses kalimat yang baru saja keluar dari mulut Bu Cindy, kepala HRD. Tangannya yang sedang memegang gelas air mineral berhenti di udara.

"Maaf, Bu... kenapa saya harus pindah? Apa saya buat kesalahan?"

Bu Cindy tersenyum. Senyum profesional yang terlihat terlalu sempurna untuk bisa disebut tulus. "Bukan gitu, Mila. Justru sebaliknya. Kamu dinilai sangat kompeten."

Mila menunggu kelanjutan kalimat itu, tapi dadanya sudah lebih dulu mengeras.

"Pak Lukman, Direktur Utama kita yang baru, ingin Mbak Gisella tetap mendampingi beliau. Mereka sudah kerja sama lama, jadi… chemistry-nya sudah terbentuk." Bu Cindy berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih formal. "Sementara Pak Arya, General Manager yang baru, butuh sekretaris yang benar-benar paham blueprint dan kultur perusahaan kita. Dan itu kamu."

Chemistry?

Mila hampir tertawa.

Semua orang di kantor tau, chemistry antara Lukman dan Gisella tidak berhenti di ruang kerja.

"Lagian," lanjut Bu Cindy, "ini kesempatan bagus untuk kamu. Bos barumu nanti bukan orang sembarangan, loh. Dia pernah kerja di McKinsey, terus sempat di Unilever Global juga. Pengalamannya nggak main-main. Kamu bisa banyak belajar."

Mila menggigit bibirnya.

Ia tau, protes hanya akan membuatnya terlihat emosional. Keputusan ini bukan diskusi, hanya pemberitahuan. Ia hanya figuran yang dipindahkan agar si Direktur Utama bisa terus tidur dengan sekretarisnya tanpa masalah.

"Gaji saya gimana, Bu?" Mila mencondongkan tubuhnya. Rasa panik mulai menjalar. Mengingat secara struktur dan grade, sekretaris direksi memang satu tingkat lebih tinggi dibanding sekretaris eksekutif manajerial.

Ini penting. Untuk posisi mungkin Mila bisa mengalah, tapi kalau menyangkut gaji, ia tidak bisa menoleransi kekurangan satu rupiah-pun. Perut tidak kenal diskusi, dia cuma tau minta jatah makan.

"Soal itu kamu nggak perlu khawatir. Perubahan posisi ini nggak menurunkan grade atau kompensasi kamu. Gaji dan benefit tetap mengikuti struktur sebelumnya." Bu Cindy menenangkan.

Mila mendesah lega. "Baik, Bu. Kapan saya mulai?"

"Hari ini juga. Ruanganmu sudah disiapkan di lantai 35, sebelah ruang GM."

Kalimat terakhir itu memastikan satu hal. Keputusan ini jelas bukan mendadak. Hanya saja, Mila orang terakhir yang dikabari.

.

.

Mila mengemas barang-barangnya dengan perasaan dongkol. Lima tahun bekerja di lantai direksi, dan hasilnya? Dipindah seperti furniture yang bisa dibuang begitu saja.

Lalu saat jam makan siang, Nina datang dengan wajah iba dan membantunya membawa kardus menuju tempat barunya.

"Gue tau lo kesel. Tapi siapa tau ini lebih baik untuk lo."

"Lebih baik apanya?" Mila mendengus. "Gue kehilangan posisi cuma supaya Lukman bisa tidur sama selingkuhannya tanpa ribet."

"Ssshh!" Nina menoleh was-was. "Pelanin suaranya! Lo mau dapet masalah?"

Mila berdecak kesal.

Saat sampai di lantai 35, tempat itu terasa berbeda. Lebih hidup. Lebih berisik. Diskusi terbuka, suara telepon, orang lalu-lalang. Jauh dari lantai direksi yang dingin dan penuh formalitas.

"Ruangannya di situ ya, Mbak." Dira (staff admin) menunjuk satu ruangan di sebelah ruangan kaca besar milik General Manager.

"Oke, thanks Ra." Mila mengangguk lemas.

Sesuai dugaan, ruangan itu memang lebih kecil dari ruangannya dulu. Tapi cukup nyaman. Meja kerja kayu mahoni menghadap jendela dengan pemandangan kota Jakarta. Di atas meja, sudah ada table tag bertuliskan namanya.

Camila Hapsari - Executive Secretary to GM.

Mila menghela napas, lalu pandangannya bergeser ke pintu di sebelahnya.

Tertempel name plate tembaga bertuliskan :

Aryasthana Pradipta - General Manager

Mila terpaku.

Aryasthana Pradipta?

Tidak mungkin. Indonesia punya banyak orang dengan nama itu kan??

Tapi sayang sungguh sayang jawabannya adalah TIDAK.

"Ini foto Pak Arya ya, Mbak." Dira memecah lamunannya. "Jaga-jaga biar kalau Beliau masuk besok, Mbak Mila bisa sambut," gadis itu menyerahkan sebuah tablet.

Mila meraih tablet dari Dira dengan tangan gemetar.

Kemudian dunianya runtuh seketika.

Di layar itu, tersenyum seorang pria dalam setelan jas abu-abu gelap. Rahang tegas, mata tajam, rambut dengan pomade anti badai tersisir rapi ke samping.

Arya yang ia temui di lobi hotel.

Arya mantan pacarnya yang menghilang sebelas tahun lalu tanpa penjelasan.

"Mbak? Kok bengong?"

Mila tersadar, ia langsung mengembalikan tablet pada Dira.

"I-iya, oke. Makasih."

Begitu Dira pergi, Mila ambruk di kursinya.

Bagaimana bisa hidupnya jadi drama seperti ini? Atau komedi? Atau tragedi? Entahlah ia tidak tau.

.

.

Keesokan harinya, Mila benar-benar harus menyeret kakinya untuk bisa sampai di kantor. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini. Hari dimana ia harus menghadapi bencana.

Pagi itu, Mila masih sibuk menyusun ordner di bawah meja saat suara ringan seorang pria memecah fokusnya.

"Permisi, kamu sekretaris saya ya?"

Mila refleks berdiri.

Di hadapannya seorang pria tinggi, dengan kulit kecoklatan, kemeja biru langit dilipat sampai siku tanpa dasi, berdiri dengan tangan di pinggang. Senyumnya terlihat santai, tapi matanya nakal seperti mengejek.

"Iya, betul, Pak." Mila langsung berdiri.

Hari sial apa ini?

Dira bilang manusia ini baru akan muncul di kantor jam 9. Mila bahkan belum sempat sarapan sekarang.

"Wah, berarti bener. Jadi ini kamu."

Mila hanya bisa menatapnya. Napasnya sempat berhenti sejenak.

"Kamu masih hutang uang laundry ke saya."

Mila meringis dengan wajah gelisah. "Eh... iya. Nanti saya ganti Pak."

"Nggak usah. Receh kok itu." Arya menyeringai, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Ya ampun. Kok ganteng?

Di saat seperti ini bisa-bisanya Mila membatinkan pikiran tolol seperti itu. Tanpa sadar ia menggeleng pelan seraya Arya membalik tubuhnya, berjalan masuk ke ruangannya.

Tentu saja ini tidak akan menjadi kisah romantis "Cinta Lama Bersemi Kembali Dengan Bos Seksi", karena perasaan Mila mengatakan bahwa setelah ini hidupnya tidak akan mudah.

...***...

Hari berikutnya membuktikan dugaan Mila.

Suara DING dari lift menandai datangnya jam sibuk di lantai 35. Mila sudah tiba lebih awal dari biasa. Mungkin karena gugup, mungkin karena tidak ingin berhadapan dengan bos barunya tanpa persiapan.

Tapi sialnya si bos sudah datang lebih dulu. Arya berdiri di depan jendela sambil memandangi Jakarta dari ketinggian. Punggungnya yang berotot, tersembunyi di balik kemeja tipisnya yang tampak proporsional dengan kaki jenjangnya.

Mila berdecih, nyaris bersuara.

Pose apa itu? Apa ini yang orang-orang bilang main character syndrome? Dia mungkin sengaja mau kelihatan sok keren seperti seorang tokoh utama yang disorot dari belakang.

"Pagi," katanya tanpa menoleh. "Kamu telat. Saya dateng duluan."

Mila berjalan pelan lalu menaruh tasnya di atas meja. "Jam kerja mulai pukul delapan Pak. Sekarang masih tujuh empat lima. Secara teknis saya nggak terlambat."

Arya menoleh, sudut bibirnya terangkat. "Kebiasaan ngejawabnya masih nggak berubah."

"Saya jawab pakai data. Lagian Bapak nggak bosen apa nginget-nginget masa lalu terus?" Mila duduk dan membuka laptop.

Arya meletakkan cangkir di meja, lalu duduk di kursinya. "Kamu pikir saya lagi nostalgia? Ini performance review."

Mila berhenti mengetik. Kejengkelan membuatnya lupa bahwa orang ini sekarang adalah bosnya.

"Bukan soal kamu dateng jam berapa. Tapi soal cara kamu menyikapi situasi." lanjutnya. "Saya nggak butuh orang yang cuma benar secara teknis, saya butuh orang yang paham konteks. Kadang lima belas menit itu bukan soal jam, tapi soal kesiapan."

Arya bersandar di kursinya, lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Kamu pintar, itu saya nggak ragu. Tapi kamu punya kecenderungan defensif. Setiap komentar kamu tanggapi seperti debat. Di level staff itu kelihatan kritis. Di level yang lebih tinggi, itu bisa terbaca sulit diarahkan.”

Mati lah.

Mila meneguk ludahnya sendiri.

Apa yang yang harus ia katakan di situasi seperti ini? Dia tidak ingin bonus tahunannya dipotong hanya karena ingin adu ego dengan mantan pacarnya yang sekarang jadi bosnya.

Tapi belum sempat ia membuka mulut, Arya sudah bersuara lagi.

"Jadwal saya hari ini?"

Mila langsung berdiri dari tempatnya, membawa tablet dan berjalan menuju meja Arya. "Rapat internal divisi operasional jam sepuluh, presentasi vendor baru jam satu, dan ada telepon konferensi dengan tim Singapura jam empat. Semua sudah saya masukkan ke kalender beserta dokumen pendukungnya, Pak."

Arya menggulir layar sebentar. "Rapi."

Lidah Mila sudah sangat gatal untuk menyahuti Arya dengan bilang itu adalah bare minimun untuk pekerjaan ini. Terlebih ia adalah mantan sekretaris Direktur. Menjadi sekretarisnya yang cuma level manager tidak akan membuat kualitasnya ikut turun. Tapi cepat-cepat ia gigit lidahnya. Resikonya terlalu besar.

Sebagai gantinya ia tersenyum manis dan bertanya, "Bapak sudah sarapan? Mau saya belikan makanan?"

Arya melirik jam tangannya lalu menjawab. "Kopi aja."

"Kopi hitam dengan satu setengah sendok teh gula?"

Uups, kalimat itu keluar otomatis.

"Masih ingat, ternyata." Arya mengulum senyum.

Mila sudah tidak menghitung berapa kali ia meneguk ludahnya sendiri pagi ini.

"Besok saya mau sarapan di kantor. Roti nggak masalah. Tapi tolong diangetin ya."

"Baik, Pak." jawab Mila.

Lalu ia cepat-cepat berbalik menuju ke pantry untuk membuat kopi yang dipesan Arya.

Ya ampun. Rasanya Mila tidak sanggup kalau harus menghadapi power play ini setiap hari. Tapi ia tidak ingin jadi bulan-bulanan Arya tanpa perlawanan.

...***...

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Kayaknya bakal bau² CeLeBeK alias CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)😁😁😁

Lagian yang masih jadi rahasia apa alasan dulu Arya pergi ninggalin Mila tanpa kejelasan dan ketemu lagi kayak ga punya salah sama sekali... Hmmm, sebenarnya yang salah siapa.🤔

2026-08-05

0

MARDONI

MARDONI

Milaaaa aku ikut kesel tapi juga gemes sama dia! Lima tahun kerja terus dipindah seenaknya, tapi eh ketemu Arya, mantan yang hilang 9 tahun, duh jantung aku loncat-loncat Apalagi pas Arya masih ingat detail kopi hitamnya.

2026-02-26

0

Serena Khanza

Serena Khanza

bagus thor tapi kok cuma bab 3 bab 4 nya mana thor 😭😭

2026-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!