"Gue benci banget sama dia!" Mila menusuk-nusuk nasi gorengnya dengan garpu seperti seorang psycho.
Saat ini ia sedang makan siang berdua dengan Nina di kantin kantor.
"Belom sebulan loh, Mil. Kenapa sih? Emang sejahat itu?" Nina menyeruput jus jeruknya sambil menahan senyum.
"Orang-orang nggak akan percaya kalo gue bilang dia jahat! Apalagi kalo liat tampang blo'on dan sok polosnya itu!" Dahi Mila sampai berkerut-kerut saat menggerutu.
"Emang dia ngapain?"
"Hari pertama dia bilang mau roti isi yang diangetin, gue udah siapin, malah dia bilang nggak suka. Hari kedua dia suruh gue beli sandwich di Golden Crust. Tokonya kan jauh Nin! 20 menit jalan kaki bolak-balik! Hari ketiga dia panggil gue, gue tunggu hampir setengah jam, eh ternyata cuma mau bilang dia dipanggil Dirut. Setengah jam, loh! Buat ngomong satu kalimat nggak penting!" Mila melempar garpunya ke piring dengan bunyi KLENTANG yang cukup keras.
"Oke, itu annoying," Nina mengangguk. "Tapi siapa tau dia emang lupa--"
"Masih ada yang lebih nyebelin." potong Mila, suaranya lebih tinggi, "Tadi dia suruh gue scan dokumen tebel banget. Lima puluh halaman, Nin! Tangan sampe pegel, mata perih, eh ternyata dia udah punya soft copy-nya! Udah dikasih duluan sama Dira katanya!"
Nina meringis. "Emang kampret sih."
"Monyet kan?!" Mila bersandar di kursi dengan wajah frustrasi. "Gue nggak ngerti dia emang pelupa atau sengaja jahilin gue."
"Mungkin dia masih adaptasi--"
"Adaptasi my ass!"
Nina terkikik geli melihat bibir manyun Mila. Tapi sebelum dia bisa menjawab, sebuah suara perempuan dari meja belakang -agak nyaring, agak girang- mencuri perhatian mereka.
"Lo udah liat GM baru belom?"
Suara itu milik Gisella.
Mila dan Nina saling pandang, lalu secara refleks sedikit memperlambat gerakan makan mereka. Telinga langsung menajam.
"Yang mana?" tanya Gina, sekretaris Direktur Keuangan
"Aryasthana Pradipta. Namanya aja ganteng kan? Kemarin dia dateng ke ruangan Pak Lukman, lewat depan gue. I'm not even exaggerating, cakep gila, sist! Sumpah. Kayaknya single, masih muda banget soalnya."
Mila menahan muntah mendengar percakapan mereka.
"Tau dari mana lo single?" Gina terkikik pelan.
"Nggak pake cincin. Gue observant banget soal ginian." Gisella ikut tertawa. "It's giving eligible bachelor energy, you know? Single, ganteng, top executive. The whole package literally."
Gina ikut tertawa bersamanya. "By the way--" Gina memberi kode halus pada Gisella bahwa ada orang lain yang mungkin mendengar percakapan mereka.
Hening sejenak.
Mila bisa merasakan pandangan dua perempuan itu menyerong ke arah mejanya.
Gisella tertawa, sedikit dipaksakan, sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Oh... ada Mila ya? Lucky you, tiap hari dapet free eye candy."
Mila tersenyum manis sambil menoleh ke meja belakang. "Hehe. Iya nih. Mending liat eye candy kan daripada mikirin jabatan yang hilang gara-gara kurang chemistry sama bos."
Nina hampir tersedak jusnya.
Gisella terdiam. Gina juga.
Lalu tidak sampai lima detik mereka langsung berdiri membawa nampannya. Pasti merasa tidak nyaman dengan sarkasme Mila pada Gisella yang terang-terangan.
"Kami duluan ya." Kata Gisella sambil lalu dengan wajah masam.
Nina menatap Mila dengan tatapan kagum campur ngeri. "Mulut lo ya! Kalo dia ngadu sama Pak Lukman gimana?"
"Biarin aja. Perusahaan ini bukan punya gadunnya kok." sahut Mila sambil melanjutkan makan nasi gorengnya dengan wajah kesal.
.
.
Setelah makan siang dengan Nina, Mila berencana ke toilet sebentar sebelum kembali ke lantai operasional. Tapi saat ia hampir sampai di depan pintu toilet, ia mendengar suara-suara familiar dari dalam.
Suara Gisella dan Gina. Lagi.
"Kalo dipikir-pikir Mila hidupnya hoki banget ya. Dapet bos ganteng-ganteng mulu. Kemarin Pak Rendra, sekarang Pak Arya yang kata lo 'the whole package' itu." Ujar Gina.
"Sure, she's lucky. But let's be real. Dia cuma lulusan D3, language skills juga cuma Inggris, itu juga pas-pasan. That's why sekarang turun jadi sekretaris GM. Pak Lukman mana mau. Dia butuh orang yang lebih qualified."
Mila berhenti di tempat.
"Iya sih sebenernya." Gina tertawa cekikikan.
"Plus, Pak Lukman butuh orang yang udah nyaman kerja bareng dia. Chemistry memang penting, tau kan?" Nada suara Gisella penuh implikasi. "Anyway, mending dia stay di level GM aja. Sekretaris direksi posisinya kan lebih... exposed."
"Exposed gimana maksud lo?"
"Ya tau lah. Perempuan kayak dia, ambisius, tapi agak desperate. Kadang suka nyoba cara-cara nggak bener untuk naik kelas." Gisella tertawa pelan. "Gue sih nggak nge-judge ya. Tapi hati-hati aja. Takutnya dia nyoba deketin Pak Arya buat hidup lebih nyaman."
Darah Mila langsung mendidih.
Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia ingin sekali membanting pintu toilet itu dan langsung mendamprat Gisella, tapi seseorang mengetuk punggungnya dengan jari telunjuk.
Mila menarik napas, lalu berbalik di tengah emosi yang hampir meledak.
Tapi saat ia berbalik...
"Whoa--" Arya memundurkan tubuhnya selangkah karena hampir tertabrak oleh Mila.
Pria itu berdiri di belakangnya dengan tangan kiri memegang cone es krim coklat, mata menatapnya dengan ekspresi tolol yang beberapa hari ini menjadi favoritnya.
"Mau nabrak lagi?" bisiknya pelan, bibirnya melengkung ke bawah.
Mila mundur selangkah, wajahnya langsung memerah, entah karena malu atau kesal. "Pak--"
"Pernah denger mitos ini nggak? Katanya orang yang suka nguping telinganya bisa conge'an loh. " kata Arya sambil menjilat es krimnya.
"Adanya bintitan kalo ngintip." Mila melirik jengkel.
"Kuping conge'an kalo nguping, juga ada." kedua alis Arya terangkat tinggi.
Belum sempat Mila mendengus, pintu toilet terbuka.
Gisella dan Gina keluar, masih tertawa kecil sambil sibuk dengan ponsel mereka. Tapi begitu melihat Arya, mereka langsung tersentak, ekspresi mereka berubah seketika.
"Oh, Pak Arya!" Gisella langsung pasang senyum manis, merapikan rambutnya dengan gerakan refleks.
"Hai," sapa Arya ringan.
"Lagi istirahat, Pak?" Gina mencoba terdengar kasual.
"Iya nih." Arya melangkah maju, berjalan sejajar dengan mereka. "Kalian juga lagi istirahat?"
"Iya, Pak. Habis makan siang--" Gisella berjalan mundur pelan sambil tetap menatap Arya, mencoba menjaga percakapan.
"Oh iya, Mbak Gisella... nanti sore ada meeting koordinasi divisi kan? Jangan lupa bawa laporan kuartal kemarin ya."
"Iya, Pak. Siap."
"Yaudah saya duluan ya." Arya mengangguk, lalu dia melangkah maju hendak melewati Gisella, tapi kakinya tiba-tiba tersangkut kaki Gisella yang sedang mundur gugup.
"Wah--" Tubuh Arya sempat oleng ke depan. Tangan kirinya yang memegang es krim terayun ke samping, dan cone es krim itu...
Bluupp.
Jatuh tepat ke blazer putih Gisella.
Noda coklat meleleh dari bahu kanan sampai dada. Es krim coklat itu terlihat lengket, basah, dan menjijikkan di atas blazer Gisella.
"AAAHHH!" teriak Gisella histeris sambil melompat mundur.
"Astaga! Maaf banget, Mbak!" Arya langsung pasang ekspresi shock total. Mata melebar, mulut terbuka sedikit, tangan kanan terangkat seperti mau membantu, tapi bingung karena noda itu mengenai bagian dada.
"Kaki saya kesangkut! Nggak sengaja!"
Gisella menatap blazernya dengan wajah horor. Gina langsung bantu mengelap pakai tisu, tapi itu justru semakin membuat noda menyebar ke mana-mana.
"Aduh gimana nih..." Arya menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi bersalah yang entah kenapa terlihat terlalu polos. "Blazer Mbak pasti mahal ya..."
"I-ini... ini blazer baru, Pak..." suara Gisella bergetar, antara mau marah atau menangis.
"Waduh... maaf banget ya, Mbak." Arya langsung mengeluarkan ponsel dari saku dengan cepat. "Saya transfer biaya laundry sekarang ya. Atau beli baru aja sekalian? Berapa kira-kira? Lima ratus ribu cukup?"
Gisella cuma bisa mengangguk lemah dengan wajah merah padam. "I-iya, Pak... makasih..."
"Oke, nanti saya transfer. Kirim nomor rekeningnya ke Mila ya." Arya mengangguk dengan senyum ramah. Lalu dia melirik Gina. "Kamu juga hati-hati kalau jalan di koridor. Sempit soalnya. Bahaya kalau nabrak."
Gina langsung mengangguk cepat, tidak mampu bicara apa-apa.
Gisella berbalik masuk ke toilet dengan terburu-buru, diikuti Gina yang menahan tawa.
Begitu pintu toilet tertutup, Arya berjalan pergi dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Di belakang mereka, Mila memandangi Arya dengan mata menyipit.
Tersandung kaki sendiri? Itu bukan gayanya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
MARDONI
HAHAHA sumpah adegan es krim ini puas banget bacanya 🤣👏 karma datangnya cepet dan elegan! Dari tadi Gisella ngomong di belakang, eh lima menit kemudian langsung dapet “berkat coklat” di blazer putihnya 💀 tapi yang paling mencurigakan itu Arya… polos iya, tapi rasanya terlalu kebetulan deh 👀
2026-02-27
0
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Bisa bahasa Indonesia gak, sih?🙂
Meski aku paham sama omongan dia, tetap apa cobak campur-campur bahasa kayak lagi belajar ngeja gitu🤣🤣
2026-04-18
0
se ʕ´•ᴥ•`ʔ an
"Mila adalah representasi kita semua kalau lagi sambat soal kerjaan di kantin. 🤣 Apalagi drama sandwich Golden Crust yang jauh banget itu, kerasa banget capeknya! KLENTANG!—bunyi garpunya berasa sampai sini."
2026-03-10
0