Liora melihat Raka tengah memeluk Salsa dengan erat, dan sesekali mengecup leher wanita itu tanpa rasa bersalah. Pemandangan itu membuat perasaannya langsung bergejolak. Dadanya terasa sesak, sementara rasa jijik dan marah bercampur menjadi satu.
"Jadi seperti ini kelakuan kalian di belakangku." batin Liora dengan hati yang hancur.
Semua dugaan dan kecurigaannya selama ini kini terbukti nyata. Tidak ada lagi alasan untuk menyangkal apa pun. Pengkhianatan itu benar-benar terjadi tepat di depan matanya sendiri.
Air matanya hampir saja jatuh, tetapi ia menahannya. Ia memilih tetap berdiri tegak, menyembunyikan luka yang menggores hatinya begitu dalam.
"Ambillah laki-laki itu Salsa. Karena aku tidak menginginkan laki-laki yang tidak memiliki pendirian."
Ia tersenyum getir tanpa mengalihkan pandanganya dari Salsa dan Raka. Tatapannya berubah dingin, namun penuh tekad.
"Tunggu saja apa yang akan aku lakukan untuk membalas pengkhianatan kalian." Ia perlahan membalikkan tubuhnya, berpura-pura seolah tidak melihat apa pun. Namun di dalam hatinya, sebuah rencana besar mulai tersusun rapi.
Kini ia memilih kembali ke ruang makan dengan langkah pelan. Di sana masih terlihat Kevandra yang sudah selesai dengan makanannya, tetap duduk sendirian dalam keheningan.
"Kenapa balik sendiri, Li? Apa benar Raka tersesat?" tanya Kevandra dengan nada mencibir, wajahnya tetap terlihat datar dan dingin seperti biasa.
Liora tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan gejolak perasaan di dalam dirinya. Ia menarik kursi lalu duduk kembali di hadapan Kevandra.
"Dia lagi sibuk berbincang dengan Salsa." jawabnya singkat.
Kevandra mengangkat sebelah alisnya, merasa ada sesuatu yang aneh dari nada suara Liora. Namun ia memilih untuk tidak terlalu jauh mencampuri urusan orang lain.
"Berbincang sampai selama itu?" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Liora hanya mengangguk kecil. Tatapannya kosong menatap meja makan, sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan kejadian di dapur beberapa menit lalu. Dadanya terasa sesak, tetapi ia berusaha tetap tenang di depan Kevandra.
"Mungkin mereka memang punya banyak hal untuk dibicarakan." ucap Liora dengan nada tenang yang dibuat-buat dan seolah-olah memancing reaksi Kevandra.
Kevandra menatapnya sejenak. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tetap memilih diam. Suasana kembali hening, hanya menyisakan ketegangan di antara mereka.
Sementara itu, di balik senyum tipisnya, Liora semakin memantapkan rencana yang sudah ia susun rapi di kepalanya.
Kenapa reaksi Kevandra biasa saja? Bukankah mereka suami istri? Seharusnya ia merasa cemburu, atau setidaknya curiga, karena istrinya sedang bersama pria lain. Pertanyaan itu terus berputar di benak Liora.
Diam-diam ia mengamati wajah Kevandra yang tetap tenang dan datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada kegelisahan, tidak ada tanda-tanda emosi. Sikap itu justru membuat Liora semakin heran.
"Apa mungkin dia benar-benar tidak peduli pada Salsa?" batin Liora penuh tanda tanya.
Namun tak lama kemudian, sudut bibir Liora perlahan terangkat. Sebuah senyum miring muncul di wajahnya. Rencana baru tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya.
"Baiklah, langkah awal akan aku lakukan malam ini. Kita lihat bagaimana reaksi kedua manusia itu." bisiknya pelan nyaris tidak ada suara.
Matanya berkilat penuh tekad. Rasa sakit yang ia rasakan perlahan berubah menjadi keberanian untuk membalas semua pengkhianatan itu.
Tidak berselang lama, Salsa akhirnya kembali ke ruang makan sambil membawa sepiring buah-buahan yang sudah dipotong rapi. Langkahnya terlihat sedikit tergesa, seolah ingin menutupi sesuatu. Di belakangnya, Raka mengikuti dengan ekspresi yang berusaha tetap tenang.
Kevandra yang sejak tadi duduk diam memperhatikan kedatangan mereka berdua mengangkat pandangannya perlahan.
"Ada hal penting apa yang kalian bicarakan di dapur?" tanya Kevandra dengan nada dingin tanpa ekspresi.
Pertanyaan itu seketika membuat Salsa mematung. Tangannya yang memegang piring sedikit bergetar, sementara jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Namun sebelum Salsa sempat menjawab, Raka dengan cepat mengambil alih situasi.
"Aku hanya menanyakan jalan menuju kamar mandi. Apakah itu salah?" balas Raka dengan nada datar, berusaha terdengar santai meskipun jelas itu hanya kebohongan.
Liora yang mendengar pembelaan itu hanya mendengus pelan. Ia menatap Raka dengan tatapan sinis, lalu mencibir dalam hati.
"Jalan apa yang kau tanyakan?" batin Liora penuh amarah."Diam-diam memeluk istri orang lain di dapur begitu?"
Tatapan Liora berpindah pada Salsa dan Raka secara bergantian. Senyum tipis penuh arti muncul di wajahnya, senyum yang sama sekali tidak mencerminkan ketenangan.
Sementara itu, Kevandra tetap diam mengamati. Instingnya semakin kuat mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka, meskipun ia memilih untuk tidak mengungkapkannya secara langsung.
"Memang apa yang salah, Mas? Biasanya kamu biasa aja. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal yang nggak penting?"
Ia meletakkan piring buah-buahan yang ia bawa di atas meja. Nada suaranya terdengar santai, tetapi di balik itu terselip kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan.
"Hanya bertanya saja." jawab Kevandra datar tanpa menatap Salsa.
Sikap dinginnya justru membuat Salsa semakin merasa tidak nyaman. Namun ia memilih untuk mengabaikannya dan kembali memasang senyum tipis.
"Ya sudah kalau gitu. Ini makanan penutupnya, Li."
Ia menyodorkan piring buah itu ke hadapan Liora.
Liora hanya mengangguk pelan tanpa banyak bicara. Tatapannya masih sulit diartikan, seolah menyimpan banyak hal di dalam pikirannya.
Di arah lain, Raka langsung kembali duduk di sebelah Liora dengan sikap yang dibuat senormal mungkin, seakan tidak terjadi apa-apa.
Perlahan suasana meja makan kembali tampak tenang. Percakapan ringan mulai mengalir, meskipun terasa kaku dan penuh kepura-puraan. Hingga akhirnya waktu berlalu dan mereka semua telah menyelesaikan makan malam.
Kemudian, mereka beralih ke ruang tamu berbincang dengan nada santai sambil menonton televisi, seolah ketegangan di meja makan tidak pernah terjadi.
Liora menceritakan berbagai pengalamannya pada Salsa sesekali mereka tertawa kecil.
"Nggak nyangka banget sih, Sa. Ternyata bisa seseru itu kerja sama anak-anak magang."
Liora tampak sangat antusias bercerita, tapi tidak dengan hatinya. Ia juga tahu bahwa sahabatnya mulai jenuh dengan arah percakapan itu.
"Jadi gitu, ya. Li! Ternyata mereka bisa seasik itu." Ia mencoba menanggapi percakapan itu sambil tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan.
Kemudian Salsa mulai mengalihkan percakapan itu. "Sebaiknya kita istirahat, ini sudah larut malam." Ia mulai menguap kecil seolah memang sudah mengantuk. "Oya, Li. Kamu tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah, ya. nggak apa-apa, kan?" usul Salsa dengan nada terdengar seramah mungkin.
Liora mengangguk pelan tidak keberatan dengan usulan itu.
Salsa mulai beralih menatap ke arah Raka. "Dan untuk kamu, Raka, kamar kamu ada di lantai atas, di samping ruang kerja Kevandra," lanjutnya sambil tersenyum tipis.
Pengaturan itu terdengar masuk akal, tetapi jelas menyimpan maksud lain di baliknya.
Namun, tiba-tiba suara Kevandra kembali terdengar, datar dan dingin seperti biasa.
"Bukannya kalian tinggal satu atap? Kenapa tidak satu kamar saja?"
Kalimat singkat itu seketika membuat suasana kembali menegang.
Salsa terdiam, Raka terkejut, sementara Liora perlahan mengangkat wajahnya menunggu bagaimana sandiwara ini akan berlanjut.
"Meski mereka tinggal satu atap, Liora nggak tinggal satu kamar dengan Raka, ia punya prinsip Mas." jawab Salsa santai.
"Prinsip." Kevandra mengulang kalimat itu. Namun, nadanya tersirat makna tersembunyi.
"Iya, Dia itu tipe wanita yang sangat menjaga batasan. Dia nggak akan mau tinggal satu kamar sebelum resmi menikah." jelasnya dengan nada meyakinkan.
Kevandra terdiam sejenak. Ia menatap Liora, lalu Raka, kemudian kembali pada Salsa.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, tetapi ia memilih untuk tidak memperpanjang percakapan itu.
"Baiklah kalau begitu." ucapnya singkat, mengakhiri topik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
MARDONI
WAAAAHHH jantungku deg-degan banget nih! 😰 Pas Salsa sama Raka balik dari dapur dan Kevandra langsung nanya ada apa, aku langsung tahu pasti ada yang tidak beres! Raka yang bohong bilang cuma nanya jalan kamar mandi tapi Liora malah nyadar mereka malah memeluk – DUH KOK BISA YA SALSA?! 😤 Ternyata pengkhianatan itu beneran terjadi ya… Pas Kevandra tanya kenapa mereka tidak satu kamar aja, suasana jadi makin menegang deh! Dan pas Salsa bilang Liora menjaga batasan dan tidak akan tinggal satu kamar sebelum menikah – bikin aku kesel banget karena itu jelas sindiran buat Liora yang lagi terluka 😭 Aku pengen tahu banget kapan Kevandra bakal tau kebenarannya, dan gimana Liora bakal menghadapi sahabatnya yang telah mengkhianatinya! Makasih Author ya buat cerita yang bikin saya terus penasaran gini, tunggu kelanjutannya banget deh! ✨
2026-02-04
0
Serena Khanza
makin menarik ceritanya tapi masih menunggu gimana kevandra nya nih gemes banget deh..
semoga salsa sama raka cepet ketahuan dan kena batu nya
2026-02-05
0
putri bungsu
aku yakin banget nih, kevandra sebener nya udh tau tentang istrinya itu selingkuh! tp diam diam baye dia
2026-02-04
1