CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

CINTA DI ATAS PENGKHIANATAN

Bab 1 SANDIWARA

Di sebuah kamar apartemen mewah terdapat dua insan yang berbeda jenis, suara deru nafas mereka menjadi sebuah melodi indah.

Kini mereka tanpa mengenakan sehelai benang pun yang melekat pada tubuh. Bergelut dibawah selimut yang sama berbagi keringat dan rasa candu bersama, menuju kepuasaan masing-masing.

Hingga suara perempuan itu memecah keheningan di tengah aktivitas panas yang tengah terjadi di antara mereka.

"Raka, bagaimana jika Liora tahu tentang hubungan kita?" tanya perempuan tersebut yang tidak lain adalah Salsa sahabat Liora dengan nada sedikit gelisah.

Salsa sangat menikmati momen bersama tunangan sahabatnya sendiri. Ia sama sekali tidak peduli jika dia telah mengkhianatinya.

"Maka tidak ada cara lain selain kita mengakuinya, kalau kita saling mencintai." jawab Raka dengan nada santai.

Dalam pelukannya laki-laki itu terus memainkan jemarinya dengan gerakan sensual menyusuri setiap lekukan tubuh Salsa.

"Lalu bagaimana dengan Suamiku? kamu kan tahu, kalau aku masih belum resmi bercerai dengannya!" suara Salsa sedikit meninggi, ada rasa takut jika suaminya mengetahui hubungan mereka.

"Lalu apa masalahnya? lagian cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya." jawabnya santai, tanpa menghetikan aktivitasnya. Ia terus mengendus leher jenjang wanita itu.

Salsa mencengkram seprai menahan desiran gairah yang semakin memuncak, saat Raka mengecup lehernya dan memberi gigitan kecil. Suara desahan lolos dari bibirnya, menggema di dalam kamar itu.

Tanpa mereka ketahui, saat ini seorang wanita cantik tengah menuju ke arah mereka dengan mata berbinar dan selalu tersenyum manis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Liora seorang gadis cantik sederhana, meskipun dilimpahi fasilitas mewah tidak membuatnya hidup bergaya glamor. Ia lebih menyukai kesederhanan.

Kini ia sedang berada dalam perjalanan menuju sebuah apartemen mewah. Tempat tinggal yang ia beli untuk hidup berdua bersama sang tunangan.

Liora tidak memberi kabar akan kepulangannya pada sang tunangan. Ia ingin membuat kejutan dengan kedatangannya.

"Akhirnya aku pulang, setelah tiga hari di luar kota." gumamnya tersenyum tipis.

Tiba-tiba terbesit bayangan wajah sang tunangan, yang pasti akan terkejut dengan kedatangannya.

Tanpa ia ketahui, saat ini tunangannya tengah memadu kasih dan berbagi peluh, menuju puncak kepuasan satu sama lain bersama sahabatnya sendiri.

Selama perjalanan, Liora tidak hentinya tersenyum. Ia ingin segera bertemu dan melepaskan rindu pada sang tunangan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, di kamar apartemen mewah, suasana justru terasa sangat panas. Salsa dan Raka kembali melanjutkan adegan panas mereka yang sempat tertunda.

Lenguhan Salsa ketika pecah saat Raka terus memacu ritme hubungan intim mereka, membawa mereka ke puncak kepuasan masing-masing.

"Kau selalu bisa membuatku kehilangan akal." bisik Raka tepat di samping telinga Salsa.

Kalimat itu seperti dorongan asupan bagi Salsa. Ia yang sedang di atas Raka semakin bersemangat dan mempercepat gerakkannya.

"Tentu saja Raka, semua ini hanya milikmu." balasnya dengan nada bangga.

Salsa yang selalu membenci sahabatnya merasa bangga saat ia berhasil mendapatkan Raka.

Ia yang lebih dulu mencintai laki-laki itu, tapi ia selalu kalah dari Liora. Raka lebih memilih Liora dibandingkan dirinya, pilihan itu membuatnya semakin membenci sahabatnya.

Hingga kemudian, Salsa harus menerima sebuah perjodohan yang tidak bisa untuk dia tolak. Dia harus menikah dengan laki-laki dingin dan datar bernama Kevandra.

"Lihatlah Liora kini tunanganmu sudah menjadi milikku."

Salsa mendesah pelan. Ia menggit bibir bawahnya menikmati permainan Raka yang sedang mempercepat gerakannya.

Kedua tangannya melingkar di leher laki-laki itu.

"Yes, baby! Panggil namaku dengan desahanmu yang indah." bisiknya di tengah puncak kenikmatan.

Hingga beberapa menit kemudian, mereka mencapai puncak dan mendapatkan pelepasan masing-masing.

Keduanya mendesah panjang secara bersamaan. Napas mereka memburu setelah mendapatkan puncak kenikmatan yang mereka raih, keringat tipis masih membasahi pelipis mereka.

Kini Raka masih memeluk Salsa dengan detak jantung yang masih belum sepenuhnya normal.

Di kamar itu kini menjadi saksi bisu, sebuah pengkhianatan telah terjadi.

Namun, kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Tiba-tiba mereka mendengar pintu apartemen terbuka.

Suara sensor elektronik pintu apartemen berbunyi nyaring, disusul suara gagang pintu yang dibuka sedikit kasar.

Jantung keduanya berdegup semakin kencang saat menyadari kondisi mereka yang masih berada di bawah selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun.

"Raka, bukannya Liora baru akan pulang lusa?"

Salsa mengangkat selimut semakin dalam untuk menutupi seluruh tubuhnya.

"Nggak usah banyak tanya sebaiknya cepat pakai kembali bajumu."

Dengan gerakan cepat laki-laki itu langsung bangun dari tempat tidur, disusul Salsa yang tiba-tiba merasa khawatir jika mereka kepergok oleh Liora.

Raka mulai memakai pakaiannya kembali.

Sementara itu, Salsa yang masih sedikit gemetar mencoba memungut pakaian dalam dan gaunnya yang berserakan di lantai. Ia memakainya terburu-buru, lalu berusaha mengatur raut wajahnya agar terlihat biasa saja.

Tidak lama kemudian...

Suara pintu kamar utama terbuka dan menampilkan wajah lelah Liora dengan koper kecilnya yang berada di tangan kiri.

"Raka! Aku pul..." seru Liora namun kalimatnya terhenti saat kedua matanya mendapati Salsa yang tengah berada di kamarnya bersama tunangannya.

Ia menatap punggung Salsa yang duduk di samping tempat tidur.

Raka memaksakan senyuman tipis saat mendapati sosok wanita yang menjadi tunangannya, keringat dingin masih membasahi pelipisnya. Namun, ia berusaha bangun dengan gerakan pelan untuk bersandar pada sandaran tempat tidur, seolah ia sedang sakit.

Salsa yang berada di samping membantunya untuk bersandar.

"Pelan-pelan Raka, bukankah kepalamu masih sakit... Sebaiknya kamu istirahat saja." ucapnya dengan nada khawatir.

Liora yang melihat kejadian itu mengkerutkan keningnya.

"Loh Sa, kamu disini? memangnya kenapa dengan Raka?" tanyanya, dengan raut wajah bingung dan rasa khawatir saat melihat sang tunangan sedang terbaring.

Salsa berusaha mengatur napasnya sejenak, tidak lupa memasang wajah cemas agar meyakinkan. Ia menampilkan senyum manis yang biasa ia berikan untuk sahabatnya.

"Liora... kamu sudah datang? aku pikir kamu akan kembali lusa."

Ia memasang raut wajah bahagia yang dibuat-buat untuk menyambut kedatangan sahabatnya

"Kebetulan banget kamu sudah disini tadi siang Raka mencoba menghubungiku. Dia bilang kepalanya terasa sakit... makanya aku buru-buru datang ke sini saat aku tahu kalau kamu sedang tidak ada"

Liora mendekat ke sisi Ranjang dan meletakkan tasnya begitu saja. Ia menghampiri Raka yang sedang terbaring dengan wajah pucat.

Raka yang melihat Liora mendekat. Ia langsung memegang pelipisnya sambil merintih kecil, berusaha terlihat seperti orang sakit.

Saat tiba di sisi Raka, Liora menyentuh kening sang tunangan. "Nggak panas kok, cuma kamu sedikit pucat aja, seperti orang kelelahan."

Raka dan Salsa menegang seketika, mereka mulai gugup. Salsa memilinkan ujung gaunnya dengan gemetar hingga sedikit menampilkan guratan cemas di wajahnya saat mendengar ucapan Liora. Namun, dengan cepat ia mengatur ekspresinya kembali agar tidak terlihat mencurigakan.

"Itu karena aku sudah memberinya obat tadi Li, makanya panasnya sudah turun." selanya dengan nada meyakinkan.

"Kamu memang pintar Salsa, jika soal urusan berbohong."

Liora yang mendengar penjelasan Salsa menepis rasa curiganya, lalu ia kembali menatap tunangannya yang terbaring lemah.

"Apa kamu mau aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." tawar Liora suaranya rendah tersirat rasa cemas.

Raka menggeleng lemah, seolah ia memang benar-benar sedang sakit.

"Nggak perlu, Sayang. Aku sudah merasa lebih baik."

Liora menghela napas pelan. "Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat."

Lalu ia menoleh ke arah Salsa yang berdiri di samping tempat tidur. "Terima kasih, Salsa. Kamu sudah menjaga Raka saat aku sedang tidak ada." ucap Liora tulus.

Salsa tersenyum ramah, lalu mendekat dan memeluk sahabatnya.

"Sama-sama, kamu kan sahabatku."

Dalam pelukan itu ia tersenyum miring dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal pada Raka.

Terpopuler

Comments

MARDONI

MARDONI

ASTAGA… ini bikin dada sesak 😭🔥 Liora masuk dengan polosnya, masih bawa rasa kangen, tapi yang dia lihat justru Salsa duduk manis di kamar mereka dan Raka pura-pura sakit, sakitnya tuh bukan di kepala, tapi di hati pembaca 😤💔 Salsa licik banget, ekspresi manisnya bikin merinding, apalagi pas dia bohong sambil sok peduli dan Raka malah bangga… itu nyebelin level dewa. Dan Liora… duh, terlalu tulus sampai semua kejanggalan dia tepis demi rasa sayang 😭 endingnya pas Salsa meluk Liora sambil ngedip ke Raka itu bikin emosi campur jijik campur pengen teriak

2026-01-31

1

Serena Khanza

Serena Khanza

bisa bisanya gak habis pikir si liora ini polos dan bodoh deh 😭😤
masa gak curiga sih dikamar yang sama dua orang disono gitu loh kan gak mungkin kalo gak ngapa ngapain..
setidaknya feeling kek atau lihat muka nya gitu..
tapi ntar juga bakal ketahuan sih tuh dua manusia

2026-02-01

1

☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴

☠️⃝🖌️Deep ⃟🌴

/Sleep/Namanya, astaga. Nama sodara saya 🤭🤭🤭 semoga hobi selingkuhnya gak nular 💆💆

Tapi ini baru awal bab thor 💆 kenapa udah di cekok in adegan greget selingkuh kek gini. Argggghhh, agak ga kuat saya kalau baca pengkhianat macam ini. hawa pingin nusuknya kambuh 🔪🔪🔪🔪

2026-01-31

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!