Perubahan Naomi

Max melangkah semakin dekat hingga berdiri tepat di depan ranjang.

Tubuhnya menjulang tinggi, menutupi sebagian pintu kamar VIP itu. Keberadaannya saja sudah memberi tekanan tersendiri, bukan karena menakutkan, melainkan karena aura tenang dan kuat yang selalu ia miliki.

Naomi menatapnya beberapa detik. Lalu, tanpa peringatan, ia meloncat.

“Kak Max!”

Brugh!

Tubuh Naomi menghantam dada Max dengan pelukan penuh tenaga. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, wajahnya menempel tanpa ragu.

“Naomi!” pekik Nyonya Arumi kaget. “Sayang, hati-hati! Kamu bisa jatuh!”

Tuan Bastian refleks berdiri. “Max, pegang dia!”

Tanpa diperintah Max sudah lebih dulu bergerak. Lengannya langsung memeluk Naomi erat, satu tangan menopang punggungnya, tangan lain menahan bahunya. Gerakannya refleks, terlatih, seolah tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

“Pelan-pelan,” ucapnya sedikit terkejut.

Naomi menenggelamkan wajahnya di dada Max, menghirup aroma yang sangat ia kenal.

“Aku merindukanmu, Kak.”

Kalimat itu sederhana. Tapi mampu membuat jantung Max berdetak kerast. Tubuhnya membeku. Sudah sangat lama Naomi tidak pernah memeluknya seperti ini.

Sejak mereka tumbuh dewasa, sejak ia menyadari perasaannya sendiri, Max dengan sengaja menjaga jarak. Ia tak lagi membiarkan Naomi bersandar di bahunya terlalu lama, tak lagi mengacak rambutnya sembarangan, tak lagi memeluknya kecuali benar-benar perlu.

Karena Max tahu perasaannya pada Naomi tidak lagi sesederhana “adik angkat”. Dan itu adalah garis yang tidak boleh ia langkahi. Namun sekarang Naomi ada di pelukannya, terasa hangat dan menenangkan.

Jari Max menegang sesaat di punggung Naomi.

“Kamu bikin kaget,” gumamnya akhirnya, suaranya sedikit serak.

Naomi tersenyum kecil tanpa melepaskan pelukan. Di dalam hatinya, kenangan lama berputar.

Di kehidupan sebelumnya, Kak Max mati karena menyelamatkanku.

Ia mengingat dengan jelas tubuh Max yang berlumuran darah, napasnya yang melemah, senyum terakhirnya yang tetap tenang seolah berkata, tidak apa-apa.

Dan setelah semua itu Naomi tetap bodoh, tetap mengejar cinta yang salah. Tetap meninggalkan orang yang seharusnya ia lindungi.

Tangannya mencengkeram baju Max lebih erat. Kali ia tak akan menjadi bodoh lagi.

Kali ini aku tidak akan kehilanganmu, kak.

Namun tiba-tiba tubuh Naomi terdorong pelan ke belakang.

“Eh?”

Max sudah melepaskan pelukannya.

Naomi hampir kehilangan keseimbangan sebelum kembali duduk di ranjang. Wajahnya langsung cemberut.

“Ih,” protesnya. “Kak Max! Aku masih ingin memelukmu, tahu!”

Nyonya Arumi menghela napas lega. “Astaga, kalian bikin Mama hampir kena serangan jantung.”

Tuan Bastian mengangguk setuju. “Benar. Naomi, kamu baru sadar. Jangan sembarangan lompat. Untungnya infusmu tidak terlepas lagi,” omelnya dengan nada lembut.

Namun Naomi sama sekali tidak peduli. Ia menatap Max dengan kesal, pipinya sedikit mengembung.

Max menyipitkan mata, mengamatinya tajam.

Ada yang aneh dengan Naomi, pikir Max.

Naomi hari ini terlalu terbuka dan terlalu manja.

Ia menurunkan tangan ke saku celananya, lalu berkata dengan nada datar, seolah tak terjadi apa-apa, “Kamu itu terlalu berat.”

“Hah?!” Mata Naomi membulat sempurna. “Berat?!”

Ia menegakkan punggungnya. “Memangnya aku seberat apa, sih?!”

Max mengangkat tangan, lalu menyentil dahi Naomi dengan satu jari. “Seberat kapal selam.”

“Dasar!” Naomi berdecak kesal. “Kakak keterlaluan! Masa aku seberat itu.” Ia memalingkan wajahnya dengan ekspresi dongkol, kedua tangan menyilang di dada.

Tuan Bastian terkekeh kecil. “Kalian ini .…”

Nyonya Arumi tersenyum, meski masih mengamati Naomi dengan penuh tanda tanya.

Sementara itu, Max menghela napas panjang, merasa lega.

Jantungku tidak aman kalau terlalu dekat dengannya, batinnya.

Ia melirik Naomi sekilas. Gadis itu duduk di ranjang, cemberut tapi tetap tersenyum tipis, matanya berbinar terlalu berbeda dari Naomi yang setahun belakangan ini.

Tapi entah kenapa kecelakaan ini, membuat Naomi berbeda.

Mengingat Naomi mengalami kecelakaan karena ulah keluarga itu, wajah Max seketika mengeras. Rahangnya mengatup, sorot matanya berubah dingin. Ia menoleh dan menatap Naomi dengan tajam, seolah menahan amarah yang sejak tadi dipendam.

Naomi yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat wajahnya dengan polos.

“Kenapa?” tanya Naomi.

Max mendengus pelan. “Sampai kapan kau mau bodoh seperti itu?” ucapnya tanpa basa-basi. “Mereka tidak pernah menyukaimu, Naomi. Sampai kapan kamu akan terus mengejar perhatian mereka?”

Ia berhenti sejenak, suaranya makin rendah dan menusuk. “Lihat dirimu sekarang. Masuk rumah sakit seperti ini pun, tidak satu pun dari mereka datang menjenguk.”

Ucapan itu menghantam tepat ke dada Naomi. Senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang. Ia menunduk, jemarinya mencengkeram selimut putih di atas ranjang.

“Maaf, Kak.” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku memang bodoh.”

Ucapan itu membuat Max, Nyonya Arumi, dan Tuan Bastian sama-sama terkejut. Mereka saling berpandangan singkat. Biasanya, Naomi akan langsung membantah. Membela keluarga Elios mati-matian, mencari alasan, bahkan berakhir dengan pertengkaran panjang yang membuat suasana membeku berhari-hari. Namun kali ini, Naomi justru mengalah begitu saja.

Max mengerutkan kening. “Tumben kau tidak membela mereka?” sindirnya. “Apa karena kepalamu terbentur aspal, jadi otak kecilmu ini akhirnya sedikit benar?”

Naomi mendecak kesal, lalu mendongak menatap Max dengan tatapan jengkel. “Otakku tetap normal, Kak.”

Ia menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang, “Tapi mungkin karena aspal itu otakku jadi lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah.”

Max terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela, menghembuskan napas panjang. Ada perasaan aneh yang menggelayuti dadanya, campuran lega, cemas, dan rasa bersalah. Ia masih belum terbiasa melihat Naomi bersikap seperti ini.

Ia teringat bagaimana dirinya langsung meninggalkan segala urusan di luar negeri dan terbang pulang begitu mendapat kabar Naomi tertabrak mobil. Bahkan proyek penting yang selama ini ia pegang pun ditinggalkannya begitu saja.

Naomi memperhatikannya sejenak, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Eh … bukannya Kakak masih ada proyek di luar negeri?” tanyanya penasaran. “Kok sudah pulang?”

Max menoleh cepat. “Sudah selesai,” jawabnya singkat, sebuah kebohongan yang terdengar terlalu rapi.

Naomi hanya mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Tiba-tiba terdengar suara kecil dari perut Naomi.

Kruuuk!

Kruuuk!

Naomi membeku sesaat, lalu tersenyum malu-malu. Tangannya refleks menutupi perutnya sendiri.

“Sepertinya … aku lapar,” katanya pelan.

Nyonya Arumi dan Tuan Bastian saling pandang, lalu tanpa sadar terkekeh kecil melihat reaksi Naomi yang polos namun jujur itu.

“Ya ampun.” Nyonya Arumi menepuk keningnya sendiri. “Mama hampir lupa.”

Beliau segera bangkit dari kursinya. “Sebentar ya, Nak. Mama siapkan dulu.”

Nyonya Arumi melangkah ke meja kecil di sudut ruangan, tempat ia meletakkan tas berisi bekal yang dibawanya dari rumah. Dengan cekatan, ia membuka kotak makan dan menata isinya ke atas piring. Tak lama kemudian, ia kembali ke sisi ranjang Naomi sambil membawa sepiring makanan hangat menu yang sejak kecil selalu menjadi kesukaan Naomi.

Begitu melihatnya, mata Naomi langsung berbinar terang. Wajahnya seolah hidup kembali.

“Ma …” katanya dengan nada manja yang sudah lama tak terdengar. “Suapin aku ya.”

Ucapan itu membuat ruangan kembali hening. Max membeku, Tuan Bastian terbelalak, bahkan Nyonya Arumi sendiri sempat terpaku. Sudah lama sekali Naomi tidak bersikap seperti ini, tidak manja, tidak bergantung, tidak meminta apa pun. Hal itu terjadi semenjak Naomi tahu mereka bukan keluarga kandung.

Keterkejutan itu segera berganti dengan senyum lebar di wajah Nyonya Arumi. “Iya, iya,” jawabnya lembut sambil mengangguk senang. “Mama suapin.”

Naomi langsung membuka mulutnya begitu sendok pertama mendekat. Ia mengunyah perlahan, wajahnya tampak puas.

“Enak,” gumamnya.

Max berdiri di samping ranjang, melipat tangan di dada. Ia pura-pura acuh, tapi sudut matanya terus mengawasi Naomi. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus asing di dadanya melihat adiknya makan dengan ekspresi setenang itu.

Tuan Bastian berdeham kecil. “Makan yang pelan,” katanya. “Jangan seperti kelaparan tiga hari.”

Naomi melirik ayahnya sambil tersenyum tipis. “Soalnya ini masakan Mama. Aku sangat merindukannya.”

Nyonya Arumi tertawa kecil, matanya tampak berkaca-kaca. Ia menyuapkan satu sendok lagi dengan penuh perhatian.

Saat suasana mulai terasa hangat dan tenang, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

Semua kepala refleks menoleh ke arah pintu.

Senyum di wajah Naomi perlahan memudar. Tangan Nyonya Arumi yang memegang sendok terhenti di udara. Sementara Max langsung mengeraskan ekspresinya, sorot matanya berubah tajam.

Tamu tak diundang itu akhirnya berdiri di ambang pintu, memecah ketenangan yang baru saja tercipta.

Terpopuler

Comments

mama_im

mama_im

cus kak yul, triple 🤣🤣🤣

2026-02-01

6

Maysa Maysa

Maysa Maysa

Halah padahal aslinya supaya Naomi gak denger jantung mu ya lagi ngadain son horreg kan 🤭🤭🤣🤣🤣🤣

2026-02-01

2

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

pasti itu keluarga Elios dn tunangannya yg gak th diri 😏😏

2026-02-01

2

lihat semua
Episodes
1 Bangkit Kembali
2 Perubahan Naomi
3 Keluarga Elios
4 Tak Lagi Sama
5 Misi Naomi
6 Heran
7 Misi Gila
8 Mencuri?
9 Pelajaran Untuk Pelayan
10 Nenek Dan Kakek Elios
11 Pergi
12 Tempatku Pulang
13 Mengingau
14 Uang Jajan
15 Kerjakan Tugasku!
16 Ketegasan Naomi
17 Tidak Terima
18 Buktikan Sendiri
19 Mendekati Ketiga Pilar Negara
20 Apa Kakak Percaya?
21 Hampir Saja
22 Bukan Kebetulan
23 Pelajaran Kecil
24 Dibanting
25 Sonya
26 Sandiwara
27 Kita Impas
28 Memborong
29 Bukan Pembantu
30 Pikiran Licik
31 Mengganti
32 Kemalangan Keluarga Elios
33 Mobil Jelek
34 Panas? Ayo Kipas!
35 Tidak Sesuai Harapan
36 Malam Pelelangan
37 Bertemu Selena
38 Para Hama
39 Dimulai
40 Tak Ingin Kalah
41 Kemalangan Viviane
42 Diikuti
43 Kombinasi Sempurna
44 Pulang
45 Membeli Sampah Naomi
46 Marah
47 Tuan Muda Clay
48 Mengikatnya
49 Hadiah Dari Sila
50 Tamu Tak Diundang
51 Putri Seutuhnya
52 Pelaku Penyerangan
53 Satu Kebenaran
54 Kamu Berat
55 Salah Bicara
56 Mulai Mencari Tahu
57 Tuan Zane
58 Rubah Licik
59 Sikap Asli
60 Tak Tahu Diri
61 Max dan Naomi
62 Kekacauan di Bandara
63 Masalah Selesai
64 Segel Keluarga Elios
65 Perjodohan
66 Wajah Asli Viviane
67 Menyesal
68 Kedatangan Tamu
69 Melarikan Diri
70 Perusahaan Kosong
71 Diusir
72 Berkelahi
73 Diculik
74 Menyelamatkan
75 Aku Mencintaimu
76 Peringatan Bahaya
77 Badai Tiba
78 Evakuasi
79 Badai Mengganas
80 Mana Naomi?
81 Ditolong
82 Selamat
83 Ending?
84 Bonchap
85 Karya Baru Author
86 Promosi Karya Teman
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bangkit Kembali
2
Perubahan Naomi
3
Keluarga Elios
4
Tak Lagi Sama
5
Misi Naomi
6
Heran
7
Misi Gila
8
Mencuri?
9
Pelajaran Untuk Pelayan
10
Nenek Dan Kakek Elios
11
Pergi
12
Tempatku Pulang
13
Mengingau
14
Uang Jajan
15
Kerjakan Tugasku!
16
Ketegasan Naomi
17
Tidak Terima
18
Buktikan Sendiri
19
Mendekati Ketiga Pilar Negara
20
Apa Kakak Percaya?
21
Hampir Saja
22
Bukan Kebetulan
23
Pelajaran Kecil
24
Dibanting
25
Sonya
26
Sandiwara
27
Kita Impas
28
Memborong
29
Bukan Pembantu
30
Pikiran Licik
31
Mengganti
32
Kemalangan Keluarga Elios
33
Mobil Jelek
34
Panas? Ayo Kipas!
35
Tidak Sesuai Harapan
36
Malam Pelelangan
37
Bertemu Selena
38
Para Hama
39
Dimulai
40
Tak Ingin Kalah
41
Kemalangan Viviane
42
Diikuti
43
Kombinasi Sempurna
44
Pulang
45
Membeli Sampah Naomi
46
Marah
47
Tuan Muda Clay
48
Mengikatnya
49
Hadiah Dari Sila
50
Tamu Tak Diundang
51
Putri Seutuhnya
52
Pelaku Penyerangan
53
Satu Kebenaran
54
Kamu Berat
55
Salah Bicara
56
Mulai Mencari Tahu
57
Tuan Zane
58
Rubah Licik
59
Sikap Asli
60
Tak Tahu Diri
61
Max dan Naomi
62
Kekacauan di Bandara
63
Masalah Selesai
64
Segel Keluarga Elios
65
Perjodohan
66
Wajah Asli Viviane
67
Menyesal
68
Kedatangan Tamu
69
Melarikan Diri
70
Perusahaan Kosong
71
Diusir
72
Berkelahi
73
Diculik
74
Menyelamatkan
75
Aku Mencintaimu
76
Peringatan Bahaya
77
Badai Tiba
78
Evakuasi
79
Badai Mengganas
80
Mana Naomi?
81
Ditolong
82
Selamat
83
Ending?
84
Bonchap
85
Karya Baru Author
86
Promosi Karya Teman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!