Tak Lagi Sama

Keluarga Elios seketika menatap Naomi seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup. Udara di dalam ruangan terasa menegang, dipenuhi amarah yang tak lagi disembunyikan. Tatapan mereka penuh kebencian, seakan Naomi baru saja melakukan dosa besar yang tak termaafkan.

Naomi, yang masih berdiri di dekat Max, justru tampak santai. Ia bahkan sedikit memiringkan kepalanya, ekspresinya polos seolah benar-benar bingung.

“Kenapa?” tanyanya ringan. “Ada yang salah?”

Ia melirik Viviane sekilas, lalu kembali menatap keluarga Elios. “Bukankah aku sudah melakukan apa yang kalian minta?”

Ucapan itu membuat darah Nyonya Ruby mendidih. Wanita itu melangkah maju, jarinya terangkat menunjuk Naomi dengan gemetar karena marah.

“Kurang ajar!” bentaknya. “Kenapa kau menampar adikmu?! Kau benar-benar tidak tahu diri! Kami tidak pernah mengajarkan bersikap liar seperti ini, Naomi!”

Naomi mengangkat alisnya pelan. Nada suaranya tetap tenang, nyaris datar.

“Loh, bukankah kalian menyuruhku meminta maaf?” tanya Naomi

Ia mengangkat bahu kecil. “Padahal aku tidak merasa bersalah sama sekali. Justru seharusnya kalian berterima kasih padaku, karena aku sudah menyelamatkan putri kesayangan kalian itu.”

Wajah Nyonya Ruby makin merah. Tuan Leon mengatupkan rahangnya keras-keras.

Naomi melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Jadi kupikir, daripada aku minta maaf tanpa melakukan kesalahan apa pun, lebih baik aku berbuat salah dulu.”

Ia tersenyum tipis. “Setelah itu, baru aku minta maaf. Benar, bukan?”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Max tertegun, tapi langsung tersenyum yipis. Nyonya Arumi membeku lalu menatap Naomi. Tuan Bastian menarik napas panjang, seolah mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Bahkan keluarga Elios sendiri tampak tak siap dengan logika Naomi yang dingin dan menusuk itu.

Naomi sendiri tersenyum kecil dalam hati.

Harusnya aku melakukan ini dari dulu, batinnya.

Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika ia melihat pipi Viviane memerah, bukan hanya karena tamparan, tetapi juga karena rasa malu dan terkejut.

Erick akhirnya tak bisa menahan diri. Ia menunjuk Naomi dengan wajah penuh kemarahan.

“Masalah ini belum selesai,” katanya tajam.

Tuan Leon ikut melangkah maju, sorot matanya penuh ancaman. “Kau berani menyakiti Viviane?”

Ia mendengus dingin. “Kalau begitu, bersiaplah keluar dari keluarga Elios.”

Ancaman itu biasanya cukup untuk membuat Naomi gemetar. Dulu, setiap kali kalimat itu terlontar, Naomi akan langsung panik, menangis, memohon, dan berjanji akan berubah.

Keluarga Elios pun tampak yakin hal yang sama akan terjadi sekarang. Bahkan senyum sinis sudah mulai terukir di wajah mereka, seolah menunggu pemandangan yang sangat mereka kenal.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Naomi mengangguk pelan. “Baiklah,” katanya singkat.

Ia menatap Tuan Leon tanpa rasa takut. “Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan mampir untuk mengambil barang-barangku.”

Kali ini, bukan hanya keluarga Elios yang terkejut.

Max menoleh cepat ke arah Naomi. Nyonya Arumi menutup mulutnya refleks. Tuan Bastian terdiam, menatap Naomi dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Apa?” Carlos bersuara keras, tak percaya. “Kau pikir Papi main-main dengan ucapannya?”

Ia melangkah mendekat, nadanya menekan. “Tidak, Naomi. Kau harus minta maaf. Sekarang juga. Lalu memohon pada kami.”

Naomi menatap Carlos dengan senyum mengejek. “Memohon?” Ia terkekeh kecil. “Untuk apa? Aku tidak salah sekali.”

Senyum itu justru membuat amarah Carlos semakin memuncak. “Kau sudah gila!” bentaknya.

Naomi menatap mereka dan berkata, “Gila? Tidak, aku tidak gila. Kali ini aku berpikir waras."

Wajah mereka semakin memerah. Mereka kembali melancarkan serangan.

Carlos mendengus sinis, melipat tangan di dada. “Naomi, jangan sok kuat,” katanya meremehkan. “Coba ingat-ingat, siapa yang menolongmu? Siapa yang memberimu rumah, sekolah, dan nama keluarga? Tanpa keluarga Elios, kau bukan siapa-siapa.”

Nyonya Ruby ikut menimpali, nadanya tajam dan penuh tudingan. “Kami sudah terlalu baik padamu. Memberimu makan, pakaian, pendidikan. Tapi balasanmu justru seperti ini?”

Ia menggeleng seolah kecewa. “Kau tidak akan bisa hidup di luar sana tanpa kami.”

Tuan Leon mengangguk setuju. “Dunia ini kejam, Naomi,” katanya dingin. “Kau pikir keluarga Atlas akan melindungimu selamanya? Pada akhirnya, darah tetap lebih penting daripada apa pun. Dan orang lain pada akhirnya akan membuangmu,” ujarnya sambil melirik keluarga Atlas.

Erick menatap Naomi dari balik bahu Viviane. “Sudah cukup dramanya,” ujarnya. “Hentikan sikap keras kepalamu itu. Kami tahu kau hanya menarik ulur. Kalau kau minta maaf dengan benar sekarang, semua ini masih bisa selesai baik-baik.”

Mereka berbicara bergantian, saling menyambung, seolah sudah sangat yakin dengan satu hal Naomi akan runtuh. Seperti biasanya. Seperti dulu-dulu. Mereka menunggu tanda itu, mata berkaca-kaca, suara bergetar, permohonan lirih agar tidak ditinggalkan.

Namun menit demi menit berlalu. Naomi tetap diam. Tatapannya kosong, tidak tertarik membalas satu pun ancaman itu.

Jasa?

Baik?

Naomi hampir tertawa mendengarnya.

Ia teringat malam-malam ketika ia menangis sendirian, teringat bagaimana setiap pengorbanannya dianggap kewajiban, bukan kebaikan.

Teringat bagaimana ia selalu dibandingkan, selalu disalahkan, selalu diminta mengalah.

Jika ini yang mereka sebut “baik”, maka ia tidak lagi menginginkannya.

Carlos akhirnya kehilangan kesabaran. “Katakan sesuatu!” bentaknya. “Atau kau benar-benar ingin hidup melarat tanpa kami?”

Naomi mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang. “Aku sudah hidup sendirian sejak lama,” jawabnya pelan. “Kalian saja yang tidak sadar.”

Ucapan itu membuat ruangan kembali hening.

Viviane yang sejak tadi dipeluk Erick, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya menatap Naomi penuh kebencian dan keterkejutan. Ini bukan Naomi yang ia kenal Naomi yang selalu mengalah, selalu tersenyum, selalu berada di bawah bayangannya.

Nyonya Ruby akhirnya kehilangan kesabaran sepenuhnya. Ia berbalik menatap Nyonya Arumi dan menunjuknya tajam.

“Pasti kalian,” tuduhnya lantang. “Keluarga Atlas pasti sudah mencuci otak Naomi! Kalian membuat dia membenci keluarganya sendiri!”

Nyonya Arumi tersenyum tenang. “Kami tidak mencuci otak siapa pun,” jawabnya. “Kami hanya mengajarkan Naomi untuk melihat cermin.”

Ia melangkah sedikit ke depan. “Apa yang Naomi lakukan hari ini sudah benar. Dia terlalu berharga untuk terus disakiti.”

Nyonya Ruby mendengus. “Kau tidak tahu apa-apa soal Naomi!”

“Oh, aku tahu,” potong Nyonya Arumi dengan suara bergetar, menahan emosi. “Aku tahu bagaimana rasanya mengasuh Naomi sejak ia masih bayi merah. Menjaganya saat demam, menenangkannya saat ia menangis.”

Matanya menatap tajam ke arah Ruby. “Dan kau?” Ia menggeleng pelan. “Kau bahkan tidak tahu makanan kesukaannya.”

Kata-kata itu menghantam keras.

Naomi berdiri terpaku. Dadanya terasa sesak, matanya panas. Namun ia menahan semuanya.

Ia lalu menoleh ke arah Max dan berbisik pelan, “Kak … aku capek.”

Hanya dua kata. Tapi cukup untuk membuat Max langsung melangkah maju.

“Sudah cukup,” kata Max dingin. “Kalian pergi sekarang.”

Tuan Leon mendengus. “Kami belum selesai.”

Max menoleh tajam. “Kalau kalian tidak pergi, aku akan memanggil pengawal.”

Terpopuler

Comments

Maysa Maysa

Maysa Maysa

kak Yul, Naomi masuk ke keluarga Elios itu dah berapa tahun.

2026-02-02

7

Miss Typo

Miss Typo

ingin masuk ke ntoon pinjem pintu ajaib Doraemon, mau ikut nampar bolak balik anak pungut dan seluruh keluarga Elios

2026-02-02

2

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩

ingin ku berkata kasar... tapi takut balik dimaki pembaca lain🤭

2026-02-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bangkit Kembali
2 Perubahan Naomi
3 Keluarga Elios
4 Tak Lagi Sama
5 Misi Naomi
6 Heran
7 Misi Gila
8 Mencuri?
9 Pelajaran Untuk Pelayan
10 Nenek Dan Kakek Elios
11 Pergi
12 Tempatku Pulang
13 Mengingau
14 Uang Jajan
15 Kerjakan Tugasku!
16 Ketegasan Naomi
17 Tidak Terima
18 Buktikan Sendiri
19 Mendekati Ketiga Pilar Negara
20 Apa Kakak Percaya?
21 Hampir Saja
22 Bukan Kebetulan
23 Pelajaran Kecil
24 Dibanting
25 Sonya
26 Sandiwara
27 Kita Impas
28 Memborong
29 Bukan Pembantu
30 Pikiran Licik
31 Mengganti
32 Kemalangan Keluarga Elios
33 Mobil Jelek
34 Panas? Ayo Kipas!
35 Tidak Sesuai Harapan
36 Malam Pelelangan
37 Bertemu Selena
38 Para Hama
39 Dimulai
40 Tak Ingin Kalah
41 Kemalangan Viviane
42 Diikuti
43 Kombinasi Sempurna
44 Pulang
45 Membeli Sampah Naomi
46 Marah
47 Tuan Muda Clay
48 Mengikatnya
49 Hadiah Dari Sila
50 Tamu Tak Diundang
51 Putri Seutuhnya
52 Pelaku Penyerangan
53 Satu Kebenaran
54 Kamu Berat
55 Salah Bicara
56 Mulai Mencari Tahu
57 Tuan Zane
58 Rubah Licik
59 Sikap Asli
60 Tak Tahu Diri
61 Max dan Naomi
62 Kekacauan di Bandara
63 Masalah Selesai
64 Segel Keluarga Elios
65 Perjodohan
66 Wajah Asli Viviane
67 Menyesal
68 Kedatangan Tamu
69 Melarikan Diri
70 Perusahaan Kosong
71 Diusir
72 Berkelahi
73 Diculik
74 Menyelamatkan
75 Aku Mencintaimu
76 Peringatan Bahaya
77 Badai Tiba
78 Evakuasi
79 Badai Mengganas
80 Mana Naomi?
81 Ditolong
82 Selamat
83 Ending?
84 Bonchap
85 Karya Baru Author
86 Promosi Karya Teman
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bangkit Kembali
2
Perubahan Naomi
3
Keluarga Elios
4
Tak Lagi Sama
5
Misi Naomi
6
Heran
7
Misi Gila
8
Mencuri?
9
Pelajaran Untuk Pelayan
10
Nenek Dan Kakek Elios
11
Pergi
12
Tempatku Pulang
13
Mengingau
14
Uang Jajan
15
Kerjakan Tugasku!
16
Ketegasan Naomi
17
Tidak Terima
18
Buktikan Sendiri
19
Mendekati Ketiga Pilar Negara
20
Apa Kakak Percaya?
21
Hampir Saja
22
Bukan Kebetulan
23
Pelajaran Kecil
24
Dibanting
25
Sonya
26
Sandiwara
27
Kita Impas
28
Memborong
29
Bukan Pembantu
30
Pikiran Licik
31
Mengganti
32
Kemalangan Keluarga Elios
33
Mobil Jelek
34
Panas? Ayo Kipas!
35
Tidak Sesuai Harapan
36
Malam Pelelangan
37
Bertemu Selena
38
Para Hama
39
Dimulai
40
Tak Ingin Kalah
41
Kemalangan Viviane
42
Diikuti
43
Kombinasi Sempurna
44
Pulang
45
Membeli Sampah Naomi
46
Marah
47
Tuan Muda Clay
48
Mengikatnya
49
Hadiah Dari Sila
50
Tamu Tak Diundang
51
Putri Seutuhnya
52
Pelaku Penyerangan
53
Satu Kebenaran
54
Kamu Berat
55
Salah Bicara
56
Mulai Mencari Tahu
57
Tuan Zane
58
Rubah Licik
59
Sikap Asli
60
Tak Tahu Diri
61
Max dan Naomi
62
Kekacauan di Bandara
63
Masalah Selesai
64
Segel Keluarga Elios
65
Perjodohan
66
Wajah Asli Viviane
67
Menyesal
68
Kedatangan Tamu
69
Melarikan Diri
70
Perusahaan Kosong
71
Diusir
72
Berkelahi
73
Diculik
74
Menyelamatkan
75
Aku Mencintaimu
76
Peringatan Bahaya
77
Badai Tiba
78
Evakuasi
79
Badai Mengganas
80
Mana Naomi?
81
Ditolong
82
Selamat
83
Ending?
84
Bonchap
85
Karya Baru Author
86
Promosi Karya Teman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!