KI 2

Miranda tidak bisa melamun terlalu lama. Pekerjaan rumah masih banyak, sebentar lagi para penghuni rumah akan bangun dan Miranda harus sudah siap seperti biasa.

Miranda melangkah ke dapur lalu menyajikan makanan ke meja makan. Piring dan sendok tak lupa ditata dengan rapi, semuanya ia susun seperti aturan tak tertulis.

Setelah itu Miranda kembali ke dapur lalu mengambil plastik sampah yang sudah penuh. Ia berjalan melalui samping rumah menuju depan, mengambil plastik sampah yang ada di teras.

Miranda melangkah keluar menuju bak pembuangan sampah perumahan. Udara pagi masih lembap, sisa hujan malam membuat jalan sedikit licin dan berbau tanah basah.

“Masyaallah, rajin sekali kamu, Mir,” ucap Pak Haji Imron yang sedang menyapu halaman rumahnya.

Miranda hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Miranda memang anak yang pemalu, kurang percaya diri jika harus berbicara lama dengan orang lain.

Miranda kembali menganggukkan kepala lalu berbalik akan pergi menuju rumahnya. Langkahnya kecil dan cepat, seolah ingin segera menghindar dari percakapan.

“Miranda,” panggil Pak Imron lagi.

Miranda menoleh dan menatap Pak Imron sebentar, kemudian menundukkan kepala lagi. Tangannya meremas ujung mantel yang sedikit basah oleh gerimis.

“Mir, bilang sama suami kamu untuk rajin berjamaah lagi,” ucap Pak Imron dengan suara lembut.

“Baik, Pak, nanti saya sampaikan,” ucap Miranda lalu berjalan setengah berlari menuju rumahnya.

Miranda juga ingin melihat Raka rajin salat seperti dulu saat masih jadi karyawan kontrak. Raka dulu dikenal sebagai anak muda yang rajin ibadah dan sopan.

Sekarang Raka sepertinya jarang salat. Miranda ingin menegur, tetapi tidak punya keberanian untuk mengucapkan satu kalimat pun di hadapan suaminya.

Dan sekarang Pak Imron meminta menyampaikan pesan pada Raka. Tentu saja Miranda tidak akan menyampaikannya karena Miranda takut akan reaksi suaminya.

Hujan turun rintik-rintik, rambut Miranda sedikit basah. Miranda masuk ke dapur melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan ruang cuci.

“Miranda,” suara melengking Rina menggelegar dari ruang tengah.

Itu adalah ritual di pagi hari, penanda waktu beranjak siang. Sehari saja Rina tidak berteriak memanggil Miranda, seolah ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

“Ya, Bu, ada apa?” tanya Miranda sambil menyeka air hujan bercampur keringat di dahinya.

“Dari mana saja kamu, dari tadi saya panggil tidak menyahut,” ucap Rina memandang tajam pada Miranda.

“Saya habis buang sampah, Bu,” jawab Miranda pelan.

“Buang sampah lama sekali, dasar tidak berguna,” ketusnya tanpa menahan nada meremehkan.

Miranda sudah terlalu kebal mendengarkan hal itu. Sepuluh tahun sudah ia diperlakukan seperti itu tanpa pernah ada yang berubah sedikit pun.

Rina akan memarahi Miranda lagi, tetapi suara Budi terdengar dari teras.

“Miranda,” panggil Pak Budi dengan suara berat.

“Baru saja bangun yang pertama dipanggil malah Miranda,” muka Ibu Rina langsung masam.

“Memang Ibu mau buatkan Bapak kopi?” Pak Budi melihat wajah Rina dengan tatapan malas.

“Ada Miranda, kenapa Ibu yang harus bikin kopi?” jawab Rina ketus.

“Ya makanya jangan marah kalau bangun tidur aku panggil Miranda,” ucap Pak Budi datar.

Wajah Rina semakin masam, bibirnya mengerucut menahan kesal.

“Miranda, buatkan Ayah kopi,” ulang Pak Budi.

“Baik, Yah,” ucap Miranda lalu bergegas ke dapur menyiapkan air panas.

Rina yang kesal melangkah ke meja makan, melihat makanan sudah tersaji rapi. Selama sepuluh tahun Miranda melayani mereka tanpa celah sedikit pun.

Sebagai menantu sebenarnya Rina mengakui Miranda sudah mengurus mereka dengan baik. Namun status pendidikan Miranda dan asal-usulnya membuat Rina sulit menerima.

Lela dan Lusi datang ke meja makan masih menggunakan baju tidur, lalu mencicipi makanan tanpa mencuci muka lebih dulu.

“Dasar pemalas, mandi dulu kalian baru makan,” ucap Rina melotot.

“Galak sekali sih, Bu,” ucap Lela sambil mengambil tempe.

“Kamu lagi, Lela, sudah umur tiga puluh tahun masih saja malas,” balas Rina semakin kesal.

“Biar malas yang penting aku punya suami yang lagi kuliah di luar negeri,” jawab Lela santai.

“Baik, baik, pokoknya Ibu tunggu suami kamu pulang. Sesuai janji dia akan membuatkan kamu rumah,” ucap Rina penuh harap.

“Tenang saja, Bu,” ucap Lela lalu mengambil tempe dan kembali masuk ke kamar.

Miranda membawa kopi ke teras. Pak Budi duduk di kursi memandang taman kecil yang selalu bersih karena rutin dibersihkan Miranda.

“Ini kopinya, Pak,” ucap Miranda sambil menyodorkan cangkir.

Pak Budi mengisap rokoknya lalu menghembuskannya pelan. Asap putih mengepul di udara pagi yang masih dingin.

“Bapak jangan banyak merokok, nanti sesak napas lagi,” ucap Miranda dengan suara pelan penuh khawatir.

Pak Budi hanya melihatnya tajam tanpa menjawab. Tatapan itu membuat Miranda langsung menundukkan kepala.

Miranda menunduk lalu pergi ke dapur. Ia mengutuk mulutnya sendiri karena merasa telah lancang mengingatkan mertuanya.

Miranda melihat sendiri saat Pak Budi sesak napas dan hampir meninggal. Seminggu penuh Miranda menunggui Pak Budi di rumah sakit tanpa digantikan siapa pun.

Mengingat hal itu Miranda ingin memberi peringatan pada Pak Budi. Namun ia lupa bahwa dirinya hanyalah menantu yang tidak dianggap di rumah itu.

Miranda melangkah ke ruang cuci lalu membilas cucian dan memasukkannya ke pengering. Tangannya bergerak cepat seperti sudah hafal irama pekerjaan.

Terdengar sayup-sayup percakapan dari ruang makan antara Raka, Rina, Lela, dan Lusi.

“Jadi kan Kak Lina nanti malam ke sini,” ucap Lusi dengan nada antusias.

“Jadilah, pokoknya kamu harus mau, Raka. Jangan mengecewakan Ibu lagi,” suara Rina terdengar tegas.

“Ya,” jawab Raka singkat.

Miranda hanya bisa mendengarkan sayup-sayup karena tercampur dengan suara dengungan mesin cuci yang berputar tanpa henti.

“Lina lagi, Lina lagi. Siapa sebenarnya Lina, kenapa ibu mertua dan ipar-iparku antusias membicarakannya,” ucap Miranda dalam hati.

Dan tentu saja pertanyaan itu hanya bisa Miranda pendam sendiri. Ia takut mengungkapkannya, takut dianggap cemburu tanpa alasan.

Mereka asyik sarapan, dan selama sepuluh tahun tinggal di rumah itu Miranda tidak pernah diajak makan bersama.

Miranda selalu makan setelah semua keluarga selesai makan. Mereka akan merasa jijik jika Miranda ikut duduk bersama hanya karena ia tidak berpendidikan.

Miranda menjemur pakaian yang sudah dikeringkan dengan cepat dan rapi. Setiap helai baju ia kibaskan agar tidak kusut.

Miranda kembali ke dapur, mengintip ke meja makan. Semua sudah selesai, piring berserakan menunggu dibereskan.

Miranda buru-buru berlari ke teras. Tampak Raka sudah duduk di kursi teras bersiap berangkat kerja.

Miranda menghampiri, berjongkok di depan Raka lalu mengelap kaki suaminya dengan kain bersih, memakaikan kaos kaki dan sepatu.

Sedangkan Raka tidak pernah melihatnya, ia sibuk dengan ponselnya. Pak Budi yang ada di samping Raka hanya menggelengkan kepala pelan.

Setelah sepatu terpakai Miranda melangkah ke gerbang lalu membukakan pintu. Ia menunggu Raka keluar dari garasi seperti kebiasaannya.

Miranda selalu memastikan Raka keluar dengan aman, mobilnya tidak lecet sedikit pun. Itu bentuk tanggung jawab yang ia pegang teguh.

Mobil Raka keluar perlahan lalu melaju meninggalkan rumah. Miranda menatap hingga mobil itu hilang di ujung jalan.

Miranda kembali menutup gerbang dan masuk ke rumah dengan langkah cepat. Pekerjaan berikutnya sudah menunggu tanpa jeda.

“Ka Miranda,” ucap Lusi tiba-tiba.

Miranda menghentikan langkahnya. Lusi sudah rapi, ia adalah mahasiswa semester tiga yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.

“Ada apa?” tanya Miranda pelan.

“Bersihkan kamarku ya,” ucap Lusi tanpa rasa bersalah.

“Pekerjaanku masih banyak,” jawab Miranda jujur.

Lusi tampak merengut dan akan memanggil Rina ibunya.

“Jangan panggil Ibu,” ucap Miranda, wajahnya langsung ketakutan.

“Baik, aku akan bersihkan,” lanjut Miranda mengalah.

“Nah, begitu dong,” ucap Lusi lalu pergi keluar rumah dengan langkah ringan.

Miranda masuk ke kamar Lusi lalu mulai membersihkan kamar itu. Pakaian berserakan, gelas bekas minum menumpuk di meja belajar.

Miranda menggelengkan kepala pelan.

“Bagaimana ada anak perempuan sejorok ini,” gumamnya lirih.

Miranda terus merapikan kamar Lusi. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda di dekat laci tempat tidur.

Ada dua benda tergeletak di sana, yang satu tespek dan yang satunya lagi kotak kecil berwarna putih.

Miranda melihat dengan teliti lalu mengejanya pelan.

“Obat penunda kehamilan.

Terpopuler

Comments

mygood heart

mygood heart

MIRANDA BEGO LU TUH BKN ISTRI TAPI KACUNG....ORG TDK BERPENDIDIKAN JUGA TAHU MEMBEDAKAN MANA ISTRI MANA PEMBANTU ASTAGFIRULOH

2026-06-03

0

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Q yg muakkkk dngn smuanya smpai 10thun mengorbankan diri hny demi cinta dan bakti sama suaminya

2026-03-15

0

nunik rahyuni

nunik rahyuni

tahanya smpai 10 th..aq j yg bru sebulan di ikuti mertua ja sdh mo tak racun😁

2026-02-07

0

lihat semua
Episodes
1 KI 1
2 KI 2
3 KI 3
4 KI 4
5 KI 5
6 KI 6
7 KI 7
8 KI 8
9 KI 9
10 KI 10
11 KI 11
12 KI 12
13 KI 13
14 KI 14
15 KI 15
16 KI 16
17 KI 17
18 KI 18
19 KI 19
20 KIA 20
21 KI 21
22 KI 22
23 KI 23
24 KI 24
25 KI 25
26 KI 26
27 KI 27
28 KI 28
29 KI 29
30 ki 30
31 KI 31
32 KI 32
33 KI 33
34 KI 34
35 KI 35
36 KI 36
37 ki 37
38 KI 38
39 KI 39
40 KI 40
41 KI 41
42 KI 42
43 KI 43
44 KI 44
45 KI 45
46 KI 46
47 KI 47
48 KI 48
49 KI 49
50 ki 50
51 KI 51
52 KI 52
53 KI 53
54 KI 54
55 KI 55
56 KI 56
57 KI 57
58 KI 58
59 KI 59
60 KI 60
61 KI 61
62 KI 62
63 ki 63
64 KI 64
65 KI 65
66 ki 66
67 ki 67
68 KI 68
69 KI 69
70 KI 70
71 KI 71
72 KI 72
73 KI 73
74 KI 74
75 KI 75
76 KI 76
77 KI 77
78 KI 78
79 KI 79
80 KI 80
81 KI 81
82 saling memanfaatkan
83 menyesal
84 KI 84
85 menantu miskin lagi
86 kekacauan
87 demo 1
88 demo 2
89 demo 3
90 pabrik di tutup
91 malu telak
92 mata pencaharian
93 persaudaraan abadi
94 janji sambar petir
95 tampil ditelevisi
96 syukur dan iri dengki
97 iri sampai mati
98 menyusun rencana
99 kedatangan tamu 1
100 kedatangan tamu 2
101 kedatangan tamu 3
102 membakar pabrik
103 ditangkap polisi
104 Pertemuan
105 dalam bahaya
106 diselamatkan
107 dia tanggung jawabku
108 penangkapan
109 baikan
110 rencana dimulai
111 pertemuan kembali
112 persama catering
113 perangkap
114 lina siapa? saya enggak kenal
115 langkah impian
116 langkah impian 2
117 akhirnya
118 tamat
Episodes

Updated 118 Episodes

1
KI 1
2
KI 2
3
KI 3
4
KI 4
5
KI 5
6
KI 6
7
KI 7
8
KI 8
9
KI 9
10
KI 10
11
KI 11
12
KI 12
13
KI 13
14
KI 14
15
KI 15
16
KI 16
17
KI 17
18
KI 18
19
KI 19
20
KIA 20
21
KI 21
22
KI 22
23
KI 23
24
KI 24
25
KI 25
26
KI 26
27
KI 27
28
KI 28
29
KI 29
30
ki 30
31
KI 31
32
KI 32
33
KI 33
34
KI 34
35
KI 35
36
KI 36
37
ki 37
38
KI 38
39
KI 39
40
KI 40
41
KI 41
42
KI 42
43
KI 43
44
KI 44
45
KI 45
46
KI 46
47
KI 47
48
KI 48
49
KI 49
50
ki 50
51
KI 51
52
KI 52
53
KI 53
54
KI 54
55
KI 55
56
KI 56
57
KI 57
58
KI 58
59
KI 59
60
KI 60
61
KI 61
62
KI 62
63
ki 63
64
KI 64
65
KI 65
66
ki 66
67
ki 67
68
KI 68
69
KI 69
70
KI 70
71
KI 71
72
KI 72
73
KI 73
74
KI 74
75
KI 75
76
KI 76
77
KI 77
78
KI 78
79
KI 79
80
KI 80
81
KI 81
82
saling memanfaatkan
83
menyesal
84
KI 84
85
menantu miskin lagi
86
kekacauan
87
demo 1
88
demo 2
89
demo 3
90
pabrik di tutup
91
malu telak
92
mata pencaharian
93
persaudaraan abadi
94
janji sambar petir
95
tampil ditelevisi
96
syukur dan iri dengki
97
iri sampai mati
98
menyusun rencana
99
kedatangan tamu 1
100
kedatangan tamu 2
101
kedatangan tamu 3
102
membakar pabrik
103
ditangkap polisi
104
Pertemuan
105
dalam bahaya
106
diselamatkan
107
dia tanggung jawabku
108
penangkapan
109
baikan
110
rencana dimulai
111
pertemuan kembali
112
persama catering
113
perangkap
114
lina siapa? saya enggak kenal
115
langkah impian
116
langkah impian 2
117
akhirnya
118
tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!