KI 4

Jantung Miranda seperti diremas, terasa sesak di dadanya.

Sepuluh tahun menikah dengan Raka tentu bukan waktu sebentar.

Pernikahan itu memang tanpa cinta, hanya karena dijodohkan.

Waktu itu Miranda berlutut tiga jam di depan rumah Kakek Sagara.

Ia memohon agar kakek dari Raka membantu biaya pengobatan.

Ayah angkatnya sedang sekarat dan membutuhkan pertolongan cepat.

Hujan tipis membasahi halaman rumah besar itu.

Lutut Miranda gemetar, tetapi ia tak beranjak sedikit pun.

Baginya, harga diri tak lebih penting dari nyawa ayahnya.

Kakek Sagara akhirnya luluh melihat keteguhan gadis itu.

Beliau bersedia membantu pengobatan dengan satu syarat berat.

Miranda harus menikah dengan Raka, cucu yang disayanginya.

Raka dan keluarganya tentu saja menolak rencana itu.

Miranda hanya lulusan SD, dianggap tidak sepadan.

Sedangkan Raka lulusan SMA dan sedang menempuh sarjana.

Namun Kakek Sagara melihat Miranda dari sudut berbeda.

Baginya Miranda anak baik yang tahu balas budi.

Beliau yakin gadis itu bisa menjaga masa depan Raka.

Kakek Sagara bahkan mengancam dengan tegas sekali.

Jika Raka menolak, warisan akan diberikan kepada pemerintah.

Ancaman itu membuat keluarga tak berani membantah lagi.

Miranda baru berusia enam belas tahun saat menikah.

Ia kehilangan masa remaja tanpa sempat memilih jalan.

Sejak kecil hidupnya memang tak pernah benar-benar mudah.

Di keluarga angkat, Miranda sering diperlakukan buruk.

Raka datang membawa secercah harapan dalam hidupnya.

Perlahan ia menyimpan mimpi akan keluarga yang hangat.

Sepuluh tahun bersama, Raka tak pernah membentaknya.

Tidak pernah ada kekerasan fisik yang ia terima.

Namun Raka juga tak pernah membelanya di depan keluarga.

Malam ini kenyataan pahit harus ditelan Miranda.

Harapan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika.

Ia menatap wajah Raka dengan dada bergetar hebat.

“Mas katakan itu bohong mas,” ucap Miranda dengan nafas tersengal.

“Itu tidak bohong miranda,” ucap Lela dengan tatapan sinis, “raka sekarang sudah jadi general manajer, mempunyai istri seperti kamu tentu saja hanya akan membuat raka malu.”

Miranda melihat Lela sekilas dengan perasaan ciut.

Tatapan tajam itu membuatnya menundukkan kepala perlahan.

Namun ia kembali menatap Raka mencari kepastian.

“Mas tolong katakan ini tidak benar mas,” suara Miranda serak dan butiran air mata jatuh.

Raka menatap Miranda menghela napas sejenak.

Wajahnya datar seolah tanpa beban sama sekali.

“Miranda kamu tahu sendiri kita menikah tidak saling cinta, sekarang aku sudah menemukan wanita yang sepadan untukku,,dan malam ini kamu aku ceraikan karena lina tidak bisa menerima poligami,” ucap Raka dengan nada dingin seolah itu adalah hal yang biasa.

Napas Miranda semakin sesak mendengar kalimat itu.

Sepuluh tahun ia berharap Raka menjadi sandarannya.

Semua pengorbanan terasa menguap tanpa arti sedikit pun.

Ia terbiasa bangun dini hari mengurus rumah.

Tidur tengah malam setelah semua pekerjaan selesai.

Tak pernah ada ucapan terima kasih untuknya.

“Mas,” lirih Miranda.

“Diamlah jangan menangis terus,,aku muak mendengarnya,” ucap Rani dengan nada ketus.

Lela dan Lusi memandang Miranda dengan hina.

Mereka merasa berhasil menyatukan Lina dan Raka.

Lina bergelar magister dianggap jauh lebih pantas.

Miranda terus terisak, badannya terasa lemas.

“Berhenti menangis miranda,” bentak Lela.

“Diam Lela,” ucap Pak Budi.

Suasana ruang tamu mendadak hening dan menekan.

Bisik-bisik yang tadi terdengar perlahan berhenti.

Semua mata tetap memandang rendah pada Miranda.

“Miranda karena kamu sudah 10 tahun melayani kamu, kami sepakat tidak akan mengusir kamu, pekerjaan kamu sangat bagus,,maka aku mengizinkan kamu masih tinggal disini sebagai pembantu, kamu akan kami gaji 300,000 sebulan dan kamu boleh makan di rumah ini,” ucap Pak Budi.

Kalimat itu terdengar seperti kemurahan hati semu.

Bagi Miranda, ucapan itu lebih tajam dari hinaan.

Selama ini pun mereka memang menganggapnya pembantu.

Miranda selalu diam karena masih menyimpan harapan.

Ia yakin suatu hari keluarga Raka akan menerimanya.

Setiap salatnya dipenuhi doa untuk perubahan nasib.

Namun malam ini doanya seolah berbalik arah.

Jawaban yang datang justru kata cerai menyakitkan.

“Saya tidak mau pak,” ucap Pak Budi.

Pak Budi terkejut karena baru kali dibantah.

Wajahnya memerah menahan rasa tersinggung mendalam.

“Miranda,” geram Pak Budi, “kamu itu jadi orang harus tau diri, kamu itu tidak di akui oleh keluarga angkat kamu, sebenarnya kamu hidup sebatang kara, kalau kamu tidak bekerja disni dan tinggal disini dimana lagi kamu akan tinggal.”

“Bapak,” ucap Rani kesal, “kalau miranda memang sudah tidak mau tinggal lebih baik dia pergi saja pak,,ibu sudah sabar selama ini menahan malu mendengar gunjingan dari para tetangga yang menyangkan raka menikahi gadis tidak berpendidikan seperti dia.”

Pak Budi tampak tidak senang dengan pendapat istrinya.

Ia masih menyimpan sisa rasa kasihan pada Miranda.

“Bagaimana miranda, apakah kamu mau menjadi pembantu di rumah ini,” tanya Pak Budi.

Miranda tak menjawab, hanya menggeleng pelan.

Gerakan kecil itu sudah cukup sebagai penolakan tegas.

“Dasar kurang ajar,” ucap Lela, “sudah miskin, bodoh sekarang sombong lagi, kalau kamu tidak mau menjadi pembantu maka kamu harus pergi sekarang.”

Miranda menatap Raka dengan sisa harapan terakhir.

Raka dengan pelan berkata pada Miranda, “maaf miranda kita memang tidak setara, jika kamu memang tidak mau menjadi pembantu maka kamu harus pergi dari sini, terimakasih selama ini sudah mengurus baik dengan baik.”

Ucapan itu begitu sopan tetapi sangat menyakitkan.

Seolah sepuluh tahun hidupnya hanya tugas pelayan.

“Ngapain kamu memuji miranda mas nanti besar kepala dia mas,” ucap Lusi kesal dan sudah tidak sopan sama miranda dengan memanggil nama bisanya menggunakan kata mba atau kaka;

Miranda kembali menatap Raka tanpa berkedip.

“Jangan menatap raka terus miranda,” hardik Ibu Rani, “sekarang cepat kemasi seluruh baju kamu sekarang, aku tidak mau kamu ada disini sekarang.”

Miranda masih diam terpaku di tempatnya berdiri.

Kemarahannya Bu Rani meledak tak terkendali lagi.

“Miranda!!!!” suaranya melengking, “cepat kemasi seluruh barang kamu.”

Tubuh Miranda bergetar lalu bangkit perlahan.

Ia masuk ke kamar yang sepuluh tahun ditempatinya.

Langkahnya berat seperti menyeret seluruh luka.

Dengan tangan gemetar ia memasukkan pakaian ke koper.

Satu per satu dilipat tanpa semangat sedikit pun.

Air mata menetes di atas kain yang pernah dicucinya.

KTP dan ijazah SD ia masukkan paling pertama.

Hanya itu identitas yang ia miliki di dunia.

Tak ada tabungan atau perhiasan yang bisa dibawa.

Setiap lebaran Raka memberinya baju baru.

Hadiah kecil itu dulu membuatnya merasa dicintai.

Ia bertahan hanya karena tanda perhatian semu.

Namun malam ini semua keyakinan itu hancur.

Cinta yang ia kira ada ternyata hanya ilusi.

“Miranda cepat!!!” teriakan Ibu Rani terdengar dari ruang tengah.

Miranda mempercepat gerak memasukkan pakaian terakhir.

Koper tua itu terasa berat bukan karena isinya.

Melainkan karena kenangan yang harus ditinggalkan.

Ia keluar kamar dengan tubuh masih gemetar.

Rasa sedih bercampur bingung memenuhi kepala.

Ke mana ia harus pergi di malam yang asing.

Tak mungkin lagi tinggal di rumah mantan suami.

Statusnya sebagai istri telah dicabut malam ini.

Perannya sebagai pembantu pun ia tolak tegas.

Selama ini ia bertahan demi meluluhkan hati mereka.

Ia rela diperlakukan rendah demi sebutir harapan.

Kini harapan itu sudah benar-benar mati.

Menjadi pembantu dengan label mantan istri menyakitkan.

Miranda lebih memilih pergi daripada terus menderita.

Terpopuler

Comments

Ranny

Ranny

Jangan mau Mira tinggal kan saja rumah itu biar mereka cari pembantu lain kau cuma akan semakin di perbudak

2026-08-02

2

Han Han

Han Han

entah bodoh ke blo on ni org😂 kurang perasaan dipermalukan😂😂😂

2026-07-20

0

Heny

Heny

Jng mau jd pembantu gratisan lbh baik pergi

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 KI 1
2 KI 2
3 KI 3
4 KI 4
5 KI 5
6 KI 6
7 KI 7
8 KI 8
9 KI 9
10 KI 10
11 KI 11
12 KI 12
13 KI 13
14 KI 14
15 KI 15
16 KI 16
17 KI 17
18 KI 18
19 KI 19
20 KIA 20
21 KI 21
22 KI 22
23 KI 23
24 KI 24
25 KI 25
26 KI 26
27 KI 27
28 KI 28
29 KI 29
30 ki 30
31 KI 31
32 KI 32
33 KI 33
34 KI 34
35 KI 35
36 KI 36
37 ki 37
38 KI 38
39 KI 39
40 KI 40
41 KI 41
42 KI 42
43 KI 43
44 KI 44
45 KI 45
46 KI 46
47 KI 47
48 KI 48
49 KI 49
50 ki 50
51 KI 51
52 KI 52
53 KI 53
54 KI 54
55 KI 55
56 KI 56
57 KI 57
58 KI 58
59 KI 59
60 KI 60
61 KI 61
62 KI 62
63 ki 63
64 KI 64
65 KI 65
66 ki 66
67 ki 67
68 KI 68
69 KI 69
70 KI 70
71 KI 71
72 KI 72
73 KI 73
74 KI 74
75 KI 75
76 KI 76
77 KI 77
78 KI 78
79 KI 79
80 KI 80
81 KI 81
82 saling memanfaatkan
83 menyesal
84 KI 84
85 menantu miskin lagi
86 kekacauan
87 demo 1
88 demo 2
89 demo 3
90 pabrik di tutup
91 malu telak
92 mata pencaharian
93 persaudaraan abadi
94 janji sambar petir
95 tampil ditelevisi
96 syukur dan iri dengki
97 iri sampai mati
98 menyusun rencana
99 kedatangan tamu 1
100 kedatangan tamu 2
101 kedatangan tamu 3
102 membakar pabrik
103 ditangkap polisi
104 Pertemuan
105 dalam bahaya
106 diselamatkan
107 dia tanggung jawabku
108 penangkapan
109 baikan
110 rencana dimulai
111 pertemuan kembali
112 persama catering
113 perangkap
114 lina siapa? saya enggak kenal
115 langkah impian
116 langkah impian 2
117 akhirnya
118 tamat
Episodes

Updated 118 Episodes

1
KI 1
2
KI 2
3
KI 3
4
KI 4
5
KI 5
6
KI 6
7
KI 7
8
KI 8
9
KI 9
10
KI 10
11
KI 11
12
KI 12
13
KI 13
14
KI 14
15
KI 15
16
KI 16
17
KI 17
18
KI 18
19
KI 19
20
KIA 20
21
KI 21
22
KI 22
23
KI 23
24
KI 24
25
KI 25
26
KI 26
27
KI 27
28
KI 28
29
KI 29
30
ki 30
31
KI 31
32
KI 32
33
KI 33
34
KI 34
35
KI 35
36
KI 36
37
ki 37
38
KI 38
39
KI 39
40
KI 40
41
KI 41
42
KI 42
43
KI 43
44
KI 44
45
KI 45
46
KI 46
47
KI 47
48
KI 48
49
KI 49
50
ki 50
51
KI 51
52
KI 52
53
KI 53
54
KI 54
55
KI 55
56
KI 56
57
KI 57
58
KI 58
59
KI 59
60
KI 60
61
KI 61
62
KI 62
63
ki 63
64
KI 64
65
KI 65
66
ki 66
67
ki 67
68
KI 68
69
KI 69
70
KI 70
71
KI 71
72
KI 72
73
KI 73
74
KI 74
75
KI 75
76
KI 76
77
KI 77
78
KI 78
79
KI 79
80
KI 80
81
KI 81
82
saling memanfaatkan
83
menyesal
84
KI 84
85
menantu miskin lagi
86
kekacauan
87
demo 1
88
demo 2
89
demo 3
90
pabrik di tutup
91
malu telak
92
mata pencaharian
93
persaudaraan abadi
94
janji sambar petir
95
tampil ditelevisi
96
syukur dan iri dengki
97
iri sampai mati
98
menyusun rencana
99
kedatangan tamu 1
100
kedatangan tamu 2
101
kedatangan tamu 3
102
membakar pabrik
103
ditangkap polisi
104
Pertemuan
105
dalam bahaya
106
diselamatkan
107
dia tanggung jawabku
108
penangkapan
109
baikan
110
rencana dimulai
111
pertemuan kembali
112
persama catering
113
perangkap
114
lina siapa? saya enggak kenal
115
langkah impian
116
langkah impian 2
117
akhirnya
118
tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!