Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

KI 1

Jam sebelas malam Miranda masih duduk di teras dengan menggunakan mantel lusuhnya. Udara makin dingin menembus kulit, hujan turun rintik-rintik. Mata Miranda tertuju pada gerbang, tetapi orang yang dia tunggu tak kunjung tiba.

Miranda duduk di kursi, kepalanya tertunduk, matanya terasa berat. Baru saja ia memejamkan mata, terdengar klakson mobil dari luar pagar. Suara itu membuatnya tersentak dan segera berdiri.

Miranda bangkit lalu membukakan gerbang. Mobil Avanza terbaru masuk ke garasi, mobil itu adalah milik Raka, suaminya, yang baru dibeli sebulan lalu. Lampu mobil masih menyala terang.

Miranda menutup kembali gerbang, kemudian menghampiri Raka yang sedang asyik bermain ponsel. Ia mengulurkan tangannya untuk mencium tangan suaminya sebagai bentuk hormat.

Raka memberikan tangannya tanpa menoleh sedikit pun, dan Miranda mencium tangan itu dengan takzim. Wajah Raka tetap datar, matanya tidak lepas dari layar ponsel.

Raka masih asyik dengan ponselnya. Miranda berjongkok lalu membukakan sepatu dan kaos kaki Raka. Setelah itu ia mengelap kaki suaminya, kemudian memberikan sandal rumah dengan pelan.

Raka bangkit dan melangkah masuk ke rumah. Sikapnya dingin seolah Miranda tidak ada di dekatnya. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, hanya langkah tanpa perhatian.

“Mas mau makan atau mau mandi? Kalau mau makan aku akan panaskan sop dagingnya, Mas,” tanya Miranda sambil membawakan tas kerja Raka.

“Aku sudah makan, jadi aku mau mandi,” jawab Raka dengan nada dingin tanpa melihat wajah istrinya.

“Aku sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi, Mas.”

“Hm,” Raka hanya membalas dengan gumaman, tanpa menoleh sedikit pun. Ia terus fokus pada ponselnya seakan dunia di sekitarnya tidak penting.

Raka menaruh ponselnya sebentar lalu membuka baju dan melemparkannya secara sembarang. Kemudian ia membuka celana, memakai handuk, dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah seharian bekerja, rapat maraton, dan mengecek lapangan, tubuh Raka sangat lelah. Mandi air hangat membuat badannya kembali segar dan sedikit lebih ringan.

Setelah mandi ia keluar dari kamar mandi. Tampak celana dan baju tidur sudah tersedia rapi di atas kasur. Baju kotor tadi sudah tidak ada, dan Miranda juga tidak terlihat.

Raka memakai baju dan celana lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengambil ponselnya dan kembali berbalas pesan dengan seseorang, wajahnya tampak lebih hidup.

Sikap Raka sangat berbeda saat membalas pesan dibanding saat berhadapan dengan Miranda. Di depan layar ponsel ia bisa tersenyum, bahkan tertawa kecil tanpa beban.

Raka tampak cekikikan saat membalas sebuah pesan. Namun wajahnya berubah masam ketika Miranda masuk ke kamar membawa satu gelas air hangat.

“Mas, ini air hangatnya,” ucap Miranda sambil menaruh gelas di atas nakas dekat tempat tidur.

Miranda lalu merebahkan dirinya di kasur, di samping Raka. Sementara itu Raka masih asyik dengan ponselnya, seolah kehadiran istrinya tidak berarti.

“Mas, aku tidur dulu ya,” ucap Miranda pelan.

“Kamu bisa tidak ganggu aku? Dari tadi ngomong terus,” ketus Raka dengan nada kesal.

“Maaf, Mas,” jawab Miranda lirih lalu memejamkan matanya.

Raka melihat Miranda, istrinya, lalu menggelengkan kepala seolah kecewa. Padahal Miranda tidak melakukan apa-apa selain menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Raka kembali tersenyum saat terus berbalas pesan hingga tak terasa waktu berjalan cepat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam lebih.

“Ah, sial, sudah jam satu. Besok aku ada acara penting,” gumamnya pelan.

Ia lalu menaruh ponselnya di nakas dan ikut tertidur. Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara hujan dari luar jendela.

Jam tiga malam Miranda bangun, hal yang sudah rutin ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Tubuhnya bergerak otomatis seperti mesin yang terlatih.

Ia harus bangun sebelum subuh karena banyak pekerjaan menantinya. Hari-harinya selalu dimulai lebih awal daripada penghuni rumah yang lain.

Di rumah itu ada Raka suaminya, Rina ibu mertua, Budi ayah mertua, Lela kakak ipar, dan Lusi adik ipar. Dua lelaki dan empat perempuan tinggal bersama.

Seharusnya pekerjaan rumah bisa dibagi rata dan Miranda tidak terlalu lelah. Namun semua penghuni rumah seolah menyerahkan seluruh beban pada Miranda seorang.

Selama sepuluh tahun Miranda melayani mereka tanpa mengeluh. Tepatnya ia tidak bisa mengeluh, karena jika mengeluh ia akan dimarahi habis-habisan.

Miranda bangkit menyibak selimut, melihat Raka masih tidur lelap. Saat itu ponsel Raka berdering pelan, terlihat ada pesan masuk dengan nama Lina dan emotikon hati.

Mata Miranda sempat melihat layar ponsel, tetapi ia memilih fokus pada daya baterai yang tinggal sepuluh persen. Ia khawatir suaminya akan kesulitan di kantor.

Miranda tidak mau Raka mendapat masalah hanya karena ponsel kurang daya. Walau ia tidak begitu memahami pekerjaan suaminya, ia tahu ponsel sangat penting.

Dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, Miranda mengambil ponsel itu lalu mengisi dayanya. Ia melakukannya dengan penuh perhatian seperti biasa.

Setelah itu Miranda berjalan ke kamar mandi, mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat tahajud dua rakaat. Ia tidak bisa memperbanyak rakaat karena waktu sempit.

Setelah salat ia tidak lupa berdoa. Keinginan Miranda hanya satu, hidup sederhana dan membangun keluarga bahagia bersama suami yang ia cintai.

Walau sudah sepuluh tahun rumah tangganya tidak ada perkembangan, Miranda tidak pernah lelah berdoa. Harapan kecil itu selalu ia genggam erat.

Selesai berdoa Miranda menuju dapur lalu menyalakan kompor. Ia menanak nasi, sambil menunggu ia memotong sayuran dengan gerakan terampil dan cepat.

Tangannya bergerak cekatan tetapi tidak menimbulkan suara berarti. Gerakannya cepat namun presisi, bagaikan penari yang sudah terlatih bertahun-tahun.

Dalam waktu singkat sayur asam, telur goreng, sambal, dan lalapan sudah selesai. Tinggal disajikan di meja makan untuk seluruh penghuni rumah.

Miranda melangkah ke tempat cuci baju. Tampak tumpukan baju sudah menggunung, itu bukan cucian seminggu melainkan hanya satu hari saja.

Itu adalah cucian semua penghuni rumah. Semuanya malas mencuci dan akhirnya pekerjaan itu selalu diserahkan pada Miranda tanpa rasa bersalah.

Miranda menyalakan keran mesin cuci. Sambil menunggu tabung terisi air, Miranda memilah-milah baju sesuai warna dan jenis kainnya.

Baju berwarna terang didahulukan, sedangkan yang gelap belakangan. Ia melakukan semua itu dengan teliti agar tidak ada pakaian yang rusak.

Miranda memutar tombol dan mesin cuci pun menyala. Suara putarannya menjadi teman setia setiap pagi buta yang ia jalani seorang diri.

Terdengar azan subuh dari masjid dekat rumah. Miranda segera masuk ke kamarnya, sementara Raka masih tertidur lelap tanpa terganggu sedikit pun.

Miranda melaksanakan salat subuh dengan cepat. Setelah salam ia langsung bangkit tanpa berdoa panjang, karena pekerjaan masih menumpuk menunggu.

Ia membuka lemari lalu melihat kalender, hari itu hari Rabu. Miranda memilih baju seragam Raka berwarna biru muda dan celana hitam yang sudah disetrika.

Saat mempersiapkan baju seragam, ponsel Raka kembali berdering. Di layar tertera nama Lina dengan jelas, membuat tangan Miranda berhenti sejenak.

Ponsel terus berdering dan hati Miranda mulai bertanya-tanya. Siapa Lina, kenapa sejak semalam terus menghubungi suaminya tanpa henti.

Apakah dia rekan kerja Mas Raka, atau seseorang yang lain. Kalau rekan kerja, mengapa subuh begini masih membahas pekerjaan

Terpopuler

Comments

Lies Atikah

Lies Atikah

semoga Miranda nya tidak bodoh apalagi oon

2026-03-04

0

partini

partini

Miranda lagi author Suka sekali nama Miranda

2026-02-03

3

lihat semua
Episodes
1 KI 1
2 KI 2
3 KI 3
4 KI 4
5 KI 5
6 KI 6
7 KI 7
8 KI 8
9 KI 9
10 KI 10
11 KI 11
12 KI 12
13 KI 13
14 KI 14
15 KI 15
16 KI 16
17 KI 17
18 KI 18
19 KI 19
20 KIA 20
21 KI 21
22 KI 22
23 KI 23
24 KI 24
25 KI 25
26 KI 26
27 KI 27
28 KI 28
29 KI 29
30 ki 30
31 KI 31
32 KI 32
33 KI 33
34 KI 34
35 KI 35
36 KI 36
37 ki 37
38 KI 38
39 KI 39
40 KI 40
41 KI 41
42 KI 42
43 KI 43
44 KI 44
45 KI 45
46 KI 46
47 KI 47
48 KI 48
49 KI 49
50 ki 50
51 KI 51
52 KI 52
53 KI 53
54 KI 54
55 KI 55
56 KI 56
57 KI 57
58 KI 58
59 KI 59
60 KI 60
61 KI 61
62 KI 62
63 ki 63
64 KI 64
65 KI 65
66 ki 66
67 ki 67
68 KI 68
69 KI 69
70 KI 70
71 KI 71
72 KI 72
73 KI 73
74 KI 74
75 KI 75
76 KI 76
77 KI 77
78 KI 78
79 KI 79
80 KI 80
81 KI 81
82 saling memanfaatkan
83 menyesal
84 KI 84
85 menantu miskin lagi
86 kekacauan
87 demo 1
88 demo 2
89 demo 3
90 pabrik di tutup
91 malu telak
92 mata pencaharian
93 persaudaraan abadi
94 janji sambar petir
95 tampil ditelevisi
96 syukur dan iri dengki
97 iri sampai mati
98 menyusun rencana
99 kedatangan tamu 1
100 kedatangan tamu 2
101 kedatangan tamu 3
102 membakar pabrik
103 ditangkap polisi
104 Pertemuan
105 dalam bahaya
106 diselamatkan
107 dia tanggung jawabku
108 penangkapan
109 baikan
110 rencana dimulai
111 pertemuan kembali
112 persama catering
113 perangkap
114 lina siapa? saya enggak kenal
115 langkah impian
116 langkah impian 2
117 akhirnya
118 tamat
Episodes

Updated 118 Episodes

1
KI 1
2
KI 2
3
KI 3
4
KI 4
5
KI 5
6
KI 6
7
KI 7
8
KI 8
9
KI 9
10
KI 10
11
KI 11
12
KI 12
13
KI 13
14
KI 14
15
KI 15
16
KI 16
17
KI 17
18
KI 18
19
KI 19
20
KIA 20
21
KI 21
22
KI 22
23
KI 23
24
KI 24
25
KI 25
26
KI 26
27
KI 27
28
KI 28
29
KI 29
30
ki 30
31
KI 31
32
KI 32
33
KI 33
34
KI 34
35
KI 35
36
KI 36
37
ki 37
38
KI 38
39
KI 39
40
KI 40
41
KI 41
42
KI 42
43
KI 43
44
KI 44
45
KI 45
46
KI 46
47
KI 47
48
KI 48
49
KI 49
50
ki 50
51
KI 51
52
KI 52
53
KI 53
54
KI 54
55
KI 55
56
KI 56
57
KI 57
58
KI 58
59
KI 59
60
KI 60
61
KI 61
62
KI 62
63
ki 63
64
KI 64
65
KI 65
66
ki 66
67
ki 67
68
KI 68
69
KI 69
70
KI 70
71
KI 71
72
KI 72
73
KI 73
74
KI 74
75
KI 75
76
KI 76
77
KI 77
78
KI 78
79
KI 79
80
KI 80
81
KI 81
82
saling memanfaatkan
83
menyesal
84
KI 84
85
menantu miskin lagi
86
kekacauan
87
demo 1
88
demo 2
89
demo 3
90
pabrik di tutup
91
malu telak
92
mata pencaharian
93
persaudaraan abadi
94
janji sambar petir
95
tampil ditelevisi
96
syukur dan iri dengki
97
iri sampai mati
98
menyusun rencana
99
kedatangan tamu 1
100
kedatangan tamu 2
101
kedatangan tamu 3
102
membakar pabrik
103
ditangkap polisi
104
Pertemuan
105
dalam bahaya
106
diselamatkan
107
dia tanggung jawabku
108
penangkapan
109
baikan
110
rencana dimulai
111
pertemuan kembali
112
persama catering
113
perangkap
114
lina siapa? saya enggak kenal
115
langkah impian
116
langkah impian 2
117
akhirnya
118
tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!