Bab 4

“Tolongggg!” jerit Kayla sekuat tenaga.

“Diam!” bentak salah satu dari mereka, tangannya menutup mulut Kayla semakin keras.

Kayla menggeleng liar. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. “Gak mau! Lepas! Tolongggg! Tolongggg!”

Tubuhnya meronta sekuat yang ia bisa. Kuku-kukunya mencakar udara, kakinya menendang asal. Namun tenaganya kalah telak. Mereka bertiga. Sementara Kayla sendirian.

Ketakutan menyelimuti seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak tak karuan, napasnya tersengal, dunia seolah berputar terlalu cepat.

Dan di tengah kekacauan itu—

Suara motor terdengar mendekat.

Lampu motor menyorot ke arah mereka. Salah satu penjahat menoleh kesal. Dari balik cahaya itu, turun seorang laki-laki.

Penampilannya sederhana, memakai koko putih bersih, sarung, dan peci hitam. Helm ia lepas, memperlihatkan wajah tenang dengan sorot mata tajam.

‘’Tolonggg! Tolongg! Mereka begal! Tolonggg!’’

‘’Diemmm!’’

‘’Arrkkhhh!’’ Kayla memekik saat pisau itu berhasil menggores lehernya.

“Lepaskan.” Titah laki laki itu singkat, suaranya rendah tapi tegas.

“Jangan ikut campur! Pergi sana!” bentak salah satu preman sambil mengacungkan pisau.

‘’Mmpphhh—“

Kayla menatap laki-laki itu dengan mata membelalak. Mulutnya masih dibekap, tapi kepalanya menggeleng pelan bukan menolak, melainkan memohon. Ia takut laki-laki itu pergi. Ia takut kesempatan satu-satunya hilang. Laki-laki itu melangkah maju satu langkah.

“Jika kalian lepaskan dia, maka saya juga akan melepaskan kalian.” ucapnya tenang, tanpa teriak, tanpa emosi berlebihan.

Preman itu tertawa mengejek. “Halah, banyak bacot lo!”

Salah satu dari mereka maju lebih dulu. Tangannya terayun, menyerang tanpa aba-aba. Semua terjadi begitu cepat.

Bug!

Laki-laki bersarung itu menghindar dengan gesit. Gerakannya terukur, seperti orang yang terbiasa menghadapi situasi genting. Ia menangkis, memutar tangan lawannya, lalu mendorongnya hingga terjatuh.

“Brengsek!” maki yang lain.

Dua preman lain ikut maju. Pertarungan pecah di tengah jalan sepi itu. Bunyi langkah kaki, desahan napas, dan benturan tubuh terdengar kasar di telinga Kayla.

Meski mengenakan sarung, laki-laki itu bergerak lincah. Setiap serangan ia balas dengan cekatan, tanpa brutal, tapi cukup untuk melumpuhkan. Satu per satu, mereka tumbang. Ada yang tersungkur, ada yang mundur ketakutan.

“Pergi!” hardiknya.

Tanpa berpikir panjang, ketiga penjahat itu kabur, meninggalkan pisau yang terjatuh di aspal.

Sunyi kembali menyelimuti jalanan. Kayla berdiri terpaku beberapa detik. Kakinya terasa lemas. Begitu ia sadar semuanya telah berakhir, tubuhnya tak lagi sanggup menopang dirinya sendiri.

Brug!

Ia jatuh terduduk, lalu luruh sepenuhnya ke aspal. Tangisnya pecah. Bahunya bergetar hebat. Nafasnya tersengal-sengal, seolah baru saja keluar dari tenggelam yang panjang.

Laki-laki itu segera berjongkok di hadapannya, menjaga jarak, suaranya tetap lembut.

“Kamu sudah aman. Mereka pergi.”

Kayla menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa selamat dan sekaligus sangat rapuh.

Laki-laki itu melepas sarungnya sedikit, menutupkan dengan sopan ke arah Kayla.

“Pakai ini dulu. Jalanan dingin.” Kayla mengangguk kecil, tangannya gemetar saat menerima kain itu.

Di bawah lampu jalan yang redup, dengan koko putih yang sedikit kotor dan napas yang masih terengah, laki-laki itu berdiri seperti sosok yang tak pernah Kayla bayangkan akan muncul dalam hidupnya.

“Hiks… hiks… hiks…”

Tangis Kayla teredam di balik sarung yang melilit tubuhnya. Kain itu terasa hangat, berbau sabun dan sedikit keringat anehnya menenangkan. Namun tubuhnya masih gemetar hebat. Tangannya mencengkeram ujung sarung seolah itu satu-satunya pegangan di dunia.

Laki-laki itu berdiri tak jauh darinya, lalu meraih botol air mineral dari motor. Ia membuka tutupnya dan menyodorkannya dengan hati-hati.

“Minum dulu.”

Kayla mengangkat kepala. Matanya sembab, merah, basah oleh air mata yang tak kunjung habis. Dengan tangan bergetar, ia menerima botol itu.

“T—terima kasih… hiks… hiks…”

Beberapa teguk air masuk ke tenggorokannya. Nafasnya sedikit melonggar, meski dadanya masih terasa sesak.

“Daerah sini lumayan rawan,” ucap laki-laki itu pelan. “Lain kali hati-hati. Kalau nggak ada kepentingan, jangan keluar malam.”

Nada suaranya lembut. Bukan menghakimi. Bukan menyalahkan. Justru itu yang membuat Kayla kembali terisak.

Air mata yang sempat tertahan tumpah lagi. Bahunya naik turun, tangisnya pecah tanpa bisa dicegah. Bukan karena takut semata melainkan karena seseorang akhirnya berbicara padanya dengan kepedulian yang murni.

Laki-laki itu terlihat bingung. Ia menggaruk tengkuknya, menimbang kata-kata, lalu berjongkok agar sejajar dengan Kayla.

“Mbak…” katanya hati-hati. “Rumahnya di mana? Saya antar.”

Kayla menggeleng cepat, sarung di tubuhnya ikut bergeser pelan.

“Rumahku jauh…” suaranya serak.

“Di mana?”

Kayla menunduk. “Jakarta… hiks…”

Laki-laki itu terdiam.

Ia menoleh ke kanan dan kiri. Jalanan benar-benar lengang. Lampu jalan redup. Tak ada mobil lewat. Hanya sesekali motor melintas, itu pun cepat menghilang di tikungan.

Situasi itu tak aman. Terlebih untuk seorang gadis yang baru saja mengalami kejadian mengerikan.

Ia kembali menatap Kayla. Wajah gadis itu pucat. Bibirnya bergetar. Matanya kosong, seperti baru saja ditarik paksa dari jurang yang dalam.

“Maaf…” ucapnya lagi, lebih pelan. “Kamu mau ke mana? Atau dari mana?”

Kayla membuka mulut.

“Aku—” Kalimat itu tak pernah selesai.

Pandangan Kayla mendadak berkunang. Dunia di sekelilingnya seperti berputar, menyempit, lalu menjauh. Suara laki-laki itu terdengar samar, memudar. Kepalanya terasa ringan sekaligus berat, seperti ditarik ke bawah.

Tubuhnya oleng.

Brukkk

“Astaghfirullah!”

Spontan laki-laki itu melangkah cepat, menahan tubuh Kayla sebelum jatuh menghantam aspal. Satu lengannya menopang punggung Kayla, yang lain menahan kepalanya agar tidak terbentur.

Kayla tak sadarkan diri. Napasnya masih ada, pelan, tapi teratur. Wajahnya pucat, bulu matanya basah oleh sisa air mata.

Laki-laki itu menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat.

‘’Ya Allah, maafkan hamba. Hamba hanya menolong!’’ gumamnya dalam hati.

Terpopuler

Comments

Mariana Riana

Mariana Riana

wahh baru ketemu udah kasih sarung aja pak ustadz...😂😂

2026-02-15

6

enur 🍀⚘

enur 🍀⚘

mom jan bilang Kayla akan di bawa ke rumah Hanan ,, lalu tetiba ada penggrebekan 🤭✌

2026-02-15

2

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘRahma🏫⃟Sᵐᵖ/Billaacha

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘRahma🏫⃟Sᵐᵖ/Billaacha

Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia

2026-03-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 TAMAT (Happy Ending)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
TAMAT (Happy Ending)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!