Bab 5

Di sebuah rumah sederhana namun hangat di tengah Pondok Pesantren Al Falah yang oleh para santri biasa disebut ndalem lampu ruang tamu masih menyala temaram.

Aroma teh hangat dan kayu tua bercampur dengan kesunyian malam yang kian larut.

“Umi, Mas ke mana? Kok nggak ada di rumah?” tanya seorang gadis berwajah teduh dengan khimar krem yang menjuntai anggun.

Namanya Fatimah. Ia menghampiri ibunya yang sedang melipat mukena di kursi kayu.

“Tadi Masmu pamit mau ke rumah Kyai Abdul,” jawab Anisa lembut, tanpa mengangkat wajah. “Tapi Umi juga heran, sudah malam begini belum pulang.”

Fatimah mengerutkan kening. “Mas ke sana ngapain, Umi? Jangan-jangan… Mas Hanan mau nerima ta’aruf itu?”

Anisa terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Umi nggak tahu, Nduk. Masmu itu susah ditebak. Doanya panjang, tapi lisannya pendek.”

Fatimah tersenyum tipis, lalu duduk di bangku panjang di depan ibunya. “Kalau Abi ke mana? Tumben jam segini belum pulang.”

“Abi masih ada tamu di masjid. Dari ba’da isya tadi. InsyaAllah sebentar lagi pulang.”

Percakapan mereka terhenti ketika suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Suaranya pelan, seolah sengaja tak ingin menarik perhatian.

Fatimah bangkit. “Umi… ada tamu jam segini?”

Anisa ikut berdiri. “Umi juga nggak tahu, Sayang.”

“Ayo, kita lihat.”

Pintu kayu dibuka perlahan. Angin malam langsung menyusup, membawa aroma tanah basah. Dan saat itulah, mata Fatimah dan Anisa membelalak bersamaan.

“Assalamualaikum!” ucap Hanan, suaranya sedikit tertahan oleh napas yang masih belum sepenuhnya tenang.

“Waalaikumsalam,” jawab Anisa dan Fatimah hampir bersamaan.

Fatimah yang berdiri paling dekat dengan pintu langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tertuju pada sosok perempuan yang digendong kakaknya, terbungkus sarung cokelat milik Hanan.

“Mas… itu siapa?” tanya Fatim dengan dahi berkerut.

Hanan melangkah masuk, berhenti tepat di tengah ruangan. “Mas nggak tahu, Fatim. Tadi ketemu di pinggir jalan. Dia dirampok… terus pingsan.”

“Astaghfirullah…” Anisa refleks menutup mulutnya. “Ya Allah, kasihan sekali. Ayo, Mas, letakkan di sofa dulu.”

Hanan terdiam sejenak. Pandangannya beralih pada wajah Kayla yang masih pucat, napasnya belum teratur. Ia ragu.

“Maaf, Umi,” ucapnya hati-hati. “Bisa… di kamar Fatimah saja?”

Fatimah menoleh cepat. “Kenapa, Mas?”

Hanan menghela napas pendek. “Pinjam kamar kamu sebentar ya, Dek. Kalian sama-sama perempuan.”

Fatimah menatap wajah kakaknya yang terlihat sungguh-sungguh. Tak banyak bertanya lagi, ia mengangguk.

“Ah ya sudah. Ayo, Mas.”

Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Hanan membawa Kayla menuju kamar Fatimah. Ia menurunkannya di atas kasur, mengatur posisi tubuh perempuan itu agar nyaman.

Setelah memastikan Kayla benar-benar terbaring dengan aman, Hanan segera menjauh.

“Tapi…” Fatimah menahan langkah kakaknya. “Kenapa pakai sarung Mas Hanan?”

Hanan tidak langsung menjawab. Ia menunduk, lalu berkata pelan, “Umi, Fatim… tolong ya. Hanan tunggu di luar.”

Tanpa menunggu respons, Hanan melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia berdiri di luar, menarik napas panjang, seolah baru sekarang merasakan betapa berat kejadian malam ini.

Di dalam kamar, Anisa dan Fatimah saling pandang.

“Kenapa ya?” gumam Fatimah bingung.

Anisa mendekat ke kasur, tangannya perlahan membuka sarung yang membungkus tubuh Kayla. Saat kain itu tersingkap, keduanya terdiam bersamaan.

“MasyaAllah…” desah Anisa lirih.

“Astaghfirullah…” Fatimah refleks memalingkan wajah, lalu menatap lagi dengan mata membulat.

Perempuan itu ternyata mengenakan hotpants pendek dan tanktop putih yang ditutup kardigan tipis. Kulitnya terlihat pucat, kontras dengan rambut panjangnya yang tergerai, berwarna ombre ungu terang yang mencolok di antara nuansa kamar pesantren yang sederhana.

Fatimah mengangkat alis, lalu terkekeh kecil.

“Pantes aja Mas Hanan rela ngasih sarungnya buat ngebungkus dia. Ternyata… sangat menggoda ya, Mi.”

“Hush,” Anisa menegur sambil tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. “Mulut kamu itu, loh.”

Namun Anisa paham. Kini semuanya terasa masuk akal.

Jika perempuan itu dibaringkan di sofa ruang tamu, tak lama lagi Abi pasti pulang dari masjid. Dan penampilan Kayla yang sama sekali tidak menutup aurat tentu akan menjadi pemandangan yang tak pantas dilihat oleh laki-laki ajnabi, apalagi di lingkungan pesantren.

Anisa merapikan posisi kardigan Kayla agar lebih tertutup, lalu menarik selimut tipis dan menyelimutinya hingga dada.

“Kasihan…” ucapnya pelan. “Pasti dia ketakutan sekali.”

Fatimah mengangguk, menatap wajah Kayla yang kini terlihat lebih tenang meski masih pucat.

“Mas Hanan bener ya, Mi. Diam-diam… perhatiannya besar.”

Anisa tersenyum samar. Di benaknya terlintas banyak hal, tentang takdir, tentang pertemuan yang tak direncanakan, dan tentang bagaimana Allah sering mempertemukan manusia dengan cara yang tak terduga.

Sementara itu, di luar kamar, Hanan masih berdiri dengan kepala tertunduk. Tangannya terlipat di depan dada, bibirnya komat-kamit melafalkan istighfar.

Ia tak tahu siapa perempuan itu. Tak tahu dari mana datangnya. Namun malam ini, satu hal pasti ada kisah yang baru saja dimulai, tanpa ia sadari.

**

“Eugghhhh…”

Suara lirih itu membuat Fatimah yang sejak tadi duduk di kursi belajar langsung bangkit. Ia mendekat ke arah kasur, melihat perempuan yang tadi terbaring tak sadarkan diri kini mulai bergerak.

“Mbak… sudah bangun?” tanya Fatimah pelan, takut suaranya terlalu keras.

Kelopak mata Kayla terbuka perlahan. Pandangannya masih kabur, kepalanya terasa berat seperti dipukul. Ia mencoba bangun dan duduk, namun tubuhnya sedikit oleng.

“Hati-hati, Mbak,” Fatimah refleks menahan bahunya.

“Makasih…” suara Kayla terdengar lemah.

“Sama-sama, Mbak. Gimana? Masih pusing?”

Kayla menggeleng pelan, meski nyatanya kepalanya masih terasa berdenyut. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Ruangan itu sederhana, rapi, dengan rak kitab di sudut dan sajadah tergantung di balik pintu.

“Nama Mbak siapa?” tanya Fatimah lembut.

“Kayla,” jawabnya lirih. “Nama aku Kayla.” Ia terdiam sebentar, lalu menatap Fatimah bingung. “Kamu siapa? Dan… aku di mana?”

“Aku Fatim, Mbak. Kamu di rumah kami.”

Kayla mengangguk kecil. “Makasih…”

Fatimah tersenyum tipis. “Mbak, ini udah malam banget. Mbak tidur di sini aja. Besok pagi baru pulang.”

“Tapi—” Kayla menghentikan ucapannya, lalu refleks menoleh ke kanan kiri. “HP-ku?”

“Oh, ini,” Fatimah mengambil tas kecil yang sejak tadi diletakkan di meja. Ia menyerahkan tas itu pada Kayla. “Isinya uang sama ponsel Mbak. Aman kok.”

Kayla membuka tas itu, napasnya terasa sedikit lega ketika melihat ponselnya masih ada. Namun begitu layar menyala, ia mengerutkan kening.

“Eemm… maaf,” ucapnya ragu. “Di sini ada WiFi nggak?”

Fatimah menggeleng. “Nggak ada. Tapi aku bisa kasih hotspot. Sebentar ya.”

Fatimah segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan tethering data. Tak lama setelah Kayla tersambung, layar ponselnya langsung dipenuhi notifikasi. Pesan dan panggilan tak terjawab masuk bertubi-tubi.

Dada Kayla terasa sesak. Ia menghela napas panjang, lalu menekan nama yang paling ia ingat saat ini.

“Halo, Om…”

“Ya Allah, Kay!” suara Arman terdengar panik dari seberang sana. “Kamu ke mana aja sih? Dari tadi Om telepon nggak bisa. Chat nggak dibalas. Kamu ke mana?!”

Air mata Kayla langsung menggenang. “Om… tadi Kayla dirampok…Hiks… hiks…”

____

...Update selow ya sayang 🙈 karena ini gak akan panjang bab nya. Jadi sehari se bab 🤭🙈🤣 nanti kalau malem jumat, mommy spesial 2 bab 🤣...

Terpopuler

Comments

Mariana Riana

Mariana Riana

klu yg ini udah BS d tebak umi...kan udah kasih sarung...bentar lg yg d dalam sarungnya d kasih😂😂

2026-02-16

7

Mariana Riana

Mariana Riana

apa hubungan nya cobak..malam Jumat sm hari biasa😂

2026-02-16

2

Rosy

Rosy

padahal biasanya mommy kalau malam Jumat suka nyari wangsit sambil ibadah Sunnah malem Jum'at 🤭
di tunggu dobel upnya mom 😂

2026-02-16

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 TAMAT (Happy Ending)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
TAMAT (Happy Ending)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!