Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Bab 1

“Kayla, Mama dan Papa akan bercerai.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa peringatan.

Seperti pisau tumpul yang ditancapkan perlahan ke dada.

Kayla yang sejak tadi duduk di sofa sambil memeluk lututnya langsung mendongak. Tatapannya datar, kosong, menelusuri wajah dua orang yang selama ini ia sebut rumah.

Tidak ada air mata. Tidak ada reaksi berlebihan. Hanya sunyi yang mengendap di matanya.

Ibunya berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya keras, seperti sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.

“Mama udah putusin. Mama akan keluar negeri.” Ia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin. “Mama gak bisa bawa kamu.”

Kayla masih diam. Bola matanya tidak berkedip. Jantungnya berdetak kencang, tapi wajahnya tetap datar, seolah kabar itu tak lebih dari pengumuman cuaca.

Ayahnya melangkah mendekat satu langkah. Suaranya dibuat selembut mungkin, meski jelas bergetar.

“Kayla, kamu ikut sama Papa aja ya, Sayang.”

Belum sempat Kayla membuka suara, ibunya sudah lebih dulu menoleh tajam ke arah ayahnya.

“Sekali lagi aku tekankan. Kalau sampai kamu pilih kasih sama anak kamu, aku gak akan tinggal diam. Aku akan kembali dan membawa Kayla!” ancamnya, matanya menyala penuh emosi.

Ayahnya tertawa kecil, sinis.

“Cih. Gak usah sok paling peduli. Nyatanya kamu akan pergi dengan laki-laki lain.”

Ibunya mendengus. “Aku pergi dengan Bagas. Karena kamu yang lebih dulu s*lingkuh dari aku!”

“Aku s*lingkuh juga gara-gara kamu!” balas ayahnya, suaranya meninggi.

“Kamu selalu nyalahin aku!”

“Karena memang kamu yang salah!”

Pertengkaran itu kembali berputar seperti kaset rusak. Kata-kata tajam beterbangan, saling menabrak, tanpa peduli ada seorang anak yang berdiri di tengah-tengah reruntuhan mereka.

Kayla mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berdengung. Lalu, tanpa ia sadari, suaranya meledak.

“BERHENTIIIIII!”

Jeritannya menggema di ruang tamu. Membuat dua orang dewasa itu membeku di tempat. Untuk pertama kalinya sejak tadi, mereka menoleh ke arah Kayla bukan sebagai saksi, tapi sebagai korban.

Kayla berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi suaranya justru terdengar tegas.

“Kayla gak akan ikut Mama atau Papa.” Ia menatap ayahnya, lalu ibunya, bergantian. “Kayla bisa urus diri Kayla sendiri.”

Tidak ada tangisan. Tidak ada rayuan. Hanya keputusan yang diucapkan oleh gadis empat belas tahun yang terlalu cepat dewasa karena keadaan.

Tanpa menunggu jawaban, Kayla berbalik. Langkahnya cepat, namun terkontrol.

Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang hatinya baru saja retak.

Di dalam kamar, Kayla menyandarkan punggungnya ke pintu. Ia menatap langit-langit, membiarkan sunyi menelannya.

Dadanya sakit. Sangat sakit.

Namun Kayla menolak menangis.

Karena sejak hari itu, ia belajar satu hal:

bahwa orang dewasa bisa pergi kapan saja—

dan satu-satunya orang yang bisa ia andalkan, hanyalah dirinya sendiri.

**

Beberapa tahun kemudian.

Lampu-lampu klub berkelip liar, beradu dengan dentuman musik yang memekakkan telinga. Asap rokok bercampur aroma alkohol memenuhi udara, membuat malam terasa semakin panas dan berisik. Di sudut VIP, tawa pecah tanpa beban.

“Woooo! Cheers untuk kemenangan kita!” seru Adelia sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

“Cheers!” sahut Ditha, tak kalah semangat.

Zayn ikut menyeringai lebar. Keempat gelas itu bertemu di udara, beradu keras sebelum isinya diteguk habis. Cairan panas mengalir di tenggorokan Kayla, tapi ia tak meringis. Justru tersenyum puas.

Malam ini miliknya.

Kayla baru saja memenangkan balapan ilegal di pinggiran kota. Namanya kembali disebut-sebut. Uang taruhan berpindah tangan. Dan seperti biasa, kemenangan dirayakan dengan pesta, keras, bebas, tanpa aturan.

“Gila sih kamu, Kay,” kata Zayn sambil menepuk meja. “Mobil lo kayak setan kesurupan. Lawan-lawan langsung nyerah.”

Kayla terkekeh kecil. Rambut hitamnya tergerai, riasan matanya tebal dan tajam. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis empat belas tahun yang dulu berdiri di ruang tamu, berteriak menghentikan pertengkaran orang tuanya.

Yang ada sekarang hanyalah Kayla Aurora,, gadis yang dikenal berani, nekat, dan tak peduli konsekuensi.

“Menang itu soal fokus,” jawabnya santai. “Kalau ragu dikit aja, habis.”

Adelia mengangguk setuju. “Dan Kayla gak pernah ragu.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi bagi Kayla, itu adalah kebiasaan yang lahir dari luka lama. Kehidupan Kayla benar-benar berubah.

Sejak perceraian orang tuanya enam tahun lalu, ia memilih hidup sendiri. Tidak ikut ayah, tidak ikut ibu. Ia menolak jadi barang tarik-ulur dua orang dewasa yang sibuk dengan kebahagiaan masing-masing.

Ayahnya kini bahagia dengan keluarga barunya, istri baru, anak tiri, rumah yang katanya lebih “tenang”.

Ibunya pun sama, menetap di luar negeri bersama laki-laki pilihannya, hidup yang terlihat sempurna dari unggahan media sosial.

Tak satu pun dari mereka benar-benar menoleh ke belakang.

Dan Kayla… memilih berhenti berharap.

Ia pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sekolah ditinggalkan. Rumah hanya sekadar tempat singgah. Malam jadi sahabat, kecepatan jadi candu, dan kebisingan klub jadi pelarian dari sunyi yang terlalu berisik di kepalanya.

Di lintasan balap, ia merasa hidup.

Di klub malam, ia merasa bebas.

Meski sebenarnya, semua itu hanya cara untuk tidak merasa apa-apa.

Kayla menyesap minumannya lagi. Pandangannya sempat kosong, menembus keramaian. Di balik tawa dan sorak kemenangan, ada ruang hampa yang tak pernah benar-benar terisi.

“Lo kenapa?” tanya Ditha, menyadari perubahan itu.

Kayla menggeleng cepat. “Gak apa-apa.”

Seperti biasa. Selalu “gak apa-apa”.

Padahal jauh di dalam hatinya, ada gadis kecil yang dulu berteriak minta diperhatikan. Gadis yang belajar terlalu cepat bahwa rumah bisa hancur, dan cinta bisa pergi kapan saja.

Maka Kayla memilih sendiri. Mencari kebahagiaan sendiri. Dengan caranya sendiri, meski caranya sering kali salah.

Dan ia tak tahu… bahwa suatu hari, hidup akan memaksanya berhenti berlari, dan mempertemukannya dengan jalan pulang yang tak pernah ia rencanakan.

**

Pagi-pagi sekali atau setidaknya begitu yang Kayla kira, ponselnya berdering tanpa ampun di atas meja kecil di samping tempat tidur. Getarnya menggema di kepala Kayla yang masih terasa berat, seolah ada palu yang mengetuk-ngetuk dari dalam.

Ia meringis. Aroma alkohol semalam masih samar tercium. Tanpa membuka mata, tangannya meraba-raba permukaan meja hingga menemukan ponsel.

“Hemmm…” gumamnya malas, suara serak bercampur kantuk.

“Astaghfirullah, Kayla… kamu belum bangun, Nduk?”

Seketika itu juga, mata Kayla terbuka lebar. Suara itu. Suara yang sangat ia kenal. Suara yang selalu terdengar lembut, bahkan ketika menegur.

Kayla menurunkan ponsel sedikit, menatap layar dengan jantung yang mendadak berdebar.

Eyang.

Ia langsung duduk, pusingnya seakan terlupakan. Dengan cepat Kayla menarik napas, berusaha menetralkan suaranya menyembunyikan sisa mabuk, menyembunyikan kehidupan yang tak pernah ingin ia perlihatkan pada perempuan sepuh di seberang sana.

“Eyang… kenapa pagi-pagi udah telepon?” tanyanya, dibuat sopan dan setenang mungkin.

Di seberang sana terdengar suara kecil disusul desahan napas. “Astaghfirullah pagi darimana, cah ayu? Ini sudah jam satu!”

____

...Yuhuuuu.......

...Assalamualaikum wr. wb kesayangan Mommy semuanya. Gimana kabarnya? sehat dong ya? 🥳...

...Bantu ramaikan kamar baru Mommy ya, biar bisa tamat 🙈🤣...

...Cukup, like, komen dan Tap love nya 🥰 gampang kan (mode maksa) 🤣...

...Mulai hari ini, Kayla dan ustadz Hanan akan menemani kalian di waktu Sahur yaaa 🥰...

Terpopuler

Comments

HR_junior

HR_junior

mommy kesini dah lama gak baca crita mommy..q banyak baca di NT jarang te rumah lain...kasihan juga ya si Kayla...ortunya kebangeten

2026-05-11

0

Lela

Lela

iseng2 buka profil mommy eh ternyata ada novel ko ga ada promonya sih mom

2026-04-11

1

Eka ELissa

Eka ELissa

nikah dadakan GK di lnjutin Mak...
Bayu......aku BCA Mak...

2026-02-28

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Bab 125
126 Bab 126
127 Bab 127
128 TAMAT (Happy Ending)
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Bab 125
126
Bab 126
127
Bab 127
128
TAMAT (Happy Ending)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!