The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Chapter 1. Kematian Thomas dan tubuh baru

Gedung Putih, Washington D.C. - 15 Maret 2025

Hujan gerimis membasahi jendela Oval Office ketika Thomas Watson mengangkat pena emas di tangannya. Di hadapannya terbentang sebuah dokumen yang akan mengubah arah sejarah dunia: The Global Peace Accord—perjanjian damai yang akhirnya mengakhiri konflik Timur Tengah yang telah berkecamuk selama tiga dekade.

“Mr. President, anda telah menciptakan sebuah sejarah,” ucap Menteri Luar Negeri, Steven Chen, suaranya bergetar menahan emosi.

Di sekeliling mereka, para diplomat dari dua belas negara berdiri dalam keheningan yang tegang, seolah menahan napas bersama. Tidak ada yang berani bergerak, takut merusak detik yang kelak akan tercatat dalam buku-buku sejarah.

Thomas tersenyum—senyum khas yang telah menjadi ikon kepemimpinannya. Hangat, tulus, dan entah bagaimana mampu membuat siapa pun merasa didengar. Pada usia lima puluh dua tahun, rambutnya yang mulai beruban justru menambah kharisma seorang negarawan yang telah mengabdikan hampir seperempat abad hidupnya pada dunia politik.

"Bukan saya yang menciptakan sejarah, Steven," katanya lembut, pena melayang di atas kertas. "Tapi kita semua, Ini adalah kemenangan bagi kemanusiaan. Kemenangan untuk setiap ibu yang tidak perlu lagi menangis kehilangan anaknya—"

Pena itu terlepas dari genggamannya

Thomas Watson, Presiden Amerika Serikat ke-47, yang memiliki approval rating 91%—angka tertinggi dalam sejarah modern—tiba-tiba memegang dadanya. Wajahnya memucat.

"Sir?!" Steven melompat dari kursinya.

Tapi Thomas sudah jatuh. Lutut menyentuh karpet merah Oval Office, tangan kanan mencengkeram dada dengan kuat. Rasa sakit yang mengerikan menjalar dari jantung, seperti ada yang meremukkan tulang rusuknya dari dalam.

Tidak… jangan sekarang… perjanjiannya…

“PANGGIL TIM MEDIS! SEKARANG!” teriakan menggema memecah ruangan.

Pandangan Thomas mulai mengabur. Wajah-wajah panik berputar di sekelilingnya—para diplomat, pengawal, Steven—semuanya tampak terdistorsi. Tangan-tangan mencoba menopangnya, suara-suara memanggil namanya silih berganti, namun terdengar semakin jauh. Seolah ia perlahan tenggelam ke dasar sunyi yang tak terjangkau.

Detik-detik terakhir yang tertangkap oleh kesadarannya adalah langit-langit Oval Office yang megah—ruangan tempat ia menandatangani ratusan undang-undang, mengambil ribuan keputusan, dan mengubah arah hidup jutaan manusia.

Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.

...***...

Tiga Hari Kemudian - Washington D.C.

Hujan turun lebih deras kali ini.

Ribuan payung hitam memenuhi National Mall, membentang dari Lincoln Memorial hingga Capitol Building. Dua juta orang berdiri dalam keheningan yang sakral—tak ada percakapan, hanya suara hujan yang jatuh tanpa henti dan isak tangis yang sesekali pecah.

Di atas panggung berkabung, sebuah peti mati berlapis bendera Amerika Serikat terbaring dengan penuh kehormatan. Merah, putih, dan biru tampak kontras di tengah kelabu langit Washington.

Presiden-presiden terdahulu berdiri berjajar dengan wajah tertunduk. Para pemimpin dunia dari lima benua hadir tanpa protokol berlebihan—tak ada senyum diplomatik, maupun pidato kosong. Di antara mereka, warga biasa datang dari seluruh penjuru negeri: veteran perang, ibu rumah tangga, mahasiswa, anak-anak yang menggenggam foto kecil Thomas Watson.

Hari itu, tidak ada perbedaan pangkat, jabatan, atau negara.

Hanya manusia yang berdiri bersama—mengantarkan kepergian seorang pemimpin yang gugur di ambang perdamaian.

Layar raksasa menampilkan wajah Thomas Watson.

Foto-foto berganti perlahan: saat ia masih menjadi senator muda dengan senyum penuh idealisme, momen kampanye legendaris ketika ia menolak dana korporasi dan memilih turun langsung ke jalan—berbicara dengan petani, guru, dan perawat.

Ada pula gambar ketika ia menandatangani Universal Healthcare Act, saat ia berlutut sejajar dengan anak-anak sekolah dasar, mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh.

Layar kemudian menampilkan satu foto yang membuat banyak kepala tertunduk: Thomas Watson menangis di pemakaman korban penembakan massal—dan bersumpah, di hadapan dunia, bahwa ia akan mengubah segalanya.

Dan ia menepatinya.

Dua periode kepemimpinan. Delapan tahun pengabdian. Ia melahirkan kebijakan-kebijakan yang menurunkan angka kriminalitas, pengangguran, dan tunawisma secara drastis. Ia menyatukan kembali masyarakat yang terpecah—bahkan berhasil merajut perdamaian di Timur Tengah, sesuatu yang selama puluhan tahun dianggap hampir mustahil.

“Thomas Watson bukan sekadar seorang pemimpin,” suara Sekretaris Jenderal PBB menggema melalui pengeras suara. “Ia adalah pengingat bahwa politik masih bisa mulia. Bahwa kekuasaan dapat digunakan untuk melayani, bukan untuk menguasai.”

Keheningan kembali menyelimuti National Mall—bukan karena tak ada yang ingin berbicara, melainkan karena kata-kata itu telah mewakili semuanya.

Di barisan depan, seorang wanita tua—guru sekolah dasar yang pernah mengajar Thomas—menangis terisak. Bahunya bergetar, tangannya menggenggam erat saputangan lusuh. Di matanya, bukan hanya seorang presiden yang pergi, melainkan seorang murid yang dulu ia ajari membaca dan bermimpi.

Di seluruh dunia, bendera berkibar setengah tiang.

Di Tokyo, London, Prancis, Nairobi, hingga São Paulo, jutaan orang menyalakan lilin di tengah malam. Media sosial dipenuhi satu tagar yang melampaui bahasa dan batas negara: #ThankYouMrPresident.

Bahkan para pemimpin yang pernah menjadi lawan politiknya menyampaikan penghormatan terakhir.

“Dunia kehilangan suara kebijaksanaan,” tulis Presiden Rusia.

“Kita kehilangan sahabat sejati bagi perdamaian,” tulis Perdana Menteri Inggris.

Saat peti mati diturunkan ke tanah Arlington, dua puluh satu dentuman meriam menggema, memecah langit yang masih diselimuti hujan. Burung-burung beterbangan dari pepohonan, seakan ikut terkejut oleh gema perpisahan itu.

Dan Thomas Watson,The People’s President—dimakamkan bukan hanya sebagai kepala negara,

melainkan sebagai pahlawan kemanusiaan.

...***...

Fortress of Scarlet Dawn - Wilayah Vancroft, Kekaisaran Valcrest

"“Argh—!”

Thomas terbangun dengan teriakan, namun yang keluar hanyalah erangan serak. Tenggorokannya terasa kaku, seolah sudah lama tidak digunakan untuk berbicara.

Tuhan… ini benar-benar sakit.

Seluruh tubuhnya terasa berat dan kacau, seperti baru saja dihantam sesuatu yang tak kasatmata. Dadanya tertekan, napasnya pendek, dan ada sensasi panas yang aneh mengalir di dalam dirinya—tidak membakar, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang sangat salah.

“Apa… apa yang—”

Ia terdiam.

Suara itu bukan miliknya.

Karena terdengar lebih dalam dan berat. Asing di telinganya sendiri.

Dengan susah payah, Thomas membuka mata. Cahaya matahari langsung menusuk penglihatannya, memaksanya menyipit. Sinar itu menembus tirai sutra merah yang bergoyang pelan tertiup angin.

Dan saat kesadarannya mulai utuh, ia menyadari satu hal—

Ini bukan Gedung Putih.

Bukan pula kamar rumah sakit.

Ruangan ini… sama sekali tidak dikenalnya.

Langit-langit di atasnya terbuat dari batu berukir dengan simbol-simbol asing yang bersinar redup—seolah diukir dengan tinta emas. Lampu kristal raksasa tergantung, memancarkan cahaya lembut yang... tunggu, tidak ada kabel listrik?

"Dimana..."

Thomas mencoba bangkit—dan hampir pingsan lagi karena rasa sakit yang menghantam. Seperti ada ribuan jarum menusuk setiap saraf.

Dengan gigi terkatup, ia memaksakan diri untuk duduk. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipis.

Ruangan ini... terasa begitu asing.

Dinding batu granit merah dengan permadani sutra bertahtakan lambang—semacam perisai berwarna merah tua dengan pedang bercahaya di tengahnya. Jendela besar dengan kaca patri bergambar sosok berpedang yang berdiri di atas tumpukan iblis. Perapian besar di sudut ruangan dengan api yang menyala tanpa kayu bakar.

Ini bukan mimpi.

Detak jantungnya mulai berdetak kencang.

"Fokus, Thomas," gumamnya dengan suara serak.

Ia mencoba menggerakkan kaki. Namun setiap gerakan yang ia lakukan terasa begitu berat. Dengan langkah gontai, Thomas turun dari tempat tidur berkanopi sutra dan nyaris saja terjatuh.

Lututnya bergetar. Otot-otot tubuhnya tidak merespons dengan benar.

Matanya menangkap kilauan di seberang ruangan—sebuah cermin besar dengan bingkai emas, berdiri setinggi dua meter.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Dengan langkah terseret, ia berjalan ke arah cermin itu, satu tangan meraba furnitur di sekitarnya untuk menjaga keseimbangan.

Akhirnya, ia berdiri tepat di depan cermin.

Dan dunianya seakan berhenti.

Sosok yang menatap balik ke arahnya bukanlah dirinya yang ia kenal.

Melainkan seorang pria—tidak, seorang lelaki muda di akhir usia dua puluhan—dengan mata berwarna merah darah. Bukan merah muda, bukan cokelat kemerahan, melainkan merah menyala seperti batu rubi cair, dengan lingkaran obsidian tipis mengitari pupilnya.

Rambut hitam legam jatuh hingga tengkuk, sedikit berantakan, namun memberi kesan rapi dengan caranya sendiri.

Bukan tampilan liar—lebih seperti seseorang yang terbiasa dihormati tanpa perlu berusaha.

Wajah itu tegas. Rahangnya jelas, hidungnya mancung, proporsinya nyaris terlalu sempurna—seperti pahatan halus yang dibuat dengan penuh perhitungan.

Tapi yang membuat Thomas tersentak adalah auranya.

Bahkan dalam kondisi tubuh yang jelas belum pulih—lingkaran hitam di bawah mata, dan kulit pucat —pria di cermin itu tetap memancarkan tekanan. Sejenis wibawa yang tak kasatmata, seperti gravitasi halus yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.

“Ini… tidak mungkin…”

Thomas mengangkat tangannya.

Pantulan di cermin ikut mengangkat tangan.

Tangan itu lebih besar dan lebih panjang dari yang ia kenal. Jari-jarinya ramping, namun jelas kuat. Di lengan kiri, sebuah bekas luka panjang membentang, seolah terkena cakar sesuatu yang sangat besar.

Ia menyentuh wajahnya—wajah asing itu.

"Ini bukan aku."

...***...

Catatan:

Ini fiksi aja yah guys dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia nyata.

Terpopuler

Comments

Bryan

Bryan

baru baca chapter 1 aja udh merinding baca nya

2026-02-06

1

Jack Strom

Jack Strom

Hmmm... 🤔🤔🤔

2026-02-09

2

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1. Kematian Thomas dan tubuh baru
2 Chapter 2. Sistem
3 Chapter 3. Memori
4 Chapter 4. Penyusup
5 Chapter 5. Bertemu
6 Chapter 6. Pujian
7 Chapter 7. Ruang Harta
8 Chapter 8. Sebastian Thorne
9 Chapter 9. Pembicaraan
10 Chapter 10. 3 Serigala
11 Chapter 11. Titah baru
12 Chapter 12. Makan malam
13 Chapter 13. sedikit perubahan
14 Chapter 14. Niat membunuh
15 Chapter 15. Balasan
16 Chapter 16. Pelaksanaan
17 Chapter 17. Rencana
18 Chapter 18. The Crazy Godness
19 Chapter 19. Perubahan
20 Chapter 20. Jarak
21 Chapter 21. Ritual
22 Chapter 22. Tiga hari Penderitaan
23 Chapter 23. Tiga hari Penderitaan Pt. 2
24 Chapter 24. Khawatir
25 Chapter 25. "Bukannya kita memang akur?"
26 Chapter 26. Istana kekaisaran
27 Chapter 27. Tarian politik
28 Chapter 28. Niat membunuh PT.2
29 Chapter 29. Tak terduga
30 Chapter 30. bertarung
31 Chapter 31. Kolaps
32 Chapter 32. Khawatir Pt. 2
33 Chapter 33. Panik
34 Chapter 34. Masalah
35 Chapter 35. Serangan
36 Chapter 36. Rapat
37 Chapter 37. Alasan
38 Chapter 38. Reformasi
39 Chapter 39. Sepupu
40 Chapter 40. Kesepakatan
41 Chapter 41. Kerja sama?
42 Chapter 42. Kunjungan tak terduga
43 Chapter 43. Alasan
44 Chapter 44. Benih kecemburuan
45 Chapter 45. Tambang
46 Chapter 46. Wabah
47 Chapter 47. Rahasia
48 Chapter 48. Di bawah langit malam
49 Chapter 49. "Hati Hati."
50 Chapter 50. Perpisahan
51 Chapter 51. Perbatasan
52 Chapter 52. Familiar
53 Chapter 53. Array
54 Chapter 54. Netherword
55 Chapter 55. Tiga klan
56 Chapter 56. Surat
57 Chapter 57. Rapat
58 Chapter 58. Kecurigaan
59 Chapter 59. Perintah rahasia
60 Chapter 60. Teknik Pembaca Jiwa
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Chapter 1. Kematian Thomas dan tubuh baru
2
Chapter 2. Sistem
3
Chapter 3. Memori
4
Chapter 4. Penyusup
5
Chapter 5. Bertemu
6
Chapter 6. Pujian
7
Chapter 7. Ruang Harta
8
Chapter 8. Sebastian Thorne
9
Chapter 9. Pembicaraan
10
Chapter 10. 3 Serigala
11
Chapter 11. Titah baru
12
Chapter 12. Makan malam
13
Chapter 13. sedikit perubahan
14
Chapter 14. Niat membunuh
15
Chapter 15. Balasan
16
Chapter 16. Pelaksanaan
17
Chapter 17. Rencana
18
Chapter 18. The Crazy Godness
19
Chapter 19. Perubahan
20
Chapter 20. Jarak
21
Chapter 21. Ritual
22
Chapter 22. Tiga hari Penderitaan
23
Chapter 23. Tiga hari Penderitaan Pt. 2
24
Chapter 24. Khawatir
25
Chapter 25. "Bukannya kita memang akur?"
26
Chapter 26. Istana kekaisaran
27
Chapter 27. Tarian politik
28
Chapter 28. Niat membunuh PT.2
29
Chapter 29. Tak terduga
30
Chapter 30. bertarung
31
Chapter 31. Kolaps
32
Chapter 32. Khawatir Pt. 2
33
Chapter 33. Panik
34
Chapter 34. Masalah
35
Chapter 35. Serangan
36
Chapter 36. Rapat
37
Chapter 37. Alasan
38
Chapter 38. Reformasi
39
Chapter 39. Sepupu
40
Chapter 40. Kesepakatan
41
Chapter 41. Kerja sama?
42
Chapter 42. Kunjungan tak terduga
43
Chapter 43. Alasan
44
Chapter 44. Benih kecemburuan
45
Chapter 45. Tambang
46
Chapter 46. Wabah
47
Chapter 47. Rahasia
48
Chapter 48. Di bawah langit malam
49
Chapter 49. "Hati Hati."
50
Chapter 50. Perpisahan
51
Chapter 51. Perbatasan
52
Chapter 52. Familiar
53
Chapter 53. Array
54
Chapter 54. Netherword
55
Chapter 55. Tiga klan
56
Chapter 56. Surat
57
Chapter 57. Rapat
58
Chapter 58. Kecurigaan
59
Chapter 59. Perintah rahasia
60
Chapter 60. Teknik Pembaca Jiwa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!