The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

Bab 1: Oksigen Sang Iblis

Lampu kristal di kamar nomor 1201 Hotel Grand Emerald tampak bergoyang di mata Aira yang buram karena air mata. Di depannya, pria tua berperut buncit itu tertawa sambil melepas ikat pinggangnya.

"Jangan mendekat! Kubilang jangan mendekat!" teriak Aira dengan suara parau.

"Ayahmu sudah menjualmu, Manis. Dua miliar untuk satu malam. Jangan jual mahal, atau aku akan membuat ayahmu membusuk di penjara!" Broto, si rentenir, menyeringai menjijikkan.

Aira melirik ke pintu yang terkunci rapat. Ayahnya—pria yang seharusnya melindunginya—justru yang mengunci pintu itu dari luar.

"Aku bukan barang dagangan!"

Saat Broto menerjang, Aira meraih asbak kristal berat di atas nakas.

BRAKK!

"AAAGHHH!" Broto menjerit saat hantaman keras itu mendarat di pelipisnya. Darah segar merembes, dan pria itu jatuh tersungkur.

Tanpa membuang waktu, Aira meraih kunci cadangan di atas meja, membuka pintu, dan berlari sekencang mungkin. "Tolong! Siapa pun tolong aku!" bisiknya dalam hati, meski ia tahu di hotel semewah ini, jeritan orang miskin jarang didengar.

Sementara itu, di lorong gelap lantai dasar menuju lobi belakang, seorang pria sedang berpegangan pada dinding marmer. Napasnya terdengar seperti orang yang sedang tenggelam.

"Sial... Dion... kau benar-benar ingin membunuhku," desis Arkanza Malik.

Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah. Ruam-ruam gatal mulai menjalar di lehernya. Setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum menusuk paru-parunya.

"Tuan Arkan!" suara berat asisten pribadinya terdengar dari earpiece yang terjatuh di lantai. "Tuan, jangan bergerak, tim medis sedang menuju ke posisi Anda!"

"Terlalu... lama..." Arkanza merosot ke lantai. Dunianya mulai gelap.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Seorang gadis berlari dari tikungan, wajahnya penuh ketakutan dan noda darah. Karena lari tanpa arah, gadis itu tidak sempat mengerem.

BRUKK!

Tubuh kecil Aira menghantam dada bidang Arkanza. Mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi Aira menindih tubuh pria itu. Dalam kekacauan itu, bibir mereka bersentuhan secara tidak sengaja.

Mata Arkanza membelalak. Wanita? Menyentuhku? Aku akan mati sekarang...

Namun, bukannya rasa sakit, sebuah sensasi sejuk mengalir dari bibir gadis itu ke seluruh aliran darahnya. Paru-parunya yang tadinya menyempit, tiba-tiba mengembang luas. Rasa gatal yang membakar kulitnya menghilang dalam sekejap.

"Ugh..." Aira mendongak, matanya bertemu dengan mata elang Arkanza yang tajam.

"T-Tuan... maaf! Saya tidak sengaja!" Aira hendak berdiri dengan panik, tapi tangannya yang bergetar justru mencengkeram lengan kemeja Arkanza.

"Jangan bergerak," suara Arkanza berat dan serak, namun tidak lagi sesak.

"Tapi Tuan, ada orang jahat mengejar saya! Tolong saya!" Aira terisak, air matanya jatuh mengenai pipi Arkanza. "Ayah saya menjual saya... mereka mau memperkosa saya... saya mohon, sembunyikan saya!"

Suara langkah sepatu bot terdengar menggema di lorong.

"Di mana jalang itu?! Dia pasti lewat sini!" suara anak buah Broto terdengar semakin dekat.

Aira gemetar hebat. Ia berusaha bangkit untuk lari lagi, namun tangan Arkanza yang besar—yang biasanya tidak bisa menyentuh wanita—tiba-tiba melingkar di pinggang Aira dan menariknya kembali ke dalam pelukannya.

"Diam. Jangan bersuara," perintah Arkanza dingin.

Arkanza bangkit sambil tetap mendekap Aira, ia membalikkan posisi mereka hingga tubuh Aira terhimpit di antara tubuhnya dan pilar besar yang gelap. Arkanza menutupi seluruh tubuh Aira dengan jas hitamnya yang lebar.

Sekelompok pria berwajah sangar berlari melewati mereka. Mereka hanya melihat punggung seorang pria tinggi yang sedang tampak "bermesraan" dengan seorang wanita di sudut gelap.

"Cih, orang kaya tidak tahu tempat," umpat salah satu rentenir itu tanpa curiga, lalu melanjutkan lari ke arah pintu keluar.

Setelah suasana sepi, Aira melepaskan napas lega yang panjang. Ia masih bersandar di dada Arkanza, menghirup aroma maskulin yang mahal dan menenangkan.

"Mereka... mereka sudah pergi?" tanya Aira lirih.

Arkanza tidak menjawab. Ia justru meraih tangan Aira, menatap telapak tangan gadis itu yang sedikit terkena noda darah Broto. Arkanza lalu menempelkan telapak tangan Aira ke lehernya sendiri.

"Tuan? Apa yang Anda lakukan?" Aira bingung sekaligus takut.

Arkanza memejamkan mata, merasakan keajaiban itu sekali lagi. Tidak ada alergi. Tidak ada bintik merah. Hanya rasa tenang yang luar biasa.

"Siapa namamu?" tanya Arkanza, suaranya kini kembali dingin dan berwibawa, seolah sesak napas tadi hanyalah ilusi.

"A-Aira... Aira Kirana."

Arkanza melepaskan tangan Aira, lalu merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Ia menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai, seperti sedang melihat aset bisnis yang sangat berharga.

"Dua miliar untuk membayar hutang ayahmu, benar?"

Aira tersentak. "Bagaimana Anda tahu?"

"Aku Arkanza Malik. Tidak ada yang tidak aku ketahui di kota ini," Arkanza mengeluarkan selembar kartu nama berwarna hitam emas. "Ikut aku sekarang. Aku akan melunasi seluruh hutangmu, menyelamatkan nyawamu, dan memberikan hidup mewah yang tidak pernah kau impikan."

Aira menelan ludah, ragu. "Apa imbalannya? Anda pasti menginginkan sesuatu."

Arkanza menyeringai tipis, seringai yang terlihat kejam namun mempesona.

"Imbalannya sederhana. Kau harus menikah denganku besok, dan kau harus bersedia menjadi oksigenku setiap kali aku membutuhkannya. Bagaimana, Aira? Menikah denganku, atau kembali ke pelukan rentenir itu?"

Aira menatap mata pria di depannya. Dingin, namun memberinya rasa aman yang semu. "Saya... saya bersedia, Tuan."

Arkanza tidak membuang waktu. Ia langsung menarik tangan Aira dan menyeretnya menuju lift VIP. Di dalam lift yang berdinding cermin, Arkanza berdiri tepat di belakang Aira, mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangannya di dinding lift.

"Kau tahu apa konsekuensi dari kata 'bersedia', Aira?" bisik Arkanza, napasnya yang kini mulai stabil terasa panas di leher Aira.

Aira gemetar, aroma maskulin Arkanza mulai memabukkan indranya. "Anda... Anda sudah janji akan melunasi hutang saya."

"Hutangmu sudah lunas. Tapi sekarang, kau punya hutang baru padaku." Arkanza menyentuh dagu Aira, memaksanya menatap pantulan mereka di cermin.

"Malam ini kita akan mendaftarkan pernikahan ini. Dan malam ini juga, kau akan membuktikan apakah kau benar-benar 'obat' yang aku cari... atau kau hanya alat yang tidak berguna."

Lift berdenting terbuka. Di depan mereka, sudah berdiri barisan pengawal hitam yang menunduk hormat.

"Bawa dia ke mansion. Siapkan kamar pengantin segera!" perintah Arkanza tegas tanpa melepaskan tatapan intensnya dari mata Aira.

Aira hanya bisa terpaku. Malam ini, hidupnya bukan lagi miliknya. Ia telah resmi menjadi tawanan—atau mungkin, peliharaan sang CEO iblis.

Episodes
1 Bab 1: Oksigen Sang Iblis
2 Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
3 Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
4 Bab 4: Di Bawah Satu Selimut
5 Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga
6 Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
7 Bab 7: Perhatian di Balik Amarah
8 Bab 8: Racun di Balik Bingkai
9 Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
10 Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
11 Bab 11: Rahasia yang Tercekat
12 Bab 12: Oksigen yang Hilang
13 Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
14 Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
15 Bab 15: Pengorbanan Sang Sahabat
16 Bab 16: Sandiwara di Balik Tirai Putih
17 Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
18 Bab 18: Ambisi di Balik Kedok Pengobatan
19 Bab 19: Altar Pengkhianatan
20 Bab 20: Darah di Atas Altar
21 Bab 21: Takhta yang Tertukar
22 Bab 22: Benang Merah di London
23 Bab 23: Predator di Balik Bayangan
24 Bab 24: Distorsi Kebenaran
25 Bab 25: Sayap-Sayap Maut
26 Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling
27 Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
28 Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
29 Bab 29: Permainan Dua Raja
30 Bab 30: Barter Nyawa di Ujung Laras
31 Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
32 Bab 32: Mahkota Berduri
33 Bab 33: Abu di Atas Luka
34 Bab 34: Debu di Atas Mahkota
35 Bab 35: Darah Sisilia
36 Bab 36: Pelarian di Bawah Langit Sisilia
37 Bab 37: Racun di Dalam Selimut
38 Bab 38: Topeng Sang Pengasuh
39 Bab 39: Detak yang Tertunda
40 Bab 40: Menjadi Iblis Demi Sang Malaikat
41 Bab 41: Kebangkitan Sang Predator
42 Bab 42: Cahaya di Balik Retakan
43 Bab 43: Gema di Balik Dinding Putih
44 Bab 44: Langit yang Runtuh
45 Bab 45: Altar Air Mata
46 Bab 46: Kebangkitan Sang Bayang
47 Bab 47: Proyek Orisinal
48 Bab 48: Langkah Skakmat Sang Pewaris
49 Bab 49: Akar dari Segala Luka
50 Bab 50: Cahaya di Ujung Badai (Finale)
51 Bab 51: Duri dan Kelopak Mawar
52 Bab 52: Warisan Sang Ayah
53 Bab 53: Saingan Kecil Sang Singa
54 Bab 54: Benang Merah di London
55 Bab 55: Mata Sang Pewaris
56 Epilog: Bara di Balik Kedamaian
57 Epilog Final: Bunga Terindah di Musim Semi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Oksigen Sang Iblis
2
Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
3
Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
4
Bab 4: Di Bawah Satu Selimut
5
Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga
6
Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
7
Bab 7: Perhatian di Balik Amarah
8
Bab 8: Racun di Balik Bingkai
9
Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
10
Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
11
Bab 11: Rahasia yang Tercekat
12
Bab 12: Oksigen yang Hilang
13
Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
14
Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
15
Bab 15: Pengorbanan Sang Sahabat
16
Bab 16: Sandiwara di Balik Tirai Putih
17
Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
18
Bab 18: Ambisi di Balik Kedok Pengobatan
19
Bab 19: Altar Pengkhianatan
20
Bab 20: Darah di Atas Altar
21
Bab 21: Takhta yang Tertukar
22
Bab 22: Benang Merah di London
23
Bab 23: Predator di Balik Bayangan
24
Bab 24: Distorsi Kebenaran
25
Bab 25: Sayap-Sayap Maut
26
Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling
27
Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
28
Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
29
Bab 29: Permainan Dua Raja
30
Bab 30: Barter Nyawa di Ujung Laras
31
Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
32
Bab 32: Mahkota Berduri
33
Bab 33: Abu di Atas Luka
34
Bab 34: Debu di Atas Mahkota
35
Bab 35: Darah Sisilia
36
Bab 36: Pelarian di Bawah Langit Sisilia
37
Bab 37: Racun di Dalam Selimut
38
Bab 38: Topeng Sang Pengasuh
39
Bab 39: Detak yang Tertunda
40
Bab 40: Menjadi Iblis Demi Sang Malaikat
41
Bab 41: Kebangkitan Sang Predator
42
Bab 42: Cahaya di Balik Retakan
43
Bab 43: Gema di Balik Dinding Putih
44
Bab 44: Langit yang Runtuh
45
Bab 45: Altar Air Mata
46
Bab 46: Kebangkitan Sang Bayang
47
Bab 47: Proyek Orisinal
48
Bab 48: Langkah Skakmat Sang Pewaris
49
Bab 49: Akar dari Segala Luka
50
Bab 50: Cahaya di Ujung Badai (Finale)
51
Bab 51: Duri dan Kelopak Mawar
52
Bab 52: Warisan Sang Ayah
53
Bab 53: Saingan Kecil Sang Singa
54
Bab 54: Benang Merah di London
55
Bab 55: Mata Sang Pewaris
56
Epilog: Bara di Balik Kedamaian
57
Epilog Final: Bunga Terindah di Musim Semi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!