Bab 3: Tes di Kamar Pengantin

Mansion Malik Group bukan sekadar rumah; itu adalah istana dingin yang terbuat dari marmer dan kaca. Aira berjalan dengan kepala tertunduk, mengikuti langkah kaki Arkanza yang bergema di koridor luas.

"Berhenti di sini," titah Arkanza saat mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati setinggi tiga meter.

Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah kamar yang luasnya mungkin tiga kali lipat dari rumah petak Aira. Arkanza berbalik, menatap blus Aira yang robek dan bercak darah kering di keningnya dengan tatapan merendahkan.

"Kau terlihat menjijikkan," ucap Arkanza tanpa perasaan. "Bersihkan dirimu. Aku tidak sudi menyentuh wanita yang berbau keringat dan darah rentenir."

Aira menggigit bibirnya, menahan sakit hati. "Di mana... di mana kamar mandinya?"

Arkanza menunjuk sebuah pintu kaca buram di sudut ruangan. "Pelayan sudah menyiapkan segalanya di sana. Aku beri waktu lima belas menit. Jika kau telat satu detik saja, aku akan menganggap kontrak ini batal."

Aira segera berlari masuk. Di bawah guyuran air hangat, ia menangis pelan, mencoba menghapus semua jejak tangan kasar Broto dari kulitnya. Namun, ia tahu, ia harus bertahan. Jika ia keluar dari sini, ia akan membusuk di penjara.

Tepat lima belas belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dengan uap air yang mengepul.

Arkanza yang sedang menuang wine di sofa mewah menoleh dengan tatapan tidak sabar. Namun, gelas di tangannya tiba-tiba berhenti di udara.

Aira keluar hanya dengan balutan jubah mandi satin berwarna putih polos yang disediakan pelayan. Rambut panjangnya yang basah tergerai meneteskan sisa air di pundaknya yang putih bersih. Tanpa noda darah dan debu jalanan, kecantikan alami Aira terpancar begitu kuat. Wajahnya yang polos tanpa riasan, matanya yang besar dan jernih, serta bibir merah muda yang masih sedikit bergetar membuat jantung Arkanza berdetak tidak keruan.

Sial, kenapa dia terlihat berbeda? batin Arkanza. Ia berusaha keras menjaga wajah datarnya.

"Ke sini," suara Arkanza terdengar lebih rendah dari biasanya.

Aira melangkah pelan, jemari kakinya yang kecil tenggelam di karpet bulu yang tebal. Ia berhenti tepat di depan Arkanza. "Saya sudah selesai, Tuan."

Arkanza berdiri, meletakkan gelasnya. Ia berjalan mengitari Aira, menatap punggung gadis itu seolah sedang memeriksa kualitas sebuah barang. "Duduk di ranjang."

Aira tersentak. "T-Tuan, Anda bilang ini hanya kontrak..."

"Aku bilang duduk!" bentak Arkanza pelan namun tegas.

Aira duduk di tepi ranjang king size yang sangat empuk. Arkanza menyusul, duduk di sampingnya hingga Aira bisa mencium aroma sabun yang sama dari tubuh mereka.

"Sekarang, buka bagian atas jubahmu. Aku perlu memastikan ruamku tidak muncul saat bersentuhan dengan kulit pundakmu," perintah Arkanza dengan nada memerintah yang tak bisa dibantah.

"Apa?! Tuan, saya—"

"Jangan membuatku mengulanginya, Aira. Kau ingin aku melindungimu, bukan? Maka buktikan kalau kau memang penawarnya."

Dengan tangan gemetar hebat, Aira menurunkan sedikit kerah jubah mandinya, mengekspos pundak putihnya yang halus ke udara dingin kamar itu.

Arkanza mendekat. Ia tidak langsung menyentuh. Ia menatap kulit bening itu dengan saksama. Tangannya yang besar perlahan terangkat, ujung jarinya menyentuh permukaan pundak Aira dengan sangat hati-hati, seolah-olah Aira adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.

Satu detik... dua detik...

Tidak ada rasa terbakar. Tidak ada sesak napas. Yang ada hanyalah rasa sejuk yang menjalar ke seluruh saraf Arkanza, diikuti oleh desiran aneh di dadanya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Ajaib..." bisik Arkanza tanpa sadar. Matanya yang tajam kini beralih menatap wajah Aira yang jaraknya hanya beberapa inci.

Aira menahan napas, matanya terpejam erat, menunggu reaksi buruk dari pria itu. "Apa... apa Anda merasa sakit, Tuan?"

"Tidak," Arkanza justru semakin mendekat, tangannya kini beralih mencengkeram rahang Aira dengan lembut namun posesif. "Aku tidak sakit. Tapi aku merasa... lapar."

Aira membuka matanya, terkejut melihat kilat gairah dan obsesi di mata Arkanza. "Tuan Arkan..."

"Diamlah, Oksigenku. Tes ini belum selesai."

Arkanza tiba-tiba menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya, membiarkan kulit mereka bersentuhan lebih luas. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma tubuh gadis itu yang wangi melati dan uap air.

"Tetaplah seperti ini selama sepuluh menit," gumam Arkanza dengan suara parau. "Jika dalam sepuluh menit aku tidak mati, maka besok kau akan menjadi wanita paling berkuasa di rumah ini."

Aira hanya bisa terpaku dalam pelukan pria dingin itu, merasakan detak jantung Arkanza yang liar—sama liarnya dengan detak jantungnya sendiri.

Episodes
1 Bab 1: Oksigen Sang Iblis
2 Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
3 Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
4 Bab 4: Di Bawah Satu Selimut
5 Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga
6 Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
7 Bab 7: Perhatian di Balik Amarah
8 Bab 8: Racun di Balik Bingkai
9 Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
10 Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
11 Bab 11: Rahasia yang Tercekat
12 Bab 12: Oksigen yang Hilang
13 Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
14 Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
15 Bab 15: Pengorbanan Sang Sahabat
16 Bab 16: Sandiwara di Balik Tirai Putih
17 Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
18 Bab 18: Ambisi di Balik Kedok Pengobatan
19 Bab 19: Altar Pengkhianatan
20 Bab 20: Darah di Atas Altar
21 Bab 21: Takhta yang Tertukar
22 Bab 22: Benang Merah di London
23 Bab 23: Predator di Balik Bayangan
24 Bab 24: Distorsi Kebenaran
25 Bab 25: Sayap-Sayap Maut
26 Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling
27 Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
28 Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
29 Bab 29: Permainan Dua Raja
30 Bab 30: Barter Nyawa di Ujung Laras
31 Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
32 Bab 32: Mahkota Berduri
33 Bab 33: Abu di Atas Luka
34 Bab 34: Debu di Atas Mahkota
35 Bab 35: Darah Sisilia
36 Bab 36: Pelarian di Bawah Langit Sisilia
37 Bab 37: Racun di Dalam Selimut
38 Bab 38: Topeng Sang Pengasuh
39 Bab 39: Detak yang Tertunda
40 Bab 40: Menjadi Iblis Demi Sang Malaikat
41 Bab 41: Kebangkitan Sang Predator
42 Bab 42: Cahaya di Balik Retakan
43 Bab 43: Gema di Balik Dinding Putih
44 Bab 44: Langit yang Runtuh
45 Bab 45: Altar Air Mata
46 Bab 46: Kebangkitan Sang Bayang
47 Bab 47: Proyek Orisinal
48 Bab 48: Langkah Skakmat Sang Pewaris
49 Bab 49: Akar dari Segala Luka
50 Bab 50: Cahaya di Ujung Badai (Finale)
51 Bab 51: Duri dan Kelopak Mawar
52 Bab 52: Warisan Sang Ayah
53 Bab 53: Saingan Kecil Sang Singa
54 Bab 54: Benang Merah di London
55 Bab 55: Mata Sang Pewaris
56 Epilog: Bara di Balik Kedamaian
57 Epilog Final: Bunga Terindah di Musim Semi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Oksigen Sang Iblis
2
Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
3
Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
4
Bab 4: Di Bawah Satu Selimut
5
Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga
6
Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
7
Bab 7: Perhatian di Balik Amarah
8
Bab 8: Racun di Balik Bingkai
9
Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
10
Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
11
Bab 11: Rahasia yang Tercekat
12
Bab 12: Oksigen yang Hilang
13
Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
14
Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
15
Bab 15: Pengorbanan Sang Sahabat
16
Bab 16: Sandiwara di Balik Tirai Putih
17
Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
18
Bab 18: Ambisi di Balik Kedok Pengobatan
19
Bab 19: Altar Pengkhianatan
20
Bab 20: Darah di Atas Altar
21
Bab 21: Takhta yang Tertukar
22
Bab 22: Benang Merah di London
23
Bab 23: Predator di Balik Bayangan
24
Bab 24: Distorsi Kebenaran
25
Bab 25: Sayap-Sayap Maut
26
Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling
27
Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
28
Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
29
Bab 29: Permainan Dua Raja
30
Bab 30: Barter Nyawa di Ujung Laras
31
Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
32
Bab 32: Mahkota Berduri
33
Bab 33: Abu di Atas Luka
34
Bab 34: Debu di Atas Mahkota
35
Bab 35: Darah Sisilia
36
Bab 36: Pelarian di Bawah Langit Sisilia
37
Bab 37: Racun di Dalam Selimut
38
Bab 38: Topeng Sang Pengasuh
39
Bab 39: Detak yang Tertunda
40
Bab 40: Menjadi Iblis Demi Sang Malaikat
41
Bab 41: Kebangkitan Sang Predator
42
Bab 42: Cahaya di Balik Retakan
43
Bab 43: Gema di Balik Dinding Putih
44
Bab 44: Langit yang Runtuh
45
Bab 45: Altar Air Mata
46
Bab 46: Kebangkitan Sang Bayang
47
Bab 47: Proyek Orisinal
48
Bab 48: Langkah Skakmat Sang Pewaris
49
Bab 49: Akar dari Segala Luka
50
Bab 50: Cahaya di Ujung Badai (Finale)
51
Bab 51: Duri dan Kelopak Mawar
52
Bab 52: Warisan Sang Ayah
53
Bab 53: Saingan Kecil Sang Singa
54
Bab 54: Benang Merah di London
55
Bab 55: Mata Sang Pewaris
56
Epilog: Bara di Balik Kedamaian
57
Epilog Final: Bunga Terindah di Musim Semi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!